Rewrite Our Destiny

Rewrite Our Destiny
Bab 7. Nasi uduk


__ADS_3

Pandu pulang ke rumah tepat pukul sembilan malam. Hal itu membuat semua anggota keluarganya bertanya-tanya darimana Pandu sepulang kerja.


Bu Soraya yang masih terjaga dan setia menunggu sang Putra, beranjak dari kursi saat melihat Pandu memasuki rumah.


"Mama belum tidur?" tanya Pandu merasa bersalah karena pulang malam dan sudah di pastikan bahwa sang Mama sedang menunggunya.


"Kamu kenapa akhir-akhir ini jadi pulang malam? Ily tadi sore datang loh, Ndu," ucap bu Soraya mulai menginterogasi.


Pandu terhenyak di tempatnya berdiri. "Ily kesini, Ma? Kenapa Ily tidak mengabariku?" tanya Pandu merasa bersalah.


Bu Soraya berdecak malas. "Coba cek ponsel kamu. Ily sudah meneleponmu berulangkali. Tetapi, kamu tidak menjawabnya," jawab Bu Soraya kesal.


Pandu segera mencari keberadaan ponselnya di saku celana dan benar saja, ada berpuluh-puluh panggilan yang masuk ke nomornya dan beberapa pesan singkat.


"Ada kan?" tanya bu Soraya memastikan yang segera mendapat anggukan lemah dari Pandu.


"Ya sudah. Mama aku tidur dulu. Kamu jangan terlalu malam tidurnya. Besok kamu harus bekerja," ucap bu Soraya perhatian lalu berlalu dari sana.


Pandu mengusap wajahnya kasar lalu berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Berulangkali Pandu mencoba menghubungi Ily balik. Namun, panggilannya tak kunjung mendapat jawaban.


"Angkat dong, Ly," gumam Pandu saat dia sudah menududukan diri di sisi ranjang kamarnya.


Entah percobaan yang keberapa, akhirnya Ily menjawab telepon darinya.

__ADS_1


"Halo, Ly? Kamu dimana sekarang?" ucap Pandu cepat karena ingin segera mendengar suara sang Kekasih.


"Halo, Ndu. Aku di rumah nih," jawab Ily di seberang sana terdengar serak khas bangun tidur.


"Kamu sudah tidur ya? Maaf, aku ganggu sepertinya," ucap Pandu lagi yang kini sudah memelankan suaranya.


Pandu bisa mendengar Ily terkekeh di seberang sana. "Tidak sama sekali. Aku rindu sama kamu, Ndu. Seharian ini kamu kemana saja? Kenapa sudah tidak lagi menemuiku?" tanya Ily terdengar sendu.


Pandu menelan saliva susah payah. "Aku ... Ada acara dengan teman-teman kuliah tadi sore," jawab Pandu tidak sepenuhnya berbohong. Bukankah Renita adalah teman kuliah Pandu?


Ily ber-oh-ria panjang mendengar penjelasan Pandu. "Tadi sore aku ke rumah loh, Ndu," ucap Ily dengan nada merajuknya.


"Iya, mama sudah mengatakannya padaku. Maafkan aku karena aku tidak tahu kamu akan datang. Besok aku akan ke rumah sakit," ucap Pandu bermaksud ingin menebus kesalahan.


Ily terkekeh pelan. "Baiklah, Ndu. Aku akan menunggumu datang," jawab Ily terdengar sangat bahagia.


Walau tidak rela, Ily pun mengakhiri sambungan telepon dan tertidur lelap.


Pagi harinya, Ily sudah terbangun dan siap untuk sarapan bersama sang Ayah, yaitu pak Guntur Laksono.


Dia menuruni anak tangga dan bisa melihat kehadiran sang Papa di ruang makan. "Selamat pagi, Pa," sapa Ily kemudian mencium pipi papanya lembut dan duduk di kursinya.


Pak Guntur tersenyum. "Selamat pagi, Sayang," jawab pak Guntur dengan senyum hangatnya.

__ADS_1


"Bi! Tolong ambilkan nasi uduknya untuk Ily ya," pinta Pak Guntur sopan pada asisten rumah tangga.


"Baik, Tuan," jawab asisten rumah tangga.


"Papa beli nasi uduk? Kapan? Kenapa tidak memanggilku untuk menemani?" cecar Ily dengan bibir cemberut.


Pak Guntur terkekeh pelan. "Papa membeli nasi uduk saat pulang dari lari pagi tadi. Sekalian saja, Papa tahu sekali kalau kamu sangat menyukai makanan tersebut," jelas pak Guntur panjang lebar yang berhasil memudarkan bibir cemberut milik Ily.


"Oo. Papa begitu perhatian. Terima kasih banyak, Pa," ucap Ily lalu memeluk sang Papa manja.


"Sama-sama, Sayang. Ayo, dimakan dulu nasinya. Kamu butuh tenaga yang banyak untuk menangani pasien di rumah sakit," pinta pak Guntur lembut sambil mengelus surai hormat kecoklatan milik Ily.


Setelah Bibi memindah nasi uduk dari sterofom ke atas piring, bibi segera menghidangkan di hadapan Ily dan oak Guntur.


"Terima kasih, Bi," ucap Ily dan sang Papa hampir bersamaan. Saat sadar bahwa keduanya mengatakan hal yang sama, Ily dan pak Guntur tertawa bersama.


"Sama-sama Tuan dan Nona," jawab bi Sari sambil mengangguk sopan.


"Oh iya, Bi. Kan masih ada sau bungkus nasi, itu buat Bibi ya? Bibi pergilah sarapan dulu, Bi," titah pak Guntur sopan.


"Baik, Tuan."


Sepeninggalan bibi Sari, Ily dan pak Guntur berbicara ringan tentang hari kemarin yang sudah dilewati masing-masing. Obrolan ringan dan menghangatkan suasana di pagi hari yang mendung itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini dengan cara like, komen, vote, dan kasih hadiah semampu kalian😍...


__ADS_2