
"Kau tidak bekerja?" tanya Louis saat melihat pagi ini tak seperti biasanya adik kesayangannya itu masih menggunakan piyama bermotif tokoh kartun Doraemon.
"Tidak, hari ini aku libur!" jawab Rosé dengan nada malas.
Louis semakin bingung dengan tingkah adiknya beberapa hari ini, seperti semalam saja saat Rosé pulang ia melihat wajah adiknya itu sangat bahagia seperti mendapat lotre berpuluh juta dolar, tapi lihatlah pagi ini wajah cantiknya itu terlihat sangat menyedihkan karena seperti pakaian yang belum di setrika.
Louis menarik kursi yang berada di samping Rosé dan mengambil potongan Sandwich yang sudah terhidang di meja makan mereka, entah Rosé yang membuatnya atau ia membelinya, sesekali Louis melirik ke arah Rosé sambil menyeruput coklat panas miliki Rosé.
"Hey, kau meminum coklat ku!" Rosé merebut gelas coklat yang berada di tangan Louis, wajahnya semakin tertekuk karena sifat jahil kakaknya yang tak mengenal waktu.
"Dasar pelit!"
Rosé memelet kan lidahnya kearah Louis membuat Louis tertawa dengan kelakuan adiknya.
Namun sesaat kemudian wajah Louis berubah menjadi serius menatap adiknya yang masih saja mengunyah sandwich nya dengan tenang.
"Apa yang membuatmu bersedih, hum?"
tanya Louis sambil mengelus lembut kepala Rosé.
Rosé menelan kunyahan sandwich nya dengan susah payah, karena ia juga bingung mengapa moodnya tiba tiba memburuk, padahal di mata Louis ,Rosé adalah type wanita yang tak pernah menunjukkan kesedihannya, ia memang gadis yang dingin tapi itu tidak berlaku untuk orang orang yang berada terdekatnya, karena sifat dingin Rosé bukanlah sifat asli gadis itu, ia hanya berusaha menutupi kerapuhannya dan tak ingin dikasihani oleh siapapun.
"Entahlah aku tak tau, tapi hari ini aku sangat merindukan Ayah dan Ibu!"
"Tidak, aku yakin kau tidak saja merindukan Ayah dan Ibu tapi pasti ada sesuatu yang lain yang membuat mu seperti ini!" sanggah Louis.
Haah
Rosé membuang nafasnya, ia memang tak kan pernah bisa menyembunyikan sesuatu dari kakaknya ini, bagaimana pun ia hanya belum bisa menyimpulkan apa yang ia rasakan sekarang.
"Hari ini Luca pergi ke Swiss!"
Hahahahaha,,, Hahahah.
Tawa Louis pecah memenuhi ruangan apartment nya membuat Rosé memutar bola matanya jengah dengan respon kakaknya itu, sumpah ia sangat menyesal sudah mengatakan itu pada kakaknya yang selalu menyebalkan.
Setelah puas dengan tawanya Louis mendekatkan wajahnya kearah Rosé yang memasang wajah datar.
"Sepertinya Luca itu pria yang sangat hebat!" suara Louis seperti setengah berbisik membuat Rosé menautkan alisnya karena masih tidak mengerti dengan ucapan Louis.
__ADS_1
"Dia hebat sudah mencairkan gunung es mu!"
Aaakkk
Aaakkk
Louis berteriak karena dengan gerakan cepat tangan Rosé membuat rambut milik pria itu berada dalam genggamannya.
"Berhentilah menggoda ku!"
"Aaak,, aku tak menggoda mu, aku mengatakan yang sebenarnya!" Louis mencoba melepaskan cengkraman tangan Rosé yang berada di rambutnya dengan sudah payah.
"Kau!"
Aaakkk
Aaaakkkkk
Aakkkkkkkk
Teriakkan Louis semakin kuat seiring kuatnya jambak kan tangan Rosé di kepalanya, membuat pertikaian antara adik dan kakak itu tak terhindarkan.
"Kau sangat kejam, aku ini kakakmu!"
"I don't care, kau yang memulainya!"
"Tapi kau tak perlu menganiaya ku seperti ini!" Louis menjauhkan kepalanya ia tak ingin adiknya itu kembali menganiaya.
Rosé berdiri dan berjalan menuju sofa, ia menghidupkan Televisi yang menampilkan acara musik.
"Bagaimana, apakah kau sudah mendapatkan informasi tentang indentitas Triple L?" tanya Rosé tiba tiba.
