
"Meg?" panggil Ily lembut. Dia dan Megan sedang memasak makan malam untuk keduanya.
"Hm?" jawab Megan hanya bergumam karena kini tangannya sedang sibuk bergerak mencincang bahwa putih di atas talenan.
"Kalau misal Pandu kembali. Menurut kamu, aku harus terima atau tolak?" tanya Ily meminta pendapat.
Megan sejenak menghentikan aktifitasnya. Kepalanya sudah berputar untuk menatap Ily yang saat ini sedang berdiri di sampingnya.
"Jadi, Pandu datang lagi padamu?" tanya Megan dengan satu alis terangkat.
Ily mengangguk membenarkan.
"Dan mengatakan ingin kembali? Lalau bagaimana dengan kekasihnya yang sekarang?" tanya Megan tidak habis pikir.
Ily mengangguk-angguk tanda paham kemana arah pembicaraan Megan.
"Meg?" panggil Ily lagi yang segera mendapatkan jawaban berupa gumaman.
"Kemarin ada yang mencibirku murahan hanya karena melihat Pandu keluar dari ruanganku. Apa aku semurahan itu?" tanya Ily dengan tatapan murung.
Megan terdiam menatap raut wajah Ily. Megan bisa melihat masih ada cinta saat Ily berusaha menceritakan tentang Pandu. Megan sadar, hubungan Ily dan Pandu memang sudah berjalan cukup lama. Untuk melupakan memang tidak akan mudah seperti membalikkan tangan.
"Siapa yang mengatakan itu? Apakah seorang laki-laki yang sedang denganmu?" tanya Megan penuh selidik.
Ily mengangguk. "Iya. Dia teman sekaligus dokter di rumah sakit tempatku bekerja," jawab Ily jujur.
__ADS_1
"Oooh, pantas. Dia itu cemburu," jawab Megan menyimpulkan dengan cepat.
Ily kembali menganggukkan kepala. Mungkin benar dugaan Megan. Karena selama ini, Bayu memang terang-terangan mengatakan suka padanya. Ya, Bayu cemburu.
Mengingatnya, Ily terkekeh pelan. Temannya itu memang sedikit aneh.
Akhirnya, Ily dan Megan kembali melanjutkan kegiatan memasak dan makan malam bersama. Setelah waktu menunjukkan pukul sembilan malam, Ily pamit untuk pulang.
.............
Hari Minggu pagi akhirnya tiba. Ily memilih untuk menghabiskan waktu paginya bersama sang Papa dengan berlari santai mengitari jalan kompleks.
Setelah matahari terlihat semakin meninggi, Ily dan pak Guntur memilih kembali ke rumah dengan berjalan kaki. Langkah anak dan ayah itu beriringan menapaki jalan aspal.
"Mau beli minum dulu, Ly?" tawar pak Guntur.
Pak Guntur menggeleng. "Tidak. Pala hanya khawatir melihat wajahmu yang begitu kelelahan. Papa takut kamu pingsan," ucap pak Guntur lalu terkekeh renyah.
Ily mencebikkan bibirnya kesal. "Tenang, Pa. Wajahku lelah karena memang sudah lama sekali tidak lari pagi. Tetapi mulai Minggu ini, aku akan berolahraga. Tidak lucu jika seorang dokter harus sakit karena jarang olahraga," jawab Ily ikut terkekeh.
Keduanya bercanda hangat seiring dengan langkahnya yang semakin dekat dengan rumah.
Ily mengernyit ketika mendapati ada mobil lain yang terparkir di depan rumahnya. Ily melirik sang Papa sekilas untuk bertanya apakah ayahnya tahu pemilik mobil tersebut.
Namun sepertinya, sang ayah sama tidak tahunya. "Kita masuk saja agar tahu siapa tamu yang datang sepagi ini," ucap pak Guntur pada akhirnya.
__ADS_1
Ily mengangguk membenarkan. "Iya, Pa," jawab Ily kemudian kakinya melangkah mengikuti sang Ayah yang mendekati mobil. Ada orang di dalam mobil mewah tersebut. Ketika kaca mobilnya dibuka, Ily bisa melihat dengan jelas siapa pelaku yang bertamu ke rumahnya sepagi ini.
"Selamat pagi, Om," sapa seorang pria sambil menyalami tangan pak Guntur, sesaat setelah keluar dari dalam mobil.
"Selamat pagi. Tumben kamu kesini pagi sekali, Ndu? Sudah lama juga kamu tidak kesini. Kenapa?" tanya pak Guntur beruntun.
Ily hanya memberikan isyarat agar Pandu tidak memberitahukan masalah hubungan di antara keduanya. Beruntung, Pandu memahami dan hanya membalasnya dengan, "Maaf, Om. Akhir-akhir ini aku sibuk dengan pekerjaan," jawab Pandu yang membuat Ily memutar bola matanya jengah.
'Sibuk dengan pacar baru kali,' gerutu Ily dalam hati.
Ya. Seorang tamu yang berkunjung sepagi itu ke rumah Ily adalah Pandu. Entah dengan maksud apa pria itu datang dengan penampilan setampan itu. Tentu saja Ily terpesona karena nama Pandu masih ada di dalam hatinya.
"Ya sudah. Masuk dulu kalau begitu, Ndu. Ikutlah sarapan bersama kami," ucap pak Guntur lagi yang membuat senyum Pandu semakin merekah.
Ily kembali merasa heran. Seingatnya, sang Papa tidak terlalu suka dengan sosok Pandu. Entah mengapa, kali ini Ily memekik firasat yang kurang baik. Semoga sang Papa tidak melakukan sesuatu hal yang buruk.
Pak Guntur memang kurang suka saat Ily menjalani hubungan dengan Pandu. Beliau beranggapan jika Pandu itu bertingkah layaknya anak kecil yang ingin diperhatikan. Anaknya harus berjuang membagi waktu sekaligus berjuang untuk bisa meraih cita-citanya.
Pak Guntur menghela napas kasar setiap mengingat betapa dewasanya Ily yang berbanding terbalik dengan sikap Pandu yang kekanakkan.
Setelah membersihkan diri, Ily dan pak Guntur kembali ke meja makan untuk sarapan. Pandu sudah menunggu sejak tadi dengan memainkan ponselnya. Setelah melihat kedatangan Ily dan pak Guntur, Pandu kembali menyimpan ponsel.
"Ayo, saatnya kita sarapan," ajak pak Guntur yang segera membuat Ily mengambilkan makanan untuk sang ayah.
Bukannya mengambil nasi dan beberapa lauk untuk di makan, Pandu justru memerhatikan bagaimana Ily memperlakukan ayahnya. Sungguh, Ily adalah seseorang wanita idaman. Dia terlihat begitu menyayangi dan menghormati ayahnya.
__ADS_1
Acara sarapan pun berjalan khidmat. Hingga saat semua sudah selesai, Pak Guntur kembali bersuara.
"Kamu sudah jarang kesini pasti karena sudah memiliki kekasih baru kan?" tebak pak Guntur yang membuat jantung Pandu seperti akan copot dari tempatnya.