
Hari berganti dsn waktu terus bergulir. Ily bukanlah tipe orang yang selalu terpuruk ketika sendu patah hati. Dia memilih untuk lebih banyak melakukan aktifitas yang bermanfaat.
Tepat pukul dua belas siang, Ily baru saja keluar dari ruang operasi. Bahagia sekali saat oeprasi yang dilakukan Ily berjalan lancar.
"Dokter mau makan apa, Dok? Aku saya pesankan sekalian karena mau ke bawah ini," tanya suster Gaby seperti biasa.
Nala memutar bola mata ke atas untuk berpikir sejenak. Sudah dua hari ini Ily merasa kurang berselera makan. Namun, Ily harus tetap makan karena tubuhnya butuh tenaga.
"Makanan yang tidak ribet apa, Sus? Lontong sayur boleh lah, Sus," ucap Ily yang segera diangguki oleh suster Gaby.
"Baiklah, Dok. Akan saya pesankan," jawab suster Gaby. Namun, sebelum suster Gaby berlalu, Ily sudah memberikan tiga lembar uang lima puluh ribuan.
Sepeninggalan suster Gaby, pintu ruangan kembali terbuka dan menampakkan kepala suster Gaby yang menyembul dari bilah pintu.
Ily menoleh dengan raut penuh tanya. "Kenapa lagi, Sus? Kok balik?" tanya Ily.
Suster Gaby terlihat ragu untuk mengatakannya. Namun, dia harus segera melakukannya karena seseorang kini telah menunggunya di balik pintu.
"Ada yang ingin bertemu dengan Dokter," ungkap suster Gaby.
"Suruh masuklah, Sus," jawab Ily santai.
Muncullah seorang wanita dari balik pintu yang membuat Ily terpaku sejenak. Hanya sebentar karena Ily telah berhasil menguasai dirinya kembali.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Ily berusaha mengulas senyum, terlepas dari apa yang terjadi di antara mereka.
"Boleh saya masuk, Dok?" izin wanita tersebut terlebih dahulu.
Setelah Ily mengangguk, wanita tersebut masuk dan suster Gaby segera menutup pintu ruangan. Di ruangan tersebut, kini hanya ada Ily dan sosok wanita yang tempo hari sedang dipeluk mesra oleh Pandu. Keduanya duduk berhadapan yang hanya berbataskan meja kerja.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Ily lagi karena wanita di depannya tak kunjung menbuka suara.
Wanita di hadapannya tersenyum manis yang justru membuat Ily merasa jengah. Entah apa maksud kedatangan kekasih lain Pandu ke rumah sakit tempat Ily bekerja. Pasti ada sesuatu yang akan dia sampaikan.
__ADS_1
"Sebelumnya perkenalkan nama saya Renita," ucap Renita sambil mengulurkan tangannya.
Ily membalas uluran tangan tersebut lalu menjawabnya. "Saya dokter Ily."
"Mungkin kamu mengira aku kesini untuk berobat. Tetapi, bukan itu tujuanku," ucap Renita yang mulai merubah raut wajahnya menjadi serius.
Ily menegakkan punggungnya untuk memperhatikan apa yang akan dilakukan Renita sehingga harus datang kesini.
"Ya? Lalu untuk apa?" tanya Ily berusaha santai walau sebenarnya Ily sudah sangat kesal.
"Tolong lepaskan Pandu," ucap Renita yang berhasil membuat Ily menunjukkan wajah datarnya.
"Kenapa?" tanya Ily dengan alis yang terangkat.
"Hanya saya yang bisa membuat Pandu bahagia. Lihatlah, kamu selalu sibuk dengan pekerjaanmu. Tolong, lepaskan Pandu untuk saya. Dia berhak bahagia bersama wanita seperti saya. Wanita yang selalu ada kapanpun Pandu mau," pinta Renita dengan percaya dirinya.
Ily tersenyum masam. "Bagaimana jika saya tidak ingin melepaskan Pandu?" tanya Ily sengaja memainkan perkataan.
Sebenarnya, Ily sudah melepaskan Pandu dan enggan menahan pria itu. Kodrat seorang wanita bukanlah mengejar melainkan dikejar. Namun, sepertinya Pandu belum memberitahukan semua yang telah terjadi pada wanita di hadapannya.
