Rewrite Our Destiny

Rewrite Our Destiny
Bab 11. Pekan raya


__ADS_3

Berada di rumah Pandu seperti berada di rumah sendiri bagi Ily. Karena sudah saling mengenal sejak lama semenjak Ily duduk di bangku SMA. Hubungan Ily dan Pandu memang sudah terjalin sangat lama.


Ily merasakan ada tangan kokoh dan besar yang melingkar di perutnya. Ily jelas tahu siapa pelakunya.


"Ndu. Jangan ganggu dulu. Katanya mau makan mie instan," protes Ily kesal.


Mengabaikan protes tersebut, Pandu justru semakin mempererat pelukan. "Sambil pelukan sepertinya tidak buruk," jawab Pandu enteng.


Ily mencebikkan bibirnya lalu fokus lagi pada rebusan mie di depannya. Tidak berapa lama, akhirnya mie instan dengan telur sudah berhasil Ily masak.


Saat Ily akan membawa mangkuk berisi mie tersebut ke meja, Pandu masih saja menempel di punggung Ily layaknya cicak.


"Ndu! Lepas dulu! Aku susah bawanya," protes Ily lagi.


Pandu tergelak renyah kemudian mengambil alih dua mangkuk tersebut untuk dibawanya ke atas meja.


"Jangan marah-marah terus. Nanti aku cium keenakan," goda Pandu yang kini sudah mendudukkan diri di kursi makan.


Ily melotot tajam. Bisa-bisanya Pandu berbicara tanpa berfilter. Bagaimana jika asisten rumah tangga disini mendengarkan ucapan Pandu? Huh!


Sedangkan Pandu yang di pelototi justru tergelak kemudian menarik lengan Ily untuk duduk di pangkuannya.


"Pandu! Aku mau makan. Jangan aneh-aneh deh," kesal Ily karena Pandu aushs mendudukkan dirinya di pangkuan.


"Baiklah, Bu Dokter. Jangan marah-marah terus atau—"


"Jangan aneh-aneh! Makan!" titah Ily yang segera dilaksanakan oleh Pandu.


Tidak butuh waktu lama untuk Pandu mengabiskan makan malamnya. Karena isi dalam mangkuk sudah berpindah ke perutnya semua.


Setelah dirinya selesai, kini Pandu menatap Ily yang sedang fokus pada makanannya. Memperhatikan bagaimana cara Ily makan membuat Pandu merasa gemas dan tersenyum sendiri.


"Kamu menginap disini kan?" tanya Pandu tanpa beban.

__ADS_1


Ily yang akan menyuapkan sendokan terakhir, gerakannya mengambang di udara. "Pulang, Ndu. Apa kata orang nanti kalau belum nikah aku suka menginap. Kamu sadar tidak sih kalau aku tuh sering sekali ke rumah kamu. Tetapi, kamu jarang tuh," sindir Ily kemudian memasukkan suapan terakhirnya dengan santai.


Pandu menatap Ily. "Kamu maunya aku datang ke rumah kamu? Tapi kan kamu sibuk terus," jawab Pandu membela diri.


Ily tersenyum tipis. "Sudahlah, lupakan. Aku mau cuci mangkuknya dulu," ujar Ily mencoba berbesar hati.


Pandu mengekor Ily yang berjalan ke wastafel. "Kamu marah? Bukannya aku benar ya? Kamu kan sibuk terus sampai tidak ada waktu untukku," ucap Pandu mendebat.


Ily menghela napas kasar kemudian melanjutkan mencuci mangkuk tersebut. Setelah selesai, Ily mengeringkan tangan pada handuk yang tersedia.


Ily berbalik saat merasakan Pandu sudah ada di belakangnya. "Mau jalan-jalan tidak? Aku lihat ada pekan raya loh di daerah sini," ucap Ily mencoba mengalihkan pembicaraan yang pastinya akan menjadi sumber pertengkaran. Ily yakin, setelah itu tidak akan ada ujungnya.


Pandu menatap Ily dengan pandangan kesal. "Alihkan terus. Kenapa kamu selalu menghindar setiap membahas soal ini?" ucap Pandu menuntut penjelasan.


Ily menghela napas pelan. "Aku tidak mau membuang waktu langka kita hanya untuk bertengkar. Aku ingin menikmati waktu ini yang akan jarang sekali ada," jawab Ily lembut dengan mata membalas tatapan Pandu lekat.


"Maafkan aku," sesal Pandu lalu memeluk Ily erat.


