Romansa Mafia

Romansa Mafia
My Favorit


__ADS_3

Lily menatap remeh wajah Pria yang sudah tak sadarkan diri, ia ingin melangkah pergi tapi langkahnya terhenti saat ia kembali melihat wajah Pria itu yang babak belur karena ingin menyelamatkannya, dengan menarik nafas berat Lily mencoba mengangkat tubuh pria itu untuk didudukan di kursi Taman, "Pria ini benar-benar menyebalkan, dan menyusahkan saja!" Gerutu Lily yang kesusahan mengangkat tubuh Pria tersebut.


Setelah selesai membawa pria itu ke tempat duduk, Lily melihat luka di wajah pria itu lumayan parah, Lily kemudian berjalan menuju mini market yang berada di seberang jalan untuk membeli obat obatan dan perban tak lupa ia membeli beberapa minuman dan makanan ringan, kemudian kembali ke tempat pria itu di sandarkan, Lily membersihkan luka dan memberikan obat luka pada wajah pria tersebut tak lupa ia menempelkan perban di beberapa luka yang besar.


Tiba-tiba pandangan Lily terhenti saat ia menatap bibir Pria yang ia anggap paling menyebalkan itu, Lily tersenyum tipis mengingat kejadian saat pertama kali ia bertemu dengan pria ini,"Dasar bodoh!" Ucap Lily setelah selesai mengobati wajah pria itu, Lily pun duduk di samping Pria itu dan melemparkan pandangan kedepan sambil meminum cola yang ia beli tadi, setelah 25 menit Pria itu akhirnya sadar dari pingsannya "Dasar lemah, kau itu pingsan atau tidur? Lama sekali!" Kata kata pertama yang Lily lontarkan ketika menyadari Pria yang berada di sampingnya itu sudah sadar tanpa melihat kearah Pria tersebut.


Pria itu meringis memegang wajannya yang terasa sangat perih, "Kau tidak apa-apa?" Pria itu terlihat masih khawatir dengan keadaan Lily tanpa melihat keadaannya yang sangat menyediakan, Lily tertegun dan menoleh ke arah Pria tersebut ia tak menyangka Pria itu terlihat sangat Khawatir dengan keadaannya "Tenang saja aku tidak apa-apa, seharusnya kau tak perlu menolong ku karena aku bisa menolong diriku sendiri!" Lily berdiri meninggalkan Pria tersebut yang masih meringis kesakitan.


"Aku akan mengantarmu pulang!" Teriak pria itu kemudian berusaha untuk berdiri, tapi tubuhnya terasa lemah dan sakit semua.


"kau pulang saja, aku bisa menjaga diri ku sendiri! Aku tak ingin kau menyusahkan ku lagi!" Ucap Lily sambil berjalan meninggalkan Pria itu sendirian, setidaknya Lily bukan orang yang tidak tau berterima kasih meninggalkan orang yang sudah berusaha menolongnya dalam pingsan, maka dari itu ia pergi setelah pria itu sadar.


"Kau semakin membuat ku penasaran dan merasa tertantang!" Ucap pria itu setelah punggung Lily menghilang di kegelapan malam, ia kembali meringis memegang ujung bibirnya yang terluka "Bajingan, brengsek berani beraninya membuat wajah tampan ku terluka, jika aku bertemu kalian sekali lagi akan aku habisi kalian!" Gerutu Louis sambil berjalan meninggalkan taman itu.

__ADS_1


Ya, Pria yang babak belur itu adalah Louis, ketika ia berjalan jalan menikmati suasana taman tanpa sengaja ia melihat 3 pria berbadan besar memegang paksa wanita bertubuh kecil itu, matanya membulat ketika mengetahui jika wanita yang sedang dihadang oleh 3 pria itu adalah wanita yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya, wanita aneh yang pernah melemparkan kerikil kekepala nya. Louis pun langsung berlari mendekati 3 preman tersebut, lalu ia berkelahi dengan 3 preman yang memiliki badan besar untuk menolong wanita tersebut, tapi sialnya karena perkelahian yang tak seimbang 3 lawan 1 maka tubuh Louis berhasil mendapatkan pukulan bertubi-tubi dari preman tersebut sampai akhirnya satu pukulan mendarat tepat di kepalanya membuat pandangannya kabur dan tubuhnya jatuh terhempas diatas tanah, ia mendengar suara ketiga preman itu tertawa, semakin lama semakin samar terdengar,dunia pun langsung berubah gelap dan kesadarannya menghilang seketika.


Entah berapa lama ia pingsan sampai akhirnya saat matanya terbuka ia mendengar suara wanita mungil bermata kucing mengeluarkan kata-kata remeh kepadanya, Louis sangat kesal, sejenak ia melupakan kekesalannya karena ia Khawatir jika wanita itu terluka, tapi wanita itu justru mengacuhkan kekhawatirannya dan pergi begitu saja meninggalkannya.


