Romansa Mafia

Romansa Mafia
Ciuman panas


__ADS_3

Rasa nyaman itu membuat dua insan terlena dengan pemikiran mereka masing-masing, hening tanpa kata tanpa perlu berucap untuk mengutarakan perasaan masing-masing namun siapapun yang melihat akan merasakan besarnya rasa cinta dari dua insan yang terserang debaran asmara namun terhalang rasa takut untuk membina.


Setelah puas menikmati suasana hening penuh cinta, Louis melerai pelukannya pada tubuh mungil wanita bermata kucing itu, Louis menatap wajah bingung Lily dengan senyum manisnya.


"Sebentar, aku akan melakukan sesuatu!" seru Louis sambil berjalan mendekati danau yang tenang berhias riak air yang tertiup angin


Gerak gerik Louis semakin membuat Lily mengerutkan alisnya, ia sangat penasaran apa yang akan dilakukan pria yang sudah mengetuk hatinya itu.


Perlahan mata Lily membulat sempurna saat Louis mulai membuka kemeja putih yang ia kenakan, terlihat bahu lebar berotot milik Louis, namun Lily semakin dibuat mematung saat tubuh kekar Louis terjun bebas kedalam air danau yang tenang, menelan sejenak tubuh Louis membuat Lily tersadar hingga terukir senyum kecil dari bibirnya.


Lily berjalan mendekati pinggiran danau lalu memasukkan kedua kakinya kedalam danau sambil memandang Louis yang asik menikmati dinginnya air danau itu.


"Lily ayo!" seru Louis sambil melambaikan tangannya mengajak Lily untuk ikut menikmati air danau tersebut.


Lily menggelengkan kepalanya, ia hanya tersenyum saja membalas teriakan teriakan Louis yang memanggil nama Lily.


Namun sesaat kemudian air berubah tenang, Louis hilang dari pandangan Lily, membuat wanita itu celingak-celinguk mencari keberadaan Louis, hatinya mulai merasakan sesuatu yang tidak beres terjadi kepada Louis namun.


"waaaaawwww!" Teriak Louis yang muncul tiba-tiba tepat di depan Lily.


"Aaaaaaaaakkkk!" teriak Lily sambil memegangi dadanya yang terasa ingin lepas, seketika tangannya terangkat keatas meraih telinga Louis yang sedang tertawa terbahak bahak melihat ekspresi Lily seperti itu.


"Awwwww! ampun Ly!"


"Rasakan, kau ingin membuat ku mati karena serangan jantung?"


"Ampun,,, ampun, aku hanya bercanda!"


"Bercanda mu tidak lucu!" Lily pun berdiri melepaskan jewerannya dari telinga Louis dan berjalan meninggalkan Louis menuju gazebo, ia tak menghiraukan panggilan Louis.


"Dia tetap pria yang menyebalkan!" gerutu Lily dalam hati.


Melihat Lily tak menggubris panggilannya, Louis pun segera naik keatas dan berlari mengejar Lily.


"Ly, jangan marah, maafkan aku!" Louis menarik tangan Lily hingga menghentikan langkah gadis itu, Louis membalikkan tubuh Lily dan memasang wajah menyesalnya.


"Maafkan aku Ly, aku janji tidak akan melakukannya lagi!"


LILY POV.


Seketika aku terdiam, amarah ku pun hilang, mataku membulat menatap dada bidang miliknya, perut nya yang seperti susunan susu kotak membuat ku tertegun, hampir seluruh tubuh depannya di tumbuhi bulu halus yang membuat ku berkidik geli.


Tangan kekarnya bertengger di kedua bahuku, matanya hazel nya memandang ku penuh cinta, ya Tuhan begitu sempurnanya ciptaan mu ini, bagaimana ada perempuan yang bisa menyakitinya?


Sungguh aku tak mampu menolak pesona dari wajah tampannya itu, dan pandangan ku mulai menelusuri setiap inci wajahnya yang sangat tampan, namun saat mataku tertuju kearah bibirnya jantungku seperti ingin berhenti, bibir itu, bibir yang membuat ku bisa berpikiran mesum.

__ADS_1


Seperti terhipnotis dengan wujud sempurnanya, perlahan tubuhku membeku dan semuanya terasa bergerak tanpa adanya perintah dari otakku ini, wajah ku semakin dekat namun pandang mataku tak lepas dari bibirnya, dekat dan semakin mendekat, aku pun memejamkan mataku saat merasakan sesuatu yang kenyal dan hangat mendarat lembut di bibir ku ini, waktu terasa seperti terhenti, perutku seperti tergelitik oleh ribuan kupu kupu yang ingin mendesak keluar dari tempatnya.


Perlahan kurasakan Louis mulai memainkan ciumannya, Kecupan demi kecupan darinya mulai menyerang bibir kecilku, terasa sangat manis dan hangat membuat sengatan listrik di dalam tubuh ku ini,dan membuat ku mulai tertarik untuk membalas permainannya.


Aku pun mulai memberanikan diri melingkarkan kedua tangan ku ke tengkuk lehernya, kakiku sedikit menjinjit karena ukuran tubuhnya yang di atas rata-rata pria, kurasakan tangan kekarnya mulai menarik pinggang kecil ku kedalam pelukannya dengan agresif sedikit membuatku tersentak dan aku pun sedikit menekan tengkuknya.


Ciuman yang awalnya teras lembut perlahan berubah menjadi sedikit kasar dan terburu buru, deru nafas beratnya kurasakan di sela sela ciuman kami, dan saat ia sedikit menggigit bibirku tanpa sadar aku Mendesah tertahan, lidahnya pun mulai menerobos masuk menghitung setiap barisan gigi ku, lidahnya bergerak bebas di dalam mulutku, seperti sedang mencari sesuatu.


