Romansa Mafia

Romansa Mafia
Beach


__ADS_3

LUCA POV.


Aku duduk dengan tenang menikmati hidangan yang baru saja dihidangkan oleh wanita yang sudah mencuri hatiku ini, entah mengapa makanan ini terasa sangat enak, bahkan saat aku makan makanan yang sama di restoran ternama pun rasanya tak seenak ini! entahlah mungkin karena wanita Blonde itu yang sudah memberikan bumbu rahasia yang membuat ku ingin setiap hari datang ke cafe ini.


Ku lirik jam tangan yang melingkar di lenganku, sepertinya waktu sangat lambat bergerak hingga kurasakan menunggu satu jam itu seperti menunggu satu tahun saja, tapi itu tak lantas membuat ku merasa bosan karena setelah aku menghabiskan suapan terakhir spaghetti bolognese yang ku pesan mataku tak pernah lepas dari wanita yang spesial itu, ia sangat memiliki semangat kerja yang tinggi terlihat dari ia memberikan senyum tanpa sedikitpun memperlihatkan guratan letih di wajahnya.


Saat cinta sudah mengusik hati, mungkin hal yang tidak pernah terduga akan dirasakan, bahkan membuat semua orang merasakan jika ia akan menjalani hidup yang sangat lama bersama sang pujaan hati, tapi itu cuma gelintir kata indah yang di janjikan cinta,yang nyatanya banyak orang terluka dan menderita karena cinta, lalu adakah pilihan untuk orang yang sedang jatuh cinta? jawabnya tidak! pilihan itu harus nya ada saat cinta belum mengusik kehidupan, namun saat seseorang membiarkan ruang hatinya di huni oleh cinta maka pilihan tidak akan pernah ada dan kata indah itu akan menjadi selingan dari luka yang akan dihadapi setiap harinya.


Akhirnya ku lihat lagi jam tangan ku yang menunjukkan jika jam kerja Rosé sudah selesai lalu aku berinisiatif membayar tagihan makananku dan keluar dari cafe itu karena aku pun tak melihat Rosé lagi di ruangan itu, tak lama kemudian Rosé dengan senyum manisnya datang menghampiri ku, jujur entah mengapa hatiku sangat tenang dan nyaman hanya dengan melihat senyum darinya.


"Maaf sudah membuat mu menunggu!"


"Hei berhentilah untuk selalu meminta maaf,kau tak melakukan kesalahan dan kau juga tidak membuatku menunggu! aku memang sengaja datang lebih awal agar aku bisa menikmati makanan disini!"


Rosé pun tak membalas ucapan ku, dia hanya tersenyum dan lagi lagi senyumannya itu membuat hatiku kembali menghangat.


Hari ini aku sengaja membawa mobil kesayangan ku, karena aku ingin mengajaknya ke tempat yang sedikit jauh dari keramaian kota dan tak mungkin aku membawanya dengan menaiki sepeda! bisa bisa dengkul kakiku langsung lepas atau aku langsung terkena osteoporosis! hahahaha ayolah aku bukan orang yang lemah tapi perjalanan ini menang sedikit jauh dan aku orang yang sangat jarang berolahraga.


Rosé sedikit menaikkan alisnya saat melihat ku membukakan pintu mobil untuknya.


"Aku ingin membawa mu kesuatu tempat!" aku mencoba memberi jawaban dari pertanyaan yang ia sirat kan lewat tatapnya.


"Apakah tempat itu menyenangkan?"


"Aku yakin 100 persen kau sangat menyukainya?"


"Benarkah? bagaimana jika aku tak menyukainya?"


"Jika kau tak menyukainya maka akan aku buat kau menyukainya! hahahaha!" tawa ku lepas karena perdebatan yang menurutku tidak penting ini, karena aku sangat yakin jika ia akan menyukai tempat yang ingin kami datangi.


Akhirnya Rosé pun masuk kedalam mobil ku dan duduk manis di samping kursi kemudi yang akan aku duduki nanti. Setelah aku pun duduk di kursi kemudi aku mulai menjalankan mobil kesayangan ku ini dengan kecepatan sedang karena aku ingin menikmati waktu bersama Rosé.


