
Cukup lama Pandu membiarkan Ily menangis hingga isakannya sudah tidjs terdengar lagi. Pandu akui dirinya salah. Namun, semua itu bukan sepenuhnya kesalahan dirinya.
"Ly?" panggil Pandu lagi yang tidak ditanggapi apapun oleh Ily.
Ily menarik dan menghembuskan napasnya kasar agar sesak di dada sedikit mereda. Lidahnya seakan kelu hanya untuk sekedar menjawab panggilan Pandu.
"Ily!" panggil Pandu lagi dengan meninggikan suaranya.
Ily berjanggut kaget karena suara Pandu yang menggelegar. Tanpa terasa, air mata Ily kembali jatuh.
"Kamu bisa tidak sih, jawab aku? Ini bukan kesalahanku sepenuhnya! Kamu yang membuatku harus mencari seseorang yang bisa menemaniku setiap saat! Sesuatu yang tidak bisa kamu lakukan," bentak Pandu dengan mata menatap Ily nyalang.
Sesak sekali rasa hati Ily saat ini. Pandu sudah tega membentak dirinya. Ily mencoba menenangkan diri karena tangisnya semakin sesenggukan.
"Aku yang salah! Puas kamu!" bentak Ily tak kalah keras.
"Aku yang salah. Aku salah karena selama ini terlalu percaya padamu. Aku yang salah disini. Hanya aku yang paling bersalah. Kamu tidak pernah salah dan tidak pernah mau mengakui kesalahan itu," ucap Ily yang kini nada suaranya merendah.
Ily terdiam sejenak lalu menghapus air matanya kasar. Pandu kini terdiam, merasa tertohok dengan ucapan Ily. Kepalanya sudah menunduk dalam.
"Aku pikir, kamu akan merenungi pertengkaran yang terjadi di antara kita hari itu. Seperti aku yang berusaha merenung dan memikirkan jalan bagaimana ke depannya. Tetapi, semua seakan sia-sia karena hanya aku yang berusaha memperbaiki hubungan. Sedangkan kamu, justru memilih menjalin hubungan dengan orang baru."
"Ibarat kata, jika kuku kita panjang, maka kuku kita yang harus di potong. Bukan jarinya. Begitu juga dengan sebuah hubungan. Kita harus menyelesaikan masalahnya, bukan malah menyelesaikan hubungan di antara kita. Apalagi, kamu melakukannya secara sepihak."
Ily menjeda kalimatnya dengan menarik napas panjang. Tangisnya kini sudah mereda dan tersisa sesenggukan yang sudah tidak terlalu kentara.
"Aku kesepian, Ly. Kamu tidak pernah ada waktu untukku. Kamu terbiasa membuatku nyaman dengan perempuan lain karena dialah yang selalu ada untukku. Ketidakhadiran kamu selama ini sudah digantikan oleh sosok lain yang selalu ada untukku," kilah Pandu mengungkapkan alasannya.
__ADS_1
Ily tidak tahan untuk menangis lagi. Bukankah sebuah hubungan terkadang membutuhkan pengorbanan? Ily sedang berjuang agar di kemudian hari tidak perlu menghabiskan waktu untuk bekerja.
"Akhir-akhir ini aku sering memikirkan kamu dan mencari jalan keluar tentang bagaimana agar aku selalu ada waktu untukmu. Aku sering datang ke rumahmu dan kamu tidak pernah aku temui disana. Tante Soraya maupun Larina selalu mengatakan bahwa kamu sering sekali pulang malam beberapa minggu ini. Aku menunggumu, Ndu. Tapi kamu tak kunjung pulang. Hingga puncaknya tadi pagi. Aku sengaja mengambil cuti di akhir pekan agar bisa menghabiskan waktu bersama kamu."
"Tetapi, sepertinya aku sudah terlambat. Ada seseorang yang lebih dariku dan selalu ada untukmu setiap waktu," ucap Ily panjang lebar. Di akhir kalimat, Ily merasa jantungnya seperti ditikam sebuah belati. Sakit. Tetapi tidak berdarah.
Ily memejamkan mata dan duduk menyamping untuk menatap Pandu sepenuhnya. Pandangannya menatap wajah tampan Pandu lekat-lekat. Ily sadar, setelah ini dia tidak akan melihat wajah itu lagi. Ya, Ily yang akan memilih pergi. Untuk apa bertahan disaat seseorang yang dipertahankan justru sudah nyaman bersama perempuan lain.
