
Benar dugaan Ily bahwa malam hari di rumah sakit membuat Ily disibukkan dengan pasien gawat darurat. Hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam, Ily kembali ke ruangannya bersama suster Gaby yang masih setia mengikut.
Ily menghempaskan tubuh di kursi kerjanya yang empuk. Bahunya sudah merosot menandakan hari ini begitu melelahkan. "Aku mau ambil minum, Dok. Dokter mau air mineral juga? Biar sekalian," tawar suster Gaby yang kini sudah bersiap untuk keluar lagi.
Ily mengangguk. "Iya, Sus. Aku minta tolong ya," ucap Ily terdengar lelah.
Suster Gaby mengiyakan dan bergegas keluar dari ruangan. Sepeninggalan suster Gaby, Ily menegakkan punggung dan mencari keberadaan ponsel yang sudah sejak tadi siang teronggok di atas meja.
Saat layar kunci terbuka, tidak ada pesna maupun panggilan dari Pandu. Ily menghela napasnya kasar. Mungkinkah Pandu masih marah dengannya karena kejadian tadi pagi?
Ily kembali meletakkan ponsel tanpa berniat menghubungi Pandu. Dia ingin tenang sejenak dari tuntutan pekerjaan dan tuntutan hubungan bersama Pandu.
Kepalanya kembali Ily sandarkan di bahu kursi dan memejamkan mata. Sangat nyaman hingga tanpa sadar Ily terlelap sebentar.
Ily kembali membuka mata saat mendengar derit pintu ruangannya. Suster Gaby baru kembali setelah keluar membeli air minum dan ... Beberapa makanan di dalam kantong kresek.
"Eh! Maaf, aku ganggu ya, Dok," ucap suster Gaby merasa tidak enak hati.
Ily menggeleng dan tersenyum tipis. "Tidak kok, Sus. Justru aku bersyukur karena sudah dibangunkan. Bisa-bisa aku tidur disini kalau kamu tidak masuk," ucap Ily merasa lega.
"Ini, Dok. Air mineral dan soto Betawi khusus untuk Dokter," ucap suster Gaby sambil menyodorkan sebotol air dan satu kantong kresek.
"Terima kasih, Sus. Jadi berapa ini?" tanya Ily sambil meneguk air mineral dinginnya.
"Tidak perlu, Dok. Hari ini aku ingin menraktir Dokter," jawab suster Gaby sambil tersenyum penuh arti.
Tatapan menyelidik Ily lemparkan dengan memicingkan mata. "Dalam rangka apa ini, Sus? Apa sudah punya pacar baru?" tanya Ily menebak.
Suster Gaby tampak menunduk malu-malu dan Ily langsung tahu jawabannya tanpa perlu mendengarnya langsung dari suster Gaby.
"Selamat ya, Sus. Semoga sampai ke jenjang pernikahan dan tua bersama," ucap Ily lagi mendoakan.
__ADS_1
"Terima kasih juga atas traktirannya," sambung Ily yang segera diangguki oleh suster Gaby.
Setelah wkstu menunjukan pukul sembilan lewat tiga puluh menit, Ily berpamitan pada suster Gaby untuk pulang. Ily juga meminta suster yang menjadi asistennya itu untuk pulang. Besok keduanya harus kembali bekerja.
Keduanya berjalan beriringan dan berpisah di tempat parkir karena membawa kendaraan masing-masing.
Ily menepuk jidat ketika sadar bahwa dia tidak membawa mobil ataupun motor.
"Mengapa aku ceroboh sekali," monolog Ily merutuki diri sendiri.
Saat Ily menoleh ke tempat dimana suster Gaby berlalu, ternyata asistennya itu sudah menjalankan motor dan keluar dari area parkir.
Ily mengusap wajahnya kasar lalu mengambil ponselnya untuk mencari taksi online. Namun, sepertinya hari ini adalah hari tersial Ily. Tidak ada satupun taksi yang mau menjemput Ily ke rumah sakit karena sudah lewat dari jam sembilan.
Menurut cerita yang Ily dengar, para dirver online pernah mengalami kejadian mistis saat menerima orderan di titik temu rumah sakit pada pukul sebelas. Akhirnya, semua driver sepakat untuk tidak menerima orderan dari rumah sakit di atas jam sembilan.
