
Hiks,,Hiks!!
"Kenapa ini bisa terjadi? Jay, Jennie jangan tinggalkan Eomma! kalian tidak boleh pergi secepat ini, anak anak kalian masih kecil dan sangat membutuhkan kalian!"
"Sudahlah Eomma, ini semua sudah terjadi, Eomma harus merelakannya"
"Tidak Kai! Eomma yakin ada yang berniat ingin membunuh mereka!"
"Cukup Eomma! sudah jelas Jay dan Jennie mengalami kecelakaan tunggal! mobil mereka menerobos pembatas jalan dan langsung masuk ke jurang! dan polisi sendiri yang mengatakan jika cctv jalanan merekamnya, kecepatan mobil Jay di atas rata-rata!"
Wanita paruh baya yang sedari tadi menangisi jasad putera sulung dan menantunya itu hanya mampu terdiam, namun hatinya sangat yakin jika kecelakaan yang di alami oleh putranya itu bukan murni kecelakaan namun ada seseorang yang menyabotase mobil putranya.
"Biarkan Jay Oppa tenang di sana!"Kai memeluk tubuh renta Ibunya dengan sayang, namun entah mengapa Kai justru memasang seringai hajat tanpa ada seorangpun yang tau.
Namun, bagaikan pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula itulah yang di alami keluar Park, saat orang tua Jay ingin menjemput cucunya, mereka tidak menemukan putra putri Jay berada di rumah, bahkan mereka menghilang tanpa jejak, tak ada seorangpun asisten rumah tangga yang menyadari jika anak-anak kecil itu tidak berada di rumah, karena saat mendengar kabar Jay dan Jennie mengalami kecelakaan, mereka semua pergi kerumah sakit untuk memastikan apakah memang Jay dan Jennie meninggal karena kecelakaan, tanpa sadar meninggalkan anak anak Jay dan Jennie di rumah bersama asisten rumah tangga.
"Kalian semua bodoh!! menjaga dua orang anak kecil saja kalian tidak becus! aku ingin kalian segera mencari keberadaan mereka, dan jika kalian tidak mendapatkannya siap siap kepala kalian akan menjadi sasaran peluru ku!" Teriak Tuan Park.
"Ba-baik tuan kami akan segera mencarinya!"
Dilain tempat.
"Kita mau kemana Ahjusshi?" tanya seorang anak laki-laki yang berusia 8 tahun, ia duduk manis di kursi samping kemudi sambil memangku adiknya yang masih berusia 5 tahun sedang tertidur pulas.
"Kita akan pergi menyusul Appa dan Eomma mu, nak! sekarang lebih baik kau tidur dulu, nanti jika sudah sampai Ahjusshi akan membangunkan mu!" pria itu mengusap kepala bocah laki-laki di sampingnya dengan lembut, membuat bocah itu mengangguk menurut lalu mulai memejamkan matanya karena rasa kantuk sudah menghinggapi matanya.
Melihat kedua bocah yang masih polos itu tertidur pulas, laki laki paruh baya itu tersenyum kecut "Maafkan Ahjusshi nak, Ahjusshi hanya menjalankan perintah saja!"
Setelah menempuh perjalanan sekitar 10 jam akhirnya mobil itu berhenti di halaman sebuah panti asuhan, bawahannya yang duduk di kursi belakang langsung menggendong bocah perempuan dan pria yang menyetir tadi menggendong bocah laki-laki, mereka masuk kedalam panti asuhan itu dan bertemu dengan pengurus panti tersebut, setelah meletakkan mereka berdua diatas kasur, si pria paruh baya tersebut langsung berbicara dengan pengurus panti.
"Saya di tugaskan untuk meletakkan mereka di sini, saya harap anda mau mengurus mereka berdua, untuk masalah biaya kami akan memberikan biaya mereka sekaligus!"
"Ta-tapi tuan, mengapa mereka di letakan di sini jika mereka masih memiliki keluarga?" tanya wanita paruh baya yang bertugas mengurus panti tersebut.
"Kedua orang tua mereka baru saja meninggal karena kecelakaan, jadi mereka sudah tidak punya siapa siapa lagi!" ucap pria paruh baya itu dengan nada dingin, membuat pengurus panti itu mengkidik ngeri.
"Tolong terima uang ini untuk biaya Lily Park dan Luca Park di sini dan jika suatu saat mereka bertanya tentang keluarga mereka jawab saja kalian tidak tau!"
