
"Mereka terlalu licin, dan sekarang mata mataku pun sudah di terkam oleh mereka!" Lelaki paruh baya itu mengambil cerutu dan membakarnya, matanya menyalakan kebencian, ia tak sampai fikir orang orang yang ia tugaskan semua gagal.
"Tapi Tuan, apakah sampai sekarang kau masih belum mengetahui identitas adik dari Luca dan Leo?" Tanya seseorang Pria berbadan tinggi yang berdiri di sampingnya.
Bukkkkk.
"Bodoh! kalau aku sudah mengetahui nya, aku tidak akan mengalami kesulitan untuk menghancurkan Triple L itu dan aku juga tidak membutuhkan mu!" Pria berbadan tinggi itu tersungkur karena pukulan Pria paruh baya yang tiba-tiba mendarat di perutnya, ia menunduk menahan sakit di bagian perut.
"Maafkan aku Tuan!"
"Aku tidak ingin menerima kata maaf mu sebelum kau mendapatkan identitas adik dari Luca dan Leo!" Pria paruh baya itu meninggalkan Pria tinggi yang masih kesakitan tanpa menunggu jawaban darinya, ia memasuki mobil hitam lalu melaju kencang entah kemana.
"Brengsek, aku harus segera mendapatkan identitas adik Luca, bila perlu aku yang akan membunuhnya!" Ucap pria itu geram.
***
LILY POV.
Di perjalanan menuju rumah, aku hanya memandangi jalan yang terlihat sepi, aku memilih duduk di kursi depan karena aku sedang ingin melihat jalan yang sedang kami lalui, tiba tiba ponsel milik Roger berdering, Roger pun segera mengangkatnya karena ku lihat sekali lewat nama Leo yang tertera di layar ponsel Roger.
Roger menempelkan ponsel itu ke telinganya, entah apa yang di bicarakan Leo karena sesekali Roger melirik ke arahku, aku yang masih sedikit kesal dengan Leo enggan menanggapi dan mencari tau apa yang mereka bicarakan.
"Nak, Leo memintamu menemaninya makan malam, dia sudah menunggu mu di restoran biasa!" terdengar Roger sedikit takut menyampaikan keinginan Leo padaku karena aku hanya diam dan memasang ekspresi tak suka.
"Jika kau sedang tak ingin nanti akan paman sampaikan pada Leo!" karena tak ada jawaban dari ku Roger segera berinisiatif mengatakan itu karena ia tak ingin aku murka.
"Antar kan saja aku kesana Paman!" ucap ku singkat dan kembali memandang jalanan kota.
__ADS_1
"Baiklah!" Roger memacu mobil hitam milik ku ke restoran yang biasa tempat kami melakukan pertemuan.
Tak membutuhkan waktu lama mobil ku pun sampai di basement restoran itu, sebelum Roger membukakan pintu untuk ku mata elang Roger mengecek beberapa sudut basement untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, setelah merasa cukup aman Roger membukakan pintu dan mempersilakan aku untuk masuk kedalam restoran tersebut.
Sesampainya di ruangan VIP yang biasa kami pesan aku melihat Leo tersenyum manis kepada ku.
"Maaf tadi aku terpaksa menghubungi Roger karena ponsel mu sedari tadi tidak aktif!" ucap Leo sambil menarik kursi dan mempersilakan aku duduk.
Di ruangan ini kami hanya berdua saja, karena Roger dan anak buah yang lain berjaga jaga di luar ruangan.
"Terima kasih!" aku mencoba untuk tersenyum ramah kepada Leo, mencoba berdamai dengan Leo.
"Maafkan aku Li!" ucapan pertama kali yang keluar dari mulut Leo, terdengar sangat tulus dan penuh penyesalan, Leo sedikit menunduk enggan menatap ku.
Aku memegang tangan kekarnya yang biasa menggandeng tangan ku ini "Aku sudah memaafkan mu, jauh sebelum kau memintanya kepadaku, aku hanya tidak ingin perasaan itu menghancurkan kita karena sejujurnya aku selalu menyayangimu seperti aku menyayangi Luca!"
"Aku tau itu, dan aku pun menyadarinya!" Leo mengangkat kepalanya dan memberikan senyum terbaiknya.
LILY POV END.
