Romansa Mafia

Romansa Mafia
Dinner with Mr Daniel


__ADS_3

Hari ini Louis duduk termenung di bangku taman kota, memandang anak anak kecil yang bermain di tempat permainan, mereka berlari, bermain ayunan dan ada juga yang mendengarkan seorang wanita paruh baya membacakan buku dongeng untuk mereka, mereka tampak sangat bahagia, hingga pemandangan itu mampu mengukir senyuman di bibir Louis. Ini hari ke tiga Louis mengunjungi taman kota itu, ia selalu datang ketempat itu dengan pakaian rapi dan sebuket bunga Lili di jam yang sama dengan jam ia dan Lily janjian.


Walaupun sangat kecewa Louis masih menaruh keyakinan jika Lily akan menemuinya, dan menjelaskan alasannya mengapa kemarin Lily tidak menemui nya, bisa dikatakan jika sekarang Louis Terlalu bucin kepada Lily.


Namun lagi lagi penantiannya sia sia saja, sampai sampai buket bunga pun berakhir di dalam tong sampah.


Langkah Louis gontai menyelusuri jalan setapak yang membawanya menuju cafe tempat Rosé bekerja.


Sesampainya di cafe, Louis memilih kursi yang berada di sudut ruangan. Rosé yang melihat wajah Louis yang sedari kemarin tak bersemangat merasa sangat kasian, Rosé menghampiri Louis dengan secangkir capuccino mencoba untuk menghibur sang kakak.


"Masih belum bertemu dengannya?" tanya Rosé saat meletakkan cangkir kopi kesukaan kakaknya itu didepannya.


Louis menatap wajah adiknya lalu memberikan senyum kecut hanya mampu menggelengkan kepalanya saja menjawab pertanyaan adiknya.


"Apa kau tidak memiliki nomor ponselnya?"


Louis menarik napas berat, mengangkat cangkir berisi capuccino itu dan menyeruputnya dengan perlahan, berharap rasa kopi kesukaannya membuat ia sedikit merasa baikan.


"Ia tidak mau memberikan nomor ponselnya! dia sangat tertutup bahkan ia sangat irit berbicara!"


"Tapi kau mencintai nya?"


"Tentu,aku sangat mencintai nya!"


"Aku yakin suatu saat kau pasti bisa mendapatkannya!" Rosé merebut kopi milik Louis, membuat bola mata Louis melotot, karena sifat sang adik.


Mereka berdua selalu seperti itu, seperti anjing dan kucing tapi di balik kejahilan mereka ada kasih sayang yang sangat besar untuk satu sama lain.


Louis selalu memanjakan adiknya, Semenjak kedua orang tuanya meninggal Louis berusaha untuk membuat senyum di wajah cantik Rosé tak pernah luntur, walaupun sebenarnya Louis memiliki sifat asli yang pendiam tapi itu tidak akan pernah berlaku untuk adiknya dan Lily.


Tapi tunggu dulu, untuk Lily?


Ya, untuk Lily, gadis mungil bermata kucing ini sudah memikat hatinya dari awal mereka bertemu, walaupun sifat Lily yang terkesan dingin dan cuek tak membuat hati Louis gentar untuk mendapatkannya.


Bagi Louis Lily itu wanita sempurna, wanita yang mampu membuat ia terjatuh dalam pesona misteriusnya.


Tapi ngomong-ngomong soal Lily sampai sekarang Louis tidak tau keberadaan Lily sekarang.

__ADS_1


"Bagaimana hubungan mu dengan Luca?" tanya Louis.


"Luca masih berada di Swiss, mungkin beberapa hari nanti ia akan kembali ke sini dan selama ini Luca selalu bersikap baik padaku!"


"Aku harap ia tidak pernah menyakitimu, kalau itu sampai terjadi aku pastikan ia tidak akan pernah lagi melihat matahari terbit!"


"Hey, apa kau akan membunuhnya?"


"Bisa jadi, aku tidak akan pernah bisa melihat ada orang yang menyakiti hati adikku ini!"


"Kau berlebihan Louis!"


"Aku tidak berlebihan Rosé, jadi katakan pada Luca jangan pernah ia memiliki niat untuk bermain main dengan mu, atau aku hancurkan kepalanya itu!"


Rosé memutar bola matanya jengah, ia mulai malas melihat sifat posesif sang kakak yang terkadang terlihat berlebihan, namun ia yakin jika sang kakak hanya ingin melindunginya saja.


"Aku tinggal dulu, pekerjaan ku masih banyak! kau ingin makan sesuatu?"


"Tidak, tambahkan saja secangkir lagi capuccinonya, karena aku akan menunggu mu di sini sampai jam kerja mu selesai!"


