
Setelah dari ruangan Ily, Bu Soraya kini memilih untuk menuju ruangan Pandu. Walau Ily seorang dokter, bu Soraya berusaha membantu sebisa mungkin luka yang saat ini Ily rasakan. Karena bu Soraya yakin, bukan kekuatan dokter yang Ily butuhkan saat ini.
Gadis itu menginginkan kasih sayang seorang ibu. Tidak ada luka serius. Ily hanya mengeluh bahwa tubuhnya terasa nyeri akibat terjatuh dengan posisi duduk. Bu Soraya menghela napas kasar. Semua itu tidak akan terjadi jika Pandu berpikir dahulu sebelum bertindak.
Bu Soraya tidak habis pikir mengapa Pandu bisa bertemu dengan sosok wanita seperti Renita. Bahkan, wanita itu dengan terang-terangan mengatakan sudah menjadi kekasih Pandu.
Satu tangannya bergerak memijat pelipisnya yang tiba-tiba terserang pening. Saat sudah sampai di depan ruangan, bu Soraya bisa melihat pintu ruangan Pandu terbuka dan Renita muncul dari sana.
Namun, bukan itu yang saat ini menjadi fokusnya. Renita keluar dengan wajah sembab dan raut yang kesal. Bu Soraya mengernyit heran yang segera berganti dengan raut tidak suka. Bisa-bisanya Renita melewatinya begitu saja.
Huh. Dasar tidak punya sopan santun. gerutu Bu Soraya dalam hati.
Tidak mau ambil pusing, Bu Soraya segera masuk ruangan dan melihat Pandu yang terlihat sedang melamun.
"Ndu! Jangan melamun terus!" sentak bu Soraya sedikit meninggikan suaranya.
Pandu berjenggit kaget sambil memegangi dadanya yang serasa mau copot. "Astaga, Ma. Datang-datang langsung teriak," kesal Pandu mengelus dadanya naik-turun.
Bu Soraya mencebikkan bibir. "Kalau kamu tidak melamun, kamu tidak akan terkejut," ucap bu Soraya tidak merasa bersalah.
"Eh. Itu ... Kenapa dia keluar sambil nangis-nangis begitu? Bahkan ya, dia berpapasan dengan Mama saja dia tidak menyapa. Gadis seperti itu yang kamu cari? Hah?" tanya bu Soraya kesal.
Pandu menghela napas pelan. Seketika ingat bahwa Renita baru saja bercerita bahwa sang Mama baru saja menamparnya.
"Ma? Aku boleh tanya sesuatu tidak?" tanya Pandu lembut.
"Tanyakan saja," jawab bu Soraya yang kini sudah mengambil posisi duduk di sebelah brankar.
"Apa benar, Mama tadi menampar Renita?" tanya Pandu selembut mungkin agar tidak membuat sang Mama tersinggung.
__ADS_1
"Oooh! Jadi dia sudah mengadukannya padamu? Apa saja yang dia katakan? Dan kamu percaya begitu saja?" tanya bu Soraya balik yang hampir membuat gendang telinga Pandu seperti akan pecah.
Benar kan dugaan Pandu, ibunya itu apsrti akan overthinking.
"Jawab dulu, Ma," rengek Pandu merasa kesal.
"Aku yakin, Mama melakukan itu bukan tanpa alasan. Aku tahu Mama seperti apa," sambung Pandu lagi agar kemarahan sang Mama mereda.
Terdengar helaan napas berat sebelum Bu Soraya benar-benar menjawab. "Benar. Mama memang menampar Renita. Tetapi karena dia bertindak kasar dengan calon menantu Mama. Mama tidak terima jika sampai Ily kenapa-napa," ucap bu Soraya yang kini bibirnya sudah menggerucut.
Pandu terkekeh getir. "Calon menantu? Mama tahu kan kalau hubunganku dengan Ily sudah Berakhir? Hal itu tidak akan terjadi," ucap Pandu merasa sesaks setiap kali mengingat perpisahannya dengan Ily.
"Pokoknya Mama tidak mau tahu, kamu harus kembali dengan Ily. Kurang apa sih Ily, Ndu? Dia adalah sosok yang luar biasa," ucap bu Soraya membanggakan Ily.
Pandu mengangguk membenarkan. "Iya, Ily memang gadis yang luar biasa. Tetapi, apakah Ily masih mau kembali denganku, Ma? Sedangkan luka yang aku berikan saja sudah terlalu dalam," ucap Pandu dengan kepala yang menunduk.
