
"Elena, lihatlah aku datang lebih cepat 5 menit dari waktu yang ku janjikan!" ucap Louis saat memasuki ruangan Elena yang membuat Elena menatap malas pada pria yang ia sukai ini.
Elena tak menggubris kata kata Louis ia segera meletakkan berkas penyelidikannya di depan Louis saat Louis telah duduk manis di depannya.
"Aku mendapatkan sedikit informasi jika, triple L bukanlah anak kandung dari Mr Samuel, Karena dari data yang di serahkan oleh informan Mr Samuel tidak memiliki anak, dengan kata lain Triple L bukan anak Mr Samuel!" jelas Elena sambil menatap wajah tampan Louis yang terlihat semakin menggoda dengan ekspresi terkejut nya.
"Tapi mengapa Mr Samuel begitu berusaha menyembunyikan identitas Triple L jika mereka bukan anak kandungnya?"
"Aku tidak tau, dan yang lebih membuat aku tak habis pikir Triple L bukanlah orang berdarah asli benua ini!"
Penjelasan Elena sungguh membuat kepala Louis seperti ingin meledak, ia semakin pusing dengan teka teki yang semakin hari semakin memberikan petunjuk yang membingungkan ini.
Louis mengusap wajahnya dengan kasar dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang ia duduki.
Namun tiba-tiba suara Elena memecahkan keheningan "Bagaimana dengan misi untuk mendekati Casandra putri dari Mr Kai? apakah kau sudah melakukannya?"
"Kemarin aku sempat bertemu dan mengobrol dengannya!" jawab Louis tak bersemangat, ia terlalu memikirkan fakta baru yang ia terima, dan belum berminat menjalankan tugasnya untuk mendekati Casandra agar ia mendapatkan informasi tentang hubungan Mr Kai dan black Tiger.
Louis pun berdiri dan mengambil berkas yang Elena berikan "Aku akan membawa berkas ini untuk mempelajarinya, dan tolong beri tau aku secepatnya jika mendapatkan informasi tambahan tentang Triple L, dan sepertinya beberapa hari ini aku akan mengajukan cuti untuk menenangkan diri ku sejenak!"
"Kau ingin mengajukan cuti saat tugas mu sedikitpun Belum mendapatkan titik terang?" Elena menaikkan suaranya, ia tak setuju dengan cara Louis yang terkesan santai mengerjakan tugas dari atasannya ini.
"Ayolah Elena, saat ini aku tidak akan bisa menjalankan tugas ku, aku butuh istirahat dan tolong lah mengerti!" jawab Louis sedikit memohon.
Hufh...
Elena membuang nafas secara kasar, ia sungguh tak habis pikir dengan pemikiran pria yang di depannya.
Kadang ia sedikit bingung mengapa ia begitu tertarik dengan pria menyebalkan yang berdiri di depannya ini.
"Oke, oke, aku akan memberi waktu 2 hari untuk kau istirahat-"
"No! aku minta 3 hari!" potong Louis cepat karena ia merasa membutuhkan waktu 3 hari untuk mengistirahatkan otak nya ini sebelum ia memulai tugas yang sangat berat.
"Baiklah, kau bisa cuti 3 hari dan setelah itu tolong kau selesaikan tugas mu!" akhirnya untuk sekian kalinya Elena mengalah, ia tak akan pernah menang jika berdebat dengan pria yang memiliki sifat seenaknya saja.
"Thanks girl!"
__ADS_1
Setelah mendapatkan jawaban dari Elena, Louis pun tersenyum dan mengecup singkat pipi Elena lalu berlari kecil keluar dari ruangan Elena meninggalkan gadis itu yang sudah separuh dari nyawanya keluar dari tubuh indahnya.
Setelah Louis menghilang dari ruangannya barulah Elena tersadar dari keterkejutannya, ia mengusap pipinya yang beberapa menit tadi di kecup oleh Louis dan sedetik kemudian sudut bibirnya terangkat membentuk senyum bahagia.
