Romansa Mafia

Romansa Mafia
Kecolongan


__ADS_3

Matahari pagi sudah mulai menampakkan dirinya, angin berhembus lembut meniup tirai putih menari lembut kesana kemari, sinar matahari pun masuk tanpa permisi menerpa wajah imut wanita bermata kucing yang sedang terlelap dalam tidurnya, merasa sedikit terusik dengan sinar matahari yang menerpa wajahnya Lily membuka matanya perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya.


Setelah merasa nyawanya sudah terkumpul, Lily mengambil ponselnya yang terletak diatas nakas sebelah kasurnya, ia mengecek pesan yang sudah memenuhi kontak pesan, matanya membulat sempurna saat ia membaca pesan dari Roger jika ada seorang mata mata yang tertangkap dan Roger meminta Lily untuk menemui orang itu.


Lily segera berdiri, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri nya terlebih dahulu sebelum menemui orang yang di maksud oleh Roger sebagai mata-mata, setelah selesai membersihkan diri ia mengambil pakaiannya, ia memakai setelan jeans hitam dan baju hitam membuat pesona Lily semakin menawan, tak lupa ia memakai mantel hitam tebal karena cuaca pagi ini sangat dingin.


Lily berjalan menuruni tangga pandangannya  menangkap sosok Leo dan Luca yang sedang menikmati sarapan pagi, Luca dan Leo melempar senyum kepada Lily dan dibalas Lily dengan gummy smile miliknya, ia mencoba untuk berdamai dengan keadaan dan berusaha memaafkan Leo tapi Lily belum mau untuk terlalu dekat dengannya karena ia tidak mau Leo melakukan hal yang sangat membuat ia murka.


Lily bergabung dengan Leo dan Luca untuk sarapan, karena Luca yang meminta, bukan Luca memaksa Lily untuk berbaikan dengan Leo tapi Luca tak ingin Lily melewatkan sarapan paginya atau bisa disebut Luca tak ingin Lily sakit.


Lily memakan sarapannya dengan tenang tak ada pembicaraan dari mulut mereka bertiga, setelah meminum air putih dan meletakkan gelasnya Lily menatap Luca "Aku akan pergi ke gudang kokain, Roger mengirim ku pesan jika ia menangkap mata mata yang menyelinap masuk ke gudang kokain kita!" Ucapan Lily berhasil menghentikan kegiatan makan Luca.


Leo pun langsung menatap Lily "Sepertinya mereka mulai mengusik kita!" Ucap Leo yang melihat kearah Luca yang masih belum membuka suara.


Luca meminum air putih dan menyapu mulutnya dengan serbet, lalu menyandarkan tubuhnya "Aku serahkan urusan tikus itu kepada mu ly, dan kau Leo segera perketat penjagaan setiap gudang dan kumpulan semua data orang orang yang bertugas menjaga gudang, jangan sampai kita kecolongan lagi!" Perintah Luca pada Lily dan Leo, mereka berdua pun mengangguk, Lily segera berdiri meninggalkan Leo dan Luca menuju gudang kokain tempat tikus itu di tangkap.


Lily berjalan menuju mobilnya, hari ini karena Roger sedang berada di gudang kokain jadi Lily memutuskan untuk menyetir sendiri, lagian menurutnya jarak antara rumahnya dengan gudang kokain tidak terlalu jauh dan ia juga nanti ia bisa pulang bersama Roger.


Mobil hitam kesayangan Lily berhenti di sebuah bangunan yang tak begitu besar mungkin lebih terlihat seperti rumah pada umumnya, Lily keluar dari mobilnya dan berjalan mendekati Pria yang bertubuh besar itu, pria itu memberi hormat dan berjalan mengikuti langkah kaki Lily memasuki ruang bawah tanah yang terletak di dalam rumah itu, ruangan itu terlihat lebih besar dan bersih tidak seperti ruang bawah tanah tempat penyimpanan senjata.

__ADS_1


Di dalam ruangan ini terdapat banyak brangkas dan Satu set sofa tempat mereka duduk, Lily berjalan membuka pintu besi ruang itu dan terlihat seorang Pria berdiri dengan kaki tangan yang sudah terikat rantai, mulut dan matanya tertutup kain tapi terlihat jelas jika wajannya sudah berlumuran darah akibat pukulan yang ia terima dari Roger.


Lily membuka kain yang menyumbat mulut pria itu,ia mendekati wajah pria itu "Siapa yang sudah memerintah mu untuk jadi tikus di gudang ku?" tanya Lily dengan nada datar.


