
"Selamat datang, ini buku menu nya!" ucap seorang wanita yang menjadi waiters di sebuah cafe tersebut.
"Saya ingin secangkir capuccino dan dan semangkuk asparagus soup " Luca mengembalikan buku menu itu pada waiters dan memberikan senyum manisnya.
Waiters itu pun segera berjalan kearah dapur dan memberi kertas pesanan Luca.
"Hei Rosé kau lihat dia tersenyum manis kepada mu!" ucap Rebecca kepada Rosé saat ia tak sengaja melihat Luca tersenyum manis kepada Rosé.
"Kau ini, apakah itu tampak sesuatu yang aneh? semua orang yang datang ke kafe ini akan memberikan senyum manisnya tak terkecuali orang itu!" Rosé sangat malas meladeni temannya itu.
Rebecca gadis berkulit hitam yang sudah menjadi sahabat Rosé saat pertama kali ia masuk kerja di cafe itu, bahkan di mata Rosé, Rebecca adalah wanita yang sangat agresif dan baper, Rebecca akan mengatakan jika Pria yang tersenyum manis kepada nya itu menyukainya dan Rebecca pun akan menangis saat keesokan hari ia melihat pria itu membawa kekasihnya makan di cafe itu, tapi walaupun begitu Rebecca adalah sahabat terbaik Rosé yang akan selalu ada untuknya.
Tak lama Rosé pun membawa pesanan milik Luca dan menghidangkannya di meja Luca, "Silahkan di nikmati!"
"Ehemmm, Terima kasih!" Luca berdehem sejenak untuk menetralkan detak jantungnya yang berdetak kencang saat berada di dekat Rosé.
"Apakah aku bisa mengajakmu jalan setelah kau pulang kerja nanti?" Luca menarik tangan Rosé saat Rosé selesai menghidangkan makanan milik Luca dan Ingin meninggalkannya.
"Maaf, pekerjaan saya masih lama,dan saya tidak bisa!" tolak Rosé halus karena ia tak ingin mendapat komplain dari atasannya jika ia tidak bersikap sopan kepada pengunjung.
"Hemmm, baiklah tapi bisakah saya meminta nomor ponselmu?" Luca masih tak menyerah.
"Maaf, pekerjaan saya sedang menunggu di belakang!" lagi lagi Rosé menolak permintaan Luca.
"Oh oke, kalau begitu boleh kah saya tau namamu? sekali ini tolong jangan menolak!" ucap Luca dengan wajah yang seperti memohon kepada Rosé.
"Baiklah, namaku Rosé!"
__ADS_1
"Nama yang bagus, perkenalkan namaku Luca!" Rosé hanya mengangguk dan meninggalkan meja Luca karena ia sudah terlalu lama mengobrol dengan pengunjung dan ia takut di tegur oleh supervisor nya yang cerewet.
Senyum Luca tak pernah luntur dari wajahnya, kemudian ia menikmati makanan nya yang terasa sangat nikmat di lidah nya tanpa melepaskan pandangannya kearah Rosé.
Ini pertama kalinya Luca terlihat sangat bodoh di depan wanita karena biasanya wanita lah yang bertekuk lutut kepadanya tapi sepertinya itu tidak berlaku untuk seorang wanita bernama Rosé, di mata Luca Rosé adalah wanita yang sangat berbeda, Rosé memiliki wajah yang sangat cantik dan sederhana, Rosé pun terlihat sangat acuh kepada Luca dan itu tidak pernah Luca rasakan kecuali pada Rosé.
Setelah selesai membayar BIL nya,Luca tiba tiba berdiri dan berjalan dengan cepat keluar dari cafe tersebut dan tanpa sadar Rosé memperhatikan gerak gerik Luca sedari tadi tapi Rosé tak ambil pusing ia kembali melakukan pekerjaannya.
"Terima kasih!" Luca tersenyum melihat buket bunga yang ia beli pada pedagang bunga yang tokonya terletak sedikit jauh dari cafe tempat Rosé bekerja, Luca terburu-buru Keluar dari cafe tersebut karena ia ingin membelikan bunga untuk Rosé dan jam kerja Rosé sebentar lagi selesai, Luca yang kebetulan tidak membawa mobilnya terpaksa sedikit berlari menuju cafe tersebut.
"Hai Rosé!" Rosé sedikit menganga melihat sebuket bunga yang di sodorkan di depan wajahnya, ah tidak Rosé bukan terkejut dengan bunga itu tapi Rosé terkejut melihat Luca lah orang yang menyodorkan buket bunga itu.
