
"Emmmm!"
Seorang wanita cantik merenggangkan tubuh yang terasa sangat letih, ia mengerjap kan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retina mata indahnya.
Namun saat ia merasakan perutnya terasa sangat berat, Casandra mulai membuka selimut yang menutupi seluruh tubuhnya untuk mencari tau apa yang menimpa perutnya.
Mata Casandra melebar saat ia melihat tangan kokoh yang memeluk tubuhnya yang tak tertutup sehelai benang, sontak ia langsung membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh orang yang berada disampingnya.
Casandra pun mengerenyitkan alisnya saat melihat wajah Leo yang tertidur pulas, Leo terlihat seperti bayi, begitu imut, dan akhirnya Casandra mengingat apa yang sudah mereka lakukan hingga membuat senyum Cassandra terukir.
CASANDRA POV.
Begitu indah yang aku rasakan, nyata bahkan membuat jantungku berdetak kencang, entah mengapa aku tak sedikitpun menyesal sudah memberikan semua milikku seutuhnya pada pria ini.
Ku beranikan tangan ku menyentuh setiap lekuk wajahnya, rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu menggelitik didalam perutku.
Apakah benar aku sudah jatuh cinta pada Leo?
Aku belum bisa memastikan perasaan ini cinta atau hanya mengagumi, terlebih aku tak tau apakah Leo sungguh sungguh mencintai ku?
Tapi bukankah Leo yang terlebih dulu mengatakan jika ia mencintai ku, bahkan sampai sekarang aku masih meragukan ketulusan nya walaupun aku sudah menyerahkan sesuatu yang berharga dalam hidupku.
Sudahlah, aku tak ingin memikirkannya, aku hanya ingin menjalani dan menikmati rasa yang di namakan cinta ini, aku berharap semua akan baik-baik saja.
***
Karena merasakan sentuhan lembut di wajahnya Leo pun mulai membuka matanya perlahan, senyumnya terukir saat melihat wajah cantik Casandra yang menyambutnya.
"Hai, sayang!" sapa Leo dengan suara serak Khas orang bangun tidur, Leo menarik jemari Casandra yang masih betah membelai lembut rahangnya lalu menciuminya, membuat Casandra tersenyum bahagia mendapatkan perlakuan manis dari Leo.
"Apa kau tidak ingin mengantar ku pulang? aku sedikit takut jika Daddy mencari ku!" Leo menghentikan ciumannya dan menarik tubuh Casandra kedalam pelukannya.
"Sebenarnya aku ingin bermalam di sini bersama mu, tapi itu sepertinya tidak mungkin, karena aku takut Daddy mu akan menghukum gadis nakal ini, hahahah!" Leo tertawa dengan ucapannya sendiri, ia juga tidak ingin wanita yang tak bersalah apa apa ini terkena amukan sang Daddy karena telah berbohong untuknya.
Casandra yang mendengar tawa renyah milik Leo pun mencubit hidung Leo lalu mengecup singkat bibir Leo, namun itu bukan ciuman singkat yang Casandra harapkan karena Leo sudah menahan kepala Casandra untuk memperdalam ciuman mereka, membuat suara desahan Casandra kembali terdengar.
Tangan Leo pun aktif kembali meremas dua gundukan sintal milik Casandra membuat sang empunya mengerang dan mendesah lebih menggoda.
Leo menuntun Casandra untuk duduk di atas tubuhnya tanpa melepaskan ciuman mereka, ciuman yang semulanya lembut beraturan sekarang berubah menjadi ciuman yang ganas dan penuh nafsu.
__ADS_1
Cassandra tersentak saat pantatnya yang tak terbungkus benang sehelai pun menyentuh sesuatu yang panjang dan keras, dan tanpa perintah ia langsung melepas ciumannya, kemudian Casandra meraih sesuatu yang sudah mengganjal itu untuk ia bimbing kedalam dirinya.
Kali ini Casandra memimpin permainan nya, Leo yang merasa nafsu wanita yang berada di atas tubuhnya yang sudah memuncak tersenyum senang, sedangkan tubuh Casandra sudah berkeringat naik turun di atas tubuh kekar Leo.
Suasana kamar yang tadi sempat hening, akhirnya kembali terdengar suara desahan demi desahan dari dua insan yang memadukan cinta dan nafsu yang masih abu abu.
***
Setelah lunch bersama Louis, Lily pun memilih untuk langsung masuk kedalam kamarnya dan segera membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket.
Namun saat ia akan melepaskan semua pakaiannya dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, tiba-tiba ponselnya berdering, Lily pun mengurungkan niatnya lalu berjalan menghampiri benda pipih yang masih berdering.
"Halo Ly!"
"Ada apa?"
"Bisakah malam ini kau menyusul ku ke Swiss? Tuan Marco ingin memutuskan kerja samanya dengan kita, karena ia mendapatkan barang yang kau kirim tidak sesuai dengan apa yang mereka pesan, jadi Tuan Marco meminta kau datang untuk menjelaskan semuanya, jika tidak ia akan benar benar memutuskan kerjasama dan kau tau sendiri Ly, Tuan Marco adalah sahabat lama Daddy dan sekarang kau mengecewakannya. Jangan lupa Bawa semua anak buah mu yang ikut mengurus pengiriman barang untuk Tuan Marco!"