Alih-alih menjawab pertanyaan Lily Pria itu justru tertawa dan melontarkan kata-kata yang tak pernah Lily suka "Dari suaramu kau pasti terlihat sangat cantik dan sexi!"


Lily menahan emosinya dan mengukir Smirk yang tidak bisa ditebak, ia mengambil besi panjang yang sudah terlihat sangat merah karena tertimbun bara api, kemudian tanpa basa-basi besi itu ia tempelkan tepat di dada Pria tersebut dan menekannya dengan sangat kuat,


Aaaaa


Aaaaaa


Aaaaaaaaa


Pria itu masih meringis kesakitan akibat perbuatan Lily, Lily pun tersenyum melihat Pria malang itu "Apakah kau masih bisa tertawa?" Tanya Lily sambil menuangkan air keras kedalam gelas dan perlahan menumpahkan air keras itu tepat di luka bakar yang masih menganga lebar.


Aaaaaaaaa


Aaaaaaaaa

__ADS_1


Aaaaaaaaa


Kembali pria itu berteriak bahkan semakin kencang, tubuhnya meronta ronta namun rantai itu terlalu kuat untuk ia lepaskan, lukanya semakin menganga dan daging nya mulai melepuh "Apakah kau masih tidak ingin mengatakannya?" Ucap Lily.


Pria itu masih kesakitan tanpa berniat menjawab pertanyaan Lily, akhirnya Lily membuka kain yang menutup mata Pria itu "Mungkin dengan melihat wajah ku, kau mau mengatakan siapa yang sudah menyuruh mu menjadi tikus bodoh?" Pria itu menatap wajah Lily ia seperti tak percaya jika gadis cantik yang memiliki tubuh mungil bermata kucing ini adalah seorang Mafia yang kejam, memang semua orang mengetahui tentang sepak terjang Triple L tapi tidak semua orang tau wajah wajah Triple L.


"Sudah cukup kagum?" Tanya Lily, karena Lily tau semua orang yang pertama kali mengetahui indentitasnya akan menunjukkan ekspresi seperti itu, Lily kembali lagi berjalan mendekati besi panjang itu lalu ia mengambil 2 besi panjang yang sudah kembali berwarna merah itu bersamaan, Lily menatap Roger dan seakan tau apa yang diinginkan Lily, Roger berdiri di belakang Pria itu dan memegang kepala Pria itu agar tidak bergerak.


Kemudian Lily mendekatkan besi panas itu ke arah dua mata Pria itu, Pria itu tampak mengerti apa yang akan Lily lakukan ia berteriak untuk memohon agar Lily Melepaskannya tapi itu terasa percuma karena Lily sudah tidak memberikan lagi kesempatan ,ah mungkin memang kesempatan itu tidak pernah ada saat pertama kali Pria itu tertangkap tangan oleh Roger.


Lily menekan besi panas itu pada dua mata Pria itu, suara teriakan semakin kencang bahkan Pria itu tidak dapat mengelak karena Roger dengan kuat menahan kepala pria itu, orang orang yang berada didalam sana membuang pandangan mereka ke sembarang tempat karena tidak ingin menyaksikan siksaan yang Lily lakukan pada pria itu tak terkecuali Roger karena sebenarnya Roger merasa ngilu mendengar teriakan Pria itu yang mungkin matanya sekarang sudah melepuh tak berbentuk lagi.


"Aku tak suka dengan tatapan mu itu dan aku juga tak ingin kau menyimpan wajahku di memori matamu!" Lily mencabut besi panjang itu dan terlihat ada sesuatu yang menempel di ujung besi itu yang mungkin itu tampak seperti bola mata yang lepas dari cangkangnya.


"Lebih baik kau bunuh saja aku!" Teriak pria itu di sela sela kesakitan nya.


"Hahahahah, aku tidak akan membiarkan kau mati semudah itu, biarkan aku bersenang senang terlebih dahulu, agar tikus tikus di luar sana akan berfikir 1000 kali untuk masuk kedalam wilayah ku!" Lily kemudian tertawa, tapi tawanya itu terdengar sangat menakutkan untuk siapapun yang mendengarnya.


Itulah contoh kecil dari kekejaman Lily kepada siapapun yang mengusik nya, orang itu akan menjadi bahan mainannya yang menyeramkan sampai mereka mati dengan sendirinya karena tidak tahan dengan penyiksaan yang Lily lakukan

__ADS_1



__ADS_2