Suasana didalam mobil terasa hening, aku tak tau apa Rosé seorang wanita yang sangat irit berbicara atau aku yang terlalu kaku di depannya hingga suasana ini terasa begitu tak menyenangkan! namun tiba-tiba suara Rosé yang terdengar sangat indah di telingaku memecahkan keheningan diantara kami.

__ADS_1


"Rasanya tidak adil jika kau saja yang mengetahui tentang ku tapi aku tidak mengetahui tentangmu!"


ucapan Rosé barusan membuat ku sedikit tersindir dan gugup, karena memang adanya, aku belum menceritakan sedikit pun tentang ku, sedangkan dia sudah sedikit banyak memberi tau ku tentang dirinya, tapi aku tidak mungkin mengatakan jika aku seorang Mafia dan sudah pasti bisa di tebak Rosé akan menghindari ku bahkan ia pasti sangat membenciku! itu tidak akan pernah ku biarkan.


Aku mencoba menetralkan diriku yang terasa sangat gugup dan sedikit melirik ke arahnya yang ternyata ia masih betah memandang jalanan yang kami lewati ini.


"Aku seorang pebisnis, kedua orang tua ku sudah lama meninggal karena kecelakaan, akhirnya aku dan adikku di besarkan di panti asuhan sampai ketika ada orang baik yang mengadopsi kami dan membawa aku dan adikku ke sini!" aku menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan, rasa sesak itu selalu menghampiri saat aku mengingat begitu kejamnya dunia terhadap aku dan Lily karena selalu kehilangan orang orang yang kami sayangi.


"Dan beberapa tahun yang lalu Daddy ku juga meninggal dunia, lalu sekarang aku dan adikku hanya tinggal berdua saja!" aku kembali melirik ke arah Rosé yang ternyata ia sedari tadi sudah menghadap ke arah ku, tatapan mata nya sendu dan terpancar penyesalan setelah mendengarkan cerita hidupku yang tak jauh berbeda dengan kisah hidupnya.


"Maafkan aku su-"


"Tidak perlu meminta maaf, aku tidak apa-apa! mungkin Tuhan punya rencana lain untuk kita, makanya Tuhan mempertemukan kita!" ucapku tulus mencoba menghilangkan rasa bersalahnya.


"Aku lihat teman kerja mu selalu mencuri curi pandang kepadaku, apakah kau menceritakan sesuatu tentang ku kepada teman mu itu?"


Kulihat Rosé memutar bola matanya jengah, saat aku menyebut salah satu temannya itu, aku tak tau apakah dia marah kepadaku atau kepada temannya itu.


"Dia memang begitu, dia sangat terkejut mendengar aku akan pergi dengan mu hari ini hahahah!"


"Sabar Luca, kau harus menikmati proses nya, kau tak perlu gegabah, sekarang tugas mu mencoba merebut hatinya dan meyakinkannya jika kau pemilik hatinya" ucap ku dalam hati.


Akhirnya mobil ku berhenti di hamparan samudera biru yang luas dan terlihat langit diukir warna jingga yang menandakan jika matahari mulai turun meninggalkan singgasananya.


Mata Rosé melebar saat ia melihat pemandangan itu, ia tak bisa menutupi rasa takjub nya saat kami mulai keluar dari mobil, tanpa menghiraukan aku lagi Rosé langsung berlari menghampiri deru ombak yang menyentuh bibir pantai, aku tak tau jika keputusan ku membawa Rosé ke pantai adalah keputusan yang tepat dan lihat, Rosé sangat menyukainya, ternyata wanita pujaan hatiku itu terlalu sederhana hingga hal kecil seperti mengajaknya ke taman bermain dan pantai pun bisa membuat ia begitu sangat bahagia.


Aku mulai berjalan mendekatinya sambil menenteng sekantong cemilan yang ku beli sebelum aku mengunjungi cafe di mana Rosé bekerja, senyum ku terukir saat melihat senyum lebarnya yang sejak tadi tak hilang di wajah cantiknya.


