
Lily terus berjalan tanpa tujuan dan berharap rasa bosannya ini menghilang secepatnya, kakinya melangkah sambil sesekali menendang kerikil kecil yang ada di depannya,Lily menendang kuat kerikil itu lalu tiba-tiba "Awwwww!" terdengar suara teriakan dari arah depannya.
Lily langsung menghentikan langkahnya dan matanya membulat sempurna saat ia melihat seorang pria yang sedang kesakitan sambil mengusap kepalnya karena ulahnya, sontak Lily langsung menghadap kebelakang memunggungi pria itu namun tiba-tiba ia berteriak "Awwwww!" Saat ia merasakan ada benda kecil yang menghantam kepalanya, Lily segera membalikkan badannya dan memandang pria yang sudah berdiri didepannya dengan tatapan yang mematikan.
"Hei kau, mengapa kau melempar batu itu ke kepala ku?" Teriak Lily yang sudah murka.
Pria itu menaikkan alisnya terlihat memasang wajah bodohnya "Kau menuduh ku?" Pria itu justru kembali bertanya kepada Lily sambil menunjuk kearah dirinya sendiri.
"Lalu siapa lagi kalau bukan kau! Apa kau tidak melihat disini tidak ada manusia lagi selain kau dan aku!" Lily berjalan mendekati pria itu dan mencengkeram kerah jaket yang pria itu gunakan dan menatap tajam pria tinggi itu.
"No,no, no tunggu dulu Nona! Kau bilang tadi tidak ada siapapun di sini kecuali kau dan aku, berarti kau yang tadi duluan melempar kerikil itu ke kepalaku?" Skak! Lily terdiam dan melepaskan cengkraman tangannya di jaket pria itu dan ia segera berjalan meninggalkan pria tersebut dengan langkah cepatnya tanpa mengucapkan kata maaf.
"What's? Hei!" Pria itu mematung kebingungan dengan sikap wanita yang baru saja memarahinya, lalu ia berlari mengejar Lily yang sudah hampir tak terlihat lagi karena jalan tersebut memiliki pencahayaan yang sangat minim.
Lily berjalan secepat mungkin agar ia bisa meninggalkan pria yang kembali mengejarnya di kegelapan kota.
Srakkk.
Namun tiba-tiba langkanya terhenti Lily merasakan tangannya di tarik sedikit kuat sehingga membuat tubuhnya berbalik dan terhenyuk kedepan, karena sangat tiba-tiba Lily tidak dapat mengatur lagi keseimbangan tubuhnya membuat tubuhnya jatuh kedalam pelukan pria yang mengejarnya tadi.
__ADS_1
Satu detik, dua detik, tiga detik Lily masih terpaku menatap lekat wajah pria yang menurutnya sangat menyebalkan itu, Lily masih sangat betah menatap setiap lekuk wajah yang di tumbuhi bulu halus itu, Lily menelan Salivanya dengan paksa ketika matanya tertuju pada bibir tipis yang begitu sexi "Ehemmm, permisi Nona!" Namun tiba-tiba ia tersadar ketika mendengar suara pria itu berdehem memecahkan lamunannya, Lily melepaskan tangan pria yang sudah menahannya agar tidak terjatuh dengan paksa, ia lalu berdiri dan menggeser tubuhnya untuk memberi jarak diantara mereka sambil merapikan bajunya.
"Mau apa lagi kau menahan ku!" Ucap Lily tanpa rasa bersalah.
Pria itu masih tak habis pikir dengan sikap wanita didepannya ini "Kau sudah melempar kepala ku dengan kerikil dan kau tidak meminta maaf kepada ku!" ucap pria itu sedikit kesal.
Mata Lily kembali melotot mendengar ucapan pria itu " Untuk apa aku meminta maaf kepada mu, kau juga tadi melempar kepala ku dengan sengaja!" Lily semakin tak mau mengalah karena ia merasa tidak sengaja melakukannya.
"Baiklah kita impas, aku tak ingin memaksa mu untuk minta maaf, tapi bolehkah aku berkenalan denganmu!" Pria itu mengulurkan tangannya.
