Rewrite Our Destiny

Rewrite Our Destiny
Bab 40. Dijodohkan


__ADS_3

Ily sadar semua ini salah. Dia segera membuang muka ke samping jendela dan mendorong dada Pandu pelan. Ucapan Bayu seperti terngiang-ngiang di kepala yang mengatakan bahwa dirinya murahan.


"Ndu? Aku tidak bisa pulang denganmu. Malam ini aku akan ikut Papa ke sebuah acara. Ku mohon buka pintu mobilnya," ucap Ily lembut dengan tatapan memelas.


Pandu sontak menjauh dan merasa bersalah. Namun, bukan Pandu namanya jika dia langsung menyerah. Pandu masih mempunyai stok semangat yang banyak.


"Baiklah. Aku akan antar kamu pulang," jawabnya lalu mulai menarik tuas. Tidak mungkin Pandu membiarkan Ily naik taksi karena mobil milik gadis tersebut sudah dibawa oleh orang kepercayaannya.


Setelah mobil melaju, hening mengisi suasana di dalamnya. Ily dengan pikirannya begitu juga Pandu. Hingga mobil telah sampai di depan rumah Ily.


Bisa dilihat, mobil Ily telah terparkir rapi di garasi. Ily menoleh pada Pandu yang tampak melamun dengan tatapan lurus ke depan. Helaan napas kasar Ily buang agar rongga di dadanya sedikit melega.


"Terima kasih atas tumpangannya. Aku turun dulu," ucap Ily kemudian bergegas keluar dari sana.


Pandu tidak menjawab. Namun, tatapan matanya tidak lepas mengarah pada kepergian Ily. Tidak hari ini, dia bisa mencobanya lain hari.


Setelah keluar dari mobil, Ily tak menoleh lagi. Pikirannya seperti sedang berperang antara memilih Pandu lagi atau harus mengakhiri semua sampai benar-benar tuntas.


Pikiran itu memang rumit hingga Ily belum sanggup memutuskan dengan cepat. Mengingat kenangannya bersama Pandu, membuat Ily ingin kembali memiliki pria itu.


Namun, jika mengingat bagaimana pengkhianatan Pandu juga ucapan Bayu, Ily seperti ingin mundur saja. Se-gengsi itu memang egonya.


Lamunan Ily tersentak ketika mendengar sang Papa memanggil. "Ily? Kamu kok tidak membawa mobilmu pulang? Kenapa malah meminta seseorang untuk mengantarkan mobilmu?" tanya pak Guntur lalu memberikan tangannya untuk disalimi sang Putri.


Ily menghela napas. "Ada urusan sebentar tadi, Pa," jawab Ily tidak sepenuhnya berbohong.


Pak Guntur hanya mengangguk.


"Ya sudah. Ini sudah sore dan kita harus segera bersiap. Papa akan memperkenalkan anak teman Papa padamu," ucap pak Guntur yang membuat Ily terpaku sejenak.


Seperti menyadari keterkejutan sang Anak, pak Guntur akhirnya bersuara lagi. "Kamu sudah berumur dua puluh lima. Usia seperti itu sudah matang untuk menjalin rumah tangga. Papa berharap, kamu bisa mengerti keinginan Papa." Pak Guntur menjelaskan maksud perkataannya.

__ADS_1


Tubuh Ily rasanya melemah dengan tungkai kaki yang lemas. 'Apa ini yang dinamakan perjodohan?' batin Ily tidak berdaya.


"Pa ...." Ily merengek tidak terima dengan keputusan sang Papa. Apakah Ily tidak selaku itu hingga harus dijodoh-jodohkan?


"Tolong, Ly. Kamu putri Papa satu-satunya. Usia Papa sudah tidak lagi muda. Jika suatu hari maut lebih dulu mengambil Papa dan kamu belum menemukan kebahagiaan, Papa akan sangat menyesal," ucap pak Guntur meminta pengertian sang Anak.


Ily menggeleng tidak habis pikir dengan ucapan sang Papa. Jika sudah membawa-bawa kematian, Ily sudah tak bisa lagi mengelak.


Akhirnya, Ily hanya bisa menjawab dengan. "Baiklah, Pa. Ily akan bersiap."


Setelah mengucapkan itu, Ily berjalan gontai menaiki anak tangga menuju kamarnya. Mengapa hidupnya menjadi serumit ini? Bagaimana jika pria yang akan dikenalkan padanya itu jelek? Bahkan sudah tua? Membayangkannya saja membuat Ily bergidik.


Tidak ingin menduga-duga, Ily memilih segera masuk ke kamar mandi dan akan bersiap.