"Haruskah aku jalan kaki? Ya Tuhan. Mengapa hari ini sial sekali," gerutu Ily sambil menuruni undakan.
Ily menepi dan membiarkan mobil itu melaju terlebih dahulu. Namun, mobil itu bukannya melaju malah berhenti di samping tempat Ily berdiri.
Ily menghalau cahaya silau yang memasuki retinanya. Seakan sadar lampu mobilnya menyilaukan, pemilik mobil langsung mematikannya. Tidak berapa lama, kaca mobil terbuka dan kepala Bayu melongok dari sana.
Ily sempat terkejut hingga terlonjak. Keadaan yang sepi dan gelap membuat suasana terasa menyeramkan.
"Astaga, Dok! Aku kaget ini loh," kesal Ily sambil memegangi dadanya.
Bayu terkekeh pelan. "Maafkan aku. Kenapa jalan kaki? Apa tidak menawa mobil?" tanya Bayu yang kini tampak keluar dari mobil.
"Kenapa jalan kaki?" tanya Bayu lagi karena Ily sejak tadi hanya diam dan menimbulkan rasa penasaran di hatinya.
"Aku tidak membawa mobil. Tadi lagi aku diantar Pandu kesini," jawab Ily memberi alasan.
__ADS_1
Bayu berdecih pelan. "Dia mengantarmu dan lupa menjemputmu? Laki-laki macam apa dia," cibir Bayu tanpa segan.
"Tidak masalah bagiku. Karena hari ini Pandu sedang menghadiri acara pernikahan salah satu rekan bisnisnya. Aku tidak ingin mengganggu waktunya," jelas Ily yang terdengar membela Pandu. Selalu seperti itu bila Bayu mulai mengomentari tentang kekasih dari Ily.
"Bela saja terus. Kamu memang sudah masuk taraf jatuh cinta tidak wajar. Orang zaman sekarang sering menyebutnya dengan Bucin," kesal Bayu yang sama sekali tidak mempengaruhi perasaan Ily.
"Biarkan saja. Ini kan hidupku!" kesal Ily yang segera berjalan kembali meninggalkan Bayu yang masih melongo.
"Ily! Tunggu! Biar aku antar pulang!" teriak Bayu yang tak dihiraukan oleh Ily.
"Hati-hati di depan sana ada hantu yang sedang berkeliaran. Di jam seperti ini mereka keluar di tempat-tempat yang gelap!" pekik Bayu mencoba membuat Ily berhenti melangkah dan itu berhasil.
'Yes! Akhirnya aku berhasil,' batin Bayu kemudian berjalan mendekati Ily yang belum melanhkah terlalu jauh.
Dia bergegas menarik lengan Ily dan membawanya masuk ke mobil. Ily tampak tidak terima dan ingin melayangkan protes. Namun, suara Bayu kembali terdengar dan berhasil membuat bulu halus di tubuh Ily meremang.
"Jangan berani-berani jalan sendiri melewati gang melati. Di malam yang sudah lebih dari jam sembilan, disana suka ada bau bunga melati yang menyengat. Dan konon katanya, itu kuntilanak yang sedang berkeliling mencari mangsa," bisik Bayu.
Ily menurut saja dan langsung masuk ke mobil milik Bayu. Setelah Bayu juga masuk, Ily menolehkan kepalanya menatap profil samping Bayu.
"Terus, mangsa mbak Kun tuh siapa? Apakah adik bayi?" tanya Ily penasaran.
Bayu mengangkat satu alisnya. "Bukan. Tetapi dia cuma prank," bisik Bayu kemudian terkikik geli.
Ily yang merasa dibohongi langsung memukul lengan Bayu kencang. "Ish! Apa-apaan sih. Aku tuh sudah begitu serius mendengarkan. Tetapi, terima kasih karena mau mengantar," ucap Ily pada akhirnya pasrah.
Itu lebih baik daripada Ily harus berjalan kaki sejauh tiga kilo meter. "Ini semua tidak gratis," ucap Bayu yang mulai menjalankan mobilnya.
"Bayar berapa? Aku bayar," ucap Ily enteng.
"Bayar pakai perasaan boleh kan?" tanya Bayu yang membuat Ily akhirnya bungkam.
__ADS_1