Rewrite Our Destiny

Rewrite Our Destiny
Bab 24. Aku tahu


__ADS_3

Ada yang hampa ketika menegtheui kenyataan hubungannya dengan Ily telah berakhir. Namun, ada salah sisi hatinya yang mengatakan tidak apa-apa karena masih ada Renita. Bukankah Renita yang selalu siap sedia?


Ceklek.


Lamunan Pandu tersentak ketika mendengar pintu ruangannya dibuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Sedetik kemudian, Renita muncul dari balik pintu.


"Selamat siang, Ndu. Aku bawa makan siang untuk kamu," ucap Renita tersenyum manis lalu menutup pintu ruangan. Pandu tersenyum saat Renita berjalan mendekati mejanya.


"Bawa makanan apa hari ini?" tanya Pandu antuasias.


"Aku hari ini masak rendang sekalian bawa dessert," jawab Renita yang kini mulai duduk di kursi yang berhadapan dengan Pandu yang hanya berbataskan meja kerja.


Tangannya lincah membuka satu-persatu tentang berisi makanan. Setelah rantang terbuka, Pandu bisa mencium aroma rempah-rempah yang dihasilkan oleh rendang di hadapannya. Perutnya mendadak berbunyi dan Renita mendengar itu.


Renita terkekeh. "Makanlah, Ndu. Kamu bisa menghabiskan semuanya," jawab Renita merasa senang.


Pandu mulai mengambil nasi dan lauknya. Setelah siap, Pandu mulai makan dengan hikmat. Masakan Renita memang sudah tidak diragukan lagi. Pandu merasa cocok dengan masakan yang dibuat oleh Renita.


"Kamu masak semua ini sendiri?" tanya Pandu tidak habis pikir. Ada beberapa lauk yang dibawa Renita dan rasanya, tidak mungkin Renita mampu menyiapkannya dalam waktu satu atau dua jam.


Untuk masak daging rendangnya saja pasti membutuhkan waktu yang cukup lama agar daging matang sempurna dan empuk.


Renita mengangguk. "Iya. Memangnya kenapa?" tanya Renita balik.


Pandu tidak langsung menjawab karena prosesi makannya sudah selesai dan sedang meneguk air mineral. "Enak sekali. Seperti makanan di sebuah rumah makan," puji Pandu setelah selsis minum, yang membuat Renita tersipu.


"Terima kasih."

__ADS_1


"Oh iya, Ndu. Makanan penutupnya mau di makan sekarang?" tawar Renita sambil tersenyum manis. Renita ingin menunjukan bahwa hanya dirinya yang pantas mendampingi Pandu.


"Nanti dulu. Aku masih terlalu kenyang," jawab Pandu yang kini justru beranjak dari kursinya dan mendekati kursi yang diduduki Renita.


Renita mendongak ketika mendapati Pandu mendekat dan membungkuk di hadapannya. Apalagi, kini dua tangan Pandu sudah bertumpu pada sisi kursi hingga membuat Renita tidak bisa banyak bergerak.


"Kenapa, Ndu?" tanya Renita masih mempertahankan senyum manisnya. Tanpa diduga, Pandu segera mengangkat tubuh Renita. Pria itu duduk di kursi yang baru saja Renita duduki lalu, memangku Renita dengan posisi menyamping.


Pandu ingin memastikan bahwa dirinya akan baik-baik saja walau tanpa Ily dan segala kemanisan juga keanggunannya.


Renita yang terkejut, melotot tajam ke arah Pandu. Namun, sedetik kemudian Renita terkekeh pelan dan mulai mengalungkan tangannya di leher Pandu.


Sedangkan Pandu, dia justru terkekeh dan memeluk pinggang Renita posesif. "Biarkan seperti ini dulu," ucap Pandu saat melihat Renita ingin merubah posisi menjadi menghadap dirinya.


Renita memberenggut kesal. "Memangnya kenapa, Ndu?" protes Renita kesal.


Namun, rasanya sangat berbeda jika Ily yang ada di pangkuannya. Pandu tidak sanggup untuk menahan diri atau sekedar mencicipi rasa bibir Ily.


Renita tersenyum lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Pandu. "Aku sangat mencintaimu, Ndu," ucap Renita tulus dan Pandu mengangguk sebagai jawaban.


"Aku tahu," jawab Pandu berusaha untuk tersenyum. Entah mengapa, Pandu merasa tidak nyaman saat Renita mulai agresif.


"Kenapa kamu tidak pernah membalas ungkapan cintaku? Apa karena masih ada Ily disini," tanya Renita sambil menunjuk dada Pandu.


"Jangan sebut nama Ily lagi. Dia sudah tidak ada sangkut-pautnya denganku. Dia sudah memutuskan hubungan kami," jawab Pandu yang membuat Renita bersorak dalam hati. Mengira bahwa permintaannya agar Ily meninggalkan Pandu benar-benar dilakukan.


Padahal, Ily sudah melakukannya jauh sebelum Renita datang dan rela menurunkan harga diri. "Apakah Ily memutuskan hubungan kalian? Tetapi karena apa?" tanya Renita pura-pura bodoh.

__ADS_1


Pandu menatap Renita lekat. "Lupakan. Kita tidak perlu membahas dia lagi," jawab Pandu segera mengalihkan pembicaraan.


"Ya sudah. Kalau begitu jawab pernyataan cintaku," rengek Renita sambil bibirnya menggerucut.


"Yang mana?" tanya Pandu pura-pura lupa.


"Aku mencintaimu, Pandu."


Pandu kembali terdiam lalu menjawabnya dengan, "Aku menyayangimu."


"Kalau begitu buktikan!" pinta Renita kembali merengek manja.


"Dengan cara apa?" tanya Pandu bingung. Jujur, Pandu belum bisa mencintai Renita sepenuhnya. Namun, jika ditanya sayang, Pandu menyayangi Renita tentu saja.


Namun untuk cinta, sepertinya Pandu belum memilikinya untuk Renita.


"Cium aku," ucap Renita yang membuat Pandu seketika menggeleng. Raut wajah Renita tampak kecewa dan Pandu semakin merasa bersalah.


"Jangan salah paham terlebih dahulu. Semua aku lakukan karena aku takut tidak bisa menahan diri. Aku takut akan melewati batas. Tolong mengertilah," jelas Pandu beralibi.


Dan dengan bodohnya, Renita percaya begitu saja dengan alasan Pandu. Justru, Renita merasa sangat bersyukur sekaligus bangga memiliki kekasih seperti Pandu yang begitu menjaga kehormatannya.


"Terima kasih karena sudah menjagaku dengan baik," ucap Renita kembali terispu malu.


Pandu meringis. Hatinya tiba-tiba dirundung rasa bersalah karena sudah berbohong dan Renita percaya. Tetapi, itu lebih baik daripada Renita mengetahui kenyataan yang ada.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...maaf karena baru bisa update hari ini. semoga kalian masih betah disini ya. lup😍😍...


__ADS_2