
Pagi ini terlihat senyum manis Louis menghiasi wajah tampannya, ia berjalan menuju meja makan yang sudah terhidang secangkir kopi hangat dan sepiring sandwich buatan adik kesayangannya.
Louis berjalan mendekati Rosé yang sedang duduk menikmati sarapannya dengan secangkir coklat panas, Louis kemudian mencium pucuk rambut blonde milik adiknya itu, sedangkan sang adik hanya memberikan senyuman lalu kembali menikmati sandwich yang memenuhi mulutnya.
"Pagi pagi sudah rapi sekali?" Rosé sedikit bingung melihat penampilan kakaknya yang tidak bisa, Pagi ini Louis terlihat sangat tampan, ia memakai kaos putih polos dan celana jeans membuat penampilannya semakin terlihat macho.
"Siang ini aku akan bertemu dengan seorang!" ucap Louis sambil menyeruput kopinya, lalu memasukkan sandwich kedalam mulutnya.
"Teman kencan mu?"
"Hemmmm, bukan!"
"Lalu?"
"Mungkin bisa dikatakan dia gadis yang sudah mencuri hatiku!"
"Wahahahahaha, are you serious?"
"Ya, aku jatuh cinta kepada nya saat pertama kali bertemu, mungkin bisa dikatakan cinta pada pandangan pertama!"
"Wah,,, wah,,, aku jadi penasaran siapa wanita yang sudah mencuri hati kakak ku ini? Apakah dia cantik?"
"Sangat cantik, bahkan aku belum pernah bertemu dengan wanita sepertinya, ya walaupun ia sedikit galak!"
"Hahahaha, aku semakin penasaran, segeralah kau kenalkan dia kepada ku!"
"Kemarin kami sempat makan siang bersama di cafe tempat kau berkerja, tapi sayang kemarin kau sedang off!"
"Wah sayang sekali, tapi tidak apa kau bisa mengajak nya lain kali!"
"Hem, baiklah aku pergi dulu, aku ingin membeli sesuatu untuknya!"
Louis kemudian menghabiskan sisa kopi yang ada di cangkirnya dan kembali mengecup pipi gembul milik adiknya sebelum ia pergi dari apartemennya.
Setelah Louis menghilang dari pandangannya, Rosé tersenyum bahagia melihat kakaknya sudah mulai membuka pintu hatinya setelah Penghianatan yang di lakukan oleh kekasihnya dulu Alice.
Sedangkan hubungan Rosé dan Luca semakin dekat, walaupun sedang berada di Swiss Luca selalu mengirim pesan untuk Rosé, membuat hati Rosé semakin terjatuh kedalam pesona dan manisnya perlakuan Luca kepadanya.
Rosé pun merasa saat ini ia mendapatkan sosok pelindung dari seorang Luca.
__ADS_1
...****...
Mobil Sedan hitam Louis melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang mulai ramai, kendaraan mulai berlalu lalang mengantarkan mereka yang memiliki pekerjaan masing-masing seperti orang yang berpacu dengan waktu hingga terkadang kemacetan pun tak terhindari lagi, karena semakin banyak orang menggunakan mobil hanya untuk memangkas waktu yang mereka butuhkan, tapi itu semua salah, mereka justru membuat waktu semakin banyak terbuang dengan kemacetan yang mereka ciptakan sendiri.
Louis memberhentikan mobilnya di sebuah toko bunga yang berada tidak jauh dari taman kota tempat ia dan Lily janjian.
"Selamat datang Tuan, ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang wanita penjaga toko bunga dengan ramah.
"Tolong berikan saya satu buket bunga Lili dan berikan satu tangkai bunga mawar merah di tengah-tengahnya!"
"Baiklah Tuan, tunggu sebentar saya akan membuatkan buket bunganya!"
Wanita itupun berlalu meninggalkan Louis yang masih melihat lihat berbagai macam jenis bunga yang menghiasi toko tersebut.
"Ini Tuan pesanannya!" tak membutuhkan waktu lama, wanita itu kembali menghampiri Louis dengan buket bunga Lili pesanan Louis di tangannya dan menyerahkan buket itu kepada Louis.
"Wah ini sangat indah sekali, Terima kasih Nona aku akan segera membayarnya!"
Louis berjalan menuju casir dan mengeluarkan beberapa lembar uang dollar untuk membayar buket bunga itu.
Louis langsung meninggalkan toko bunga dan melajukan mobilnya kearah sebuah toko coklat, ia juga berencana memberikan Lily coklat untuk menemani buket bunga tadi.
Diperjalanan menuju toko coklat senyum Louis pun tak pernah lepas, mungkin ini kencan pertama nya setelah beberapa lama ia menutup hatinya karena luka penghianatan dari sang mantan.
"Rosé, hari ini aku akan melamar Alice!" Louis tersenyum sambil menunjukkan cincin yang sangat indah kepada sang adik.
