
Ily dan Larina sudah tiba di mall tempat mereka akan melepas penat. Keduanya berjalan beriringan menaiki eskalator untuk menuju lantai atas dimana banyak barang-barang branded yang dijual.
"Kakak mau beli baju dulu? Jas? Atau blazer?" tawar Larina.
Ily tampak menimang-nimang terlebih dahulu. "Bolehlah. Aku butuh beberapa kemeja untuk bekerja dan celana bahan sekalian," jawab Ily sambil kepalanya magut-magut.
Keduanya memasuki gerai toko pakaian dengan merek ternama dari luar negeri. Setelah cukup puas berbelanja, Ily mengajak Larina untuk pergi makan siang terlebih dahulu. Mereka keluar dari toko dengan membawa beberapa tentengan paperbag di tangan.
"Sepertinya kita harus makan siang terlebih dahulu agar setelah ini kita memilik tenaga lebih," usul Ily sambil tersenyum manis.
"Tentu. Agar kita juga bisa memilih barang-barang yang tepat dengan harga yang terjangkau," imbuh Larina yang seketika membuat dua perempuan muda itu tergelak bersamaan.
"Kita naik lift saja. Akan memerlukan waktu lebih lama jika menggunakan tangga berjalan," usul Ily yang hanya diangguki oleh Larina.
"Sebagai adik, aku akan menurut pada sang Kakak," jawab Larina yang membuat Ily semakin melebarkan senyumnya.
Sepanjang menaiki lantai, keduanya saling bergurau dan melempar candaan. Obrolan seperti tidak akan pernah habis jika Larina sudah di pertemukan dengan Ily. Begitu juga sebaliknya.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai tempat tujuan Ily dan Larina. Mereka keluar dengan langkah yang beriringan. "Mau makan apa, Kak?" tanya Larina sambil pandangan menoleh pada Ily dan kaki yang masih setia melangkah menapaki lantai marmer menuju tempat tujuan.
"Suka makanan Thailand tidak? Aku seperti ingin makan tomyam," tawar Ily terlebih dahulu.
"Tenang saja, Kak. Makanan apapun akan masuk ke perutku," jawab Larina santai dan Ily terkekeh karena itu.
"Baiklah. Restorannya ada disana, Rin. Sebentar lagi kita sampai," beritahu Ily yang membuat pandangan Larina mengikuti arah tunjuk Ily.
"Ooh, yang di sebelah coffe shop itu ya?" tanya Larina yang langsung mendapat anggukan dari Ily.
"Kita sam—pai," ucap Ily terputus ketika melihat ada seseorang yang sangat Ily kenali. Dia sedang berdiri di depan coffe shop yang Larina maksud.
Deg!
__ADS_1
Jantung Ily seperti berhenti berdetak detik itu juga. Bumi seperti berputar-putar atau memang kepalanya yang mendadak pening.
Di depan sana, ada Pandu bersama seorang wanita yang interaksinya sudah tidak biasa jika mereka hanyalah seorang teman. Paperbag yang ada ditangan Ily seketika lepas dan jatuh ke lantai marmer.
"Ayo, Kak—"
Larina sangat bingung ketika mendapati raut wajah Ily pucat pasi seperti sedang melihat hantu. Saat Larina mengikuti arah pandang Ily, dia dibuat terkejut setengah mati.
Larina sampai harus membekap mulutnya agar tidak berteriak. Di depan sana, kakaknya sedang memeluk seorang wanita dari belakang. Sedangkan sang Wanita, dia sedang mengantri untuk membeli kopi.
"Kak? Are you okay?" tanya Larina lirih.
Ily enggan menjawab. Namun, tatapan matanya masih tertuju pada Pandu yang ternyata sudah diam-diam mengkhianatinya. Kaki Ily seperti lunglai saat tatapan Pandu tidak sengaja bertemu tatap dengannya.
Ily mundur beberapa langkah dan bibir yang bergetar menahan tangis. Pandu sudah mengkhianati cintanya. Pandu sudah berselingkuh di belakangnya.
Ily tahu saat ini Pandu begitu terkejut dan pasti bertanya-tanya mengapa dirinya ada disini.
Tanpa ingin berlama-lama lagi, Ily segera berbalik lalu berlari menuruni eskalator. Larina yang melihat itu, menatap tajam pada Abangnya lalu memunguti paperbag yang dijatuhkan Ily ke lantai. Setelah itu, Larina berbalik untuk mengejar Ily.
"Ndu? Kamu mau kopi apa?" tanya Renita yang membuyarkan lamunan Pandu tentang Ily.
