
Entah mengapa, hingga Ily sampai di rumah, pikirannya masih terngiang-ngiang dengan ucapan Bayu yang mengatakan dirinya murahan. Perkataan itu begitu mengganggu dan membuat Ily tidak bisa berpikir tenang.
Ily menghembuskan napasnya kasar lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dia memilih masuk ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya dengan air.
Tidak berapa lama, Ily kembali dan bergegas memilih pakaian. Blouse lengan balon berwarna moka dipadukan dengan rok plisket selutut berwarna hitam.
Dia akan pergi mengunjungi sang sahabat yang sudah lama sekali tidak ditemui. Mungkin, dengan menghabiskan waktu bersama sahabatnya bisa memberikan solusi terbaik.
Sebelum benar-benar berangkat, Ily lebih dulu mengabari sahabatnya. Setelah itu, Ily keluar menggunakan mobilnya.
Sekitar perjalanan dua puluh menit, mobil Ily sudah berhenti di lahan parkir apartemen tempat sahabatnya tinggal. Ily hanya berharap semoga sahabatnya itu tidak pergi kemana-mana.
Ting tong.
Ily memencet bel di depan unit apartemen sang sahabat, yaitu Megan. Tidak berapa lam, pintu pun terbuka dan menampakkan sosok Megan lengkap dengan wajah merekahnya.
"Ily! Kamu datang juga akhirnya!" pekik Megan heboh lalu berhambur memeluk sang sahabat.
Ily tersenyum dan balas memeluk Megan. "Akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Jadi, jarang ada waktu untuk sekedar mampir," jawab Ily setelah pelukan terlepas.
Megan mengangguk paham lalu menarik lengan Ily untuk masuk ke apartemennya. "Mau Caramel Machiato tidak? Berhubung bubuknya masih ada," tawar Megan setelah Ily menjatuhkan tubuhnya di atas double sofa.
Ily tersenyum sumringah. "Sangat mau. Harusnya kamu tidak perlu menawari dan langsung buatkan saja. Kan aku jadi sungkan," jawab Ily terkekeh pelan.
Megan sudah memutar bola matanya jengah. "Kamu? Sungkan? Denganku? Ck, dunia pasti akan runtuh," cibir Megan sambil berlalu meninggalkan Ily yang sudah tertawa terbahak-bahak.
"Dunia tanpa aku itu sepi loh, Meg!" pekik Ily agar suaranya terdengar oleh Megan yang saat ini sudah berada di dapur.
Tak ada lagi tanggapan dari sahabat karibnya itu yang berganti dengan suara mesin kopi yang berputar.
__ADS_1
Tidak berapa lama, Megan kembali dengan membawa nampan di tangannya. "Nih, spesial untuk sahabatku tercinta," ucap Megan sambil mengulurkan segelas kopi dengan rasa Caramel Machiato.
"Pakai es kan?" tanya Megan memastikan.
Ily mengangguk dengan mata yang berbinar. "Kamu paling mengerti aku," jawab Ily lalu segera menyesap kopi dengan sedotan yang sudah Megan siapkan di gelasnya.
"Eh, Pandu kemana? Terakhir kali kalian datang tuh sudah lama sekali. Mungkin hampir satu tahun deh," ledek Megan melebih-lebihkan.
Wajah Ily langsung bermuram durja dan hal itu langsung ditangkap jelas oleh Megan.
"Jangan katakan jika kalian—"
"Kami sudah tidak lagi bersama," jawab Ily memotong terkaan Megan.
Helaan napas kasar bisa Ily dengar dari mulut Megan. "Kalau boleh tahu, kenapa memangnya? Perasaan, hubungan kalian baik-baik saja dan tampak sempurna," tanya Megan tidak habis pikir.
Ily menyandarkan bahunya di sandaran sofa lalu matanya terpejam lembut. Megan yang tahu bagaimana Ily, membiarkannya terlebih dahulu. Dari tingkah lakunya, Megan bisa menebak jika masalahnya cukup pelik.
"Serius kamu? Pandu selingkuh? Dengan siapa? Kenapa bisa?" tanya Megan bertubi-tubi.
Ily mengembuskan napasnya kasar. "Dengan teman SMA-nya," jawab Ily dan Megan mulai menebak siapa sosok tersebut.
"Teman yang mana sih? Kok aku tidak tahu ya? Memangnya, Pandu memiliki teman perempuan?" tanya Megan heran.
