
"Sayang, hari ini kita akan berkemas kemas!"
"Memang kita mau ke mana?" ucap wanita yang duduk di ranjang tua itu.
Pria yang baru saja masuk kedalam kamar berukuran kecil itu berjalan mendekati wanita itu lalu berlutut menyamakan posisinya dengan wanita pemilik hatinya itu.
Pria itu mengusap lembut perut wanita cantik tersebut yang sudah terlihat semakin besar "Kita akan ke Amerika, ada seseorang yang memberikan pekerjaan untuk ku!"
"Sungguh?" mata wanita itu berkaca kaca, ia sangat bahagia akhirnya Pria yang sudah hampir delapan bulan ini menjadi suaminya mendapatkan pekerjaan.
"Aku sudah berjanji padamu, apapun akan aku lakukan untuk membahagiakan mu, Davinka! apapun, asal kau dan anak kita bisa hidup dengan layak!" Daniel meletakkan kepalanya di atas pangkuan Davinka sambil memeluk erat pinggang wanita yang sedang mengandung buah hati mereka,
"Terima kasih Daniel, kau sudah mencintaiku sepenuh hati!"
"Tidak, akulah yang berterima kasih karena kau mau menerima semua kekurangan ku! kau wanita hebat yang pernah aku temui, sampai kapanpun aku tetap mencintaimu!"
Daniel pun berdiri lalu duduk disamping Davinka, mata sendunya menatap wajah Davinka penuh cinta, tangannya bergerak terangkat untuk menyelipkan anak rambut Davinka yang terurai di belakang telinga Davinka.
Perlahan Daniel mendekatkan wajahnya, mencium aroma khas Davinka yang masuk kedalam Indra penciumannya, mata Davinka tertutup, wanita itu pun tau apa yang diinginkan oleh laki-laki yang akan menjadi calon Ayah ini.
Kemudian Daniel mengecup lembut bibir tebal milik wanitanya itu, perlahan namun pasti ia mulai memainkan ciumannya, lalu tanpa aba aba Davinka juga membalas setiap gerakan bibir Daniel, ia mengalungkan tangannya ke leher Daniel dengan posesif, ciuman mereka akhirnya terbalut dengan nafsu yang menggebu-gebu, Tanpa sadar tubuh Daniel sudah berada di atas tubuh sang istri.
Tok,,,tok,,,tok...
Tiba tiba suara ketukan pintu yang di ketuk kuat memaksa mereka menghentikan ciuman hangat yang penuh gairah itu, Daniel harus menahan hasratnya sejenak, ia tak tau siapa yang sudah mengetuk rumahnya malam malam seperti ini.
Dengan sedikit menahan amarahnya Daniel bergegas menuju pintu dan membukanya, namun ia terkejut mendapati dua orang berbadan besar dengan memakai setelan jas hitam dan kacamata hitam berdiri di depan pintu rumahnya.
"Siapa kalian?"
"Kami hanya di tugaskan untuk mengantar amplop dan tiket ini!" ucap Pria itu tak kalah dingin membuat Daniel sedikit gemetar, ia tau siapa yang sudah menyuruh dua orang ini untuk mendatangi rumahnya.
"Terima kasih, sebaiknya kalian cepat cepat pergi dari sini, aku tidak ingin istri ku melihat kalian!"
Tanpa banyak bicara kedua orang itu langsung meninggalkan rumah kecil milik Daniel.
Saat Daniel ingin menutup pintu rumahnya ia di kejutkan dengan kedatangan Davinka.
"Siapa yang bertamu malam malam seperti ini, sayang?"
"Owh, hanya orang yang mengirim tiket pesawat dan uang untuk keberangkatan kita besok!"
Davinka sedikit mengernyitkan alisnya, ini terlihat aneh! pekerjaan apa yang akan suaminya lakukan hingga mendapatkan tiket dan uang terlebih dahulu sebelum Daniel bekerja, namun ia belum ingin bertanya banyak kepada sang suami karena ia hanya ingin kejujuran dari Daniel saja.
"Sekarang lebih kau istirahat, biar aku saja yang berkemas!"
Daniel memeluk dan menggiring tubuh Davinka kedalam kamar mereka, tanpa banyak protes Davinka pun hanya bisa menurut saja.
***
Keesokan harinya saat Davinka dan Daniel sedang berada di bandara, Daniel mendapatkan isyarat dari dua orang berjas hitam yang sempat datang ke rumahnya untuk mengantarkan tiket pesawat dan uang semalam, mereka meminta Daniel menemuinya di toilet.
"Sayang, kau tunggu sebentar di sini! aku pergi ke toilet dulu!"
