
"Kau?"
Lily langsung menetralkan degup jantungnya, sosok yang ingin di hindari akhirnya benar-benar muncul kembali, hidupnya seperti tidak bisa menghindar dari laki laki yang sekarang berada di depannya ini.
Saat tubuh Lily hendak berdiri dan pergi meninggalkan pria tersebut, tiba-tiba ia merasakan tangannya tertahan membuat langkahnya terhenti.
"Lepaskan!" ucap Lily darat.
"Ada apa Ly? mengapa kau menghilang begitu saja dan sekarang kau malah menghindar dariku? aku salah apa Ly?"
"Louis lepaskan aku!" Lily masih enggan menatap wajah Pria yang sudah mengusik hatinya ini.
"Tidak! aku tidak akan melepaskan mu sebelum kau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada mu hingga kau menghindari ku!" Louis masih gigih dengan usahanya, ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini karena baginya untuk bertemu kembali dengan Lily sangatlah susah.
Lily menatap Louis dengan tatapan marah, matanya merah menyala seperti ingin membunuh Louis, namun Louis membalas tatapan Lily dengan tatapan lembut dan penuh cinta hingga membuat perlahan lahan hati Lily mengalah, memberi kesempatan untuk lelaki yang sudah mengetuk hatinya ini.
"Aku hanya ingin tau mengapa kau kembali menghindari ku, dan melupakan janji pertemuan kita!" Lily mulai melemah dan kembali duduk di susul Louis yang melepaskan tangannya dan duduk di samping Lily tanpa melepaskan sedikitpun pandangannya.
Suasana masih hening, sepertinya Lily membutuhkan waktu lama untuk berdamai dengan egonya, Louis pun dengan sejuta kesabarannya tetap memberikan tatapan cinta untuk wanita yang sudah mencuri hatinya itu, membuat hati Lily melunak dengan tatapan itu.
"Maafkan aku!" satu kalimat yang lolos dari mulut Lily membuat Louis menarik sudut bibirnya keatas, ia tersenyum dalam hatinya bersyukur akhirnya ego Lily terkalahkan dengan kelembutannya.
"Tidak Ly, kau tak perlu meminta maaf! aku tidak pernah marah dengan mu, aku hanya ingin tau alasan mengapa kau tidak datang menemui ku hari itu!" Louis memberanikan diri memegang kedua tangan Lily, perlahan Lily pun memberanikan diri menatap wajah tampan Louis yang selalu mengusik pikiranya.
"Maafkan aku, saat itu aku harus pergi ke luar negeri karena ada urusan mendadak yang tidak bisa ku tunda lagi!" kembali kata maaf itu keluar dari mulutnya, kata yang tak pernah terlontar untuk siapapun karena Lily tidak akan pernah melakukannya kepada siapapun, namun sekarang tanpa ia sadari ia memberikan kata tersebut untuk pria yang belum lama ia kenal.
"Aku mengerti dan memakluminya!" Louis mengangguk mengerti ia pun tak ingin menanyakan mengapa sedari tadi ia melihat Lily menangis hingga ia memberanikan diri untuk mendekatinya karena ia tak ingin merusak momen ini.
Harus kalian ingat Louis tetap setia datang ke taman kota hanya berharap ia bisa bertemu dengan Lily dan hari ini keberuntungan berpihak padanya, karena saat ia memasuki taman kota tanpa sadar ia menangkap sosok Lily yang sedang membaca buku sambil menangis dalam diam.
"Bagaimana jika sekarang aku mengajak mu jalan?"
"Hari ini?"
"Ya!"
__ADS_1
Lily sedikit berfikir dan kemudian iapun tersenyum mengangguk setuju.
"Baiklah, ayo kita pergi sekarang!"
Louis menarik tangan Lily, mengajak wanita bermata kucing itu berjalan menuju mobil kesayangan, dengan senyum merekah di wajah tampannya, sedangkan Lily hanya menatap jemarinya yang di genggam oleh Louis sambil menetralkan degup jantungnya yang berdetak kencang seperti musik disko saja.
Selama di perjalanan mereka pun hanya diam saja tanpa ada seorangpun yang ingin membuka percakapan, mereka sama sama berusaha menetralkan degup jantung mereka sendiri, kegugupan dan kecanggungan pun sangat terasa, Louis yang biasanya sangat pecicilan berubah menjadi pria yang kaku saat ini.
"Kau ingin membawa ku kemana?" tanya Lily tiba tiba memecahkan kecanggungan diantara mereka.
"Emmm, sebentar lagi kita akan sampai dan kau akan mengetahuinya!"
Dan benar, mobil Louis berhenti di sebuah danau yang sangat indah, danau yang di kelilingi pohon Pinus yang menjulang tinggi seperti sedang melindungi indahnya danau itu.
Lily terpesona dengan keindahan dan ketenangan danau itu, ini seperti di negeri dongeng sungguh indah dan nyata, terdapat sebuah gazebo yang berada di dekat danau tempat untuk sekedar beristirahat dan sekarang mereka berdua pun sudah duduk di gazebo tersebut.
"Bagaimana kau suka?"
"Hemmm, ini sungguh indah!"
Louis berdiri di samping Lily yang masih betah memandang hamparan danau yang memilik keindahan yang sempurna, sesekali Louis melirik Lily dengan ujung matanya.
"Hem!"
Suasana kembali hening, namun tidak dengan hati mereka yang berdegup kencang, beruntung banyak suara serangga hutan yang mampu menyamarkannya hingga mereka berhasil menyembunyikan suara degup jantung mereka.
