
Setelah beberapa hari Lily dan Luca berada di Swiss, akhirnya hari ini mereka telah tiba di Amerika, perjalanan panjang membuat Lily memejamkan matanya sejenak di mobil yang menjemput mereka berdua.
Mobil mewah berwarna hitam itu melaju kencang membawa mereka menuju mansion besar milik mereka, terlihat Roger duduk di kursi samping kemudi, sedangkan Luca dan Lily duduk berdua di kursi belakang kemudi.
Karena tak mampu menahan kantuk Lily pun akhirnya tertidur pulas, merasa tak tega melihat sang adik tidur dengan posisi tidak nyaman seperti itu, akhirnya Luca membawa kepala Lily untuk bersandar di bahu nya.
Sangat nyaman, bahkan di dalam tidurnya tanpa Lily sadari jika bahu yang sama yang selalu membuat ia merasa nyaman dan tenang adalah bahu sang kakak.
Luca tersenyum dan mengelus pelan kepala Lily dengan sayang, terkadang Luca sangat merindukan sifat manja dan periang adiknya dulu yang selalu tak ingin jauh darinya, namun itu dulu sebelum luka hati Lily yang merubahnya menjadi gadis dingin dan kejam.
Luka hati karena selalu kehilangan sosok orang tua yang merubah semua yang ada di dirinya, tak ada lagi Lily yang periang, tak ada lagi Lily yang manja bahkan selalu mengungkapkan rasa sayangnya kepada Luca.
Hati Lily yang selalu terluka menjadikan ia pribadi yang berbeda, bahkan terkadang ia seperti orang asing di mata Luca.
"Kita sudah sampai Tuan!"
Suara Roger memecahkan lamunan Luca, ia melirik sejenak kearah Lily yang masih tertidur pulas.
"Bisakah kau bawakan barang barang Lily? aku akan menggendongnya ke kamar!"
"Baik Tuan!"
Luca mulai membopong tubuh mungil sang adik dan membawa masuk kedalam kamarnya.
Setelah meletakkan Lily di atas kasur empuk miliknya, Luca mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar Lily, kamar yang sangat nyaman ini jarang sekali Luca masukin, Luca mengingat terakhir kali ia masuk kedalam kamar ini saat Lily menangisi kepergian sang Daddy.
__ADS_1
Luca menatap wajah letih Lily dan perlahan mengecup kening Lily "Good Night my little Lily!" kata indah sebagai pengantar tidur Lily yang tak pernah keluar sekali pun dari mulut Luca akhirnya terucap.
Setelah Luca keluar dari kamar Lily, tiba tiba mata Lily terbuka dan menatap pintu yang sudah tertutup rapat, Lily menangis merutuki dirinya sendiri.
Lily membenci dirinya yang seperti asing setiap menatap kakaknya, namun di satu sisi ia masih merasa kesal dengan Luca karena saat Lily menyaksikan sang Daddy terbunuh, ponsel Luca tidak dapat di hubungi. Lily berfikir jika saja Luca tidak mematikan ponselnya mungkin sang Daddy tidak akan pernah pergi meninggalkan mereka selamanya.
...***...
Sudah hampir satu Minggu Casandra mencari keberadaan Leo, karena dari terakhir Leo mengantarnya pulang mereka tidak pernah sekalipun berkomunikasi, sedangkan nomer ponsel Leo tidak pernah aktif sampai hari ini.
Casandra pun tak menyerah ia selalu datang setiap hari ke cafe milik Mark berharap Leo datang kesana tapi semuanya terasa nihil, ia tidak mendapatkan apa-apa bahkan sekedar informasi di mana alamat tempat Leo bekerja pun Mark tidak mengetahuinya.
Sosok Leo yang sangat misterius membuat Casandra kewalahan, sampai saat ia akan meninggalkan cafe milik Mark, ia melihat Leo berdiri di depan nya dan memasang senyum yang selalu Casandra rindukan selama satu Minggu ini.
Casandra berjalan menghampiri Leo dan langsung menubruk tubuh kekar Leo, ia memeluk erat dan mencium aroma tubuh laki laki yang sudah membuatnya merasa gila.
