
Melihat Pandu yang hanya diam, pak Guntur kembali bersuara. "Aku tidak menyangka jika kamu akan dengan mudah berpaling. Jangan pikir aku tidak tahu bagaimana kelakuan kamu. Kamu itu laki-laki namun memiliki sifat uang begitu kekanak-kanakan. Oleh sebab itu aku tidak pernah suka padamu," ucap pak Guntur tanpa disaring terlebih dahulu.
Melihat Pandu yang hanya diam, seketika membuat Ily merasa tidak enak hati. "Pa. Jangan bahas itu lagi," ucap Ily memperingatkan.
Pak Guntur tersenyum jengah ketika mendengar secara tidak langsung Ily membela Pandu. "Papa sudah selesai. Kalau urusan kamu sudah selesai, silahkan pulang," ucap pak Guntur bagai sebuah kalimat pengusiran.
Pandu yang merasa sudah tersudut, hanya mengangguk dan memilih untuk segera pulang. Keadaan sepertinya sudah tidak memungkinkan Pandu untuk tetap berada disana.
Ily hanya bisa menatap punggung kedua laki-laki yang pergi tanpa mengatakan apapun padanya. Meninggalkan Ily sendirian terduduk di meja makan. Ily termenung. Seandainya Pandu benar-benar serius, dia tidak akan tersinggung dengan ucapan sang Papa.
Namun, Pandu masih saja sepengecut dulu. Mengingat itu, Ily tidak akan berharap lebih atas hubungan ini.
Tidak ada lagi yang bisa Ily harapkan. Apalagi, sang Papa yang seperti terang-terangan menolak Pandu. Ily tak sanggup berada di situasi seperti ini terus menerus.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kamar milik pak Guntur, beliau sedang menatap kepergian mobil Pandu yang meninggalkan pekarangan rumahnya. Dia tersenyum mengejek karena laki-laki yang mencintai anaknya tidak lebih dari seorang pecundang.
Hanya disentil sedikit saja sudah menyerah terlebih dahulu. Pak Guntur tahu sifat busuk Pandu dari seorang gadis yang mengaku sebagai kekasih lain dari Pandu.
__ADS_1
Gadis itu menghampiri dirinya yang sedang duduk di sebuah kafe karena baru saja bertemu dengan salah satu temannya. Namun, temannya itu sudah pergi dan tinggallah dirinya sendiri.
"Hai, Pak. Boleh meminta waktunya sebentar?" ucap sang Gadis dengan ramah.
Pak Guntur mengangguk walau dia cukup terganggu dengan keberadaan orang yang tak dikenal. "Silahkan."
"Langsung saja ya, Pak. Ada yang ingin saya sampaikan tentang kekasih anak Bapak yang bernama Pandu. Saya sarankan Bapak segera menjauhkan Ily dari Pandu. Pandu saat ini sedang menjalin hubungan dengan saya atas dasar kesepian. Pandu datang karena Ily tidak pernah meluangkan waktunya sedikit saja untuk Pandu. Jadi jelas, saya adalah yang terbaik untuk Pandu. Bukan Ily," ucap gadis tersebut langsung lebar yang membuat pak Guntur hampir tidak percaya dengan pendengarannya.
Setelah berhasil menguasai diri dari rasa terkejut, pak Guntur kembali bertanya. "Kamu siapa? Mengapa mengenal Ily dan Pandu?" tanya pak Guntur lengkap dengan wajah kakunya hingga mampu membuat nyali gadis di hadapannya sedikit menciut.
"Sa-saya Renita, Pak. Kekasih Pandu yang kedua," aku Renita yang membuat pak Guntur mengepalkan keduanya telapak tangannya.
"Aku melakukan ini karena tidak ingin Pandu kembali menyakiti Ily. Cukup saya saja yang menjadi korban pelarian Pandu karena ketidak-hadiran Ily si hari-hari tersulitnya Pandu. Saya tidak ingin Ily terluka lebih jauh lagi," ucap Renita lagi-lagi mengekspresikan diri layaknya orang yang peduli.
Iya, peduli. Peduli atas derita yang akan Ily rasakan. Renita sangat menantikan hal itu terjadi. Setelah mengatakanya pada Ayah dari Ily, Renita yakin Pandu tidak akan diterima dengan baik.
Pak Guntur menggelengkan kepala tidak percaya. "Aku melakukan ini hanya untuk menguji seberapa besar kemampuan Pandu untuk memperjuangkan putriku. Akan aku lihat, apakah besok pagi dia akan datang lagi, atau justru mencari perempuan lain lagi," gumam pak Guntur penuh dengan rencana.
__ADS_1
................
Ily menghela napas pelan. Pandangannya menatap langit-langit kamar yang bercat putih. Hari semakin larut namun Ily tak kunjung mendapatkan pesan dari Pandu.
Ily pikir, Pandu akan kembali memperjuangan dirinya. Namun pada kenyataannya, itu hanyalah harapan Ily yang tidak akan pernah terjadi. Pandu hanya senang untuk diperjuangkan namun tidak terlalu suka memperjuangkan.
"Ya. Sejak dulu aku yang selalu berjuang dalam hubungan ini. Hubunganku dengan Pandu tidak akan terjadi jika dulu aku tidak mengejar-ngejar pria itu," gumam Ily miris.
"Hingga saat ada perempuan lain yang mengejar Pandu, laki-laki itu akan menerima ungkapan cinta karena saat itu aku tak lagi mengejar Pandu. Aku sedang mengejar cita-citaku," monolog Ily lagi mengingat kilas balik hubungannya dengan Pandu.
Ily membalikan tubuh untuk menyamping, menatap foto yang terletak di atas nakas dimana dalam bingkai pigura itu terdapat dirinya dan Pandu.
"Aku berhenti berjuang. Bukan karena aku lelah dengan sebuah hasil. Melainkan, aku lelah karena tidak pernah dihargai. Aku tidak pernah merasa diperjuangkan dalam hubungan ini," monolog Ily menanamkan dalam hati ikrarnya itu.
Baru beberapa bulan Ily tidak pernah ada waktu dan Ily meminta pengertian Pandu. Namun, laki-laki itu sudah tidak bisa menahan. Seperti dirinya yang rela berkorban waktu saat Pandu baru saja menjabat sebagai direktur utama di perusahaan sang Ayah.
Mengingat itu, dada Ily terasa nyeri. Perjuangannya sudah begitu banyak. Namun, pengorbanan Ily tidak pernah cukup di mata Pandu.
__ADS_1
"Selamat tinggal, Pandu. Aku berhenti mulai hari ini," gumam Ily lagi sebelum benar-benar terpejam hingga tidur membawanya lelap.