__ADS_1
tanpa rasa curiga Davinka pun hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Lalu Daniel bergegas menuju toilet yang terletak sedikit jauh dari kursi tempat mereka menunggu.
Setelah Daniel masuk kedalam toilet kedua orang berjas hitam pun menyusul nya.
"Setelah kau dan istri mu sampai di Amerika, kau segera pergi ke alamat ini!"
Tanpa basa-basi satu dari kedua orang itu menyodorkan kertas yang bertuliskan alamat.
"Baiklah!"
Setelah mengambil kertas yang berada di tangan orang tersebut Daniel pun pergi meninggalkan toilet sambil memasukkan kertas pemberian kedua orang tadi kedalam saku celananya dan kembali menuju Davinka berada.
Setengah jam menunggu akhirnya pesawat yang akan mereka tumpangi pun pergi membawa mereka berdua meninggalkan tanah kelahiran sang istri.
Terlihat Davinka sedikit bersedih karena ia tak tau entah kapan ia bisa menginjakkan kembali ke tanah kelahirannya ini.
"Are you ok?"
"Yes, IM Ok!"
Daniel pun memeluk pundak istrinya dan membiarkan Davinka tertidur dalam pelukannya, Daniel tau jika Davinka sebenarnya bersedih tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menenangkan sang istri dalam pelukannya.
Di dalam perjalanan Daniel hanya menatap kosong kearah jendela yang menyuguhkan pemandangan awan putih yang berserakan di langit sesekali ia melirik sang istri yang masih betah bermain dengan mimpinya, ia tidak tau apakah keputusan yang ia ambil ini akan membawanya kedalam kebagian atau sebaliknya membawa hidupnya dalam penderitaan.
Di usia Daniel yang masih tergolong muda, ia tak pernah berfikir panjang dalam mengambil keputusan, yang ia pikirkan saat ini bagaimana ia bisa membahagiakan istri dan calon buah hatinya nanti, membawa mereka merasakan kehidupan yang layak.
***
Daniel merenggangkan otot badannya yang terasa sangat kaku, perjalanan yang panjang, mereka menghabiskan waktu 20 jam untuk sampai di negara Paman Sam tersebut.
"Ayo sayang!"
Daniel menggandeng tangan Davinka dan membawanya keluar bandara untuk mencari taxi yang akan mereka tumpangi menuju alamat yang di berikan dua orang yang ia temui di Thailand.
Namun tanpa sadar ia tak sengaja melihat toko aksesoris yang menjual kalung berbentuk kupu-kupu yang bisa menyimpan foto kecil di dalamnya, Daniel pun meminta Davinka menunggu sebentar di dalam taxi, ia berlari masuk kedalam toko itu dan membeli kalung tersebut.
Dengan wajah yang sangat bahagia Daniel pun masuk kedalam taxi dam meminta taxi tersebut membawanya ke alamat yang ada di kertas yang ia dapatkan di dari dua orang berjas hitam beberapa waktu lalu.
"Sayang, aku punya sesuatu untukmu!"
ucap Daniel lembut membuat Davinka menoleh kearahnya dan menatap wajah Daniel penuh cinta.
"Taraaa!" Daniel merentangkan kalung yang ia beli dari toko tadi, membuat mata Davinka berbinar-binar.
Davinka menutup mulutnya yang sedikit terbuka karena ia tak menyangka jika Daniel membelikan kalung yang sangat indah.
"Ini sangat indah!"
"Kau suka?"
Davinka dengan cepat menganggukkan kepalanya membuat senyum Daniel berkembang dengan sempurna.
__ADS_1
Daniel pun memasangkan kalung tersebut di leher Davinka, lalu mengecup keningnya penuh cinta.
Setiba di alamat yang di beri kali ini Davinka tambah terkejut, itu mansion besar yang sangat mewah, Davinka tau jika orang yang memiliki mansion itu bukanlah orang sembarangan atau bisa di katakan orang yang berkuasa terlebih ia melihat banyak sekali orang-orang berbadan besar berjaga di mansion itu.
Davinka hanya tak ingin ketakutan yang berada di benaknya selama ini terjadi.
"Mengapa kita kesini, tolong jelaskan kepada ku, pekerjaan apa yang akan kau lakukan?" tanya Davinka dengan suara dinginnya.
"Aku pun tidak ta-"
"Jangan bohong Daniel, kau tau sendiri aku sangat tidak suka di bohongi!"
Daniel menarik napas berat, ia sudah yakin jika Davinka tidak akan pernah mau menerima keputusan nya itu, tapi Daniel pun tak punya pilihan lagi, ia sudah menandatangani perjanjian dengan seorang yang menyuruhnya pergi ke Amerika.
"Aku bergabung dengan Mafia!"