"Setahuku, dulu mereka tidak sedekat itu. Tidak seperti kita yang sudah kenal dengan semua keluarga Pandu. Aku juga tidak tahu kapan Pandu bisa dekat dengan dia," jawab Ily masih membuat teka-teki di kepala Megan.
"Siapa sih, Ly? Aku penasaran. Kamu langsung pada intinya saja dong. Jangan berbelit-belit," geram Megan merasa kesal.
"Renita," celetuk Ily lagi yang berhasil membuat mata Megan melebar.
__ADS_1
"Renita? Renita yang katanya dulu suka mengejar-ngejar Pandu itu? Kenapa sekarang bisa jadi selingkuhannya? Bukankah sejak dulu Pandu tidak pernah merespon apapun?" tanya Megan tidak habis pikir.
Ily kembali mengembuskan napas lalu menyesap kopinya lagi. "Aku sudah kalah. Dia datang saat aku lengah. Saat aku sedang sibuk dengan cita-citaku dan mungkin ... Pandu merasa kesepian. Dia sudah mengambil posisiku," ucap Ily dengan tatapan menerawang.
Ada rasa tidak rela ketika Ily harus mengucapkan jika Renita telah menggantikan posisinya. Bertahun-tahun waktu yang Ily dan Pandu habiskan bersama seakan terbuang sia-sia.
Kenangan indah bersama Pandu seakan sulit sekali untuk dilupakan. Semua sudah terasa membekas dan terpatri begitu rapi di hatinya.
"Aku masih ingat sekali bagaimana indahnya masa itu. Masa dimana aku dan Pandu selalu menghabiskan waktu untuk bersama," ucap Ily bernostalgia.
"Dan aku jadi obat nyamuknya," celetuk Megan yang membuat Ily mendengkus sebal.
Ily tahu jika Megan sedang ingin menghiburnya. Namun kali ini, rasanya sulit sekali untuk tidak mengenang masa lalu.
"Aku rindu masa itu, Meg. Aku rindu masa dimana aku dan Pandu selalu bisa bertemu. Namun, seiring bertambahnya usia, kita harus memposisikan diri dengan baik. Dan disini, aku sadar bahwa aku memang salah," ucap Ily mulai mengeluarkan unek-uneknya. Matanya mulai berkaca-kaca jika mengingat Pandu.
"Aku terlalu ingin mengejar cita-citaku hingga jarang memiliki waktu luang untuk Pandu," jelas Ily lagi dan Megan masih setia mendengarkan.
"Apa aku bisa kembali ke masa itu, Meg? Dan merubah keinginanku untuk menjadi dokter. Aku tidak ingin menjadi dokter jika itu akan menjauhkanku dari orang yang aku cintai. Tetapi, setiap kali aku ingat dengan wajah Mama dan Fira, seketika itu juga aku siap berkorban jiwa raga. Dan itu berarti, aku harus telah kehilangan Pandu selamanya," racau Ily yang terdengar sengau karena sudah menangis sejak tadi.
Megan memeluk Ily dan menepuk bahunya lembut. "Profesimu saat ini sangat mulia. Kamu adalah malaikat bagi mereka yang membutuhkan pertolonganmu. Tujuan kamu memang sangat luar biasa. Hanya saja saranku, jangan lupa ambil waktu untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat," jawab Megan mulai memberikan solusi.
"Jangan karena kamu ingin menolong mereka, kamu sampai lupa memperhatikan diri sendiri dan orang-orang yang tersayang. Termasuk aku ya, Ly. Jujur nih, aku merasa kamu itu terlalu terobsesi. Apa yang sebenarnya kamu cari dari perjalanan hidup yang sedang kamu lakukan?" tanya Megan lagi.
"Aku tidak ingin kejadian yang menimpa Mama dan Fira terulang lagi. Aku ingin, mereka semua selamat," jawab Ily tanpa melebih-lebihkan.
"Tujuan kamu sangat baik. Hanya saja, kamu mungkin lupa bahwa sebesar dan sekuat apapun manusia berusaha, jika Tuhan tidak berkehendak, itu semua tidak akan terjadi. Jodoh, maut, dan rezeki itu sudah Tuhan atur dengan takaran masing-masing."
"Jadi, luangkan waktu untuk dirimu sendiri terlebih dahulu. Kamu butuh memanjakan diri sendiri. Coba ambil jam kerja dengan baik. Dokter bedah di rumah sakit bukan hanya kamu. Kalau kamu mengurangi jam kerja, bukan berarti pasien tidak akan ditangani kan?" ucap Megan panjang lebar.
__ADS_1
Ily termenung dan diam-diam membenarkan ucapan Megan.