
"Pergilah, Ndu. Jangan berlebihan dan membuat kenangan baru," peringatan Ily yang langsung membuang muka.
Pandu merasa tidak terima lalu kembali merengkuh tubuh Ily dalam dekapan. "Ndu!" protes Ily dengan bibir yang menggerucut. Pandu mengabaikan protes Ily dan tetap mendekap tubuh Ily.
"Ly? Beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki," ucap Pandu yang kini terlihat menyesal.
Ily membuang wajahnya asal. "Kamu bilang, dia yang selalu ada untukmu. Jadi pergilah, Ndu. Aku tidak akan menahan kamu yang sudah tidak ingin bertahan," jawab Ily yang raut wajahnya terlihat datar.
Pandu mengepalkan tangannya kesal. "Baiklah. Aku akan pergi sesuai keinginanmu. Aku akan berusaha menjalani hidupku dengan Renita. itu kan yang kamu mau?" tanya Pandu dengan tatapan tajam.
"Memang itu yang kamu inginkan bukan? Memiliki kekasih yang selalu ada setiap waktu. Hubungan kita sudah berakhir beberapa menit yang lalu. Jadi, tolong keluarlah dari sini," pinta Ily dengan dada menahan sesak.
Pandu menatap datar Ily. "Saat itu aku dalam keadaan buntu, Ly. Kamu tidak pernah menjadi apa yang aku mau," kesal Pandu sambil menjambak rambutnya kasar.
Ily tertawa masam. "Kenapa harus menjadi yang kamu mau? Harusnya kamu tahu bahwa aku ya akan tetap menjadi aku. Bahkan saat aku bersedia menjadi seperti yang kamu mau, aku pasti tidak akan mampu," jawab Ily tak kalah kesalnya.
"Lebih baik kita saling menjauh dan mengoreksi kesalahan masing-masing terlebih dahulu, Ndu. Kita butuh waktu untuk memikirkan semua," sambung Ily lagi yang nada bicaranya sudah melembut.
Ya. lebih baik seperti itu. Saling memberi jarak agar tahu seberharga apa hubungan yang telah tercipta sejak lama. Hubungan yang dulu dilandasi atas nama cinta. Tanpa seperti itu, mereka tidak akan pernah tahu apa itu arti rindu.
__ADS_1
Saling memperbaiki diri agar dipertemukan lagi dalam kondisi yang lebih baik dan di waktu yang baik juga.
.............
Setelah Pandu pamit pergi secara mendadak, Renita merasa curiga pasti ada yang tidak beres. Akhirnya, Renita membatalkan pesanan dan mengikuti Pandu yang kini berlari menuruni eskalator.
Renita terus mengikuti Pandu hingga lantai dasar tepatnya di tempat parkir yang terletak di luar ruangan, bukan di basemant. Pandangan Renita mengedar untuk mencari keberadaan Pandu. Tidak mungkin Pandu menghilang secepat itu.
Langkah Renita pelan melihat setiap jarak antar mobil. Saat kepalanya menoleh ke kanan, dari jarak sekitar delapan meter, Renita bisa melihat Pandu duduk di mobil bagaian depan.
Renita tentu melihat karena kaca mobil bagian depan itu transparan. Dan yang membuat Renita membeku di tempat adalah, Renita melihat dengan mata kepalanya sendiri jika saat ini Pandu sedang memagut bibir seorang perempuan.
Mengabaikan rasa sesak yang hadir, Renita beranjak dari sana dan memilih pulang. Memangnya, apa lagi yang Renita harapkan?
Renita segera menghentikan taksi yang baru saja menurunkan penumpang di depan lobi mall. Setelah masuk, Renita meminta sopir untuk melaju ke alamat yang sudah Renita sebutkan.
Sepanjang perjalanan, Renita hanya duduk termenung sambil memikirkan bagaimana hubungannya dengan Pandu setelah ini. Dia sangat-sangat sadar jika dia hanyalah orang ketiga.
Namun, bolehkah Renita meminta Pandu seutuhnya?
__ADS_1
Lama melamun, tanpa sadar mobil telah berhenti. "Sudah sampai, Nona," ucap pak sopir yang berhasil menyentak lamunan Renita.
"Baiklah, Pak. Ini ongkosnya. Kembaliannya untuk Bapak saja," jawab Renita sambil menyodorkan selembar uang berwarna merah. Setelah itu, Renita tergesa-gesa memasuki rumah dan langsung menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Renita langsung membanting tasnya ke sembarang arah.
"Aaa!!"
Dia berteriak kencang untuk menghilangkan sesak yang seketika menghimpit rongga dada. Air matanya sudah tidak ragu-ragu lagi untuk keluar.
Renita membanting dirinya di atas kasur dengan posisi tengkurap dan memeluk guling. Air matanya semakin deras mengalir mengingat disaat-saat seperti ini, tidak ada sosok yang menemani.
"Kenapa dunia begitu tidak adil padaku? Lihatlah Ily, dia dicintai Pandu, cantik, seorang dokter, anak orang kaya, dan masih mempunyai keluarga. Sedangkan aku? Tidak ada apa-apanya dari Ily," gerutu Renita mulai membanding-bandingkan. Air matanya terus berjatuhan mengingat kini dia hanya sendirian.
"Tetapi, bisakah aku meminta cinta Pandu? Aku tidak ingin yang lainnya, Tuhan. Aku tidak butuh kaya. Aku hanya membutuhkan Pandu dalam hidupku," racau Renita lagi. Tangannya bergerak untuk memukul bantal yang ditindihnya.
"Mengapa Ily bernasib sempurna sedangkan aku selalu menjadi orang yang menderita? Aku merasa Engkau tidak adil padaku, Tuhan," racau Renita lagi.
Kehampaan hatinya belum juga terobati setelah kepergian ayah dan ibu. Kini, Renita harus merasa hampa lagi karena Pandu akan pergi darinya.
__ADS_1
Jujur, Renita tidak sanggup menerima itu. Dia akan berusaha sekuat tenaga mempertahankan Pandu dengan cara apapun itu. Pandu tidak boleh bersama Ily. Hanya dirinya yang pantas berada di sisi Pandu.