Plakkk...
Satu tamparan mendarat sempurna di wajah Daniel, membuat Daniel menunduk pasrah atas kemarahan sang istri.
"Aku sudah pernah bilang kepada mu, sesulit apapun keadaan mu aku akan selalu menemani mu sampai aku menua, tapi jangan pernah kau sentuh dunia hitam itu!" Davinka berteriak didepan wajah Daniel yang masih menunduk, dadanya turun naik menahan amarah, mata cantik wanita itupun sudah mulai memerah.
"Aku tidak punya pilihan lag-"
"Kau yang membuat pilihan sekarang! sekarang kau pilih ikut pergi bersama ku atau kau pilih masuk ke mansion itu!"
Daniel terdiam jujur ini bukan sebuah pilihan untuknya melainkan paksaan, ia tak tau harus bagaimana lagi, tidak mungkin ia membatalkan perjanjian dengan orang itu karena semuanya akan semakin rumit dan keselamatan Davinka pun akan terancam, tapi ia juga tidak mungkin meninggalkan Davinka yang sedang mengandung buah hati mereka begitu saja, terlebih ini hari pertama ia menginjakkan kakinya di negara ini.
Ini pilihan yang teramat sulit sepanjang hidupnya, pilihan yang akan menjadi penyesalan di dalam dirinya.
"Maafkan aku Dav, aku harap kau bisa menjaga diri mu dengan baik!"
Daniel melangkah memasuki mansion besar itu, meninggalkan Davinka menangis sesenggukan karena tak menyangka jika Daniel akan tetap memilih menjadi bagian dari Mafia.
Davinka pun berjalan dengan langkah gontai, ia kembali memasuki taksi yang masih belum pergi karena Daniel belum membayarnya, beruntung semua uang yang Daniel miliki tertinggal di dalam tas Davinka, setidaknya untuk beberapa waktu Davinka bisa bertahan hidup di negara ini.
Davinka tidak menyangka jika kehidupannya kembali menyedihkan lagi, dulu ia harus menjadi budak **** karena hutang Ayahnya pada seorang Mafia, hingga Daniel datang membebaskan Davinka, hal itu membuat Davinka sangat membenci Mafia, namun baru satu tahun setengah ia mengecap nikmat kehidupan seperti orang orang justru sekarang Daniel lah yang bergabung dengan Mafia membuat Davinka seketika sangat membenci Daniel.
Namun tanpa Davinka tau jika perjanjian yang pernah ia lakukan tak lain untuk membebaskan Davinka dari tangan mafia yang menjadikannya budak ****.
Daniel harus meminjam uang yang sangat besar untuk membebaskan Davinka dari cengkraman Mafia, namun Daniel harus menjadi pengikutnya tapi jika Daniel tidak mengikutinya maka orang itu akan membunuh Davinka.
Itulah alasan Daniel memilih membawa Davinka ke Amerika meninggalkannya karena ia tak ingin Mafia itu menyakitinya namun di satu sisi Daniel juga masih bisa memantau Davinka dari kejauhan.
Setelah perpisahan itu Davinka bertahan hidup dengan mengandalkan uang yang ada di dalam tasnya, dan ia harus berpindah pindah tempat untuk mencari pekerjaan yang menerima seorang wanita yang sedang mengandung.
Namun keadaan Davinka semakin memburuk, saat kehamilannya sudah semakin membesar dan memasuki waktu persalinan ia harus di usir oleh pemilik rusun tempat ia tinggal dan berjalan entah kemana, beruntung ada seorang wanita tua yang bekerja sebagai pemulung menolongnya dan membawanya ke bangunan tua yang terbengkalai yang mereka gunakan untuk sekedar tidur dan berlindung dari hujan dan terik matahari.
Davinka pun akhirnya melahirkan bayi laki-laki, tapi tiga hari setelah melahirkan bayinya Davinka pun menghembuskan nafas terakhirnya, Davinka yang tak memiliki uang dan hanya di bantu seorang wanita tua untuk melakukan persalinan dengan seadanya membuat ia mengalami pendarahan hebat yang akhirnya membuat rahimnya terinfeksi.
Akhirnya bayi laki-laki malang itu di asuh oleh wanita tua dan hidup di jalanan bersama gelandangan lainnya.
Hari berganti hari usia sang anak pun semakin bertambah, ia tumbuh menjadi anak laki-laki yang pintar hingga ia mendapatkan beasiswa di sekolahan terbaik.
__ADS_1
Sedangkan Daniel masih terus mencari keberadaan Davinka yang beberapa bulan setelah ia bergabung dengan Mafia membuat ia semakin sibuk dengan pekerjaannya hingga ia kehilangan jejak Davinka.