Rosé mengangguk dan berjalan meninggalkan Louis yang masih duduk bersandar sambil menatap jalanan, sebenarnya didalam hati Rosé ia merasa kasihan kepada kakaknya itu yang selalu tidak pernah beruntung dalam percintaan, namun ia yakin suatu saat akan ada seorang wanita yang benar-benar tulus mencintainya.


"Hai Dad!" sapa Casandra saat melihat Daddy nya sedang duduk santai menikmati secangkir kopi di sore hari.


"Kamu sudah pulang, bagaimana kuliahnya!"


Casandra berjalan mendekati Ayahnya dan memberikan kecupan singkat di kedua pipi Ayahnya.


"Semua berjalan dengan lancar, Daddy tumben jam segini sudah pulang dari kantor?"


Kai menyeruput kopinya lalu melemparkan senyum kepada anak semata wayangnya itu.


"Malam ini Daddy ingin mengajak kau dan Mommy menghadiri perjamuan makan malam dengan sahabat Daddy, jadi lebih baik sekarang kau mandi dan bersiap-siap!" titah Kai.


Sebenarnya Casandra sangat malas mengikuti acara orang tuanya itu. ia mencoba untuk menolak ajakan.


"Hemmm Dad, bagaimana kalau Sandra tidak ikut?" Casandra yang duduk di samping Kai mencoba memeluk tubuh Ayahnya itu yang masih terlihat bugar.

__ADS_1


"Daddy tidak terima penolakan sayang! sekarang pergilah ke kamar dan berdandan lah dengan cantik!" Kai mengelus sayang pucuk rambut putrinya lalu mencubit pelan hidung Bangir Casandra membuat wanita itu mempoutkan bibirnya karena kesal, ia gagal bernegosiasi dengan Ayahnya.


Casandra pun berjalan meninggalkan Kai yang tertawa melihat kelakuan manja putrinya itu.


Setelah semuanya selesai bersiap Casandra pun berangkat bersama kedua orang tuanya menuju rumah sahabat Daddy nya itu, namun ia tak mampu lagi menghindari kemauan Daddy nya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit akhirnya mereka sampai di mansion mewah yang bernuansa klasik.


"Hemmm, seleranya lumayan juga!" gumam Casandra dalam hati saat pertama kali ia memasuki mansion itu.


Pemandangan yang pertama kali di suguhkan saat masuk kedalam ruangan pertama adalah lukisan lukisan yang memiliki nilai seni yang tinggi, lukisan semacam ini biasanya hanya di hasilkan 1 atau 2 saja oleh pelukis ternama alias limited edition, dan yang pasti memiliki harga yang sangat fantastis, ruangan ini tampak sekali lewat seperti mini galery dari sang pemilik.


Sedangkan saat mereka melewati ruang kedua mereka melihat koleksi guci guci dan beberapa barang antik yang terpajang rapi di setiap sudut ruangan itu.


Sampai akhirnya mereka tiba di ruangan utama atau ruangan tempat sang pemilik mansion menyambut mereka bertiga dengan senyum manisnya.


Ruang ini justru hanya di hiasi beberapa kaca dan satu set sofa mahal yang di letakkan di tengah tengah ruangan yang besar.


"Selamat datang Kai, Davinka dan si cantik Casandra!"


Sang tuan rumah pun memberikan salam dan peluk kepada Kai dan jabatan tangan lembut kepada Davinka dan Casandra.


"Terima kasih Mr Daniel sudah mengundang kami untuk makan malam!"


Davinka pun merasa sedikit sungkan dengan pria yang bernama Daniel itu, karena dari dulu Mr Daniel selalu baik kepada mereka.


"Sama sama Davinka, jangan pernah sungkan, kalian sudah ku anggap seperti adikku sendiri!"


Mr Daniel pun mengajak mereka untuk menuju ruang makan, terlihat banyak sekali makanan yang di hidangkan oleh Mr Daniel untuk menjamu keluarga Kai.


"Bagaimana kuliah mu nak!" Mr Daniel terlihat sangat hangat dan lembut membuat Casandra kagum pada sosok pria paruh baya yang terlihat seumuran dengan Ayahnya.


"Semuanya berjalan dengan lancar Tuan!"


"Hey, jangan panggil Tuan! panggil saja Uncel Daniel karena Daddy mu sudah Uncel anggap seperti adik sendiri jadi kau juga sudah seperti anakku sendiri!"


"Baiklah Uncel!"

__ADS_1


"Anakmu sungguh sangat cantik seperti mu Davinka hahahah!"


Akhirnya mereka pun memulai makan malam dengan di selingi cerita cerita ringan tentang masa lalu mereka dan masa kecil Casandra, yang terkadang membuat wajah Casandra memerah karena menahan malu atas godaan yang terlontar dari mulut sang ayah.


__ADS_2