
Setelah menikmati secangkir Americano dan beberapa potong pizza Lily melangkahkan kakinya keluar meninggalkan cafe, ia memandang sejenak bulan yang masih setia menghiasi malam ini.
Lily kembali berjalan dan tujuannya kali ini adalah taman yang berada di tengah kota, taman yang ditumbuhi bunga bunga nan cantik,pepohonan rindang serta terdapat danau kecil menjadi teman orang orang mencari kenyamanan dari hiruk-pikuk kepadatan kota yang selalu sibuk yang seakan tidak pernah ada matinya, dan ketika sore taman itu akan ramai dengan anak anak kecil yang bermain di sekitarnya dan orang orang yang menghabiskan waktunya untuk sekedar berolahraga saja,karena di samping teman tersebut di sediakan taman bermain untuk anak dan fasilitas olahraga outdoor yang lainnya.
Lily mendudukkan dirinya diatas bangku tepat menghadap kearah danau, tampak lampu lampu berwarna-warni yang terang menghiasi danau itu di malam hari, ia melempar pandangan kearah danau berharap ketenangan datang menghampiri hatinya di malam ini.
Tukkk!
"Awwwww!" Lily meringis sambil mengusap kepalanya dan mencari siapa yang sudah berani melempar kerikil kekepala nya itu, seketika ia melihat pria tinggi yang terlihat tidak asing baginya berjalan mendekati lalu duduk dengan santai di samping Lily dan memasang wajah tanpa dosa.
"Kau!" Teriak Lily setelah mengingat kembali wajah yang sangat menyebalkan yang sempat beberapa jam tadi bertemu dengannya.
"Wow, Nona galak! Sepertinya kita jodoh!" Ucap pria itu dengan wajah yang dibuat buat seperti terkejut.
"Sepertinya kau ini seorang penguntit? sungguh malam ini aku sudah mendapatkan kesialan!" Lily berdiri hendak meninggalkan pria yang paling menyebalkan yang pernah ia temui seumur hidupnya.
"Tunggu dulu, pertama aku hanya ingin minta maaf karena sudah melempar kerikil ini ke kepalamu, aku sungguh tidak sengaja melakukan itu, yang kedua, aku bukan seorang penguntit karena aku hanya ingin menikmati malam di sini dan kita tidak sengaja bertemu lagi!" Pria itu menahan tangan Lily berharap Lily tidak meninggalkannya.
"Anda terlalu banyak alasan, aku berharap tidak pernah bertemu dengan mu lagi selamnya!" Lily menghempaskan tangannya dan seketika tangannya terlepas dari genggaman pria tersebut.
__ADS_1
Lily berjalan meninggalkan taman itu, suasana hatinya yang kembali kacau karena harusnya saat ini ia bisa mendapatkan ketenangan di taman ini tapi ia malah bertemu lagi dengan pria itu, Lily mendengus kesal dan memutuskan untuk pulang ke rumah yang pasti pesta disana belum usai.
"Hey Nona, my name is Louis!" Langkah kaki Lily terhenti ketika mendengar pria itu berteriak menyebutkan namanya.
"I don't care!" Lily menjawab dengan sedikit berteriak tanpa menoleh kebelakang dan melangkahkan lagi kakinya menapaki jalan sedikit berbatu.
Sungguh hari ini Lily merasa sangat sial harus bertemu dengan orang yang menyebalkan, tapi jujur ia sedikit memuji wajah pria tersebut sangat tampan.
Langkah kakinya terhenti di rumah besar, rumah yang ia tempati semenjak ia dan Luca menginjakkan kakinya di negara ini, Lily membuka pintu utama ia melihat beberapa anak buahnya sudah berserakan di lantai karena mabuk berat, suara musik yang keras masih terdengar dari lantai paling atas, ya Luca memang selalu membuat pesta perayaan setiap satu tahun sekali dan kali ini Luca hanya mengadakan di rumahnya saja, karena di luar sana para aparat sedang menyelidiki kasus penyelundupan senjata api, maka dari itu Luca tidak ingin pihak kepolisian mencium gerak gerik mereka.
Lily membuka pintu kamarnya, ruangan yang miliki nuansa clasik terdapat kasur king koil dan lemari pakaian yang besar berwarna abu abu menjadi pilihannya, Lily berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu ia mengambil pakaian tidurnya, tiba-tiba ia teringat wajah Pria menyebalkan yang ia temui tadi "Aish, kenapa aku malah mengingatnya?" Lily mengutuk dirinya sendiri karena selalu mengingat bibir pria yang paling menyebalkan itu.
Lily membalas pesan Luca dan meletakkan kembali ponselnya diatas nakas sebelah tempat tidurnya, jujur Lily terkadang bosan dengan kegiatan yang sudah ia geluti semenjak ia berumur 14 tahun, tapi ia tidak ada pilihan karena ini amanah dari mendiang Ayah yang sudah membesarkan ia dan Luca.
Malam pun semakin larut dan terasa dingin membuat kelopak mata indah itu perlahan lahan terpejam dan bermain di alam mimpi.
***
"Ah, gadis itu sungguh semakin membuat ku semakin penasaran, ia akan terlihat semakin cantik dan menggemaskan saat ia sedang marah seperti tadi!" Louis tersenyum manis saat mengingat gadis mungil bermata kucing yang sangat jutek itu, sungguh Louis tak menyangka jika ia akan terpikat dengan gadis itu saat pertama kali bertemu.
__ADS_1
"Kerjakan tugas mu dengan benar!" tiba-tiba lamunannya buyar karena suara notifikasi ponselnya berbunyi menandakan ada pesan yang baru saja masuk di ponselnya.
Louis mendengus kesal, ia hanya membaca pesan itu dan mengabaikannya, kemudian Louis bergegas pulang ke apartemennya, ia tak ingin menghabiskan malamnya sendirian di taman kota itu.
***
"Kenapa kau terlihat sangat tidak tenang?" tanya Luca saat melihat Leo yang tampak gelisah.
"Aku hanya mengkhawatirkan Lily, pesan ku hanya di bacanya saja!" Leo menunduk menatap layar ponselnya yang terpampang foto mereka bertiga dengan senyum merekah.
"Kau tak perlu khawatir, Lily bukan gadis manja yang lemah! kau bahkan sangat tau tentang nya!" Luca menepuk pundak Leo mencoba menenangkan Leo yang terlihat sangat frustasi karena tak biasa jika Lily berada di luar ia akan mengabaikan pesan dari Leo maupun Luca.
Tapi sebagai kakak kandung Lily, Luca sangat tau watak adik kesayangannya itu Lily akan menjadi dingin saat mereka berdua membuat kesalahan kepadanya dan Luca juga sangat yakin jika ia terkena imbasnya dari pertengkaran Lily dan Leo.
"Ayo kita minum lagi! jangan pernah mengabaikan pesta yang sudah aku buat, karena aku tidak menyukainya!" Luca menarik Leo untuk bergabung dengan wanita wanita penghibur yang sudah ia pesan, dan dengan berat hati Leo mengikuti Luca yang sudah seperti kakaknya itu.
Leo menari nari dan menikmati minuman hingga akhirnya ia dan Luca mabuk berat, dengan keadaan mabuk Leo bejalan memasuki kamarnya dengan langkah gontai bersama dua orang wanita penghibur yang menggunakan pakaian sangat sexi, Begitu juga keadaan Luca yang sudah di temani tiga orang wanita yang sedari tadi menggerayangi tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Louis
__ADS_1