
Di rumah Ily.
Saat ini Ily sudah berbaring di atas ranjang yang berukuran queen size. Pikirannya berkelana mengapa Pandu susah sekali di dihubungi. Apakah laki-laki itu pergi ke acara pernikahan? Lalu bersama siapa dia pergi? Mengapa sampai sekarang Pandu tak kunjung menghubunginya.
Ily menoleh ke samping dimana ada jam yang bertengger di dinding kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit. Entah mengapa perasaan Ily malam ini mendadak tidak tenang.
Akhirnya, Ily memilih untuk kembali menghubungi Pandu. Barangkali percobaannya kali ini akan berhasil.
Tut. Tut. Tut.
"Ayo, Ndu ... Angkat teleponnya ...." Ily bermonolog, merasa cemas dan Ily tidak tahu kecamasannya karena apa. Tidak biasanya Ily merasakan hal seperti ini. Di malam-malam sebelumnya, rasa yang aneh ini tidak hinggap di hatinya.
Namun, saat Ily berkali-kali menghubungi, belum ada tanda-tanda jika Pandu akan menerima telepon darinya.
Ily menghem ponselnya kasar di atas kasur. Dia segera memeluk guling kesayangannya dan memejamkan mata, berharap mimpi akan membawanya lelap. Namun, hingga waktu bergulir dan menunjukkan pukul satu dini hari, matanya seperti enggan terpejam.
Akhirnya, Ily kembali bangun dan mengecek ponsel barangkali ada pesan dari Pandu yang tidak disadarinya. Namun, harapan hanya tinggal harapan. Pandu hanya membuka pesan yang dikirim olehnya tanpa membalas.
Ily berdecak pelan. Sepertinya Pandu masih marah padanya. Saat Ily membuka room chat, Ily bisa melihat aplikasi pesan Pandu masih online. Akhirnya, Ily berusaha menghubungi Pandu lagi barangkali teleponnya akan dijawab.
Tut. Tut. Tut.
Panggilannya hanya berdering. Ily menekan tombol merah dan kembali meletakkan ponselnya. Ily duduk termenung dengan pikiran yang sudah tidak karuan. Pandu sering sekali seperti ini. Ily terkadang harus ekstra sabar mengahadapi marahnya Pandu.
"Mengapa semuanya jadi seperti ini sih?" monolog Nala bertanya.
Ily mengusap wajahnya kasar. Dia hanya ingin di mengerti. Mengapa Pandu lupa akan perjanjian awal hubungannya? Mengapa disaat Ily tinggal selangkah lagi mendapatkan apa yang diinginkan, ada saja halangan yang menghadang?
Ily menarik dan menghembuskan napasnya kasar. Dia memilih untuk berbaring lagi dan akan berbicara dengan Pandu besok pagi.
Sedangkan di tempat lain, Pandu baru saja pulang tepat pukul dua belas malam. Dia membersihkan diri untuk kemudian pergi tidur. Entah mengapa Pandu mau saja menerima pernyataan cinta Renita. Hati kecilnya mengatakan bahwa yang dilakukannya adalah salah.
Namun, Pandu juga tidak ingin merasa kesepian sepanjang hari karana Ily yang selalu sibuk dengan pekerjaannya. Setelah selesai membersihkan diri, Pandu merebahkan tubuh di atas ranjangnya. Tangannya bergerak untuk menggapai ponsel yang tergeletak di atas nakas.
"Ily telepon aku tidak ya? Apakah gadis itu tidak merindukanku sama sekali?" monolog Pandu kemudian membuka aplikasi berwarna hijau yang berlogo telepon.
__ADS_1
Pandu tersenyum senang saat melihat barisan panggilan tidak terjawab dari Ily. "Akhirnya Ily melakukan apa yang akhir-akhir ini sering aku lakukan," ucap Pandu tersenyum.
Senyum itu semakin lebar tatkala membaca sederet pesan yang Ily kirimkan.
My Ily:
Ndu? Kamu sudah pulang?
Pergi bersama siapa?
Kenapa tidak angkat teleponku?
Begitulah kira-kira pesan yang Ily kirimkan. Pandu memilih mengabaikan pesan itu dan meletakkan ponselnya kembali di atas nakas. Dia ingin tidur nyenyak malam ini.
...........
Pagi kembali menjelang. Ily terbangun kala matahari mulai menampakan diri. Ily menyeret langkahnya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, Ily bersiap untuk pergi ke rumah sakit.
Sebelum benar-benar pergi, Ily sempatkan untuk mengecek ponselnya. Karena tidak ada pesan dari Pandu, Ily memilih menghubungi laki-laki itu.
Tut. Tut. Tut.
"Kenapa? Bukankah kamu sendiri yang memintaku untuk mengajak salah satu temanku?" jawab Pandu di seberang sana santai.