"I'm sorry honey, aku harus pergi keluar kota untuk menyelesaikan pekerjaan ku dan aku terlalu sibuk sampai lupa mengabari mu!" bohong Leo, Leo tak pernah pergi kemanapun selama Luca dan Lily berada di Swiss, selama seminggu ini ia hanya menghabiskan waktu berdiam diri di mansion dan menyelesaikan pekerjaan Luca yang sempat terbengkalai karena masalah yang tiba-tiba muncul, karena hari ini Luca mengabarinya jika ia dan Lily akan kembali, maka hari ini Leo berencana untuk mengunjungi Mark di cafe nya, namun Leo tidak tau jika akan bertemu Casandra di sana.
"Kau tidak berbohong kan?" selidik Casandra.
Leo berusaha untuk tetap tenang, ia tak ingin Casandra semakin bisa membaca kebohongannya "Tentu tidak sayang, apakah kau sudah makan?" ia berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku baru saja selesai!" Casandra mempoutkan bibirnya dan memasang ekspresi seperti anak kecil membuat Leo ingin sekali melu*at bibir ranum miliki kekasihnya itu.
Kekasih?
__ADS_1
Tunggu dulu, apa Leo benar benar menjadikan Casandra sebagai kekasihnya? sepertinya tidak, Leo hanya berpura pura saja, ia tidak pernah memiliki rasa sedikit pun dengan wanita ini, bagi Leo belum ada satupun wanita yang bisa menggantikan posisi Lily di hatinya.
"Baiklah jika kau sudah selesai aku ingin mengajakmu pergi ke taman kota, aku ingin menikmati malam disana!" ajak Leo sambil menggandeng tangan Casandra.
Casandra pun hanya menuruti keinginan Leo, baginya tak ada hal yang membuatnya bahagia sekarang melainkan bertemu dengan kekasihnya itu.
...***...
Hari ini Mr Daniel bertemu dengan Kai, ia menunjukkan seseorang yang sedang ia sekap, kali ini Mr Daniel benar benar tak bisa mendiamkan perbuatan orang yang sudah menggagalkan bisnisnya itu, dan dendamnya pada triple L semakin membara.
"Sepertinya bocah-bocah milik Samuel itu ingin bermain-main dengan ku!"
"Tenangkan dirimu brother! kau jangan terlalu gegabah meladeni permainan anak kecil itu, kita akan membalasnya saat mereka sudah letih untuk bermain-main!"
Kai menepuk pundak Daniel perlahan, ia berusaha menenangkan sahabatnya itu. Kai sangat tau setelah kematian Mr Samuel yang di juluki King Mafia, sahabatnya Daniel selalu di teror oleh anak anak Mr Samuel yang sudah mengambil alih kepemimpinan Mr Samuel, bahkan anak anak Samuel selalu menghancurkan bisnis yang Daniel lakukan, namun Daniel masih menahannya karena ia tidak akan pernah mampu menghancurkan kekuasaan miliki Samuel terlebih lagi ia mengetahui jika anak anak Samuel bahkan lebih kejam dari sang Ayah.
"Aku akan mencari tau secepatnya identitas Triple L dan aku akan menghancurkan mereka dengan permainan ku sendiri!" desis Daniel sambil meneguk segelas wine yang berada di tangannya.
"Dan aku akan menyuruh Casandra untuk memancing mereka!" ucap Kai dengan Smirk jahatnya.
"Kau gila, kau ingin menjadikan putri mu umpan untuk memancing mereka? itu terlalu berbahaya Kai!" tolak Daniel, ia tidak pernah setuju dengan ide gila Kai karena ia sangat tau kekejaman triple L yang akan menghabisi nyawa siapapun yang menjadi musuh mereka dan Daniel tidak ingin Casandra yang tak tau apa-apa terlibat dalam masalah ini.
Daniel sangat menyayangi Casandra seperti anaknya sendiri, ia sudah merasa menyesal seumur hidup karena sampai saat ini ia tidak pernah mengetahui keberadaan istri dan anaknya, jadi ia tak ingin melihat Casandra menderita akibat ulah Ayahnya.
"Hei brother, ini sudah hukum alam jika kita ingin memancing ikan besar maka kita harus memasang umpan yang bagus, dan kau tenang saja, ini akan terlihat sangat natural dan berjalan sangat mulus!" Daniel menatap wajah tenang Kai ia tak bisa membaca pikiran sahabat yang sudah di anggap seperti adiknya sendiri.
__ADS_1
Daniel pun terdiam, ia bergelut dengan seribu pertanyaan yang ada di dalam hatinya, kepalanya terasa sangat berat karena memikirkan bisnisnya yang hampir bangkrut karena ulah Triple L.