
"Casandra!" terdengar suara pria yang berteriak di seberang jalan, ia melambaikan tangan kepada wanita yang berdiri bersama seorang pria di depan cafe.
Casandra memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas siapa yang sudah memanggilnya "Leo!" gumam Casandra saat sudah yakin jika pria yang di seberang jalan itu adalah Leo.
"Oh ya Louis, sepertinya aku harus menemui teman ku itu" tunjuk Casandra pada Leo yang masih berdiri menunggunya di seberang jalan "Dan terima kasih atas traktirannya!" ucap Casandra kemudian ia mulai melangkah meninggalkan Louis.
Namun langkah Casandra terhenti saat mendengar suara Louis memanggil dan berjalan mendekatinya kembali "Casandra! boleh aku minta nomor telepon mu? agar aku bisa mentraktir mu di lain waktu!" Louis menyodorkan ponselnya lalu dengan senang hati Casandra mengetik beberapa nomor lalu menyimpan nya di ponsel Louis.
"Terima kasih!" senyum Louis saat Casandra mengembalikan ponselnya.
"Hem!" Casandra berdehem dan mengangguk lalu kembali melangkahkan mendekati Leo.
"Hei, sini aku bantu sepertinya kau sangat kesulitan!" saat Casandra tiba di depannya Leo segera mengambil alih buku buku yang memenuhi tangan Casandra.
"Ah, Terima kasih! sedang apa kau di sini? apa kau tidak bekerja?" tanya Casandra bingung saat melihat Leo berkeliaran di saat jam orang orang sibuk bekerja.
"A-aku,, aku sedang cuti! ya, aku sedang cuti dan karena merasa bosan aku ingin berjalan-jalan sebentar!" Leo sedikit gugup saat mencari alasan mengapa ia berada di sini.
"Kau tidak kuliah?" tanya Leo yang mencoba mengalihkan pembicaraan Casandra agar ia tidak bertanya lebih lanjut.
"Jam kuliah ku sudah selesai,aku baru saja mengambil buku buku ini dari perpustakaan karena teman ku yang memintanya!" jelas Casandra sambil menyamakan langkah kakinya dengan Leo.
Leo mengangguk mengerti dan seketika suasana hening membuat keduanya hanya berjalan dengan pandangan lurus kedepan.
"Leo!" panggil Casandra memecahkan keheningan diantara mereka.
"Hem!"
"Aku minta maaf atas perlakuan Daddy ku kemarin, sebenarnya Daddy orang yang sangat baik tapi ia memang sedikit posesif terhadap ku!" jelas Casandra yang merasa tidak enak pada Leo saat Leo mengantarnya pulang.
__ADS_1
"Ah, itu tidak perlu kau pikirkan! aku maklum kok dan kau tak perlu meminta maaf karena aku sama sekali tidak pernah marah dengan Daddy mu!" Leo memberikan senyuman hangat untuk Casandra yang membuat gadis itu semakin merasa tidak enak.
"Oh ya, siapa laki-laki yang bersama mu tadi? apa dia pacarmu?" tanya Leo tiba tiba mengingat Pria yang berdiri bersama Casandra di depan cafe tadi.
"Bukan! dia Louis, orang yang tak sengaja aku tabrak saat aku kesulitan membawa buku-buku ini, dan dia menteraktir ku untuk sekedar duduk dan minum kopi di cafe itu!" Jawab Casandra jujur.
Leo hanya mengangguk dan sedikit mengingat kembali wajah pria tersebut, menurut Leo wajah pria itu seperti tidak asing lagi baginya.
"Casandra!" Leo menghentikan langkahnya membuat Casandra pun ikut menghentikan langkahnya, Casandra mengerutkan keningnya saat melihat Leo memasang wajah serius kepadanya.
"Apakah kau besok ada waktu?" tanya Leo.
"Sepertinya besok jam kuliah ku kosong, kenapa?"
"Maukah besok pergi jalan dengan ku?" Leo menatap Casandra dengan penuh harapan, membuat Casandra tak bisa menolak keinginan Leo.
Setelah taksi tersebut hilang, Leo tersenyum tipis hingga hampir tak terlihat, ia berjalan menuju pusat perbelanjaan yang berada di seberang jalan dengan santai.
