
Pagi ini cuaca tampaknya sangat bersahabat, udara yang terasa sangat sejuk dan sinar matahari yang cerah membuat setiap orang akan berfikir untuk memilih kegiatan yang sangat mereka senangi tak terkecuali Lily.
Lily berjalan menuju meja makan di mana Leo dan Luca sudah menunggunya dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajah tampan mereka.
"Pagi little Lily!" sapa dua lelaki tampan itu.
"Pagi my brother!"
tak mau kalah dengan kedua kakaknya Lily pun menampilkan gummy smile miliknya membuat wajahnya semakin terlihat sangat imut.
Lily pun segera duduk berhadapan dengan Leo, ia mengambil sepotong roti dan menambahkan selai strawberry kesukaannya lalu memasukkan potongan roti itu kedalam mulutnya.
"Brother, aku ingin pergi jalan-jalan!" ucap Lily santai sambil memasukkan satu potongan roti kedalam mulutnya.
"Boleh, memangnya kau ingin pergi jalan-jalan ke mana?" Luca pun menyeruput kopinya lalu menatap Lily dengan sayang.
"Aku ingin pergi jalan-jalan ke Korea!"
"Tidak!"
mata Luca menatap Lily dengan tajam. Selama Lily yang tak pernah melihat Luca marah kepadanya karena Luca adalah type kakak penyabar dan sangat menyayangi Lily, membuat Lily sedikit mengkidik melihat wajah Luca yang sudah memerah menahan amarah.
Lily menunduk takut, ia meletakkan potongan roti terakhir yang akan ia masukan kedalam mulutnya.
Luca yang sadar dengan amarahnya langsung menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan, ia mencoba menetralkan emosi yang sudah membuat sang adik kesayangannya takut.
"Kau tau kan Ly, Daddy pernah berpesan kepada kita supaya kita tidak menginjakkan kaki kita ke Korea lagi, lalu mengapa sekarang kau ingin membantahnya?" ucap Luca lembut sambil mengusap kepala Lily yang masih menunduk.
"Ada banyak pertanyaan yang memenuhi hati ku selama ini, dan itu semua membuat ku tak pernah tenang menjalani kehidupan, aku hanya ingin mencari tau kebenaran saja!"
__ADS_1
"Kebenaran apa? kebenaran yang hanya membuat kita semakin terluka?"
"Aku hanya ingin mengetahui asal usul hidup ku ini!" ucap Lily semakin berani menjawab sanggahan dari sang kakak.
"SETELAH KAU TAU ASAL USUL KITA, LALU KAU MENEMUI KELUARGA KITA DAN BERAKHIR KAU DI USIR SEPERTI DULU! ITU YANG KAU INGINKAN?"
Luca semakin emosi, ia marah, benci dan sangat terluka jika mengingat kehidupan pahit di masa kecilnya.
Lily masih menunduk mendengarkan teriakan keras kakak, ia sungguh sangat takut melihat kemurkaan Luca yang jarang ia lihat, tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya, Lily menangis dalam diam.
"Cukup Ly, jangan kau buka lagi luka itu aku tak ingin kau mencari tau apa sudah mereka lakukan kepada kita, sekarang cukup kita jalani kehidupan kita kedepan dan jangan pernah menoleh lagi kebelakang! kenyataan yang kau dapati akan membuat mu lemah dan bisa menghancurkan dirimu, jadi buang rasa ingin tau mu agar hatimu terlindungi dari sakit!"
Luca berdiri dan meninggalkan Lily yang masih menunduk.
Setelah Luca benar benar menghilang, Leo pun bergegas menghampiri Lily dan menariknya kedalam pelukannya, ia tau hati Lily sangat hancur karena bentakan sang kakak yang tidak pernah Luca lakukan selama ini.
"Aku hanya ingin mengetahui siapa kedua orang tua ku walaupun hanya melihat pusaranya saja, apa aku salah?"
"Luca benar Ly, Luca hanya tak ingin kau merasakan lagi luka kalian di masa lalu, kalian sudah tidak di inginkan lagi jadi untuk apa lagi kau mencari mereka yang sudah mensia siakan kalian selama ini! namun jika kau memang benar-benar ingin mengetahuinya dan itu membuat dirimu tenang aku akan membantu mu!" ucapan terakhir Leo berhasil menghentikan tangisan Lily dan membuat wanita bermata kucing itu mendongakkan kepalanya menatap wajah Leo yang sungguh sungguh ingin membantunya.
"Kau serius?"
