
Sepanjang perjalanan Lily hanya memandang kosong keluar jendela, tak terasa air matanya mengalir tanpa permisi, hatinya terasa sangat sesak.
Pria yang berbadan besar dan kekar berkepala plontos itu melirik Lily yang duduk di kursi belakang dari kaca spion, ia adalah Roger tangan kanan Lily dan orang yang selalu berada di dekat Lily kemanapun Lily pergi, Roger termasuk anak buah yang sangat dekat dengan Lily, ia sudah mengenal Lily dari pertama kali Lily tiba di Amerika, terkadang ketika Lily masih kecil saat ia merasa kesepian Roger lah yang diajaknya bermain di taman belakang rumah, dengan senang hati Roger menemani Lily.
Roger menepikan mobilnya di pinggir jalan, ia menoleh kearah Lily yang masih belum menyadari jika mobil itu berhenti, Roger memberikan tisu kepada Lily tanpa bersuara, Lily menatap Roger dengan senyum "Terima kasih Paman!" Lily mengambil tisu dari tangan Roger dan membalasnya dengan senyuman.
Roger membuka pintu mobil dan berdiri di pinggir mobilnya, setelah menghapus air matanya Lily pun keluar berjalan mendekati Roger yang masih membuang tatapan matanya kearah luasnya hutan yang terbentang, mereka berada di perbukitan yang menyuguhkan hutan yang berselimut awan, bahkan siapapun yang berdiri di sana akan merasa berada di atas awan, suasana sangat hening, mata mereka masih menikmati pemandangan itu, sesekali Roger melihat Lily yang tersenyum menikmati alam yang menjanjikan kedamaian.
"Suatu saat paman yakin kau akan mendapatkan kebahagiaan mu, nak!" Roger bersuara tanpa melihat kearah Lily.
"Apakah itu akan terjadi paman? Aku sedikit pesimis jika kebahagiaan itu akan datang kepada ku!" Ucap Lily sedikit menunduk dan terlihat kembali tak bersemangat.
Roger menghadapkan tubuhnya kearah Lily dan tersenyum hangat, ia memegang kedua bahu wanita kecil yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri "Jika kau tetap menunggu mungkin itu akan mustahil, tapi jika kau berusaha suatu yang mustahil akan terjadi di dalam kehidupanmu!"
Lily menaikkan alisnya mencerna kata-kata yang Roger ucapkan dan terukir senyum di wajah Lily, ia tau apa yang sekarang harus dia lakukan.
Roger yang mengerti dengan senyuman Lily merasa lega karena Lily mengerti maksudnya itu "Paman sangat yakin kau mampu melewati badai ini dan saat kau sudah berhasil melewatinya kau akan di sambut pelangi yang indah lalu kau akan bangga kepada dirimu sendiri saat kau melihat badai yang sudah kau lewati itu!" Roger kembali tersenyum setelah memberi semangat untuk Lily.
__ADS_1
Lily langsung menghambur kedalam pelukan Roger dan menangis sejadinya melepaskan sesak di dadanya.
Roger sangat dekat dengan Lily bahkan setelah Mr Samuel meninggal Roger lah yang menjadi sosok Ayah untuk Lily, tapi Roger tidak akan memperlakukan Lily seperti ini jika mereka berada di depan banyak orang, Roger menjaga agar Lily tetap di segani dan di takuti oleh anak buahnya,dan Roger akan menjadi seorang Ayah jika berdua saja dengan Lily apalagi saat Lily sedang sedih.
Roger merenggangkan pelukan Lily dan menangkup wajah Lily, menghapus air mata Lily dengan Ibu jarinya "Berjanjilah kepada paman, ini terakhir Paman melihat air mata mu, Paman ingin melihat air mata ini di hari bahagia itu!" Ucap Roger mendapatkan anggukkan kepala dan senyum merekah dari wajah gadis kecil bermata kucing itu.
Roger membuka pintu mobil untuk Lily dan ia berjalan mengitari mobil, membuka pintu lalu duduk di belakang kemudi, hari ini Roger kembali berhasil menenangkan Lily dan itulah yang ia lakukan ketika gadis kecil itu sedang bersedih.