"Tidak apa-apa. Bagaimana? Mau jalan-jalan?" tawar Ily lagi.


Keduanya akhirnya berangkat menuju pekan raya dengan menaiki motor sport Pandu. Karena jaraknya tidak jauh dan berhubung malam sedang terang, sepertinya menggunakan motor tidaklah buruk.


Sepasang kekasih itu berboncengan dengan Ily yang memeluk pinggang Pandu erat. Beruntung, ukuran baju Ily dan Larina sama. Sehingga, Ily bisa meminjam jaket milik Larina terlebih dahulu. Tentunya setelah Ily meminta izin langsung dengan menghubungi Larina lewat sambungan telepon.


Tidak berapa lama, keduanya sampai. Setelah melepas helm, Pandu menggandeng tangan Ily untuk masuk pads kerumunan manusia yang sedang menghabiskan malam mereka.


"Mau beli sesuatu?" tawar Pandu sambil merangkul bahu Ily posesif.


"Aku ingin naik itu, Ndu," ucap Ily sambil menunjuk permainan kora-kora.


"Baiklah. Kita langsung saja kesana," ucap Pandu menyetujui.


Ily dan Pandu akhirnya menghabiskan malam mereka disana dengan perasaan bahagia. Waktu-waktu yang pernah terlewat telah terbayar juga.

__ADS_1


Saat akan pulang, Ily meminta Pandu untuk membeli kacang rebus di sebuah stan penjual.


"Mau berapa, Ly?" tanya Pandu sambil menyingkirkan anak rambut Ily.


"Yang banyak, Ndu," jawab Ily disertai kekehan.


Pandu akhirnya menyebutkan pesanannya. Bersamaan dengan itu, Pandu merasakan gerakan di sampingnya. Saat menoleh, Pandu bisa melihat dengan jelas wajah Renita yang saat ini sedang tersenyum ke arahnya.


Pandu terdiam dengan perasaan was-was karena Ily sedang bersamanya. Hingga Pandu dibuat terkejut oleh pertanyaan Ily yang berhasil membuat jantung Pandu mencelos.


"Siapa dia, Ndu? Kamu kenal?" tanya Ily yang tentunya bisa di dengar oleh Renita.


Pandu menelan saliva. "Ya, aku kenal. Hai, Ren, disini juga ya?" tanya Pandu basa-basi.


Renita tersenyum. "Iya nih. Kalian disini juga?" tanya Renita balik.


"Ily, perkenalkan. Dia Renita, teman kuliah aku dulu." Ucapan Pandu berhasil membuat Renita tersenyum masam.


"Perkenalan. Aku Renita, TEMAN kuliah Pandu," ucap Renita penuh penekanan pada kata ',teman' sambil mengulurkan tangan pada Ily.


Dengan senang hati Ily menerima uluran tangan tersebut. "Aku Ily. Senang bisa berjumpa dengan kamu," jawab Ily ramah.


Pandu merasa tidak nyaman berada di antara dua wanita dan sepertinya Renita sengaja melakukannya. Akhirnya kacang pesanannya sudah jadi. Pandu segera menarik lengan Ily untuk menuju motornya membuat Ily merasa tidak enak karena belum berpamitan dengan Renita.


"Kamu kenapa sih, Ndu? Kok tarik-tarik begitu saja. Aku kan tidak enak sama teman kamu itu," ucap Ily sambil mencebikkan bibirnya.


Pandu tersenyum. "Tidak apa-apa. Renita pasti mengerti kok," ucap Pandu merasa lega.


Ily menganggukkan kepala paham. "Ya sudah. Mau pulang kan?" tanya Ily memastikan.


Pandu mengangguk mengiyakan. "Kacangnya kamu pegang ya? Eh! Tidak perlu sih menurutku. Biar digantung di depan motor saja. Nanti kamu tidak memelukku dengan alasan memegang kacang," tanya Pandu yang dijawab sendiri oleh Pandu.


Ily tergelak renyah dan menusuk perut Pandu dengan telunjuknya. "Tanya sendiri dijawab sendiri."

__ADS_1


Pandu tersenyum lalu mengecup pipi Ily sekilas sebelum menaiki motornya. Hal itu tidak luput dari perhatian Renita yang memperhatikan interaksi Ily dan Pandu.


Renita meremas jaketnya erat-erat saat melihat tawa bahagia Pandu saat bersama Ily. "Aku kan hanya teman," monolog Renita tersenyum penuh luka.


__ADS_2