"Really? aku sangat senang mendengarnya, brother!"
Rosé memeluk kakaknya karena ia melihat kegugupan sang kakak.
Setelah menemui dan memberi tau Rosé, Louis pun memacu mobilnya ke arah apartemen Alice untuk menjemputnya.
Louis ingin memberikan kejutan untuk Alice hingga ia tak memberi tau Alice jika ia ingin mengajak Alice untuk makan malam yang sangat romantis yang Louis diapakan.
Saat ingin membuka pintu apartemen Alice, Louis sempat mengeluarkan kotak cincin dan memandangnya penuh cinta, hatinya bergetar hebat, kegugupannya tidak bisa ia kendalikan, sejenak Louis menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan, menstabilkan detakan jantungnya dan mulai menekan tombol password apartemen Alice.
Louis masuk ke dalam dengan mengendap endap, namun perlahan ia menajamkan pendengarannya, samar samar ia menangkap suara yang sangat tidak mengenakkan dari dalam kamar Alice. Dengan rasa penasaran yang besar Louis melanjutkan langkahnya kearah pintu kamar Alice.
Namun perasaan Louis bagaikan di sambar petir melihat apa yang sedang kekasihnya lakukan.
__ADS_1
Matanya mulai memerah, dadanya semakin sesak seperti di himpit sebuah batu besar, ia menyaksikan kekasihnya yang sedang bercinta dengan seorang pria, menyaksikan desahan kekasihnya yang terdengar sangat menikmati.
Louis menarik pundak laki laki itu dan memukulnya brutal, ia tidak memberikan kesempatan untuk pria itu menghindari pukulan darinya, emosi Louis benar benar sudah memenuhi kepalanya, ia juga tak menghiraukan teriakan dari Alice sampai tamparan kuat di pipinya yang menghentikan kebrutalan Louis.
"CUKUP LOUIS!" bentak Alice.
Nafas Louis masih tersengal-sengal, ia menatap tak percaya pada Alice yang tega mengkhianati cintanya.
"Mengapa kau tega melakukan ini padaku, hum? KENAPA!" teriak Louis di depan wajah Alice.
"Karena aku tidak mencintaimu lagi, dan asal kau tau pria yang kau pukul itu adalah calon suami ku, bulan depan kami akan melakukan pernikahan!" jelas Alice.
Louis menggeleng tak percaya, cinta nya yang tulus selama ini tak pernah berarti apa-apa, bahunya terturun lemas, matanya mulai berkaca-kaca, ia benar-benar sudah di permainkan oleh cinta.
Louis pun pergi meninggalkan apartemen Alice tanpa kata, ia tak bisa berkata apa-apa lagi, hatinya benar-benar sudah hancur berkeping-keping menerima kenyataan jika sang pujaan hati sudah berpaling darinya.
Hari yang bahagia menjadi hari yang sangat menyakitkan untuknya, ia mulai menutup hatinya untuk wanita, Louis benar benar patah hati.
...****...
Setelah mendapatkan sebuket bunga Lili dan coklat Louis melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 11:45 ia sedikit lega karena kemacetan yang ia alami tidak membuat ia terlambat.
Mobil Louis pun mulai memasuki kawasan taman kota tempat ia dan Lily janjian, Louis pun segera keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya dengan lebar menuju tempat biasa mereka bertemu, ia juga sedikit lega karena ia belum melihat batang hidung wanita yang memiliki mata kucing itu dan itu artinya ia tidak terlambat.
Dengan sangat sabar Louis menunggu, ia memegang dadanya yang berdegup kencang, dan berkali kali ia menarik nafas dalam-dalam agar ia bisa menghilangkan kegugupannya.
Namun waktu terus berganti, sudah hampir 3 jam Louis masih sabar menanti, tetapi wanita mungil bermata kucing itu masih juga tidak menampakkan diri.
Bunga Lili yang tadi sangat segar dan cantik sudah berubah layu karena hangatnya cuaca saat ini, begitu pun coklat yang Louis beli terlihat sudah meleleh.
Senyum yang sedari tadi terukir indah di wajah tampannya perlahan pudar, hanya kekecewaan yang sekarang tergambar jelas.
"Apa kau melupakan janji ini Ly? atau memang kau sedang mempermainkan ku?" Louis tersenyum getir atas pertanyaan yang memenuhi otaknya itu.
Louis menyandarkan punggungnya di bangku taman, pandangannya kosong, hatinya kembali kecewa. Ia tak pernah membayangkan jika perjalanan cintanya semiris ini.
Akhirnya setelah 5 jam menunggu, Louis pun membuang bunga dan coklat yang sudah rusak, ia melangkah gontai meninggalkan taman itu dengan perasaan yang bercampur aduk.
"Tuhan, apa aku tak pantas merasakan cinta?"
__ADS_1