"Ayo!"


Tampa di duga Rosé menarik tangan ku dan mengajak ku bermain dengan ombak, hal yang tak pernah ku lakukan seumur hidup ku dan sekarang wanita ini membawaku ke sisi lain ku namun entah mengapa aku tak menolak dan bahkan aku sangat menyukainya. Kami tertawa bersama, berlari kejar kejaran seperti anak kecil yang merebutkan mainan, sungguh ini hal yang terindah yang tak pernah ku rasakan bahkan ingin sekali aku menghentikan waktu agar kebahagiaan ini tak pernah berakhir dari hidupku.


Aku mengajaknya duduk dan memberikan sekaleng cola yang sudah ku buka.

__ADS_1


"Thanks!" Rosé tersenyum dan langsung meneguk cola itu.


"Aku tak menyangka kau akan mengajakku ke pantai, ini pertama kalinya aku ke pantai setelah kematian Ibuku!" Rosé sedikit menunduk, aku tau dia pasti sangat merindukan orang tuanya sama seperti ku.


"Ini pertama kali untuk ku!" aku meneguk cola yang sedari tadi sudah ku buka.


"Really?"


"Yeah, seumur hidup ku aku tak pernah pergi ke pantai, dan entah mengapa saat ingin mengunjungi mu di cafe aku ingin mengajakmu ke pantai!" ku lepaskan pandangan ku ke laut lepas.


"Baiklah, mungkin setelah ini aku akan sering meminta mu untuk mengajakku ke pantai!" Rosé mengikuti arah pandangan ku yang masih betah menatap lukisan Tuhan yang sangat indah itu.


"Rosé!"


"Hem!"


"Besok aku akan ke Swiss, untuk kunjungan bisnis!"


"Oh ya, pasti itu sangat menyenangkan!"


"Ya itu sangat menyenangkan jika berkunjung ke Swiss untuk menghabiskan waktu liburan tapi akan membosankan jika untuk kunjungan bisnis!" aku menarik nafasku.


"Hey, kenapa kau sepertinya tak bersemangat! kunjungan itu tidak akan memakan waktu bertahun-tahun bukan?"


Rosé justru terkekeh melihat ekspresi sedihku, membuatku mempoutkan bibirku dan wow aku tak percaya aku bertingkah seperti anak kecil yang merajuk. Ya Tuhan, apakah hidupku terlalu kaku sampai aku bertingkah seperti ini pun seperti sebuah keajaiban.


Setelah puas ia mentertawakan ku ia meraih tanganku dan membawanya kedalam genggaman tangan mungilnya "Kau harus berjanji untuk menyelesaikan pekerjaan mu dengan cepat, agar kau bisa segera kembali dan mengajakku lagi ke pantai ini! hum!'


Aku masih tak bisa mengatur detak jantungku yang berdetak kencang saat ia menggenggam tangan ku ini, bahkan mulutku sedikit terbuka karena tersentak dengan perilaku nya ini "Baiklah, aku akan menyelesaikan pekerjaan ku secepatnya dan aku akan membawa mu kembali ke pantai ini!" aku memberi senyum dan sedikit menarik tangan ku agar terlepas dari genggamannya.Bukan , bukan aku tak menyukainya tapi paru paru ku bisa berhenti memasok oksigen ke dalam tubuh ku ini dengan prilakunya itu, sebegitu gugupnya aku?


Aku memang payah karena ini pertama kalinya aku menyukai seorang gadis, selama ini hidupku hanya di penuhi dengan hal hal yang memaksaku dewasa sebelum waktunya dan aku sangat jarang berinteraksi dengan orang lain selain orang orang Daddy. Itu Daddy lakukan semata-mata untuk melindungi indentitas kami karena Daddy tak ingin anak anaknya terluka oleh para musuhnya.


Kami pun kembali menikmati senja dalam keheningan, menyaksikan sang mentari menghilang di balik hamparan samudera yang masih menderu.

__ADS_1



__ADS_2