"Ya, aku serius! apapun akan aku lakukan asalkan itu bisa membuat my little Lily bahagia!" ucap Leo sambil mencolek hidung Lily.
"Terima kasih Leo, kau memang Kakak terbaik ku!"
Deg.
Leo terdiam, hatinya terasa remuk mendengar kalimat Lily. Ia merasa tak ada sedikitpun cela di hati Lily untuk nya.
__ADS_1
Lily memang menyayanginya tapi hanya sebagai seorang kakak bukan yang lain.
"Tapi bagaimana dengan Luca?"
Lily menatap wajah Leo serius, sejujurnya ia sangat takut dengan kemurkaan Luca.
"Kau tenang saja, kita atur dulu rencana kita dengan matang, lalu aku akan meminta izin kepada Luca agar aku bisa membawa mu pergi ke Thailand, namun aku akan membawamu ke Korea, setelah itu kita akan mencari tau asal usul mu secepatnya agar kita tidak berlama-lama di sana! bagaimana?"
"Ide yang bagus! tapi apakah Luca akan mengizinkannya?" tanya Lily yang tiba-tiba merasa pesimis dengan ide Leo.
"Kau lupa jika cerita hidupku sama seperti kalian? hanya saja aku sama seperti Luca tidak ingin mencari tau kebenaran yang hanya membuat ku terluka saja!" ucap Leo sambil menunduk dan memegang sesuatu di dalam jaket kulit yang ia kenakan dengan hati yang terasa sangat sakit.
"Maafkan aku!" Lily mengusap tangan kekar Leo, ia tau cerita hidup Leo yang sama sepertinya tidak pernah bertemu dengan kedua orang tua sedari kecil, namun Leo tak seberuntung Luca dan Lily yang masih sempat mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, sedangkan Leo, hanya mengetahui wajah ibunya dari sebuah foto yang selalu ia bawa kemanapun, sedangkan wajah untuk wajah sang Ayah ia sama sekali tidak pernah mengetahuinya.
Setelah meninggalkan meja makan Luca masu kedalam kamarnya, ia berdiri di depan samsak tinju yang tergantung dan memukulnya berkali-kali dengan keras melepaskan amarah dan kekesalannya.
Buk,,Buk,,,Buk...
Suara keras itu menggema di dalam kamarnya, tanpa terasa air mata Luca mengalir.
Luca menangis, hatinya terasa seperti teriris, ia kecewa dengan keadaan yang selalu menyakiti hati nya, membuat ia selalu kehilangan orang yang ia sayangi dan banggakan.
Jujur didalam hatinya pun Luca merasakan rindu yang sangat dalam kepada orangtuanya, dan ingin rasanya ia mencari pusaran tempat kedua orang tuanya di makamkan namun hatinya terlalu sakit mengingat keluarga orang tuanya dengan tega membuang mereka di saat hari kematian Ayah dan ibu mereka.
"Mengapa Tuhan! mengapa kau membuat hidupku begitu sakit! Appa, Eomma aku merindukan kalian bahkan adik kecilku sangat merindukan kalian! Hari ini aku membentaknya, aku memarahinya hanya karena ia sudah tidak sanggup menahan kerinduan kepada kalian! Aku seperti kakak yang sangat jahat baginya, namun aku hanya tak ingin ia terluka lagi dengan perilaku keluarga kalian!" tubuh Luca merosot, tertunduk dengan air matanya mengalir seperti hujan.
***
Di saat ini Lily memilih menenangkan diri di taman kota setelah melihat kemarahan Luca tadi pagi, ia duduk di bangku taman dengan membaca buku yang ia bawa dari rumah, kegemarannya membaca sudah ada sedari kecil karena ia tidak terlalu sering berinteraksi dengan orang sekitar, membuatnya menjadi seorang introvert.
__ADS_1
Tak tau sudah berapa jam ia menghabiskan waktunya dengan buku tebal itu, yang pasti ia sangat menikmatinya, suasana taman yang sepi dan cuaca yang sangat cerah membuat perlahan hatinya merasa tenang, namun tidak dengan matanya! cairan bening itu seakan enggan berhenti untuk jatuh dari singgasananya, mata merahnya masih betah menghiasi wajah cantiknya hingga ia merasa seseorang menyentuh bahunya , membuat ia bergegas menghapus air matanya agar ia tak menpakan kesedihannya.
Setelah menghapus bersih air mata itu Lily pun menoleh kearah orang yang menyentuh bahunya, matanya membulat sempurna melihat sosok yang sedang berdiri di belakangnya itu.