"Ngghh!"


Ku coba untuk menahan desahan yang sangat kurang ajar ini untuk tidak keluar dari mulut ku.


Namun tiba-tiba aku membuka kedua mataku yang sedari tadi terpejam karena tangannya sudah meremas bokong ku yang sintal dan menyandarkan tubuh kecil ku ditiang gazebo ini.


"Aaaaahhhkk!"


Aku yang sudah lupa diri ini mulai meremas rambut ikalnya, dan tubuh ku mulai menggeliat saat bibir biadab nya mulai mengecup daun telinga ku hingga kurasakan deru nafasnya yang memburu masuk kedalam gendang telinga ku, namun itu hanya sesaat karena sekarang leher jenjang ku pun sudah diraup rakus oleh mulutnya membuat desahan ku keluar dengan lantangnya.


"Ahhhhh,,


emmhh,,


nggghhh!"


Aku yang sudah terbuai oleh sentuhan sentuhannya seolah melupakan semua tentang ketakutan ku ini, ia bahkan mulai menyentuhnya dengan sangat lembut.


Drrttt, Drrttt..


Namun getaran ponsel ku membuat semuanya terhenti, ku dorong tubuhnya dan langsung mengambil ponsel yang berada di saku celana ku.


"Halo!"


"Baiklah, aku akan langsung pulang!"


Aku menatap wajah Louis yang menunduk, ada sedikit rasa bersalah menghinggapi hatiku, aku bersalah sudah memberikannya sebuah harapan yang aku saja belum bisa memastikannya.


"Maafkan aku!"


ucap Louis saat aku sudah berdiri tepat di depannya.


Aku menggeleng dan tersenyum seolah mengatakan itu semua bukan salahnya.


"Bisakah kau tolong antarkan aku, kakak ku menyuruhku pulang!" ucap ku sambil mengecup singkat dan mengelus bibirnya dengan Ibu jariku membuat si empunya mengangkat pandangannya.


Ku lihat dua sudut bibirnya terangkat keatas dan mengangguk pelan, Louis pun segera mengenakan pakaiannya lalu menggandeng tanganku berjalan kearah mobilnya.

__ADS_1


LILY POV END.


Setelah berada di dalam mobil, Louis mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik Lily yang sedang melihat-lihat ponselnya.


"Ehemmm! Ly, boleh aku meminta nomor ponselmu?"


"Tentu saja!"


Lily mengambil ponsel milik Louis dan mengetik nomer ponselnya, setelah selesai ia pun mengembalikan lagi pada Louis.


"Terima kasih Ly!"


"Terima kasih untuk apa?"


"Terima kasih untuk hari ini, dan terima kasih untuk kesempatan-"


"Untuk itu aku tidak bisa menjanjikan apapun pada mu dan untuk yang tadi kau bisa melupakannya, anggap saja kita tidak pernah melakukan apapun!"


Deg!


Hati Louis seketika terasa sangat sesak mendengar ucapan Lily yang terlihat sangat santai tanpa beban.


Louis tersenyum getir, ia berusaha sekuat tenaga agar terlihat biasa saja, hatinya yang terlalu berbunga bunga karena ciuman mereka tadi seketika layu karena sikap Lily yang masih menutup hatinya rapat rapat.


"Baiklah Ly, aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan hati mu!" ucap Louis dalam hati.


"Maafkan aku, aku sangat takut untuk mengakui jika aku sudah benar benar mencintaimu, tapi aku lebih takut jika kau pergi setelah mengetahui siapa aku sebenarnya, maafkan aku, maafkan aku yang sudah menyakiti hatimu!" Lily tersenyum getir meratapi kehidupan yang ia jalani, awan kelam itu seperti menjadi temannya menjalani kehidupan Hitam yang membuat ia tak mempunyai pilihan.


Suasana kembali hening, tak ada percakapan diantara mereka sampai mobil Louis berhenti di depan mansion besar milik Lily.


"Terima kasih ya!" ucap Lily sebelum membuka pintu mobil Louis.


"Sama sama Ly!" Louis menggenggam tangan Lily dengan lembut "Ly, jika kau belum bisa menerima ku tolong jangan pernah kau memintaku untuk menghentikan perjuangan ini, karena aku mencintaimu bahkan sangat mencintaimu, aku tak peduli siapapun dirimu dan sehitam apa dunia mu, aku akan selalu mencintaimu dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu!" ucap Louis penuh pengharapan.


Hati Lily menghangat mendengar ucapan Louis untuk menyakinkan nya namun lagi lagi rasa takut itu membuat Lily harus menepis semua khayalan indah tentang Louis dan dirinya, karena menerima cinta Louis sama saja ia membawa Louis dalam bahaya dan itu tidak akan pernah Lily biarkan, ia tidak akan pernah bisa melihat nyawa orang yang ia cintai terancam setiap waktu.


"Aku masuk dulu, kau hati hati!" Lily mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


Setelah Lily berlalu keluar dari mobilnya dan berjalan masuk kedalam mansion besar itu, Louis pun menghembuskan nafas berat, sungguh Lily wanita misterius yang memiliki cerita yang sangat sulit ia paham, wanita yang membuat rasa cintanya semakin menggebu gebu.


"Aku tidak akan pernah menyerah Ly!" ucap Louis lalu ia mulai menjalankan mobilnya meninggalkan mansion besar milik Lily.


Tanpa mereka berdua sadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka berdua, orang itu hanya diam namin matanya menyimpan amarah yang membara.


__ADS_1


__ADS_2