Louis menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
"Aku dulu pernah mencintai seorang wanita begitu dalam, namun ternyata wanita itu menyakitiku begitu dalam hingga membuat aku tak pernah ingin menjatuhkan hatiku pada siapapun, namun ternyata aku tidak mampu untuk bertahan dengan benteng lukaku saat pertama kali aku bertemu dengan mu!"
Lily langsung menoleh kearah Louis, memandangi wajah Louis yang sangat teduh, ia mencari setitik kebohongan dari mata itu namun Lily tak mendapatkan apa yang ia cari.
Louis tersenyum ia meraih kedua tangan Lily "Mungkin ini sangat cepat bahkan mungkin kau menilainya aneh tapi jujur aku tak bisa lagi menyembunyikan perasaan yang semakin tumbuh di hatiku ini, semakin aku menafikan perasaan ku semakin aku tersiksa dengan rasa yang semakin tumbuh didalam sini!" Louis membawa jemari Lily untuk menyentuh dadanya.
Lily hanya membantu, jantungnya semakin berdegup kencang, nafasnya pun terasa mencekik walaupun ada kehangatan di dalam hatinya yang datang dari ucapan Louis, tapi ketakutan itu kembali lagi, bahkan ia semakin merasakan ketakutan itu akan menyakiti perasaan Louis.
__ADS_1
Lily menarik pelan tangannya membuat Louis menggeleng Pelan.
"Maaf!" hati Louis seketika hancur dengan perlakuan Lily.
Louis tak menyangka Lily akan menolaknya begitu saja, ia merasa begitu sakit namun ia tetap tak ingin menyerah, ia memaklumi Lily yang tak bisa menerimanya begitu cepat karena mereka pun baru beberapa kali bertemu.
"Kau tak perlu menjawabnya sekarang Ly, aku tidak akan memaksa mu, aku hanya ingin kau tau, jika aku memiliki cinta yang sangat tulus untukmu!"
Lily melepaskan tangan Louis dan berjalan membelakanginya.
"Aku hanya tidak ingin kau terluka karena mencintai ku, aku juga tidak ingin kau menaruh harapan besar untukku yang tak tau kapan bisa membalas perasaan mu itu, dunia ku terlalu sulit untuk kau telusuri, aku takut kau tersesat dan itu membuatmu semakin menderita!"
Louis yang mendengar ucapan Lily berjalan mendekatinya, ia menarik bahu Lily agar bisa berhadapan dengannya, menatap manik mata indah milik wanita yang berada di depannya membuat ia tak mengerti kisah apa yang sudah wanita ini lalui hingga membuat wanita ini membuat dinding yang tinggi untuk orang lain.
"Jujur, aku memang takut untuk terluka, tapi aku tidak pernah takut untuk berjuang dan berharap! sesulit apapun dunia mu aku yakin aku mampu menjadi cahaya yang menerangi gelapnya jalan mu! dan jika aku nanti tersesat, aku yakin cinta akan membawa ku kembali!"
Lily tersenyum tipis mendengar ucapan Louis, ia mengusap lembut pipi pria yang sedikit di tumbuhi bulu halus, membuat Louis memejamkan matanya, menikmati tangan lembut yang mampu menghangatkan hatinya dan membuat ia semakin yakin jika cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, namun ia merasa ada sesuatu hal yang membuat Lily meragukan suatu hubungan.
Dalam keadaan terpejam Louis kembali terkejut karena Lily sudah menubruk tubuhnya dengan pelukan, dengan senang hati Louis pun membalas pelukan Lily, namun hati Louis merasakan kesedihan Lily yang begitu dalam.
Lily menangis dalam pelukan Louis, ia menumpahkan semua sesak yang ia rasakan selama ini, entah mengapa ia menemukan kenyamanan dan ketenangan dalam pelukan pria yang sedang berusaha menaklukkan hatinya itu.
Louis yang masih memilih diam dan membiarkan Lily menangis dalam pelukannya mengusap pelan punggung dan perlahan ia mendaratkan kecupan lembut di pucuk kepala wanita mungil yang hanya berukuran sebatas dadanya itu.
Mereka mencoba mencurahkan dan melepaskan sesak hati dari hidup yang tidak pernah berpihak pada mereka dengan pelukan, tanpa kata-kata dan hanya kehangatan saja menjadi jawaban dari semuanya.
Setelah merasa cukup tenang Lily melepaskan pelukannya dan berusaha tetap tegar di depan Louis.
"Aku tak tau apa yang sekarang sedang kau hadapi, aku juga tidak memaksamu untuk menceritakannya kepadaku, tapi aku akan menjadi sandaran di setiap sedih mu, aku akan selalu menjadi tempat ternyaman untuk hati mu beristirahat!" Louis mengusap sisa air mata Lily dengan kedua jempolnya kemudian menangkup pipi gembul milik Lily.
"Terima kasih, dan maafkan aku yang selama ini sudah bersikap dingin kepadamu!" ucap Lily sambil mempoutkan bibirnya sehingga membuat Louis merasa gemas dan langsung mencubit kedua pipi gembul milik Lily.
Aakkgg....
Sakit....
__ADS_1
Teriak Lily membuat Louis langsung menarik tubuh mungil nya kembali kedalam pelukannya, sedangkan Lily yang masih kesal memukul mukul dada Louis namun orang yang di pukul hanya tertawa kecil melihat sisi manja dari seorang gadis dingin bernama Lily.