
Malam ini suasana di rumah mewah itu terlihat sama seperti hari hari biasa, banyak laki laki bertubuh besar berdiri tegap di setiap pintu, bahkan tidak ada sudut rumah besar itu terlepas dari penjagaan para laki-laki bertubuh besar.
Nampak seorang wanita muda dan cantik duduk di belakang meja kebesarannya sambil memandang kertas kertas yang di berikan oleh seorang pria yang berdiri tegak didepan meja itu sambil menatap wajah wanita yang masih sibuk dengan kegiatannya itu.
"Bagaimana Leo apakah barang barang kita sudah terkirim?" tanya seorang wanita cantik yang terlihat dingin dan kejam itu, gadis yang memiliki paras cantik dan bermata kucing itu akan membuat orang yang melihatnya tidak pernah menyangka jika dia adalah seorang Mafia yang sangat kejam, ia tidak akan segan menyiksa bahkan membunuh orang orang yang mengusik pekerjaannya.
"Tenang saja Ly, semua sudah sampai tujuan dengan aman dan tidak akan ada yang mencurigainya!" Leo memberikan beberapa data barang barang yang sudah di terima oleh pelanggannya, ya Leo adalah sahabat Lily dari kecil, mereka bertiga sangat terkenal sangat kejam dan sadis.
Bertiga? ya mereka bertiga, mereka adalah Lily, Leo dan Luca yang tak lain adalah saudara laki-laki Lily yang menjadi pimpinan mereka, Luca selalu memberi tugas kepada Lily untuk urusan pengiriman karena Lily memiliki strategi yang rapi hingga sampai sekarang mereka tak pernah sekalipun berurusan dengan pihak kepolisian, semua permainan mereka sangat rapi dan bersih hingga tidak ada yang bisa menjerat mereka dengan hukum.
Malam itu akan menjadi malam panjang untuk mereka karena Luca membuat pesta perayaan untuk para anak buahnya.
"Baiklah malam ini silakan kalian berpesta sepuasnya!" Luca berteriak sambil mengangkat gelas kecil yang berisi wiski, terlihat Lily yang duduk di samping Luca hanya diam sambil memasang wajah dingin yang mematikan.
Lily seperti tidak ingin menikmati pesta malam ini bahkan ia berjalan meninggalkan pesta yang baru saja di mulai.
"Kau mau kemana?" Seorang laki-laki menghentikan langkah Lily saat hendak membuka pintu ruangan itu, Lily menatap Leo tidak suka karena Lily type wanita yang tidak suka di atur.
"Aku hanya bosan dengan pesta ini, aku ingin berjalan sebentar mencari angin!" Lily berjalan melewati Leo yang masih berdiri depan pintu "Jangan pernah mengatur hidup ku!" Lily berhenti sejenak tepat di depan wajah Leo dan menatap Leo dengan tatapan tegas.
Ya, walaupun Leo adalah sahabatnya dari kecil tapi Leo tetap berada di bawah pimpinan Luca dan Lily, hubungannya dengan Lily memburuk saat Leo menyatakan perasaannya kepada Lily, Leo tak menyangka jika Lily yang sangat manja dan lembut kepadanya akan berubah menjadi dingin, tapi Leo tak pernah putus asa dia selalu berusaha untuk mendapatkan hati Lily karena Luca pun mendukungnya.
Saat Lily meninggalkan ruangan itu Leo hanya bisa pasrah, ia menarik nafas berat dan memejamkan matanya "Aku yakin suatu saat kau akan berlutut memohon kepada ku Ly!" Leo kembali berjalan mendekati Luca yang sedang berpesta.
__ADS_1
Flashback.
Sore hari di pinggir pantai, Leo membawa Lily berjalan jalan diatas pasir putih yang membentang luas dengan deburan ombak dari birunya laut yang tenang, terlihat seorang pria berlari mendekati wanita muda yang memiliki paras cantik sambil memegang Ice Cream coklat kesukaan wanita tersebut.
Pria itu tertunduk sambil menyodorkan Ice Cream kearah wanita bermata kucing itu " Ice Cream coklat kesukaan Lily ku!"
