
Siang itu Lily berkeinginan pergi ke cafe yang beberapa hari ini menjadi cafe favoritnya, karena tidak melakukan pekerjaan apapun membuat Lily merasa bosan di dalam mansion besarnya itu. Lily pergi menggunakan mobil hitam kesayangannya yang di parkir kan tak jauh dari cafe tersebut.
Lily berjalan masuk dan duduk di kursi sudut ruangan cafe suara musik clasik pun menyapa telinga membuat suasana hati Lily semakin merasakan kenyamanan, ia memandang beberapa orang yang menikmati makanan di cafe tersebut, ada yang bersama sahabat, keluarga maupun kekasih, setelah ia mendudukkan dirinya di kursi tiba-tiba datang seorang gadis jangkung berambut blonde menghampirinya, gadis itu adalah waiters di cafe itu.
"Selamat siang Nona!" sapa ramah waiters tersebut sambil memberikan buku menu kepada Lily.
Dengan senyum manisnya Lily mengambil buku menu dari tangan gadis Blonde tersebut dan membaca daftar makanan yang akan menjadi pilihan untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan.
"Saya pesan satu spaghetti carbonara dan satu vanilla latte!" ucap Lily sambil mengembalikan buku menu kepada gadis Blonde itu.
"Baiklah Nona, mohon di tunggu!" gadis Blonde itu berjalan menjauhi Lily membuat Lily mengalihkan perhatian pada benda pipih yang terus bergetar di dalam saku celananya, terlihat nama Luca terpampang di layar ponselnya
"Halo!" sapa Lily singkat.
"Lily, aku akan pergi beberapa hari ke Swiss, bisakah nanti kau handle berkas berkas yang ada di mejaku?" tanya Luca.
"Kenapa kepergian mu terlihat sangat mendadak?" Lily tak langsung mengiyakan permintaan Luca, ia justru melemparkan kalimat tanya pada sang kakak yang tak biasa meninggalkan pekerjaannya secara mendadak.
"Sebenarnya tidak mendadak, hanya saja pekerjaan itu masih belum selesai saat agenda ku berkunjung ke perusahaan Marco tiba!" Luca tersenyum bodoh di seberang telpon karena ia sudah bisa menebak wajah jengah milik adiknya itu.
"Baiklah, aku akan menghandle nya!" jawab Lily singkat.
"Terima kasih Ly, oh ya kau ingin aku bawakan oleh oleh apa dari Swiss?" tanya Luca ragu.
"Tidak perlu, aku bukan anak kecil lagi! aku ingin kau pulang dengan selamat, itupun sudah cukup!" kata kata datar namun terasa sangat hangat untuk Luca karena mereka sangat jarang menunjukkan rasa sayang satu sama lain, walaupun sebenarnya mereka saling menyayangi.
"Baiklah, kau selalu hati hati karena mereka sekarang sedang mengincar identitas mu!"
"Hem!" Lily berdehem dan mengangguk sebelum Luca mematikan sambungan telponnya. Lily pun meletakkan ponselnya di atas meja bertepatan dengan pesanannya datang.
"Silahkan di nikmati!" ucap gadis Blonde setelah ia meletakkan makanan yang Lily pesan.
__ADS_1
"Terima kasih!" Lily segera menyantap makanan nya dalam diam, ia benar-benar sudah tersihir dengan semua makanan yang ada di cafe ini.
Setelah menghabiskan semua makanan didalam piring nya Lily menyandarkan punggungnya dan melempar pandangan kearah gadis Blonde yang tadi mengantarkan makanan nya, gadis Blonde itu bekerja dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajah cantiknya seakan ia sangat menikmati hidup dan pekerjaan nya itu, jujur di dalam hati Lily sangat iri dengan kehidupan yang gadis itu lalui, tak seperti hidupnya yang selalu di hantui rasa was-was dan merasa kapan pun malaikat maut mengintai setiap detik kehidupan nya.
Bahkan Lily tak pernah merasa kebahagiaan yang sempurna dalam kehidupannya.
Lily memangil gadis Blonde tersebut yang kebetulan lewat, ia memberikan beberapa lembar uang dollar untuk membayar makannya.
"Terima kasih Rosé!" ucap Lily ramah.
Rosé terlihat kebingungan karena pelanggan itu menyebut namanya, dan ekspresi wajah kebingungan Rosé pun soantak membuat Lily tertawa renyah.