"Baiklah, malam ini aku akan menyusul mu!"
Tut...Tut...Tut..
Lily sangat tau jika sekarang Luca sedang marah kepadanya dan hal itu membuat Lily memakai kembali pakaiannya dan berjalan ke ruangan kerjanya.
Setiba di dalam ruangannya Lily menelpon Roger dan meminta Roger menjelaskan semuanya.
Selama Lily terjun di dunia hitam ia sama sekali tidak pernah melakukan kesalahan sedikit pun, semua barang yang ia kirim selalu tepat waktu dan sesuai dengan keinginan pelanggan nya. Hal ini membuat Lily murka pada bawahannya, tak terkecuali pada Roger yang sudah ia percaya.
Tak menunggu lama Roger akhirnya masuk kedalam ruangan Lily, Roger sedikit gugup karena melihat mimik muka Lily yang sudah tidak bersahabat, wajahnya sangat menyeramkan, tatapan mata Lily seperti malaikat maut yang siap untuk mencabut nyawa mereka semua yang sudah berdiri di depan meja kerja Lily.
"Tolong kau jelaskan semuanya, Roger! aku harap kau sudah mengetahuinya dari Luca tentang pengiriman barang untuk Tuan Marco!" suara Lily terdengar sangat menakutkan, membuat semua laki-laki bertubuh besar dan memakai pakaian hitam didepannya hanya mampu menunduk, nyali mereka seketika menciut didepan gadis mungil bermata kucing itu.
"Maaf Nona Lily, di lihat dari laporannya tidak mungkin barang barang yang diminta Tuan Marco tidak sesuai keinginan, sedangkan barang yang kita kirim adalah kwalitas terbaik yang di pasok langsung dari Indonesia!" jelas Roger kepada Lily.
"Lalu bagaimana bisa ini terjadi? bagaimana dengan kurirnya?" tanya Lily.
"Untuk pengiriman kita memakai kurir biasa yang kita gunakan dan-!"
"Maaf Tuan Roger, Nona Lily, kemarin saya melihat dua anggota kurir yang biasa kita pakai adalah orang baru, dan pihak kurir baru menerima mereka dua hari sebelum pengiriman barang!"
__ADS_1
Ucapan Roger tiba tiba terhenti saat salah satu bawahannya menjelaskan sesuatu yang menurutnya mengganjal.
Roger langsung membalikkan badannya memandang bawahannya yang baru saja mengatakan hal yang membuat kecurigaan dari kesalahan pengiriman ini memiliki titik terang.
"Mengapa dari awal kau tidak mengatakannya?" bentak Roger.
"Maafkan saya Tuan, saya fikir itu tidak akan menjadi masalah!"
Dorr..
Aaaakkkk....
Belum selesai pria itu berbicara, terdengar suara teriakan dari mulutnya, dan benar, timah panas milik Lily sudah bersarang di kaki pria itu, membuat pria itu berlutut menahan kesakitan.
"Bodoh!"
Bentakan Lily membuat mereka semakin ketakutan tanpa terasa keringat mengalir membasahi pakaian mereka, bermasalah dengan Lily itu artinya nyawa mereka berada di ujung tanduk.
"Bawa dua kurir itu malam ini juga ke gudang dan kau Roger, siapkan kembali barang barang yang di inginkan Tuan Marco dan kirim secepatnya!" perintah Lily dan langsung mendapat anggukan dari semua orang yang berada di depan meja Lily.
Setelah semua orang pergi meninggalkan ruangannya, Lily mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Halo Ly!" suara orang yang ia telpon terdengar sedikit serak, tapi Lily tak ingin banyak berbasa-basi.
"Malam ini aku akan menyusul Luca ke Swiss, kau handle semua di sini dan pastikan tidak ada kekacauan selama kami menyelesaikan kekacauan di Swiss!" ucap Lily dengan suara dingin.
"Baiklah, aku akan segera pulang!"
Tanpa menunggu jawaban dari Lily, Leo langsung memutuskan sambungan telponnya, ia segera memakai pakaiannya dan mengajak Casandra yang masih terlihat sedikit kebingungan dengan perubahan ekspresi wajah Leo.
"Ada apa? apa yang terjadi?" tanya Casandra.
"Ah, tidak apa-apa, tadi temanku menelpon ia memintaku kerumahnya untuk membantu pekerjaannya!" bohong Leo.
Casandra pun mengangguk mengerti, ia tak ingin banyak bertanya lebih lanjut karena ia pun juga ingin pulang kerumah secepatnya, ia tak mau membuat orang tuanya Khawatir karena sedari tadi ia tidak mengirim kabar pada orang tuanya jika ia pulang terlambat.
Di dalam perjalanan pulang Leo dan Cassandra memilih untuk diam, mereka bergelut dengan pikiran mereka masing-masing, pikiran Leo hanya tertuju dengan kemarahan Lily karena ia juga belum mengetahui apa yang sedang terjadi, setau Leo jika Lily sudah seperti itu berarti ini bukan hal yang sepele yang sedang mereka hadapi.
Sedangkan Casandra, ia memikirkan bagaimana daddy-nya bisa menerima Leo sebagai kekasihnya, ia tersenyum sendiri mengingat bagaimana ia menjadi jalang di depan Leo sedangkan itu pertama kalinya ia melakukan hubungan se*s.
__ADS_1