Roger kembali menjalankan mobilnya menuju kediaman Mr Samuel yang sekarang menjadi markas utama mereka, tapi ketika mobil itu melintasi Taman kota Lily meminta untuk di turunkan di sana, ia menyuruh Roger pulang, Roger sedikit berfikir karena hari sudah gelap.
Roger pun segera melajukan mobilnya menuju rumah Mr Samuel.
Lily berjalan memasuki kawasan taman yang sedikit sepi, jalan yang tidak terlalu terang karena beberapa lampu taman itu tidak hidup, tapi itu tak membuat Lily takut, dan ingat Lily bukan gadis biasa yang manja dia adalah Mafia yang kejam, tiba tiba Lily merasa ada yang mengikuti langkah kakinya, benar saja 3 orang berbadan besar mendekatinya, 2 orang pria itu berjalan di samping kanan kiri Lily dan satu orang itu berjalan didepan Lily, posisi Lily sekarang sudah diapit oleh 3 pria itu, Lily tersenyum tipis tiba tiba kedua tangannya di cengkram kuat oleh 2 pria di sampingnya, langkahnya terhenti saat pria yang berada didepannya berbalik dengan senyum jahatnya.
"Hai, gadis manis, mengapa malam malam seperti ini sendirian?" Ucap Pria yang berada didepannya.
"Tenang kami bertiga akan menemanimu dan kita bisa bersenang-senang malam ini!" Pria di samping kanannya berbisik ke telinga Lily membuat mereka tertawa terbahak bahak, "Dan kau tidak akan kesepian, karena permainan kami sangat asik!" Pria yang di samping kirinya mengelus-elus rambut dan pipi Lily.
__ADS_1
Lily tak menunjukkan sedikit pun wajah takut karena baginya preman kampung seperti mereka hanyalah kecoak yang sekali injak akan mati, tangan Lily perlahan bergerak kebelakang jaketnya ia memegang sesuatu yang selalu ia bawa dan ia selipkan di pinggangnya, ia mencoba mengeluarkan benda itu untuk membuat nyali preman kampung itu menciut tapi "LEPASKAN GADIS ITU!" Terdengar suara teriakan Pria di belakangnya, membuat ia menghentikan tangannya yang akan mengeluarkan benda itu, Pria yang berada didepan Lily melotot tidak suka saat ada orang yang tak mereka kenal mengganggu kesenangannya dan 2 pria di samping Lily langsung berbalik menghadap Pria tinggi itu tak terkecuali Lily yang penasaran siapa Pria yang merasa sok pahlawan itu.
"Lihat ada pahlawan kesiangan yang akan menyelamatkan mu!" Ucap pria ya di belakang Lily sambil memegang kepala Lily.
"Cihh!" Lily berdecis ketika melihat wajah Pria yang sok pahlawan itu,Ketiga Pria itu justru semakin tertawa mendengar respon dari Lily.
"Baiklah ladies kau akan menonton pertunjukan terlebih dahulu sebelum kau menikmati malam panjang bersama kami, karena kami akan memperlihatkan begitu kuatnya kami!" Ucap pria itu dan mulai berjalan mendekati pria yang akan menolong Lily itu.
Yaaaaaaa,
Bakkkkk,
Bukkkkk,
Terdengar suara pukul bertubi-tubi yang di lanyang kan preman tersebut kearah tubuh Pria tersebut sampai membuat Pria itu jatuh tersungkur tak sadarkan diri, pertarungan yang tidak seimbang membuat Pria itu kwalahan menghadapi 3 pria berbadan besar itu,para preman itu tertawa puas lalu kembali mendekati Lily, tapi mereka justru membulatkan mata mereka melihat Lily sudah menodongkan senjata kearah mereka, "Apakah kalian bertiga masih ingin menemaniku bersenang senang?" Ucap Lily sambil memberikan satu tembakan ke arah sepatu mereka bertiga, melihat itu badan mereka bergetar dan celana satu orang dari mereka sudah terlihat basah, mereka sangat ketakutan dan dengan cepat ketiga preman berbadan besar itu langsung lari terbirit-birit meninggal Lily yang sudah tersenyum puas.
"Dasar payah!" Lily kembali memasukkan pistolnya ketampat semula di belakang pinggangnya dan berjalan mendekati Pria yang masih tak sadarkan diri itu.
__ADS_1