Louis terdiam sejenak dan berjalan mendekati jendela apartment nya yang menyajikan pemandangan sudut kota yang mulai ramai.
"Entahlah, sudah bertahun tahun aku menyelidikinya tapi sampai saat ini aku tak menemui sedikit petunjuk!" Louis membuang nafas secara kasar.
Louis memejamkan matanya, mencoba membuang sedikit beban di dalam hatinya, rasa Letih itu terkadang membuatnya ingin menyerah, semua usahanya terasa sia sia saja.
Louis akui kematian Mr Samuel sebenarnya sudah sedikit membuat nya merasa puas tapi dendam nya ingin menghancurkan semua yang berhubungan dengan Mr Samuel pun masih menyelubungi kepalanya, apalagi saat ini ia mendengar pergerakan triple L semakin merajalela membuatnya ingin memusnahkan semuanya.
__ADS_1
"Apa kau ingin menyerah begitu saja?" tanya Rosé saat melihat wajah kakaknya putus asa.
"Mungkin saat ini aku ingin menunda penyelidikan karena ada tugas lain yang harus aku kerjakan terlebih dahulu, dan setelah tugasku selesai aku akan melakukan penyelidikan lagi!" Louis memandang mata Rosé, seakan ia ingin meyakinkan kepada adiknya itu jika semua itu akan selesai.
Suasana kembali hening, tak ada lagi pembicaraan diantara mereka sampai ketika terdengar ponsel Louis berdering dan menampilkan nama Elena di layar ponselnya.
"Halo!"
"Louis, bisa kau ke kantor secepatnya, ada yang ingin ku tunjukkan kepada mu!"
"Baiklah, 20 menit lagi aku akan segera kesana!"
"Tidak, aku ingin 5 menit lagi kau sudah berada di sini!"
"what's 5 menit? tapi bagaimana bisa dalam waktu 5 menit aku sudah sampai di sana!" teriak Louis tak terima.
"Bisa saja, kau tinggal turun dari apartemen mu, masuk ke dalam mobil mu dan berjalan menuju kesini! kenapa itu terlalu Sulit untukmu!" Elena mulai kesal dengan kelakuan rekannya itu.
"Itu terasa sangat sulit Elena, karena aku belum mandi!" tawa Louis kembali terdengar membuat Rosé menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kakaknya itu.
"Ya Tuhan, kenapa aku bisa mendapatkan rekan kerja seperti ini!" Elena mengusap wajahnya kasar dan mencoba meredam emosinya, bisa bisanya Pria ini terlihat sangat santai menghadapi beberapa kasus yang sangat sulit ini.
"Oke, sekarang kau mandi dan aku akan menunggu mu!"
Tut,,
Sambungan telepon terputus karena Elena langsung mematikan nya tanpa menunggu jawaban dari Louis, karena Elena akan semakin kesal dengan kelakuan rekan kerjanya yang tak pernah sehari pun membuatnya tidak mengencangkan urat lehernya.
Louis pun segera berjalan meninggalkan Rosé yang masih termenung menatap Televisi dengan tatapan kosongnya.
Sedangkan Rosé mengabaikan kakaknya yang sangat berisik bernyanyi mengikuti suara televisi yang Rosé tatap.
Entah mengapa pagi ini Rosé merasakan rindu pada Luca, hatinya seakan terasa sesak, padahal ia dan Luca baru beberapa hari berkenalan walaupun kedekatan mereka sudah mulai tercipta tapi Rosé masih tak mengerti tentang perasaannya kepada Luca.
Rosé mengambil ponsel dan membukanya, senyumnya merekah saat melihat ada pesan dari seseorang yang hari ini membuat Moodnya tak menentu.
"Pagi Rosé, bagaimana tidurmu semalam? Sebentar lagi pesawat ku akan segera berangkat, jaga dirimu baik-baik selama aku pergi!"
Rosé menaikkan alisnya bingung dengan kata kata dari Luca, tapi bibirnya tak bisa menahan senyum untuk sedikit merasa bahagia dengan perhatian dari Luca, dan tanpa ingin membalas pesan dari Luca Rosé kembali memasukan ponselnya di dalam saku piyamanya, moodnya mulai membaik, senyumnya kembali terukir di wajah cantiknya dan Rosé yakin jika Luca masih dalam perjalanan karena sekarang jam masih menunjukkan pukul 9 Pagi dan perjalanan Luca memakan waktu sekitar sembilan jam lebih yang artinya pukul 4 sore nanti Luca tiba di Swiss.
__ADS_1