Ily menahan napas agar emosinya tidak meledak. Apa wanita di depannya tahu taraf bahagia Pandu seperti apa? Huh! Ily ingin sekali mengumpati dengan kata-kata kasar. Namun Ily sadar, bahwa semua itu akan membuang-buang tenaga saja.
"Kenapa aku harus melepaskan Pandu? Memangnya kamu siapa hingga berani meminta saya untuk melepaskan kekasih saya?" tanya Ily lagi-lagi ingin mengetes wanita di depannya.
"Oh. Saya lupa jika kamu belum tahu siapa saya. Perkenalkan, saya kekasih Pandu yang baru. Dan asal kamu tahu, selama kamu sibuk bekerja, aku yang selalu menemani Pandu. Bahkan saat akhir pekan tiba, Pandu selalu mengajakku untuk berkencan," ucap Renita sengaja memanas-manasi Ily dan ternyata berhasil.
Dada Ily seperti terbakar bara api setelah mendengar pengakuan Renita. Pantas saja selama beberapa pekan ini Pandu selalu tidak berada di rumah. Dan satu hal lagi yang Ily ingat adalah, pada saat itu dia mengetahui mobil Pandu yang ban mobilnya terdapat pasir pantai.
Mengingat itu, tiba-tiba Ily merasa dadanya sesak. Ada tangan tak kasat mata yang meremas ulu hatinya. Sakit.
Melihat Ily yang terdiam, Renita tersenyum puas. "Kamu pikir saja kemana Pandu selama ini? Bukankah dia sudah jarang menemuimu lagi? Itu karena Pandu sedang bersamaku," ungkap Renita seakan tidak ingin berhenti memberikan percikan buruk mengenai Pandu.
"Keluar!" titah Ily tegas yang membuat Renita tersenyum puas.
__ADS_1
"Kenapa? Itulah kenyataannya," ucap Renita angkuh.
"Keluar dari sini, sekarang!" titah Ily dengan penuh penekanan.
Renita yang awalnya tersenyum angkuh, merubah ekspresi wajah menjadi datar. Tangannya bergerak untuk menangkup di depan dada.
"Saya mohon. Tolong lepaskan Pandu. Hidupmu sudah lebih baik dari hidupku. Hanya Pandu yang saya punya saat ini. Bahkan, ibu dan ayahku sudah tiada. Jika sampai Pandu pergi meninggalkanku, aku bisa gila karena lagi-lagi harus hidup sendirian," ucap Renita memohon.
Ily menatap kesal. "Kamu bermaksud menjual air mata? Cih. Dasar tidak tahu malu. Keluar kamu!" kesal Ily yang sudah tidak tahan lagi untuk meluapkan kekesalannya.
Renita memilih keluar ruangan dengan perasaan senang. Berharap usahanya kali ini akan membuahkan hasil. Suster Gaby yang baru saja kembali, melihat senyum Renita yang begitu ... Jahat.
Suster Gaby sampai bergidik ngeri melihatnya. Untuk memastikan atasannya baik-baik saja, suster Gaby bergegas masuk dan langsung mencari keberadaan Ily.
Namun, tidak ditemukan Ily di dalam ruangan. Setelah meletakan kantong kresek berisi makanan, suster Gaby berteriak memanggil nama Ily.
"Dokter Ily!"
"Dokter Ily!"
Ceklek.
Suster Gaby menoleh dengan panik saat pintu toilet terbuka. "Dokter!" pekik suster Gaby yang membuat Ily mengernyit heran.
"Kenapa, Sus? Kok panik gitu wajahnya?" tanya Ily tak paham. Setelah Renita keluar, wajah Ily mendadak kusut sehingga dia memilih untuk membasuh muka.
"Saya pikir dokter kemana. Saya takut lihat wajah wanita tadi, Dok. Dia kenapa, Dok. Kenapa senyumnya aneh begitu saat keluar ruangan?" tanya suster Gaby yang kini sudah duduk di sofa.
Ily menghela napas lelah. "Dia pacar baru Pandu," ungkap Ily yang membuat suster Gaby membelalak tak percaya.
"Pak Pandu punya kekasih gelap?" tanya suster Gaby kencang.
Ily sampai menutup telinga agar gendang telinganya aman dari kondisi pecah. "Jangan kencang-kencang, Sus."
__ADS_1
"Ya seperti itulah," jawab Ily yang semakin memmbuat suster Gaby terkejut bukan main.