Huuft. Lagi-lagi Bu Soraya menghembuskan napas yang terasa berat sekali. "Mama yakin, Ily juga masih mencintai kamu. Hanya saja, mungkin saat ini Ily memilih untuk menjaga jarak. Apalagi, tadi saat di tempat parkir, Mama bisa mendengar kekasih kamu itu tuh, meminta Ily agar tidak lagi mendekatimu. Memangnya kapan Ily mendekatimu setelah kalian berpisah? Mama heran, kenapa kamu bisa jatuh cinta dengan orang yang tidak lebih baik dari Ily," omel bu Soraya panjang lebar.
Pandu bisa mendengar ada nada kesal di dalam ucapan sang ibu. Ada nada tidak terima ketika mengucapkan Renita meminta Ily untuk tak lagi mendekati dirinya.
Pandu membasahi bibirnya yang terasa kering. "Kalau aku kembali dengan Ily, bagaimana dengan Renita, Ma? Hubungan kamu bahkan baru berjalan satu bulanan. Masa iya, Pandu harus memutuskannya tiba-tiba?" ucap Pandu frustasi.
"Kamu bagaimana? Cinta tidak dengan Renita? Lalu, coba kamu bandingkan dengan Ily," ucap bu Soraya bagaikan bahan bakar.
Entah mengapa, perasaanya mengatakan bahwa Renita bukanlah sosok yang sebaik wajahnya. Renita tidak sepolos itu terlihat dari bagaimana gadis itu meminta Ily menjauhi Pandu.
Itu bukan cinta melainkan semacam obsesi. "Mama hanya ingin berpesan padamu, Ndu. Mama merasa, Renita itu kurang baik untukmu. Entahlah, Mama banyak menaruh curiga pada gadis itu," ucap bu Soraya mengatakan keresahan hatinya.
Pandu terdiam, mencoba mencerna ucapan sang Mama. Pandu yakin, perasaan seorang ibu tidak akan bisa berbohong.
__ADS_1
"Aku akan pikirkan lagi, Ma," jawab Pandu pada akhirnya.
"Oh iya, Ma. Memanganya, apa yang Renita lakukan pada Ily sampai-sampai Mama semarah itu?" tanya Pandu yang teringat akan perkataan mamanya.
Bu Soraya memicing. "Kamu belum tahu kelakuan kekasih kamu itu seperti apa? Dia sangat kasar. Mama tidak bisa membayangkan seandainya tindakan kasarnya dilakukan pada Mama dan Larina," geram bu Soraya sambil geleng-geleng kepala. Beliau bergidik ngeri seandainya itu terjadi.
"Memanganya apa, Ma? Bicaralah yang jelas," kejar Pandu karena sejak tadi mamanya itu terlalu misterius.
"Setelah wanita itu meminta Ily untuk menjauhimu, dia mendorong Ily sampai tubuh Ily terjatuh ke lantai paving. Ily terjatuh dalam posisi duduk dan itu sangat berbahaya dalam dunia kedokteran. Itu bisa mengakibatkan kematian," jelas bu Soraya panjang lebar.
Pandu yang mendengar itu, langsung membelalakan mata tidak percaya. "Lalu, bagaimana keadaan Ily sekarang, Ma?" tanya Pandu khawatir.
"Ya begitu. Katanya, pinggang dan punggungnya sakit. Mungkin saja sudah ada luka lebam karena Ily tidak mengizinkan Mama melihat lukanya," jelas Bu Soraya lagi.
Pandu semakin khawatir. "Kalau begitu, izinkan aku untuk menemui Ily, Ma. Aku sudah sembuh dan bisa berjalan-jalan seperti biasa. Lagian, nanti siang juga aku sudah diperbolehkan pulang," mohon Pandu berharap ibunya memberikan izin.
Bu Soraya terdiam sejenak. "Baiklah. Tapi tunggulah sebentar dulu. Mama akan meminta dokter untuk melepas infusnya. Setelah itu, kamu boleh menemui Ily," jawab Bu Soraya pada akhirnya.
Dia bergegas keluar untuk memanggil dokter. Tidak berapa lama, Bu Soraya kembali bersama dokter pria yang akan membantu mengecek keadaan Pandu. Sebenarnya, dokter mengecek rutin setiap pagi pasiennya namun menurut jam yang sudah ditentukan. Karena terburu-buru, Bu Soraya memilih untuk dimajukan. Beruntung sang dokter sudah datang.
Setelah infus dilepas dan kondisi Pandu dianyatakan baik, dokter memperbolehkan Pandu untuk pulang nanti siang.
"Ma? Aku harus cepat ke ruangan Ily. Semoga saja dia ada di ruangannya," ucap Pandu terburu-buru turun dari brankar dan tergesa keluar ruangan.
"Hati-hati, Ndu! Jangan terburu-buru!"peringat bu Soraya khawatir karena Pandu begitu terburu-buru.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa kasih dukungannya ya😍...
__ADS_1