"Tenang aku tidak menguntit mu, aku mengetahui namamu dari name tag itu!" Lily menunjuk name tag yang bertuliskan nama Rosé, membuat wajah Rosé bersemu merah karena malu.
Rosé lupa jika baju kerjanya terdapat name tag yang bertuliskan namanya.
"Hehehe, Terima kasih no- !"
"Lily, panggil saja Lily!" ucap Lily memotong ucapan Rosé.
"Ini cafe terenak yang pernah aku temui, dan aku tidak akan bosan untuk berkunjung ke cafe ini!" setelah memberikan senyum Lily pun keluar dari cafe itu menuju taman kota yang mungkin akan terlihat sangat sepi karena hari ini waktu masih menunjukkan pukul 12 siang.
Lily berjalan kaki karena letak cafe yang tidak begitu jauh dari taman kota, ia memasuki kawasan taman yang sangat tenang lalu ia duduk di tempat pertama kali ia dan Louis berbicara panjang lebar.
Lily menyandarkan tubuhnya, menikmati hembusan angin dan hangatnya sinar matahari bersamaan, hatinya terasa sangat tenang dan nyaman.
"Appa, Eomma, Daddy! Lily berjanji akan membalas semua perbuatan jahat orang yang telah menyakiti kalian, Lily berjanji tidak akan membiarkan mereka tertidur nyenyak saat ini!" tanpa terasa air mata Lily menerobos keluar dari persembunyiannya, selama ini Lily sangat jarang menangis tapi kerinduan pada orang tuanya membuat dia terasa sangat rapuh.
***
Siang ini terlihat seorang gadis muda yang sedang berjalan terburu buru dengan membawa tumpukan buku-buku di tangannya, ia terlihat sangat kesulitan dan saat ia fokus melihat beberapa catatan di tangannya ia tak sengaja menabrak seseorang hingga membuat semua buku bukunya jatuh berserakan di jalan.
__ADS_1
"Ah, maafkan aku! aku tidak sengaja!" ucap gadis muda itu sambil mengambil satu persatu bukunya tanpa melihat kearah orang yang ia tabrak.
"Tidak apa-apa Nona, lain kali kau harus lebih berhati-hati!" ucap seseorang yang ia tabrak.
Geraknya terhenti saat seseorang itu menyerahkan buku terakhir yang tercecer di jalan.
"Kau mahasiswa fakultas seni?" sapa Pria berparas tampan dengan senyum yang manis di bibir sexi nya, membuat gadis muda itu terdiam sesaat matanya seakan candu dengan lekuk bibir pria didepannya.
"Nona, kau baik-baik saja?" pria itu kembali bersuara saat melihat gadis di depannya itu hanya diam mematung.
pria itu mengibaskan tangannya di depan wajah gadis itu hingga gadis itu tersentak dari lamunannya.
"Maafkan aku Tuan!" ucap gadis itu dengan rasa bersalah.
"Ah tidak apa-apa, kenalkan namaku Louis!" Louis mengulurkan tangannya.
"Casandra!" dengan senang hati Casandra membalas uluran tangan Louis.
"Sepertinya kau sedikit kesulitan dengan buku buku itu!" Louis membantu membawakan setengah tumpukan buku-buku yang berada di tangan Casandra.
"Ah, terima kasih! buku ini milik teman ku dan besok ia akan mengambilnya!" jelas Casandra.
"Jika tidak keberatan bagaimana kalau kita duduk di cafe itu! aku ingin menteraktir mu minum kopi disana, dan kebetulan aku tak ada teman!" tunjuk Louis kearah cafe yang terletak tak begitu jauh dari mereka.
Dengan sedikit berfikir akhirnya Casandra menyetujui permintaan Louis, hitung hitung sebagai permintaan maaf nya pada pria itu.
Mereka pun berjalan menuju cafe dan duduk di kursi yang berada di dalam, karena hari ini udara sedikit menyengat.
"Americano satu dan cocolate Ice clasik!" ucap mereka berdua bergantian.
"Kau sepertinya bukan orang asli sini!" Louis membuka pembicaraan saat waiters berjalan meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Ya, aku orang Korea dan baru satu tahun menetap di sini!" jelas Casandra.
Mereka pun berbicara santai tentang kehidupan mereka, sesekali mereka tertawa karena sifat humoris Casandra yang selalu bisa menghidupkan suasana.