***
Sebelum berangkat ke Swiss, Luca berencana ingin mengunjungi cafe tempat Rosé bekerja, ia berjalan masuk kedalam cafe dan langsung di sambut dengan senyuman hangat milik Rosé yang kebetulan sedang berada di dekat pintu masuk.
Setelah Luca memilih tempat duduk, Rosé menghampirinya dengan buku menu, pulpen dan kertas untuk mencatat pesanan pengunjung.
"Berikan aku Americano dan spaghetti bolognese!" Luca menutup buku menu dan memberikannya kembali pada Rosé, tapi ketika Rosé hendak meninggalkan Luca langkah nya terhenti karena tangan nya di tahan oleh Luca.
"Bolehkah sepulang kerja nanti aku mengajakmu jalan?" tanya Luca dengan tatapan memohon.
Rosé melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 2,dan karena hari ini ia mendapatkan shift pagi jadi ia akan pulang pukul 3 sore.
__ADS_1
"Baiklah, satu jam lagi pekerjaan ku selesai, dan kau hanya memiliki waktu 1 jam untuk menghabiskan makanan mu!" ucap Rosé dan segera berlalu meninggalkan Luca yang sudah tersenyum bahagia.
Waktu satu jam bukan waktu yang sebentar untuk Luca hanya sekedar menghabiskan makanannya, dalam waktu 1 jam Luca pun sudah bisa bersantai dengan ponselnya, karena Luca bukan type orang yang lambat.
"Rosé, aku lihat kau berbicara lama dengan pria kemarin!" tanya Rebecca penasaran.
"Oh, dia Luca!" jawab Rosé singkat.
"Oh my God, ternyata kau sudah mengetahui namanya!"
"Tentu bahkan aku sudah pernah jalan jalan dengan nya!"
Mendengar pernyataan Rosé membuat Rebecca ingin pingsan, karena ia tau bagaimana seorang Rosé yang dingin kepada setiap pria bisa terlihat ramah dan memberikan senyum hangatnya dengan cuma cuma.
Oh tidak jangan jangan tanpa sadar Rosé sudah jatuh cinta dengan Luca! atau Luca memakai ilmu guna guna untuk mendapatkan Rosé yang tidak di pungkiri memiliki wajah yang memikat.
Kepala Rebecca seperti penuh dengan semua prasangka itu, bahkan ia semakin ingin membuat kebakaran hebat di tengah kutub Utara saat Rosé berkata jika pulang kerja nanti ia akan pergi bersama Luca.
"Rosé, apa kau baik-baik saja?" tiba-tiba Rebecca menempelkan punggung tangannya di kening Rosé, membuat gadis Blonde itu mengerenyitkan alisnya kebingungan dengan tingkat Absurd sahabatnya itu.
"Kau tidak sakit kan? atau pria itu sudah berbuat macam-macam sampai kau seperti ini?" merasa tak mendapatkan jawaban dari pertanyaan Rebecca kembali melempar Rosé dengan pertanyaan konyol nya.
"Tidak, dia pria baik, dia pria yang berbeda, pelukannya mengingatkan ku dengan Ayahku!" ucap Rosé santai.
"What the F*CK Rosé! kau bahkan sudah merasakan pelukannya?" Rebecca semakin heboh mendengar ucapan Rosé yang terdengar santai.
"Berhentilah berlebihan Rebecca!" Rosé meninggalkan sahabatnya yang semakin mematung bahkan seperti nyawa sudah pergi bersama dengan malaikat maut.
Setelah roh Rebecca kembali ke dalam jasadnya dan mengetahui jika Rosé sudah meninggalkannya sendiri, Rebecca berlari mengejar Rosé untuk memaksa Rosé bercerita bagaimana dia bisa berada dalam pelukan pria tampan itu, namun Rosé yang sudah tau dengan kelakuan sahabatnya itu hanya diam saja, ia sangat malas meladeni pertanyaan pertanyaan konyol dari sahabatnya itu, jika tau respon sahabatnya seperti ini Rosé sangat menyesal memberi tau pada Rebecca jika hangatnya pelukan Luca sama persis dengan pelukan Ayah dan kakaknya.
__ADS_1