Rewrite Our Destiny

Rewrite Our Destiny
Bab 12. Pertengkaran


__ADS_3

Esok harinya, Ily dikejutkan dengan kedatangan Pandu ke rumah. Hal yang jarang sekali Pandu lakukan. Selama ini, hanya Ily yang selalu datang saja mendekatkan diri pada keluarga Pandu.


"Selamat pagi, Om," sapa Pandu saat disambut oleh pak Guntur di pintu masuk lalu menyalami tangannya. Ayah dari Ily itu sedang membaca koran ditemani secangkir teh yang ditaruh dia atas meja yang terletak tidak jauh dari pak Guntur.


"Selamat pagi, Pandu. Kamu tidak sibuk? Tumben sekali datang," jawab pak Guntur yang terdengar seperti sindiran di telinga Pandu.


"Kebetulan hari ini memang tidak banyak pekerjaan. Jika diizinkan, aku ingin mengantar Ily ke rumah sakit, Om," pinta Pandu menunduk hormat.


Pak Guntur terkekeh pelan. "Tentu saja bolehlah, Ndu. Masuk saja, Ily sedang membuat bekal sepertinya," titah pak Guntur lembut yang segera dilaksanakan oleh Pandu.


Setelah meminta izin, Pandu melenggang masuk dan langsung melihat Ily yang saat ini sedang berada di dapur. "Selamat pagi, Ily Sayang," sapa Pandu untuk pertama kali.


Ily meneokh terkejut. "Kamu datang? Memangnya tidak sibuk?" tanya Ily yang sempat menghentikan aktifitasnya dalam membuat roti bakar.


"Tidak. Aku berencana untuk mengantar kamu ke rumah sakit," jawab Pandu sambil mengulas senyumnya.


Ily geleng-geleng kepala lalu kembali fokus pada teflon di depannya. "Mau sekalian aku buatkan roti bakar tidak?" tawar Ily tanpa menoleh pada Pandu karena rotinya akan gosong jika Ily tinggal mengobrol terus.


"Boleh. Aku tunggu di meja makan saja ya?" ucap Pandu meminta izin terlebih dahulu kemudian berlalu setelah Ily mengiyakan.


Tidak berapa lama, Ily selesai dan mendekati Pandu. "Ini untuk kamu. Jangan lupa di makan ya," ucap Ily sambil menyodorkan kotak makan berisi tiga potong roti bakar.


Pandu tersenyum. "Terima kasih, Sayang," jawabnya sambil beranjak dari kursi.


"Kita langsung berangkat saja ya? Banyak yang harus aku kerjakan," ucap Ily yang segera diangguki oleh Pandu.


Setelah berpamitan dengan pak Guntur, Pandu membawa mobilnya menuju rumah sakit dimana Ily bekerja.


"Aku nyalakan musiknya ya, Ndu," ucap Ily meminta izin.


Lagu dengan judul Kau Rumahku yang di populerkan oleh Raissa Anggiani menjadi pilihan Ily. Liriknya begitu masuk di hati saat bait demi bait dinyanyikan.


"Ly?" panggil Pandu menoleh sebentar kemudian kembali fokus menatap jalanan.


"Iya, Ndu. Kenapa?" tanya Ily sambil menatap profil samping Pandu.


"Besok aku ada acara kondangan. Kamu harus jadi pasangan aku nanti ya?" pinta Pandu memohon.


Ily mngerjapkan matanya beberapa kali. "Aku tidak bisa berjanji ya, Ndu. Soalnya besok kalau tidak salah aku ada piket malam," jawab Ily merasa bersalah.


Pandu menghela napas kasar. "Masa aku harus datang sendiri sih, Ly," kesal Pandu sampai memukul gagang setirnya.


Ily melonjak kaget karena gerakan Pandu. "Ka-kamu bi-bisa ajak teman kamu kok, N-ndu," ucap Ily tergagap bermaksud memberi saran.

__ADS_1


Pandu menoleh dengan tatapan kesalnya. "Baiklah jika itu kemauan kamu."


Setelah itu, tidak ada suara lagi yang berganti dengan suasana hening mencekam. Ily tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.


"Ndu?" panggil Ily lembut sambil memegang lengan Pandu. Bersamaan dengan itu, mobil telah sampai di pelataran rumah sakit.


Pandu menghela napas lelah lalu menoleh. "Apa?" ketusnya singkat.


"Aku harap kamu mau bersabar, Ndu. Hanya enam bulan lagi aku harus bekerja siang dan malam. Sebagai dokter spesialis baru, aku harus menjalankan peraturan yang ada. Setelah itu, aku bisa mengurangi jam praktekku. Itu sudah peraturan di rumah sakit," ucap Ily penuh permohonan.


"Tolong mengertilah. Aku sudah menyusun semuanya dengan baik. Termasuk ingin mendirikan klinik sendiri demi masa depan kita," jelas Ily lagi.


Pandu menatap remeh Ily. "Demi masa depan kita kamu bilang? Masa depan yang seperti apa?" tanya Pandu menyangsikan ucapan Ily.