"Baik Tuan!" wanita itu pun mengambil koper yang berisi uang itu dan menyimpannya.
"Maaf kalau boleh saya tau siapa nama anda Tuan?" dengan sedikit takut takut wanita itu memberanikan diri untuk sekedar bertanya nama pria yang mengantar dua bocah malang tersebut.
"Nama saya Kang!"
Setelah mengatakan namanya, Kang pun pergi meninggalkan panti asuhan tersebut tanpa kata lagi.
Ada sedikit rasa bersalah di benak Kang saat mengingat wajah polos anak-anak malang tersebut, rasanya ini tidak adil untuk mereka yang tidak tau apa-apa, saat kedua orang tua mereka meninggal mereka pun harus di pisahkan dari kakek dan nenek mereka.
__ADS_1
Kang pun merogoh saku jasnya dan mengambil ponselnya, ia mencari kontak seseorang yang memerintahkannya untuk mengantar kedua bocah tadi ke panti asuhan yang terletak sangat jauh dari kota mereka.
"Halo Tuan Kai! mereka sudah berada di panti asuhan itu, dan tak ada sedikitpun indentitas dari mereka yang tertinggal, pihak panti asuhan hanya mengetahui nama mereka saja!"
"Kerja yang bagus, dan kau tau sekarang Tuan besar Park sedang mencari cucu kesayangannya!"
"Ta-tapi bagaimana kalau Tuan besar Park mengetahui jika saya yang membawa mereka ke panti asuhan itu?"
"Kau tenang saja Kang, setelah ini aku akan mengirimkan uang yang banyak untuk mu dan kau beserta keluarga mu pergilah sejauh mungkin, tinggalkan negara ini dan jangan pernah kau pijakan kakimu lagi di sini!"
"Baiklah Tuan saya akan melakukannya, terima kasih tuan!"
Setelah menerima sambungan telepon dari Kang, Kai tersenyum senang, kali ini tidak ada lagi yang menghalanginya untuk menguasai kekayaan Ayahnya, karena bagi Kai bukan saja kakaknya saja yang menjadi penghalang, anak anaknya pun akan menjadi penghalang untuknya karena kedua orang tuanya sangat menyayangi Lily Park dan Luca Park.
"Hahahahaha. Akhirnya kau kalah Jay, sudah ku peringatan dari dulu tapi kau selalu mengabaikannya dan selalu meremehkan ucapan ku! tenanglah di sana bersama istrimu, dan harusnya kau berterima kasih kepada ku karena aku masih berbaik hati tidak mengirim kedua anak mu menyusul kalian!" Kai tertawa puas, kemenangan sudah ia dapatkan dan ia tidak pernah sedikit pun merasa bersalah atas kematian kakak kandungnya itu.
Hiks,,,hiks,,,hiks
"Sudah, jangan menangis lagi!"
"Lily ingin pulang Oppa!"
Hiks,,,hiks,,,hiks
"Besok pagi pasti Appa dan Eomma akan menjemput kita, sekarang Lily tidur ya!"
"Lily ingin bertemu Appa dan Eomma!"
Luca berusaha menenangkan adiknya yang menangis saat terbangun dari tidurnya, mereka sedikit terkejut menyadari jika mereka sedang tertidur bersama dengan anak anak kecil seusia mereka, mereka sendiri tidak tau sekarang mereka berada di mana.
Terakhir yang Luca tau seorang Ahjusshi mengantar mereka berjumpa dengan kedua orang tua mereka, sampai saat Luca tertidur dan sekarang terbangun di tempat yang sangat asing, bahkan ia tidak menemukan kedua orang tua mereka ataupun Paman yang membawa mereka tadi.
Karena hari sudah sangat larut jadi Luca memutuskan membujuk Lily agar sang adik tidur dan tidak terus-menerus menangis.
Luca pun kembali berbaring sambil memeluk tubuh mungil Lily, ia berusaha berfikir apa yang sedang terjadi kepada mereka dan mengapa orang tua mereka tidak menjemput mereka sekarang.
***
Pagi ini Lily merengek sambil mengoncang goncangan tubuh Luca.
"Oppa aku lapar!"
Luca membuka perlahan matanya yang masih terasa sangat berat, ia masih sangat mengantuk karena ia terus terjaga untuk menjaga Lily sampai menjelang pagi, namun ia tak bisa membiarkan adiknya terus merengek karena merasa lapar, dan jujur ia pun dari semalam sudah merasa sangat lapar.
"Hei kalian berdua, Ibu Lisa memangil kalian berdua!"
