
Ily mengerjap saat mendengar suara yang sudah tidak asing lagi. Samar-samar Ily bisa melihat cahaya di atas kepalanya hingga membuat pandangannya kabur. Ada suara sang Papa juga di sana.
Matanya sedikit terbuka hingga mampu melihat keadaan sekitar walau tampak kabur. Hingga wajah sang Papa nampak di hadapannya dengan senyum dan mata yang berkaca-kaca.
Ily terbangun dari masa kritisnya akibat tusukan di bagian perut. "Ily! Akhirnya kami bangun juga," ucap suara yang bisa Ily tebak adalah milik megan.
Masih coba mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi, Ily merasakan tubuhnya sedang di periksa mungkin oleh seorang dokter yang tidak lain adalah Bayu.
Akhirnya, setelah lima belas menit terbangun dan selesai di periksa, Ily ingat apa yang sudah menimpanya. Sang Papa masih setia mendampingi dengan duduk di sisi brankar.
"Ily?" panggil suara yang membuat Ily menoleh.
"Ayo dong segera sadar. Aku butuh teman curhat ini," ucap Megan merengek dengan mata uang berkaca-kaca. Dosa ketakutan karena sejak membuka mata, Ily hanya diam dan tidak bergerak.
"Tenang. Kondisi seperti ini pasti terjadi pasca operasi. Tunggu beberapa menit lagi Ily akan sadar dengan apa yang terjadi," ucap Bayu menenangkan.
Namun, saat Ily menatap pria itu, ada raut khawatir sekaligus lega yang ditunjukkan. "Aku sudah sadar dan ingat apa uang terjadi," jawab Ily yang membuat semua bernapas lega.
"Akhirnya kamu sadar juga, Sayang. Papa takut kamu akan meninggalkan Papa seperti ibu dan adikmu." Pak Guntur berucap pilu.
Ily tersenyum dan menggelengkan kepala. "Aku tidak apa-apa, Pa," ucap Ily berusaha menenangkan sang Papa.
"Tidak apa-apa bagaimana? Untung malam itu dokter Bayu lembur dan berniat mengunjungi ruangan kamu. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu," ucap Megan panjang lebar lengkap dengan nada merajuknya.
Ily terkekeh. Sahabatnya itu memang sangat peduli. "Jadi, yang menolongku adalah Bayu?" tanya Ily namun pandangan matanya langsung tertuju pada laki-laki di ujung brankar, yang sedang menatapnya dengan pandangan sendu.
"Siapa lagi? Kamu berharap Pandu yang menolongku?" ketus Megan kesal.
__ADS_1
Ily terdiam setelah mendapat pertanyaan dari Megan. Bukan karena ingin menjawab iya. Namun, Ily tidak paham dengan perasaanya setelah mendengar nama Pandu disebutkan.
"Om? Lebih baik Om Guntur pulang terlebih dahulu. Sudah dua hari ini Om tidak tidur." Megan kembali memecah keheningan yang membuat Ily langsung menatap papanya khawatir.
"Papa!" kesal Ily.
"Papa juga harus istirahat. Jangan membuat diri papa sakit hanya karena menungguku," ucap Ily merasa terharu sekaligus sedih.
Psk Guntur menggeleng. "Tidak apa-apa. Ini demi putriku," jawab pak Guntur masih teguh pada pendirian.
Ily berdecak. "Papa lebih baik pulang terlebih dahulu untuk beristirahat. Ily tidak apa-apa. Disini sudah ada Megan yang siap menjadi asistenku," pinta Ily lagi.
Merasa namanya disebut, Megan mendelik kesal.
Pak Guntur terlihat ingin menolak. Namun, Megan segera menyelanya. "Iya, Om. Santai saja. Ily akan aman bersama dokter Bayu," sahut Megan yang membuat Ily melotot tajam. Sedangkan Bayu yang masih berada dalam ruangan, tersenyum tidak habis pikir.
Walau demikian, Bayu merasa bahagia bisa berada di dekat Ily dan ada disaat gadis itu membutuhkan bantuan. Ya. Setulus itu cinta Bayu pada Ily.
