Romansa Mafia

Romansa Mafia
Destiny


__ADS_3

Setelah menikmati makan siang bersama Leo berinisiatif untuk mengantar Casandra pulang, karena saat pergi ke cafe Mark ia diantar oleh teman satu kampus nya, Leo pun berpamitan pada Mark dan mengajak Casandra menuju mobilnya, Leo membukakan pintu mobil untuk Casandra, kemudian ia duduk di belakang setir mobil, dan mulai memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kediaman Casandra.


Saat di perjalanan Casandra yang memang tipe gadis periang dan Humble dengan mudahnya akrab kepada orang orang yang baru ia temui termasuk Leo, menurut Casandra Leo adalah pria yang baik dan sopan.


"Terimakasih ya, sudah mengajakku makan siang bersama!" Casandra menggenggam tangan Leo, membuat Leo tersentak dan melirik sekali lewat gadis yang memiliki senyum manis itu.


"Hehehe sama sama, aku pun tak menyangka Mark memiliki sahabat seperti mu, dan sekali lagi aku juga ingin minta maaf karena tadi aku sudah menabrak mu!" ucap Leo sedikit gugup.


"Hemmm, sepertinya kau harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan maaf dariku karena aku type orang yang sangat sulit untuk memaafkan orang!" Casandra berpura pura merajuk, ia sengaja membuang pandangannya dan menyembunyikan senyumnya saat ia tau jika Leo sedikit terkejut mendengar pengakuan Casandra.


"Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan maaf darimu, hum?" tanya Leo sungguh sungguh.


"Baiklah, aku ingin kau mengajakku makan malam berdua, bagaimana?" tanpa berpikir panjang Leo langsung mengangguk menerima tawaran dari Casandra, karena bagi Leo menyakiti seorang wanita adalah dosa terbesar untuknya.


Casandra pun tersenyum penuh kemenangan, ia begitu kagum dengan sifat lembut yang Leo miliki walaupun Leo memiliki wajah yang sedikit dingin tapi bagi Casandra, Leo adalah pria yang penuh kehangatan.


Akhirnya mobil Leo berhenti didepan rumah bernuansa putih dan di jaga oleh dua orang berbadan besar, Leo membukakan pintu untuk Casandra dan berdiri di samping mobilnya.


"Apakah kau tidak ingin masuk?" tawar Casandra.


"Tidak, aku harus menemui teman ku, mungkin lain kali saja!" tolak Leo halus.


"Kau sudah pulang sayang?" terdengar suara Barito milik pria yang berdiri di depan pintu rumah itu membuat Leo bertemu pandang dengan pria yang sedang memandangnya dengan tatapan tajam.


"Ah, Daddy kau mengagetkanku saja!" Casandra mengusap dadanya dan berjalan mendekati sambil menggandeng tangan Leo "Dad kenalkan ini temanku Leo!" Casandra sangat bersemangat mengenalkan Leo pada Ayahnya.


"Siang Om, kenalkan saya Leo!" Leo mengulurkan tangannya ingin berjabat tangan pada Ayah Casandra tapi tak ada sedikitpun balasan dari pria yang berstatus Ayah dari gadis Humble di depannya itu.

__ADS_1


"Casandra masuk!" suara tegas dari mulut sang Ayah membuat Casandra membulatkan matanya, ia tak percaya jika respon Ayahnya akan seperti itu.


"Tapi Dad-"


"Masuk!" Suara sang Ayah semakin dingin dan menakutkan membuat Casandra tak berani untuk mengeluarkan kata-kata lagi, ia hanya menunduk dan masuk setelah menatap wajah Leo dengan tatapan sendu.


Setelah Casandra benar benar sudah masuk kedalam rumah, Kai yang tak lain adalah Ayah Casandra semakin memberi tatapan tidak suka terhadap Leo.


"Tolong kau jauhi Casandra, aku tidak ingin orang dari kalangan bawah seperti mu berada di dekat Putri ku!" ucapan menohok dari mulut Kai membuat Leo mengepalkan tangannya, Leo mencoba mengendalikan emosinya, ia tidak ingin terpancing dengan ucapan dari mulut sombong Kai.


"Baiklah,saya akan menjauhi putri anda tapi jangan pernah salahkan saya jika putri anda lah yang nanti akan mengejar ngejar saya! Permisi!" Leo bergegas pergi dari hadapan Kai, ia tak ingin mendengar ucapan yang membuat ia tak bisa menahan emosi dan menghabisi nyawa pria tua itu, Leo memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi dan tersenyum jahat "Aku akan membuat kau menyesal sudah menghina ku, dan aku akan membuat Putri mu tergila gila pada ku, Tuan!"