Sedangkan Pandu, dia merasa bersalah namun egonya mengatakan bahwa apa yang saat ini dirinya lakukan adalah untuk membuat diri sendiri bahagia.
"Kamu bahagia?" tanya Ily mencoba menyingkirkan ego di hatinya.
Pandu mendongak dan matanya bertemu dengan Ily. Walau ragu, Pandu mengangguk pelan. Ily tersenyum masam seakan senyuman itu merupakan senyuman yang sangat menyakitkan.
Ily mengangguk. "Pergilah, Ndu. Aku melepaskanmu," ucap Ily dengan berat hati.
"Tapi kenapa, Ly?" tanya Pandu meminta penjelasan.
Ily tertawa getir. "Kamu nanyeek?" Di tengah-tengah kesedihan yang dirasakan, Ily masih sempat-sempatnya bercanda.
"Jangan bercanda, Ly! Aku serius!" kesal Pandu yang membuat raut wajah Ily berubah datar.
"Kamu pikir setelah apa yang terjadi, aku masih bisa berpikir waras? Kamu pikir mudah menerima kenyataan pahit ini?" tanya Ily kesal.
Ily membuang pandangannya ke luar. "Kamu bilang, dia selalu ada untukmu. Maka pilihlah dia jika kamu benar-benar merasa bahagia. Aku sadar, aku bukan yang terbaik menurutmu. Pergilah, Ndu. Aku sudah rela. Tetapi ...." Ily sengaja menggantung Kalimatnya untuk membuat Pandu mengalihkan perhatian padanya.
"Tetapi apa?" kejar Pandu.
__ADS_1
"Tolong jangan datang lagi agar proses melupakanmu bisa berjalan lancar. Aku tahu bahwa semua itu tidak akan Sebentar. Setidaknya, dengan kamu tidak menampakkan diri lagi, itu akan semakin mempercepat langkahku melupakanmu," jawab Ily dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Entah mengapa, Pandu merasakan nyeri yang meremat dadanya. Ucapan Ily bagaikan petir yang menyambar sekujur tubuhnya.
"Tolong keluar dari mobilku. Sekarang kita bukankah siapa-siapa lagi," pinta Ily sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Lagi. Pandu merasa ada benda besar yang menghujam jantungnya. Rasanya sangat menyakitkan. Mendengar Ily mengatakan bahwa dia bukanlah siapa-siapa lagi untuk Ily. Mengapa Pandu tidak rela? Bukankah sudah ada Renita?
Pandu membuang napas kasar. Lalu tangannya bergerak untuk membuka handel pintu. Namun, sekali lagi Pandu sempatkan untuk menatap wajah sang Pujaan Hati hingga tanpa sadar, pandangannya kembali bertemu dengan manik coklat milik Ily.
Gerakan Pandu membuka pintu urung dilakukan. Pandu justru mengikis jarak dan meraih pinggang Ily dalam dekapan. wajah keduanya sangat dekat hingga bisa merasakan deru napas masing-masing.
"Ndu, apa yang akan kamu lakukan? jangan bertindak seenaknya," peringat Ily. Namun, pada kenyataannya Ily menikmati sentuhan Pandu di pinggangnya.
"Izinkan aku melakukannya untuk yang terakhir," ucap Pandu yang kini tatapan matanya berubah sayu.
"Melakukan ap—mph." Ucapan Ily terpotong karena kini, Pandu mulai menciumi bibirnya dengan sangat-sangat lembut.
Ily terkejut namun anehnya, Ily merasa terbuai hingga memejamkan mata. Ily membalas ciuman itu, yang akan menjadi ciuman terakhir Ily dan Pandu.
Disela ciuman itu, Ily meneteskan air mata. Jika Pandu terus bersikap seperti ituz bagaimana Ily bisa dengan mudah melupakan?
Merasa sudah kehabisan oksigen, Ily melepas ciuman dan menjauhkan wajah. "Pergilah, Ndu. Jangan berlebihan dan membuat kenangan baru," peringatan Ily yang langsung membuang muka.
Tanpa keduanya sadari, ada sepasang mata yang menyaksikan ciuman tersebut. Renita, dia melihat semua apa yang terjadi di mobil milik Ily karena kaca depan mobil itu transparan.
Renita memegangi dadanya yang terasa nyeri. Mengapa kisah cintanya tidak pernah berakhir baik?
__ADS_1