Luca yang baru saja bangun langsung di sapa dengan panggilan seorang anak kecil yang terlihat seperti seumuran dengannya.
__ADS_1
"Ayo Ly, Oppa yakin pasti Appa dan Eomma Sudah menunggu kita!"
Luca menarik tangan Lily mengajaknya berjalan mengikuti anak yang memanggilnya tadi, mereka berjalan beriringan tanpa ada pembicaraan karena anak tersebut terlihat sangat angkuh, hingga Luca menyadari langkah anak laki laki tersebut berhenti di depan ruangan yang besar, tangannya terangkat keatas untuk mengetuk pintu ruangan itu sampai akhirnya pintu itu terbuka dan menampakkan wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik.
"Lily, Luca ayo masuk!" titah wanita itu sambil menarik tangan kecil kedua bocah tersebut.
"Terima kasih Mino, kau boleh kembali ke ruangan makan!" Lisa berkata dengan suara yang sangat lembut penuh kasih sayang.
"Baik Bu!"
Mino tampak patuh dan ramah terhadap Lisa, ia pun berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Ayo Luca, Lily duduk sini! kalian pasti sangat lapar!" Lily mengajak kedua bocah itu untuk sarapan karena saat mereka datang mereka berdua tertidur dan melewatkan makan malam.
"Ibu, apakah Appa dan Eomma kami akan menjemput kami?" pertanyaan pertama yang terlontar dari mulut kecil Lily yang sangat polos, membuat Lisa sedikit terhenyuk karena mereka tidak tega untuk memberi tau kepada kedua bocah ini tentang kenyataan yang sebenarnya.
"Sayang, kalian habiskan dulu makanan kalian, setelah makan nanti Ibu akan menceritakan semua yang Ibu tau!"
Lisa mengelus sayang pucuk rambut Lily, gadis kecil yang polos itu mengangguk dan menurut kemudian kembali memakan makanan nya dengan lahap.
Setelah menyelesaikan sarapannya Lisa mengajak Lily dan Luca duduk di sofa, ia menguatkan hatinya untuk mengatakan kepada kedua anak kecil di depannya ini.
"Luca, Lily mulai sekarang kalian akan tinggal di sini, di sini kalian bisa belajar, bermain bersama teman teman yang lain!"
Lisa melihat raut kebingungan dari wajah polos Lily dan Luca yang tak mengerti mengapa mereka harus tinggal di sini, sedangkan mereka masih memiliki orang tua dan rumah yang sangat besar.
Namun sebelum Lily dan Luca menyela Lisa langsung meneruskan ucapannya.
"Paman yang mengantarkan kalian ke sini berkata jika kedua orang tua kalian sudah meninggal dan karena kalian tidak memiliki siapa siapa jadi kalian di titipkan di sini!"
Duarr!!
Seketika hati Luca dan Lily hancur mendengar pernyataan dari pengurus panti ini, dan tangis Lily pun seketika pecah.
Di usia mereka yang masih sangat kecil harus menerima kenyataan pahit, kehilangan orang tua dan harus hidup di panti asuhan.
"Tapi Bu, kami masih memiliki kakek dan nenek!" dengan suara bergetar Luca masih mengingat wajah kakek dan neneknya.
"Apakah Luca tau alamat rumah kakek dan nenek kalian?" tanya Lisa.
Lisa berharap Luca tau alamat rumah kakek dan neneknya agar Lisa bisa menemui keluarga Luca dan Lily.
Namun sayangnya Luca menggeleng, menandakan ia tidak tau sama sekali alamat rumah kakek dan neneknya, karena jika mereka ingin berkunjung ke sana mereka tinggal naik mobil saja dan sopir pun akan mengantarkan mereka dengan Selamat.
Luca terdiam sambil memeluk tubuh Lily yang masih bergetar, Lily masih betah menangis dan memanggil kedua orang tua mereka.
Ini bagai mimpi buruk yang tidak ingin ia lewati, dan jika benar ini mimpi buruk Luca ingin segera bangun dan berlari memeluk kedua orang tuanya, namun sekeras apapun Luca dan Lily menolaknya kenyataan pahit ini harus mereka telan mentah-mentah.
__ADS_1
Lisa yang sudah memeluk tubuh Lily dan Luca pun tanpa sadar menitihkan air mata, ia sangat tau betapa pedih hati kedua anak ini, di masa masa mereka yang sedang haus kasih sayang orang terkasih harus merasakan kehilangan.
***