
Pandu terus berjalan dengan tergesa-gesa menuju ruangan Ily. Entah setan apa yang sudah merasuki dirinya ketika memutuskan untuk melihat keadaan Ily, gadis yang masih sangat dicintainya.
Mengabaikan gengsi dan egonya, Pandu membuka pintu ruangan Ily tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Ceklek.
Pandu menyapukan pandangan dan menemukan Ily yang sedang berbaring dia atas sofa, seperti tidak terganggu sama sekali dengan kedatangannya.
Dengan pelan, Pandu menutup kembali pintu ruangan dan berjalan pelan. "I-Ily?" panggil Pandu lembut.
Ily yang hampir terlelap, kesadarannya seperti dikembalikan. Ily membuka mata karena suara itu begitu familiar di telinganya.
Ily bangkit dan benar-benar mendapati Pandu berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk. Ily masih mencoba meyakinkan diri bahwa saat ini dia sedang tidak bermimpi.
Belum sempat Ily mencerna keadaan, Pandu tiba-tiba langsung mendekat dan melipat lutut di hadapannya. Setelah itu, Pandu memeluk tubuhnya erat. Ily membeku di tempat. Mengapa Pandu tiba-tiba memeluk dirinya?
"Nd-Ndu? Kamu kenapa?" tanya Ily gagap.
Pandu merenggang pelukan. "Kamu tidak apa-apa kan? Mama sudah memberitahukan aku jika .... Renita ... Melukaimu," ucap Pandu merasa kikuk sendiri karena sudah gegabah. Harusnya, Pandu tidak boleh memeluk Ily karena status keduanya yang sudah berbeda.
Namun, kata hatinya mengatakan sangat menginginkan gadis tersebut.
Ily menatap lekat mata Pandu yang kini berada dalam satu garis lurus dengan pandangannya. Ada rindu yang menggebu-gebu di dalam hatinya. Rindu itu seperti sedang meletup-letup karena sang Tuan akhirnya tiba.
"Aku tidak apa-apa," jawab Ily lirih dengan pandangan yang belum beralih.
Keduanya saling pandang cukup lama. Seperti ingin memberikan waktu satu sama lain untuk meresapi suasana detik itu.
"Ly?" panggil Pandu lembut.
"Hm?" jawab Ily hanya bergumam.
"Apa aku masih bisa kembali?" tanya Pandu tanpa mengenal malu.
Hati Ily seakan menjerit dan mengatakan, 'Kamu masih bisa kembali. Aku masih sangat mencintaimu,'. Namun yang ada, bibir Ily berakhir terkatup dengan lidah yang terasa kelu.
"Lupakan. Masih ada hal penting yang harus kuurus," ucap Pandu memecah keheningan yang sempat tercipta.
Ily mengernyit heran. "Apa?" tanyanya singkat.
__ADS_1
"Kamu," jawab Pandu kemudian bangkit dan kembali menuju pintu masuk. Ily begitu terkejut ketika melihat Pandu justru mengunci pintu ruangannya.
"Kamu mau apa?" tanya Ily penuh waspada.
Pandu kembali mendekat dan duduk di samping Ily. Sedangkan yang didekati, justru menggeser duduknya merasa was-was.
Pandu yang merasa gemas, segera menarik pinggang Ily hingga membuat sang Gadis memekik kesakitan.
"Arrgh!"
Pandu panik dan melepaskan Ily. "Mana yang sakit? Disitu? Sini aku periksa, Ly. Kamu harus dipijat agar tidak sakit terus-menerus," ucap Pandu khawatir kemudian menarik tangan Ily untuk mendekat.
Dan bodohnya Ily yang justru menurut saat tangannya ditarik lembut. Tanpa canggung, Pandu membalikkan tubuh Ily dan mengangkat kemeja bagian bawahnya sedikit untuk bisa melihat pinggang Ily.
Ily tentu terkejut dan ingin protes. "Ndu!"
"Diamlah, Ly. Kamu harus diperiksa atau sakitnya akan semakin parah," peringat Pandu kemudian wajahnya mendekat pada pinggang Ily yang terbuka hingga menampakkan kulit seputih saljunya.
"Ada biru lebam disini, Ly. Jangan dibiarkan terlalu lama atau kamu akan mengalami sakit pinggang terus-menerus," ucap Pandu tepat di depan luka lebam yang Ily derita.
Ily sampai harus memejamkan mata saat napas Pandu terasa hangat menyentuh kulit pinggangnya. Jantung Ily seperti berdegup tidak seharusnya. Dan yang membuat Ily semakin membeku adalah, dia bisa merasakan benda kenyal mengecup area pinggangnya yang sakit.