***


Hari ini Lily tak memiliki banyak pekerjaan, karena Luca memutuskan untuk tidak melakukan pengiriman dalam bulan bulan ini sampai kondisi aman. Lily menghentikan mobilnya di taman kota, entah mengapa saat ini taman kota menjadi tempat favorit Lily untuk sekedar duduk melepaskan penatnya.


Lily pun duduk bersandar di bawah pohon rindang lalu ia memejamkan matanya menikmati semilir angin yang membelai lembut wajahnya.


"Kau tau, kesunyian itu kadang membawa kita terlarut dalam kelemahan serta kerapuhan,sehingga setelah kesunyian itu pergi kita semakin di paksa keadaan untuk selalu terlihat kuat!" terdengar suara pria yang memaksa mata Lily terbuka untuk melihat siapa pemilik suara itu, tapi seketika Lily merasa jengah saat melihat wajah pria tersebut.


"Aku tidak tau kesalahan apa yang sudah ku perbuat hingga aku merasa sial dan selalu bertemu dengan mu!" Lily kembali memejamkan matanya karena ia sangat malas melihat wajah Louis.


Ya, Pria itu adalah Louis, ia tak sengaja melihat Lily masuk kedalam area taman kota dan kemudian Louis mengikutinya.


"Ini bukan suatu kesialan Nona, ini adalah takdir!"


Lily masih enggan membuka matanya, namun senyum tipis terukir di wajah cantiknya "Ya ini adalah sebuah takdir yang membuat ku merasa sial!"

__ADS_1


"Hey, berhentilah mengucapkan kata sial, tak ada takdir yang membuat kesialan hanya saja kesialan itu datang saat manusia tidak pernah menerima takdir dengan hati yang terbuka!"


Lily membuka matanya dan sedikit menegakkan tubuhnya, ia melihat jika Louis sudah duduk di sampingnya dan memberikan senyum manis untuknya.


"Kau tau Nona, menghindari takdir itu bukan pilihan yang tepat, dan menghadapi takdir itu bukan suatu kesialan yang fatal, ada perjalanan dan cerita yang kau tidak bisa menebaknya saat kau menghadapi takdirmu tapi jika kau selalu menghindar dari takdir, kau akan selalu di hantui perasaan tidak nyaman yang akan membawa mu mati dalam keterpurukan!" ucap Louis panjang lebar membuat Lily tertegun meresapi setiap kalimat yang keluar dari mulut Louis.


Suasana seketika hening, tak ada pembicaraan dari mulut mereka berdua, setelah mendengar kalimat dari Louis tadi Lily semakin bungkam, ia berperang dengan pemikirannya sendiri, begitu juga Louis ia bahkan merasakan hal yang sama seperti Lily, kata kata yang ia buat itu tak lain untuk dirinya sendiri karena terkadang ia merasa takdir hidupnya adalah kesialan yang harus ia jalani.


Louis membuka satu kaleng soda dan memberikannya kepada Lily, entah mengapa dengan mudahnya Lily menerima kaleng itu, sehingga membuat Louis tersenyum senang, Louis pun kemudian mengambil dan membuka satu kaleng soda lagi dan mulai meneguk isi kaleng tersebut.


"Namaku Lily!" Lily tersenyum dan menyebutkan namanya saat Louis mengulurkan tangannya kepada Lily.


"Maafkan aku, karena selalu membuat kau merasa kesal ketika bertemu dengan ku!" ucap Louis yang membuat Lily langsung menatapnya.


"Tidak, kau tidak perlu meminta maaf karena mungkin saat kita bertemu keadaan hati ku memang sedang tidak baik!" mata Lily kembali menatap hamparan bunga bunga yang berada di depan mereka.


"Mungkin aku akan menjadi orang yang akan selalu ada saat hatimu sedang tidak baik!" tawar Louis dengan percaya diri.


"Kau memang pria yang pantang menyerah! aku akan terlihat sangat buruk saat suasana hati ku sedang tidak baik!"


"Mungkin aku terlahir tidak memiliki rasa takut, apalagi hanya menghadapi wanita seperti mu!" Louis terkekeh karena menurut Louis gadis seperti Lily ini hanyalah gadis yang akan terlihat sangat menggemaskan saat marah dan itu membuat Louis semakin gemas kepada Lily.


Lily membulatkan matanya dan menatap Louis tajam sedangkan yang di tatap semakin tertawa,dan seketika tawa Louis terhenti saat tangan kecil Lily mencabut bulu kaki milik Louis.


Louis meringis kesakitan sambil mengusap kakinya yang terasa perih


"Sekali lagi kau mentertawakan ku akan aku kuliti kakimu!" Louis menelan Salivanya dengan paksa mendengar ucapan Lily yang terdengar menakutkan.

__ADS_1


__ADS_2