Melihat Rosé hanya mematung akhirnya Luca menarik tangan Rosé dan meletakkan bunga tersebut di tangannya " Jangan menolak, aku hanya ingin mengantar mu pulang!"
"Ah, Terima kasih tapi nanti kakak ku akan menjemput ku!"
Dengan sedikit kecewa Luca mencoba tidak memaksa, karena ia tau sepertinya Rosé bukan orang yang suka di paksa " hemmm baiklah, tapi bolehkah aku menemanimu sampai kakak mu datang?"
"Heheheh Iya"Luca menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia juga merasa sangat senang karena ia tak menyangka jika Rosé memperhatikan nya juga.
"Apakah besok aku bisa mengajak mu jalan jalan?" Luca kembali mencari cara agar bisa lebih dekat dengan Rosé.
"Tolong jangan menolak, sekali ini saja, jika memang kau tidak menyukainya lain kali kau bisa menolaknya!" mohon Luca.
Rosé sedikit menimbang-nimbang di satu sisi Rosé sebenarnya sangat malas jalan jalan karena Rosé lebih suka berdiam diri di rumah dan jika ada urusan penting saja ia baru keluar rumah, tapi di satu sisi ia tidak mungkin menolak Luca yang sedari tadi memohon "Baiklah, sepulang aku bekerja! dan jika nanti aku tidak menyukainya kau tidak usah mengajakku pergi lagi!"
"Setuju!" Luca sangat senang karena Rosé tak menolaknya lagi, dan kali ini Luca harus berfikir keras bagaimana membuat Rosé menyukai moment kebersamaan mereka esok.
__ADS_1
Tin,,,tin,,
Terdengar suara klakson mobil yang sudah terparkir di seberang jalan membuat Rosé menyudahi obrolan nya dengan Luca.
"Kakakku sudah datang, aku pulang dulu!" pamit Rosé pada Luca.
Luca tak dapat melihat wajah kakaknya Rosé karena kaca mobilnya sangat gelap, setelah Rosé masuk ke dalam mobil, mobil itu pun bergerak meninggalkan Luca yang masih tersenyum.
Luca pun berjalan pulang dengan hati yang sedang berbunga bunga, di perjalanan tak henti hentinya ia memikirkan cara untuk membuat Rosé menyukai acara jalan jalan mereka besok.
"Sepertinya Pria tadi menyukaimu?" Rosé sudah bisa menebak jika kakaknya akan berkata seperti itu.
"Itu hanya pikiran mu saja, lagi pula kami baru beberapa jam bertemu!" jawab Rosé dengan nada yang sangat malas.
"Hahahaha, really? tapi aku tidak heran karena adikku ini adalah wanita tercantik di dunia, jadi pria itu pasti langsung jatuh cinta pada pandangan pertama!" kakak Rosé tak henti-hentinya menggoda adik kesayangannya itu karena baginya itu adalah pemandangan langkah, adiknya itu akan dingin seperti es saat berada di dekat Pria yang baru adiknya kenal tapi tidak dengan pemandangan tadi, ia melihat jelas jika adiknya memberikan senyum terbaiknya pada Pria itu.
"Besok kau tak perlu menjemput ku!" ucap Rosé membuat kakaknya semakin bingung.
"Why?"
"Besok pulang dari kerja aku akan pergi jalan jalan bersama Luca!" jujur Rosé.
"wow,,, wow,,,wow,,, ternyata Pria yang bernama Luca itu bisa mencairkan gunung es yang ada di hati adikku ini!" Kakak Rosé semakin bersemangat menggoda adiknya itu "Secepatnya kau harus mengenalkan dia kepada ku, aku ingin tau lebih banyak tentang pria yang berusaha mengencani adikku ini!"
"Kau terlalu berlebih-lebihan, aku pun tidak begitu tau tentang nya, hanya saja aku tidak enak jika berkali kali menolaknya!" ucap Rosé datar.
"Tapi itu awal yang baik!" kakak Rosé mencolek hidung Bangir miliki adiknya yang membuat Rosé semakin kesal dan dengan entengnya Rosé menjambak rambut kakaknya itu.
__ADS_1
"Hey kau ini sungguh tidak sopan kepada kakak mu ini!" Teriak kakaknya kesakitan.
"Aku akan melakukannya sampai kau berhenti menggoda ku!" Rosé kembali mengeratkan jambakan di rambut kakaknya hingga membuat suara teriakan kakaknya semakin keras.