"Wah, kau memesan semua makanan kesukaan ku!" Lily begitu semangat karena Leo memesan beberapa makanan khas Korea yang jarang sekali mereka dapatkan setelah mereka pindah ke Amerika.
"Ya, kebetulan restoran ini baru menerima chef dari Korea dan mereka akan menambah beberapa menu khas Korea yang akan mereka jual di restoran ini" jelas Leo.
"Really? sepertinya aku akan sering berkunjung kesini!" Lily memasukkan suapan pertama nya Tteokbokki.
"Kau jangan curang ya, kau tidak boleh menikmati nya sendiri, kau harus mengajak ku!" protes Leo saat mendengar jika Lily sangat menyukai makanan di restoran ini dan ingin sesering mungkin mengunjungi restoran ini.
__ADS_1
"Aish, aku akan bangkrut jika selalu mengajakmu makan di sini!"
"Hey, apakah uang mu yang banyak itu sudah habis? jika ia kau kemana kan saja uang sebanyak itu? atau jangan-jangan kau sudah membeli beberapa pusat perbelanjaan?" Leo sedikit kesal saat Lily mengatakan jika Lily Takut uangnya habis karena mengajaknya makan.
"Hahahaha tenanglah I am just kidding! lagian Luca tak akan membiarkan aku jatuh miskin" Lily tertawa melihat wajah Leo yang sudah sangat kesal karena ulahnya itu.
"I know that!" Leo kembali tersenyum, hatinya menghangat melihat Lily sudah bisa tertawa lepas seperti itu, baginya kebahagiaan Lily adalah yang utama walaupun ia harus mengubur dalam-dalam perasaannya.
"Jika menjadi kakak terbaik membuatmu merasa nyaman dan membuatmu tidak pergi jauh dariku, aku akan berusaha membuang perasaan ini, karena sakit ku saat aku tak mendapatkan senyuman manis mu setiap hari" ucap Leo dalam hati, Leo memandang wajah bahagia Lily saat ia sudah menghabiskan semangkuk Tteokbokki.
"Oh ya, apakah kau tau jika Luca sedang menyukai seorang gadis?" ucap Leo santai.
"Really?" Lily membulatkan matanya tak percaya, karena selama ini ia tak pernah mendengar Luca menyukai seseorang.
"Ya, aku pernah melihat ia sedang jalan jalan dengan seorang wanita, tapi aku tak begitu melihat wajah perempuan itu karena ia membelakangi ku!"
"Hemmm, baiklah aku akan mencari taunya! Luca memang orang yang pandai menyimpan perasaan nya!" Lily tersenyum penuh arti tapi hatinya juga sangat senang karena kakaknya tidak gila dengan pekerjaannya itu, walau bagaimanapun juga Lily ingin melihat kakaknya itu memiliki rumah tangga dan memiliki anak-anak yang sangat lucu, karena tak selamanya mereka akan hidup seperti ini terus.
"Aku ingin kau mencari tau siapa yang mengirim mata mata ke tempat kita!" ucap Lily tiba tiba.
"Aku sudah tau, dia adalah musuh Daddy Samuel, tapi ada seseorang yang sangat besar berada di balik itu semua dan sialnya kami belum mengetahuinya dengan pasti!" jelas Leo.
"Ternyata mereka masih belum puas sudah membunuh Daddy!" ucap Lily geram.
"Ya, awalnya mereka berfikir jika Daddy Samuel terbunuh mereka tidak memiliki lagi saingan, tapi dugaan mereka salah karena Daddy Samuel memiliki anak-anak yang sangat hebat, dan kau tau sekarang mereka sedang mencari identitas mu karena menurut mereka kelemahan aku dan Luca adalah kau Lily!" Leo sedikit khawatir pada Lily karena kapanpun nyawa Lily bisa terancam.
"Tenanglah Leo, aku bukanlah gadis yang lemah, sebelum mereka menghancurkan kita, maka kita dulu lah yang akan menghancurkan mereka!" tegas Lily.
__ADS_1
"Kau benar, tak kan ada yang bisa menghancurkan Triple L! tapi kau juga harus perketat penjagaan gudang dan jangan lupa kau juga harus menjaga dirimu saat kami tak berada di dekatmu!" Leo menggenggam tangan Lily.
Lily mengangguk setuju dan mulai mengetik pesan untuk Roger untuk memperketat semua kawasannya.