"Hah! Maaf, Ren. Sepertinya aku ada urusan mendadak. Kamu bayarlah kopinya dan pulang menggunakan taksi. Maaf karena tidak bisa mengantarmu pulang," pamit Pandu yang segera berlari mengejar Ily menuju lantai dasar.
Pandu yakin, Ily pasti menuju lantai paling bawah sana mencari keberadaan mobilnya.
Saat Ily sudah berada di tempat parkir, Ily segera masuk ke mobil dan ... Menumpahkan air matanya. Sesak sekali ketika megetahui Pandu telah berkhianat.
Sekelebat sikap Pandu yang tampak cuek dan sering sekali marah-marah semakin memperkuat dugaan Ily jika di hati Pandu sudah ada yang lain. Secepat itukah?
Ily kira, Pandu sudah berpikir dewasa dan bisa memikirkan masalah dengan kepala dingin. Namun, dugaannya salah karena bukannya memperbaiki hubungan, Pandu justru memutuskan hubungan yang sudah terjalin cukup lama.
Ily sadar jika dirinya salah. Namun, Ily sedang berusaha memperbaiki semua. Dan disaat Ily sedang berjuang demi hubungannya bersama Pandu, laki-laki itu justru dengan mudahnya menjalin hubungan bersama wanita lain.
__ADS_1
"Pantas saja Pandu yang biasanya betah di rumah, kini susah sekali ditemui. Ternyata, aku sudah dikhianati," monolog Ily tersenyum getir.
Saat masih menangis, Ily mendengar pintu mobilnya diketuk dari luar. Betapa kecewanya Ily saat melihat pelaku yang mengetuk kaca mobilnya bukanlah Pandu. Larina kini sudah berdiri di samping mobilnya.
'Memangnya apa yang kamu inginkan? Pandu mengejarmu dan berusaha menahan agar kamu mempercayai Pandu lagi?' batin Ily kesal.
Akhirnya, Ily membuka kunci mobil agar Larina bisa masuk. Setelah Larina masuk, Ily semakin menangis tersedu-sedu karena perlakuan Larina yang memeluk tubuhnya. Ily seperti mendapat dukungan dikala kesedihan dan sakit menyerang hatinya.
Begitu juga Larina, dia memilih diam bermaksud memberikan waktu pada Ily untuk menumpahkan air mata kesedihan.
Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena kaca mobil kembali diketuk oleh seseorang. Ily dan Larina sontak menoleh dan mendapati Pandu dengan wajah paniknya memanggil-manggil nama Ily.
"Ily! Tolong buka pintunya! Aku bisa jelaskan semua!" teriak Pandu yang membuat Ily melepas pelukan Larina.
"Sepertinya aku harus menyelesaikan semuanya, Rin. Aku boleh meminta tolong kamu untuk keluar dulu kan? Aku harus berbicara dengan Pandu," pinta Ily lirih.
Tentu saja Larina mengangguk menyetujui. "Tentu, Kak. Aku akan pulang saja menaiki taksi. Jika kakak butuh sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungiku, Kak," ucap Larina sebelum benar-benar keluar dari mobil milik Ily.
"Maaf ya, Rin. Aku tidak bisa mengantar kamu pulang," ucap Ily masih sempat-sempatnya merasa bersalah setelah apa yang sedang menimpa dirinya.
"Jangan meminta maaf, Kak. Justru aku yang harus meminta maaf karena ulah Abang, Kakak jadi menangis seperti ini," jawab Larina kemudian segera turun dari mobil.
Saat turun, tatapan matanya bertemu dengan mata Abangnya. "Awas ya, Bang. Aku aduin ke Mama baru tahu rasa," ancam Larina kesal dengan mata menyorot tajam Pandu.
Pandu mengabaikan lolongan sang Adik dan bergegas masuk ke mobil di samping kursi kemudi. Sedangkan si kursi kemudi, ada Ily yang sudah mendudukkan diri.
"Ily?" panggil Pandu lembut setelah seluruh pintu tertutup. Ily masih setia membuang pandangan. "Apa?" jawab Ily balik bertanya.
Merasa Ily tidak memperhatikan, Pandu memilih untuk memegang lengan Ily. Namun, hal itu segera ditepis oleh sang Empunya.
"Jangan sentuh aku! Aku kecewa denganmu, Ndu," ucap Ily yang kini kembali menangis dan air matanya luruh begitu saja, sudah tidak terbendung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...terima kasih untuk semua dukungan yang sudah kalian berikan 😍...