Ily terdiam. Mengapa Pandu kali ini begitu menyebalkan. Ily menghela napas kasar. Menghadapi Pandu memang harus ekstra sabar.
"Kenapa kamu malah balik bertanya? Aku kan sedang bertanya, Ndu," kesal Ily dengan alis yang sudah bertaut dan bibir yang cemberut.
Ily bisa mendengar kekehan mengejek di seberang sana yang disusul oleh jawaban Pandu setelahnya.
"Bukankah kamu sudah tidak peduli? Kamu saja tidak mau menemaniku datang ke acara tersebut," jawab Pandu yang lagi-lagi membuat Ily merasa geram.
"Terserah kamulah!" ketus Ily kemudian memutus panggilan tersebut secara sepihak.
Ily berusaha mengendalikan emosinya yang saat ini terasa membuncah di dada. Entah karena Pandu tidak peduli dengan rasa khawatirnya, atau karena hari ini dia kedapatan tamu bulanannya.
__ADS_1
Ily terlalu lelah memikirkan semuanya secara bersamaan. Akhirnya, Ily putuskan untuk pergi sarapan. Sang Papa pasti sudah menunggunya di meja makan.
"Selamat pagi, Pa," sapa Ily tersenyum manis.
"Selamat pagi, Ily Sayang," jawab pak Guntur membalas senyuman Ily.
"Kenapa mukanya sudah tertekuk seperti itu, Sayang? Tidak biasanya kamu begitu," tebak pak Guntur yang menyadari raut wajah sang Putri yang tampak kesal.
Ily menggeleng kuat. "Tidak apa-apa, Pa. Hanya perubahan mood saja karena hari ini aku kedapatan tamu bulanan," jawab Ily tidak sepenuhnya berbohong.
Akhirnya, ayah dan anak itu sarapan bersama dengan hangatnya. Sesekali diselingi dengan candaan yang membuat perasaan kesal Ily terobati dan sedikit membaik.
Setelah selesai sarapan, Ily berpamitan pada ayahnya untuk berangkat ke rumah sakit. Hari ini Ily tentu membawa mobilnya sendiri. Sudah cukup rasanya Ily bersama Bayu di satu mobil yang sama. Laki-laki itu seakan tidak kenal lelah untuk mempromosikan diri di depan Ily.
Karena Ily hanya cinta kepada Pandu, promosi itu sama sekali tidak mempengaruhi hatinya. Ily hanya bisa geleng-geleng kepala membayangkan kejadian semalam.
Mobil Ily terus melaju membelah jalanan kota yang belum terlalu padat oleh kendaraan. Tepat di lampu merah, mobil Ily berhenti dan dia menyempatkan untuk melihat pemandangan sekitar.
Banyak manusia yang berjalan berlalu-lalang di trotoar untuk pergi bekerja. Namun, pandangan Ily jatuh pada mobil yang berhenti di depan toko bunga. Dilihat dari mobilnya, Ily menduga jika itu milik Pandu.
ily terus memperhatikan pemilik mobil itu untuk turun. Namun, baru saja Ily melihat kaki yang berbalut sepatu pantofel itu keluar, dari arah belakang terdengar bunyi klakson yang bersahut-sahutan.
Ily mengalihkan pandangan ke depan dan melihat lampu lalu lintas yang sudah berganti warna hijau. Terpaksa, Ily harus melajukan mobilnya kembali tanpa sempat melihat siapa sosok di balik mobil yang Ily kira adalah Pandu.
"Eh! Kenapa aku tidak melihat nomor polisinya? Aku memang bodoh. Tetapi jika itu Pandu, mengapa dia ada disana? Aneh sekali," monolog Ily yang bertanya sendiri dan dijawab sendiri.
"Mau menghubungi pun, aku gengsi. Aku kan baru saja marah-marah dengan dia. Huh! Mengapa rasanya menyiksa sekali ketika harus bertengkar dengan Pandu," monolognya lagi.
karena sepanjang jalan hanya menggerutu, tidak terasa mobil yang ditumpangi Ily telah sampai. Ily segera masuk ke area rumah sakit dan memarkirkan mobilnya dengan benar.
Baru saja Ily turun dari mobil, suster Gaby sudah menyambutnya dengan raut yang begitu panik.
"Kenapa, Sus? Apa ada yang darurat?" tanya Ily.
Suster Gaby mengangguk. "Iya, Dok. maaf karena dokter baru saja berangkat dan langsung di hadapkan dengan pekerjaan. Padahal, dokter baru saja turun dari mobil," ucap suster Gaby merasa tidak enak hati.
__ADS_1
Ily menggeleng tidak masalah. "Ini sudah menjadi tugas saya. Dimana pasiennya?"
Lalu, keduanya berjalan tergesa-gesa memasuki rumah sakit untuk segera bertempur dengan pekerjaan.