Baru setelah itu, pak Guntur mengangguk menyetujui. "Baiklah. Papa akan pulang dulu. Nanti sore Papa akan datang lagi kesini."
Setelah pak guntur pamit, kini tinggal ada Bayu dan Megan yang menemani Ily. Hanya diam yang mengisi suasana ruangan VIP tempat Ily dirawat. Hingga suara Megan berhasil memecahkan keheningan sekaligus lamunan Ily.
"Ly? Aku cari sarapan dulu ya? Aku lapar dan aku yakin, Dokter Bayu juga. Karena sejak semalam dia menunggumu," ucap Megan yang membuat Ily menatap kaget pada Bayu yang kini sudah berdiri di samping brankar.
Sepeninggalan Megan, Bayu mengambil posisi duduk di samping Ily. Pandangannya menatap lekat wajah Ily. "Aku takut sekali malam itu. Kamu mengeluarkan begitu banyak darah," ucap Bayu yang membuat Ily mengalihkan perhatian.
Keduanya kini saling pandang. "Orang yang sudah menusuk mu, dia sudah berada dalam jeruji besi. Beruntung, ada kamera CCTV yang tidak dirusak," ungkap Bayu dan Ily memperhatikan dengan seksama.
__ADS_1
"Lalu, dokter Gaby dimana sekarang? Dia yang meneleponku untuk datang ke rumah sakit. Aku yakin, suster Gaby berada di bawah pengaruh Renita," tanya Ily penuh tanda penasaran.
Bayu menghela napas kasar. "Suster Gaby semalam pulang. Mungkin sebentar lagi dia akan datang," jawab Bayu sambil menatap lembut sosok perempuan di depannya.
Sosok yang membuat hidupnya kalang kabut saat melihat Ily mengeluarkan banyak darah dan tidak sadarkan selama beberapa hari.
"Kamu ada rasa takut atau tidak?" tanya Bayu memastikan takut kondisi psikis Ily terganggu.
Ily hanya diam dengan menatap lekat sosok laki-laki yang selalu ada untuknya. Dia adalah laki-laki kedua yang hadir disaat Ily benar-benar butuh. Bahkan, dia berkorban tanpa pamrih asalkan dirinya bahagia.
Klik.
Bayu menjentikkan jari di depan wajah Ily karena gadis itu justru melamun. "Kenapa? Mulai kasihan padaku? Karena mencintai kamu sendirian?" tanya Bayu khas nada suara tengilnya.
Mungkin jika dalam suasana seperti biasa, Ily akan mendengkus atau memutar bola matanya malas. Namun kali ini suasananya sedang berbeda. Jadi, Ily hanya terkekeh pelan.
"Beruntung, tusukannya tidak terlalu dalam, Ly. Jadi, tidak melukai organ dalamnya," sambung Bayu lagi masih ingin meluapkan semua keresahan hatinya.
Ily tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. "Boleh peluk kamu tidak?" pinta Ily dengan puppy eyes dan suara manjanya.
Bayu tersipu lalu menggelengkan kepalanya pelan. "Mana bisa aku menolak." Setelah mengucapkan itu, Bayu segera membawa tubuh Ily ke dalam dekapan.
Masih dengan pelukan selembut yang Bayu bisa agar tidak membuat Ily kembali merasakan sakit. Bayu menghidu aroma rambut Ily untuk menyalurkan rasa sayangnya.
Hilang sudah ketakutan Bayu semenjak beberapa hari yang lalu, berganti dengan suasana hati yang begitu bahagia.
"Aku bahagia saat akhirnya melihat matamu terbuka. Tak akan aku biarkan lagi siapa pun menyakitimu," ucap Bayu penuh keyakinan.
__ADS_1
'Tidak Pandu maupun yang lainnya. Mulai hari ini aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Kamu akan menjadi milikku dan menikah denganku. Akan aku pastikan itu,' sambung Bayu di dalam hati.
Ily tidak menjawab namun semakin mempererat pelukan. Pelukan yang terasa nyaman hingga Ily begitu betah untuk semakin menelusupkan wajah di dada bidang Bayu.