Seperti ada batu besar yang saat ini mengganjal rongga dada Ily. Dia kecewa dengan pertanyaan Pandu yang meragukan usahanya.


"Ndu," panggil Ily lirih. Matanya menatap lekat wajah Pandu yang kini membuang pandangan ke depan.


"Aku juga berjuang disini, Ndu. Bukan hanya kamu. Aku—"


"Berjuang seperti apa yang kamu maksud? Selama ini kamu jarang sekali ada waktu untukku. Kamu selalu sibuk dengan pekerjaan, pekerjaan, dan pekerjaan. Bahkan saat aku datang menemui, kamu masih saja sibuk dengan pekerjaan," sela Pandu sebelum Ily benar-benar menyelesaikan kalimatnya.


Ily terdiam dengan hati yang mendadak nyeri. Ily membuang napasnya kasar lalu mengalihkan pandangan menatap ke depan.


"Tapi ini sudah keterlaluan. Kamu jarang ada waktu untukku. Kamu tahu kan, seseorang yang mencintai itu pasti akan meluangkan waktu ditengah kesibukannya. Bukan mencari waktu luang untuk bertemu," ucap Pandu menirukan perkataan Renita tempo hari.


Melihat Ily yang masih diam, Pandu kembali bersuara. "Bukankah selama ini aku sudah cukup bersabar? Kamu saja yang tidak pernah memperhatikan," ucap Pandu yang berhasil menikam relung terdalam Ily.


Tanpa terasa, air mata Ily mulai berjatuhan sudah tak terbendung lagi. Ily merasa terluka karena ucapan Pandu.


Bukankah selama ini Ily juga begitu sabar menghadapi sikap Pandu yang kekanak-kanakan? Dan Ily rasa, hanya Ily yang bisa menerima itu semua. Kalaupun ada seseorang yang bisa menggantikan Ily, dia harus mempunyai stok sabar yang banyak layaknya seorang ibu pada anaknya.


"Jangan menangis! Kamu kira aku akan luluh hanya karena air matamu?" kesal Pandu disertai memukul gagang setir cukup kencang.


Ily semakin terisak. Mengapa rasanya sesak sekali?


Mencoba meredam gemuruh di dadanya, Ily menoleh pada Pandu. Pandu bisa melihat mata Ily yang merah berair. Belum lagi hidung dan pipinya tampak kemerahan.


"Kita bicara lagi nanti. Aku harus bekerja. Aku harap kamu mau mengertiku dan bersabar sedikit lagi. Tolong jangan katakan hal buruk lagi tentangku dari mulutmu. Karena itu sangat menyakitiku, Ndu," ucap Ily lalu meraup wajahnya kasar.


Pandu menghela napas kasar. Emosinya selalu tidak terkontrol seperti ini. "Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari bibir Pandu.


Dia tidak pernah merasa salah dalam hal ini. Dia juga menjadi pihak yang tersakiti dalam hubungannya dengan Ily.

__ADS_1


Ily menarik wajah Pandu dan menangkupnya agar mau menghadap dirinya. Pandu masih berusaha membuang tatapan yang membuat Ily terkekeh pelan.


"Jangan seperti itu lagi aku mohon. Aku sangat mencintaimu terlepas dari semua kesibukanku selama ini."


"Lihat aku dong, Ndu," pinta Ily lembut.


Walau bibirnya tampak cemberut, mata Pandu kini sudah menatap Ily sepenuhnya. Ily terkekeh geli melihatnya.


Kemudian, Ily mengecup bibir Pandu dan menekannya sedikit lama.


Cup.


"Jangan marah-marah lagi aku mohon. Aku akan kerja dulu. Nanti kita teleponan lagi," ucap Ily sebelum benar-benar pergi.


Pandu hanya diam dengan bibir yang masih cemberut. "Senyum dong. Nanti aku gigit mau?" goda Ily dengan senyum smirknya.


Hal itu mampu membuat Pandu mengulum senyumnya. Ily selalu bisa meluluhkan keras hatinya.


"Nah gitu dong. Aku kerja dulu ya. Kamu jangan nakal," ucap Ily sebelum benar-benar keluar dari mobil.


Ily melambaikan tangan dan melakukan kecupan di udara semata hanya untuk membuat Pandu tersenyum. Setelah itu, Ily berjalan menyusuri koridor ruang sakit menuju ruangannya.


Seperti itulah Pandu. Dia layaknya anak-anak yang sedang merajuk meminta mainan. Beberapa teman dekatnya selalu mengatakan jika Ily seperti seorang ibu untuk Pandu karena kesabaran dan kelapangan dada Ily dalam memberikan maaf dan pengertiannya.


Ily tidak peduli itu. Dia sudah terlalu mencintai Pandu. Jadi, selain mecintai kelebihannya, Ily juga harus mencintai kekurangan Pandu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa dukungannya ya😍...


...berikut ini adalah visual pemeran👇...


1. Lyrics syabina



2. Panduwinata Damendra



3. Renita


__ADS_1


__ADS_2