Rewrite Our Destiny

Rewrite Our Destiny
Bab 6. Berlapang dada


__ADS_3

Karena tidak ada shift malam, Ily menyempatkan diri mampir ke rumah Pandu. Orangtua Pandu sudah mengetahui hubungan keduanya begitu juga dengan ayah Ily.


Tepat pukul lima sore, mobil yang dikendarai Ily sampai di pelataran rumah mewah berlantai dua.


"Hai, Pak. Apa kabar?" sapa Ily pada pak satpam yang berjaga di rumah Pandu.


"Eh! Ada Non Ily. Alhamdulillah kabar baik, Non. Mau menemui Tuan Pandu ya, Non?" tanya pak satpam akrab.


Ily tersenyum dan mengangguk mengiyakan. "Iya, Pak. Pandu-nya sudah pulang kan?" tanya Ily ramah.


"Eh! Ada Ily? Kenapa tidak masuk, Sayang?" ucap suara dari arah pintu yang tidak lain adalah milik ibunya Pandu, Soraya Damendra.


Ily mengulas senyum hangatnya lalu segera berjalan mendekati bu Soraya dan memeluk tubuh wanita paruh baya yang masih tetap cantik di usianya yang sudah menginjak kepala empat itu.


"Tante apa kabar?" tanya Ily setelah merenggangkan pelukan.


"Tante sangat baik. Kamu apa kabar? Tumben sendiri. Apa kamu tidak bersama Pandu?" tanya bu Soraya sambil melirik mobil Ily.


Ily mengerutkan alis bingung. "Loh, memangnya Pandu belum pusing ya, Tan?" tanya Ily yang sama herannya.


Bu Soraya mengerjap bingung. "Memangnya Pandu tidak menemuimu di rumah sakit? Bukankah setiap hari Pandu datang ya? Makanya dia suka pulang malam," jelas bu Soraya yang semakin membuat Ily kebingungan.


"Pandu sudah satu Minggu ini tidak datang ke rumah sakit," ucap Ily yang berhasil menjawab kebingungan Bu Soraya.


"Terus kemana perginya anak itu?" tanya bu Soraya lagi heran.


Ily tersenyum. "Mungkin perkejaan di kantor sedang banyak, Tan," jawab Ily menduga-duga.

__ADS_1


Bu Soraya mengangguk-anggukkan kepala. "Ya sudah. Kita masuk dulu, tunggu Pandu di dalam saja ya," ajak bu Soraya sambil menggamit lengan Ily untuk ikut dengannya masuk.


Ily hanya menurut dan sesampainya di dalam, Ily langsung disambut hangat oleh Larina, adik perempuan Pandu.


"Eh ... Ada Bu Dokter datang berkunjung ke rumah," ucap Larina menyambut hangat kedatangan Ily disertai candaan.


Ily dan bu Soraya geleng-geleng kepala. "Iya. Rencananya mau menyuntik anak gadisnya Bu Soraya," jawab Ily menyahuti dengan candaan.


Larina langsung melotot tajam. Semua orang terdekat sudah tahu jika Larina takut dengan jarum suntik. Bu Soraya dan Ily sontak tergelak renyah.


"Bang Pandu mana, Kak? Tumben sendiri," tanya Larina sama herannya. Pasalnya, setiap Ily datang ke rumah, Pandu pasti orang yang membawa Ily.


"Aku tadi belum sempat mengabari Pandu kalau akan datang. Akhir-akhir ini aku sangat sibuk hingga jarang bertemu dengan Pandu. Mungkin, Pandu masih sibuk di kantor. Aku akan telepon dia," jawab Ily yang kini sudah menududukan diri di sofa. Dia mengambil posisi duduk di sebelah Larina.


"Tante masuk sebentar ya? Kamu ngobrol dulu dengan Larina. Tante belum mandi nih," ucap bu Soraya sambil menghidu aroma tubuhnya sendiri.


Sepeninggalan bu Soraya, Ily memilih unik menghubungi Pandu terlebih dahulu dan mengabari jika saat ini dirinya sudah berada di rumahnya.


Tut. Tut. Tut.


Hingga dering ketiga, telepon Ily belum juga ada tanda-tanda Pandu akan menerimanya. Hingga dering itu Berakhir tidak terjawab.


Ily menghela napas pasrah. "Sepertinya Pandu sedang sangat sibuk," ucap Ily yang raut wajahnya nampak kecewa.


Larina menatap iba pada Ily. Tentu dia paham akan kesibukan kakaknya dan sang kekasih. Disaat sang kakak sedang senggang, Ily justru sibuk, dan begitu seterusnya hingga keduanya tidak memiliki waktu untuk bersama.


"Ya sudahlah, Kak. Main dulu sama aku disini," ucap Larina mencoba menenangkan.

__ADS_1


Ily tersenyum. "Sepertinya aku akan langsung pulang saja. Papa pasti sudah menungguku," jawab Ily berusaha merubah raut wajahnya menjadi biasa saja.


"Loh, kok langsung pulang? Makan malam disini dulu, Ly," ucap suara dari arah luar yang tidak lain adalah milik Papa dari Pandu, yaitu Hartono Damendra.


Ily tersenyum dan beranjak dari duduk untuk menyalami pria paruh baya yang sudah Ily anggap seperti ayahnya sendiri. "Hai, Om. Apa kabar?" sapa Ily ramah.


Pak Hartono mengulas senyum. "Kabar Om baik," jawab pak Hartono lalu mengelus rambut Ily lembut.


"Pandu mana, Om? Tidak pulang bersama Om ya?" tanya Ily heran sambil menatap pintu, berharap Pandu akan muncul dari baliknya.


Raut wajah pak Hartono tampak heran. "Bukankah Pandu sudah pulang sejak tadi? Apa dia belum sampai rumah?" ucap pak Hartono yang justru balik bertanya.


Larina yang ingin menyalami sang Papa, gerakan tangannya mengambang di udara. Raut wajahnya terlihat menerka-nerka kemana perginya sang kakak.


"Lalu, kemana perginya bang Pandu? Aneh sekali," ucap Larina lalu segera menyalami papanya.


Ily menggeleng. "Tidak masalah, Om. Lain kali aku akan datang lagi. Mungkin Pandu sedang ada urusan lain," ujar Ily pada akhirnya.


Pak Hartono dan Larina menampakkan raut bersalahnya. Padahal, ini bukanlah kesalahan mereka.


"Ya sudah. Kalau begitu aku pulang terlebih dahulu ya, Om, Rin. Titip salam saja untuk tante Soraya. Dan nanti aku akan telepon Pandu lagi," ucap Ily berlapang dada.


"Baiklah. Aku juga tidak bisa memaksa Kakak karena Kak Ily pasti kelelahan. Hati-hati di jalan ya Kak," jawab Larina tidak ingin menahan Ily terlalu lama.


"Ya sudah. Hati-hati di jalan ya, Ly. Pelan-pelan saja, tidak perlu ngebut," ucap pak Hartono ikut menimpali.


Akhirnya, Ily pulang dengan perasaan yang tidak karuan. Entah kemana perginya Pandu saat ini. Ily hanya berharap Pandu tidak akan salah dalam bertindak. Ily sadar, dirinya sudah keterlaluan karena lagi-lagi meninggalkan Pandu tadi pagi.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ndu. Aku sudah membuatmu kecewa," gumam Ily merasa bersalah.


__ADS_2