"Wah modus sekali Anda, tapi maaf saya tidak ingin berkenalan dengan pria menyebalkan seperti anda!" Lily melangkah pergi meninggalkan pria itu sendirian.
Lily duduk di kursi yang berada di teras cafe, ia sengaja mengambil meja yang berada diluar agar ia dapat melihat pemandangan susana kota yang ramai pada malam hari, lampu jalanan yang menghiasi ruas jalan yang di padati dengan kendaraan berlalu lalang, serta banyak juga orang orang yang memilih berjalan kaki hanya sekedar menikmati suasana indah pada malam itu, ya malam itu adalah malam yang indah untuk sebagian orang, Langit malam yang di hiasi sinar rembulan yang sempurna dan angin malam yang terasa samar samar membuat setiap hati akan merasakan kenyamanan, tapi itu tidak untuk Lily, malam ini Lily merasa sangat bosan dan kesepian ia merasakan hidup yang monoton selalu dijalani nya setiap hari, tidak ada yang spesial didalam hari harinya, bahkan ia tidak terlalu banyak memiliki kenangan indah di dalam memori otaknya.
Seorang waiters datang mendekati sambil membawa semua pesanannya.
"Silahkan dan selamat menikmati!" Ucap waiters itu sambil berjalan meninggalkan Lily.
"Terima kasih!" Ucap Lily sambil memberikan senyum manisnya, ia langsung mengangkat cangkir berisi Americano dan mengesap nya, merasakan pahit di setiap tegukan yang mengalir di kerongkongannya.
__ADS_1
"Pahit, tapi tak sepahit hidup ini!" Lily tersenyum kecut dan meletakkan cangkir kopinya kembali, ia melepaskan pandangannya kearah jalanan yang masih ramai, pikirannya melayang jauh entah apa yang sedang ia rasakan dan pikirkan, karena Lily sangat tertutup bahkan kepada Luca sekali pun.
Mungkin cafe ini akan menjadi tempat ternyaman nya saat ini, memikirkan sesuatu yang menjadi tujuannya selama ini.
"Daddy, Lily sangat merindukanmu!" Lily menatap foto seorang anak perempuan yang tersenyum manis di dalam pelukan seorang pria bertubuh besar juga memeluk gadis kecil itu dengan sayang, tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya, rasa sakit kehilangan orang orang yang tersayang sangat sulit terhapus dari lubuk hatinya.
Lily kembali mengesap Americano dan menyandarkan punggungnya di kursi, ia memejamkan matanya sejenak mencoba berusaha kuat menjalani takdir yang Tuhan berikan untuknya walaupun terkadang itu terasa sangat berat.
Tanpa Lily sadari ada sepasang mata yang memperhatikannya sedari tadi, orang itu hanya berdiri dari kejauhan, matanya tertuju pada wanita mungil yang sedang duduk sendirian di cafe itu, tanpa lelah walaupun ia sudah berdiri sekitar dua jam lamanya.
***
"Apakah kau sudah menemukan lokasi penyimpanan mereka?" tanya Pria berkepala plontos itu kepada dua orang yang berdiri di depannya dan mereka berdua terlihat seperti anak buah dari Pria berkepala plontos tersebut.
"Kami sudah mengirimkan seorang mata mata Tuan dan orang itu sudah berhasil masuk kedalam markas mereka, kita tinggal menunggu informasi selanjutnya dari orang itu!" jelas pria yang bertubuh sedikit pendek.
"Bagus, aku ingin mendapatkan informasi itu secepatnya, dan aku tak ingin mendengar kegagalan!" pria plontos itu kembali duduk dan mengambil cerutu termahalnya.
Kedua anak buahnya langsung menunduk memberi hormat dan pergi dari ruangan itu "Aku akan menghancurkan kalian dan akan mengambil semua yang menjadi hak ku!" Pria itu tertawa terbahak bahak dan kembali mengisap cerutunya dengan perasaan penuh kemenangan.
__ADS_1