"Terima Leo kau selalu tau apa yang aku suka!" Wanita itu kemudian memakan ice cream dan kembali melangkahkan kakinya menapaki buritan pasir yang terkadang di sapu ombak.
"Hei, Lily tunggu!" Leo berlari menyamakan langkah kakinya dengan Lily, Leo tersenyum ketika melihat wajah Lily yang belepotan Ice Cream, ia menyapu sudut bibir Lily dengan ibu jarinya "Kau ini seperti anak kecil saja, lihat mulut mu belepotan Ice Cream!" Tawa Leo karena Lily mempoutkan bibirnya sehingga pipi tembem nya semakin membuat Lily terlihat sangat cute.
Tiba-tiba Leo memegang kedua tangan Lily, menatap manik mata coklat Lily, Leo menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan "Ly, kita sudah berteman dari kecil, bahkan kita tumbuh bersama, ternyata kebersamaan kita menumbuhkan perasaan lain di hati ku!" Leo menjedah sejenak kata katanya dan kembali menatap wajah Lily yang kebingungan dengan sikapnya itu "Aku mencintaimu Ly!" Mulut Lily terbuka matanya membulat sempurna karena terkejut mendengar pengakuan Leo kepadanya.
Lily menarik tangan yang masih di genggaman oleh Leo perlahan "Maafkan aku Leo, aku tidak bisa menerimamu!" Tolak Lily halus sambil menunduk.
"Aku tidak bisa!"
"Kenapa? Kenapa kau tidak bisa menerima ku? Apa kurangnya aku kepadamu selama ini?" Leo sedikit berteriak karena prustasi cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Karena aku selama ini sudah menganggap kau seperti kakak ku sendiri, dan aku tidak mencintaimu!" Dada Lily turun naik, ia menahan emosinya kerena Lily sangat tidak suka di bentak.
"Tapi aku sangat mencintaimu Ly!"
"Cukup!" Plakk tanda mungil Lily mendarat sempurna di wajah lelaki yang sudah dianggapnya seperti kakaknya sendiri.
__ADS_1
Lily berlari meninggalkan Leo sambil mengusap air matanya yang sudah berjatuhan, ia tak menyangka akan menampar Leo yang selama ini selalu ada untuknya tapi Lily juga tak bisa memaksakan hatinya jika perasaannya kepada Leo hanya perasaan sayang seorang adik kepada kakaknya tak lebih dari itu.
"Kau menampar ku Ly, kau bukan saja menyakiti hati ku,kau juga menyakiti tubuhku! Apakah selama ini kau tidak bisa melihat dan merasakan cinta ku padamu, selama ini? aku selalu meyakinkan diriku jika perasaan ku ini salah tapi semakin lama aku semakin tidak bisa menahannya lagi, dan apakah perasaan ku ini salah Ly?" Leo menatap Lily yang berlari menjauh darinya, meninggalkan Leo yang masih mematung di pantai itu.
Lily menatap wajah Luca sejenak lalu ia meninggalkan Luca yang masih berdiri di samping pintu rumah mewahnya, Lily menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur dan kembali menangis.
Lily menangis? Ya dia menangis bukan karena menyesal sudah menolak Leo tapi ia menangis karena sudah menampar wajah Leo yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri, ia begitu menyayangi Leo seperti ia menyayangi Luca dan itu tak bisa berubah menjadi cinta.
Luca yang berdiri di depan pintu kamar Lily mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih pada Lily karena sebagian seorang kakak Luca sangat memahami sifat dan watak keras adiknya kesayangannya itu.
***
Lily berjalan sambil mengingat kembali kejadian yang membuat hubungannya dengan Leo renggang, sesekali Lily menarik napas berat dan membuangnya karena kalau dulu ia merasa bosan seperti ini Leo pasti orang yang selalu menghiburnya, tapi sekarang berbeda Lily tidak akan meminta Leo menemaninya disaat ia merasa bosan karena Lily tidak akan membiarkan perasaan Leo kepadanya semakin besar.
LILY
LUCA
LEO
__ADS_1