Seketika gelenyar aneh itu membuat kewarasan Ily terenggut. "Nduhmp—" peringat Ily namun ternyata, bibir Pandu sudah lebih cepat untuk mengecup kembali pinggangnya.
Ily semakin mempererat pejaman matanya. Kini, Ily bisa merasakan tangan besar dan kokoh itu memeluk pinggangnya yang masih terbuka.
"Ly?" bisik Pandu dan Ily bisa merasakan dagu laki-laki itu bersandar di pundaknya.
"Jangan bertindak lebih, Ndu. Kita sudah berakhir," ucap Ily namun tetap ingin berada dalam dekapan Pandu. Aneh memang.
"Kita belum berakhir. Kisah kita baru akan dimulai," jawab Pandu dengan lebih percaya diri.
"Tidak ada yang akan dimulai lagi karena semua sudah berakhir," sanggah Ily lagi dan hal itu membuat Pandu kesal. Dia tidak suka ketika Ily selalu memperjelas statusnya.
Dengan sengaja, telapak tangan lebarnya mengelus perut mulus Ily hingga terdengar suara merdu dari mulut Ily walau hanya berupa gumaman lirih.
Pandu tersenyum miring. "Bahkan, tubuh kamu tidak bisa menolak sentuhanku. Kamu masih mencintaiku, Ly," ucap Pandu merasa menang.
Kewarasannya seperti ditarik untuk kembali, Ily melepas tangan Pandu dan beranjak dari sofa untuk berdiri menghadap Pandu. Ily mengabaikan rasa sakit yang saat ini sedang menderanya.
__ADS_1
"Aku memang sangat murahan bila sedang bersamamu," ucap Ily terdengar pilu dengan tatapan penuh luka.
Pandu menggeleng lalu beranjak hingga keduanya sama-sama berdiri dengan mata yang saling menatap satu sama lain.
"Bukan kamu yang murahan. Tetapi, aku ... Aku yang murahan dan selalu menginginkan segalanya tentang kamu," ucap Pandu dengan segenap rasa bersalah yang bersarang di hatinya.
Ily menunduk dan membenarkan kondisi kemeja bagian bawahnya yang tertarik ke atas. "Lihatlah. Aku mengatakan bahwa kita sudah berakhir. Namun, apa yang aku lakukan? Aku meriman sentuhanmu, Ndu. Aku memang semurahan itu," ucap Ily tertawa getir.
Pandu menggeleng. Sama sekali tidak setuju dengan gagasan yang Ily percaya. "Itu tidak benar. Aku yang salah," jawab Pandu agar Ily bisa sedikit lebih tenang.
Namun, hal itu sama sekali tidak berpengaruh. Ily justru semakin merasa dirinya begitu murahan.
Ily menatap Pandu dengan senyuman tipis namun mengiris. "Saat kita berpisah pun, kamu menciumku dan aku membalasnya. Padahal, saat itu kita akan berpisah. Aku ini memang bodoh," racau Ily lagi.
Pandu menggeleng lalu membawa tubuh Ily ke dalam dekapan. "Tolong jangan katakan itu lagi. Kamu tidak murahan. Aku yang murahan karena selalu ingin menyentuhmu," ucap Pandu kemudian mempererat pelukan dan menelusupkan wajahnya di ceruk leher milik Ily.
"Ly? Aku merindukan semua tentang kamu," gumam Pandu yang masih terdengar jelas di telinga Ily.
Ily mengabaikan ucapan Pandu. Dia juga sama rindunya. Hanya saja, bukankah Pandu masih menjadi kekasih Renita? Lalu, bagaimana bisa mereka malah bernostalgia? Harusnya Ily bisa berpikir waras dan tidak mempercayai Pandu lagi.
Saat masih sibuk dengan pikirannya, pintu ruangan diketuk dari luar dan berhasil menyadarkan Ily. Buru-buru Ily melepaskan diri dan menatap Pandu yang terlihat tidak terima.
"Ada yang akan masuk ke runganku," ucap Ily sambil membuat isyarat untuk Pandu bersembunyi terlebih dahulu.
"Lalu?" tanya Pandu pura-pura bodoh.
"Ya kamu sembunyi dulu! Gimana sih!" ketus Ily merasa kesal.
Pandu terkekeh kemudian segera masuk ke kamar mandi untuk bersembunyi.
Huh. Ily menghembuskan napasnya pelan sebelum membuka pintu.
Ceklek.
Ily membuka pintu setelah memutar kuncinya. "Hai Ily? Apakah Pandu ada disini?" tanya suara lembut lengkap dengan senyuman manis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...jangan lupa kasih sajennya😍...
__ADS_1