Lily berjalan menuju cafe yang pernah ia singgahi, perutnya terasa lapar ia tak ingin pulang kerumah dalam keadaan lapar walaupun di rumahnya ada beberapa koki yang bertugas membuatkan makanan kapanpun Lily inginkan, Lily duduk di tempat kemarin yang pernah ia duduki mungkin itu akan menjadi tempat favorit nya saat mengunjungi cafe tersebut, tak lama seorang wanita muda dan cantik datang tersenyum menghampirinya, wanita itu meletakkan buku menu dan berdiri di samping Lily bersiap mencatat pesanan Lily.


"Saya pesan satu Americano, dan satu porsi spaghetti bolognese!" Lily menutup buku menu dan memberikannya kepada wanita di sampingnya.


"Tidak, sepertinya itu sudah cukup!" Lily tersenyum kepada wanita tersebut, lalu wanita itu berjalan meninggalkan Lily.


Tak lama kemudian wanita tersebut kembali berjalan mendekati Lily sambil membawa nampan berisi pesanan Lily, ia meletakkan secangkir Americano dan sepiring spaghetti bolognese di meja Lily "Selamat menikmati Nona!" Wanita itu berjalan meninggalkan Lily.


Lily mengangkat cangkir kopinya dan mengesap Americano yang masih hangat, ia menikmati setiap tegukan kopi yang menjadi minuman favoritnya sekarang, ia lalu memasukkan suapan pertama spaghetti bolognese yang terasa sangat enak ketika memenuhi mulutnya, tak salah jika ia kembali lagi mengunjungi cafe ini karena makanan disini sangat enak, Lily memang type orang yang sangat pemilih makan, terkadang koki dirumahnya sangat kesulitan menyesuaikan Mood Lily dengan makanannya, Lily akan menolak makanan favoritnya ketika moodnya sangat buruk dan terkadang koki dirumahnya harus mengganti beberapa kali makanan karena di tolak oleh Lily.

__ADS_1


Setelah selesai menikmati makanannya, Lily masih betah menghabiskan malam di cafe itu, namun karena waktu sudah semakin malam ia memanggil waiters untuk membayar makannya, waiters itu berjalan mendekati Lily dan meletakkan bon pembayaran didekat tangan Lily, kemudian Lily menyodorkan beberapa lembar uang dollar dan berdiri meninggalkan cafe itu, saat ingin melangkah "Nona tunggu, ini kembaliannya!" Teriak wanita tersebut menghentikan langkah Lily, "Karena makanannya enak dan Mood ku sedang naik, maka kau ambil saja, dan anggap itu tips dariku!" Lily tersenyum dan melanjutkan langkahnya.


"Terima kasih Nona!" Ucap wanita tersebut senang sambil membalas senyum pada Lily yang sudah berjalan meninggalkan cafe tersebut.


Lily terus berjalan sampai langkahnya berhenti tepat didepan gerbang rumah yang sangat luas dan dijaga ketat oleh orang orang berbadan besar.


"Selamat malam Nona!" Seorang penjaga memberi salam dan membukakan gerbang untuk wanita mungil bermata kucing itu, wanita itu menatap datar wajah penjaga tersebut, tapi itu adalah hal biasa bagi mereka karena mereka sangat jarang melihat wanita itu tersenyum.


Wajah wanita itu akan menjadi dingin, tatapan matanya menjadi tajam dan datar membuat siapapun yang menatap matanya akan tertunduk kaku.


Lily memasuki rumah besar yang terasa sangat hampa, ia berjalan menuju kamarnya karena ia sangat malas bertemu dengan Luca terutama Leo.


Lily masih marah kepada Leo? itu pasti, karena Leo sudah berprilaku kurang ajar kepadanya, ia juga menghindari Leo Karena tak ingin Leo semakin terobsesi dengannya, ia melepaskan jaketnya dan melemparkan ke sembarang tempat, lalu ia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, tak membutuhkan waktu lama berada dikamar mandi karena malam ini Lily sangat kelelahan dan ingin segera menidurkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya, dan setelah memakai baju tidurnya Lily mencoba memejamkan matanya, tapi tiba-tiba wajah pria menyebalkan itu kembali terlintas di pikiran Lily "Aish, apa apaan ini, mengapa wajah menyebalkan itu selalu muncul, ya Tuhan kenapa aku harus bertemu lagi dengan pria itu!" Gerutu Lily dalam hati dan menutup kepalanya dengan bantal guling agar ia bisa tertidur nyenyak.

__ADS_1


__ADS_2