Tepat pukul setengah tujuh malam, Ily sudah siap dengan penampilannya. Dress pesta dengan model off shoulder dress berwarna putih dan bermotif floral. Bahu putih dan mulusnya terekspos hingga membuat kecantikan Ily meningkat seribu kali.


Rambutnya Ily gerai dengan di bagian ujungnya diberi Curly. Sungguh, kecantikan yang paripurna.


Sebelum turun menemui sang Papa, Ily memutuskan untuk menelepon Megan terlebih dahulu. Dia ingin meminta saran barangkali sahabatnya itu memiliki penilaian tersendiri.


"Hallo, Meg?" ucap Ily sesaat setelah telepon terhubung.


"Hai. Kenapa nih? Bu dokter sakit?" gelak Megan di seberang sana.


Ily berdecak sebal. "Jangan bercanda deh, Meg. Aku sedang butuh saran kamu nih," kesal Ily kembali berucap.


Terdengar tawa renyah di seberang sana. "Sorry. Jadi bagaimana? Saran seperti ini nih?" tanya Megan mulai serius mendengarkan.


"Aku dijodohkan oleh papa," ungkap Ily yang membuat Megan terdiam. Ily sekali harus mengecek ponselnya barangkali sambungan telepon terputus. Namun, hal itu tidak terjadi.


"Megan? Kamu masih disitu kan?" Ily kembali bersuara karena Megan sejak tadi hanya diam.

__ADS_1


"Iya! Aku terlalu terkejut, Ly! Aku tidak salah mendengar kan?!" tanya Megan berteriak. Ily sampai harus menjauhkan ponsel daripada gendang telinganya akan pecah.


"Santai dong. Bisa-bisa telingaku tuli setelah mendengar suaramu," gerutu Ily kesal.


"Sorry. Tapi menurut aku ya. Lebih baik kamu jalani dulu. Siapa tahu cocok dengan jodoh pilihan om Guntur. Kamu harus mencobanya, Ly. Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya jika belum pernah mencoba." Megan seperti sudah berada di mode seriusnya.


"Berarti aku harus mencoba berkenalan terlebih dahulu ya?" tanya Ily merasa bodoh.


"Ya iyalah. Kamu harus mencoba untuk mengenal orang lain, Ly. Laki-laki di dunia ini bukan hanya Pandu. Banyak kok variannya. Seperti omicron—"


"Please deh, Meg. Itu varian virus." Ily menyela begitu saja ketika Megan mulai kembali ke mode crazy.


Sontak hal itu membuat tawa Megan meledak. Ily memutus sambungan telepon setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih pada sang Sahabat.


Kata terakhir yang Ily ingat dari Megan adalah, 'Semangat! Aku akan dukung apapun keputusan kamu'. Hal itu membuat Ily merasa beruntung memiliki sahabat seperti Megan. Walau memiliki argumennya sendiri, Megan tetap menghargai keputusan yang Ily ambil.


Setelah turun ke lantai dasar, sang papa sudah menunggu Ily. Keduanya memutuskan untuk berangkat menuju hotel tempat acara akan diadakan. Setengah jam kemudian, mobil telah sampai dan pak Guntur memarkirkannya di basemant.


Keduanya berjalan beriringan memasuki ballroom tempat pesta akan dilaksanakan. Menurut yang Ily tahu, pesta tersebut diadakan untuk meresmikan usaha sang pemilik.


Usaha yang cukup besar sehingga pesta perayaannya cukup meriah.


"Ayo ikut Papa," ajak pak Guntur dan Ily hanya bisa mengekor.


Ternyata, sang Papa membawa Ily untuk diperkenalkan dengan seorang pria paruh baya. "Ily? Perkenalkan, ini Om Santoso. Beliau yang ikut menggelar pesta ini." Pak Guntur mulai memperkenalkan.


"Salam kenal, Om," ucap Ily lalu menjabat tangan pria yang bernama Santoso tersebut. Entah mengapa, Ily takut sekali jika sang Papa akan menjodohkannya dengan om-om di hadapannya. Firasatnya mendadak buruk.


"Putrimu sangat cantik, Tur. Putraku akan senang mengenalnya," ucap pak Santoso yang sedikit banyaknya membuat Ily bisa bernapas lega. Dugaannya tidak benar.


Namun, kelegaan itu tidak berlangsung lama kala mendengar pak Santoso kembali bersuara. "Kamu lihat laki-laki yang berdiri di samping panggung itu? Nah, dia adalah putraku yang akan Om perkenalkan denganmu." Sambil menunjuk ke arah panggung.

__ADS_1


Ily sontak mengikuti arah tunjuk tersebut dan terpaku di tempat. 'Apa! Jadi dia yang akan dijodohkan denganku? Ya Tuhan! Tolong aku!' batin Ily berteriak.


__ADS_2