Elena bukanlah gadis yang tak pernah merasakan cinta, ia sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan pria tapi bagi Elena sosok Louis itu sangatlah berbeda dari pria pria yang pernah mengisi hatinya, entah mengapa untuk perasaan nya pada Louis, Elena tak menuntut lebih untuk sebuah hubungan, tapi mimpinya untuk menjadikan Louis sebagai laki laki terakhirnya sangatlah besar.
Louis berjalan meninggalkan kantornya, fikiran nya terasa sangat kacau namun tiba-tiba melintas di pikirannya wajah Lily yang khas dengan gummy smile nya.
"Ah, wanita itu membuat aku semakin menggila! tapi begitu bodohnya aku, saat itu aku tidak sempat meminta nomor ponselnya!" gerutu Louis dalam hati, ia mengendarai mobilnya tanpa tujuan sampai mobilnya berhenti di taman kota tempat ia seringkali bertemu dengan Lily.
Karena tak ada pilihan akhirnya Louis turun dari mobilnya dan melangkah masuk kedalam kawasan taman yang sepi, namun tiba-tiba matanya menangkap sosok wanita yang sudah tidak asing lagi baginya, Louis berjalan mendekati wanita yang sedang duduk dengan sebuah buku di tangannya, mata cantik wanita itu fokus tertuju pada barisan kata kata yang menghiasi buku tersebut.
Louis membeku menatap betapa cantiknya wanita yang sedang duduk didepan nya itu, namun lamunannya tersentak saat wanita tersebut mengeluarkan suara tanpa menoleh kearahnya.
"Duduklah, kau seperti pengangguran yang sedang menguntit ku!"
Louis mendengus pelan rasa senangnya bergantian dengan kekesalan karena selalu saja ucapan wanita itu tidak pernah terdengar menyenangkan di telinganya.
"Sudah berapa kali ku katakan aku tak pernah menguntit mu, dan pertemuan kita adalah takdir Lily!"
"Jika tidak menguntit ku, bagaimana bisa setiap aku berada di taman ini selalu bertemu dengan mu!"
"Ayolah, taman ini tempat umum dan tidak ada larangan bagi siapapun untuk datang kesini tanpa terkecuali aku!"
"Dan taman ini sangat luas!"
ucapan singkat Lily membuat Louis terdiam, ia tidak berniat untuk meladeni perdebatannya dengan wanita yang selalu hadir di kepalanya, karena ia akui dari pertama kali bertemu Lily memang tidak pernah menunjukkan sikap baiknya pada Louis terlebih saat moodnya sedang tidak baik-baik saja. Ternyata secepat itu Louis memahami sifat Lily.
Loius duduk di samping Lily tanpa pamit, hingga membuat Lily menghentikan kegiatannya membaca.
Bukkkkk..
Lily menutup bukunya dengan kasar dan memandang Louis yang memasang wajah bodohnya dengan tatapan mematikan.
"Ayolah ly, aku tidak ingin ribut dengan mu, izinkan sehari saja aku tak mendapatkan tatapan seperti itu!"
Lily membuang pandangannya kedepan dan tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Louis.
__ADS_1
"Kenapa? kenapa jantungku tiba-tiba berdetak kencang? dan kenapa rasa nyaman itu hadir saat Louis duduk di samping ku seperti ini? ah, tidak mungkin pria ini sangat menyebalkan! tapi mengapa kaki ini sangat sulit melangkah untuk meninggalkannya?" Lily bermonolog dengan dirinya sendiri ia tak mengerti dengan apa yang ia rasakan sekarang.
Akhirnya Lily menuruti kata hatinya untuk tetap diam dan membuka kembali buku yang sempat ia tutup tadi tanpa memperdulikan Louis yang mulai mencuri pandang ke arahnya.
"Apakah kau sudah makan siang?" Louis berusaha membuka pembicaraan agar tidak terlihat canggung.
"Belum!"
"Irit sekali!" ucap Louis asal karena Lily menjawab pertanyaannya dengan singkat hingga membuat Lily menoleh kearah Louis.
"Kau bilang apa barusan?"
"Tidak, aku tak mengatakan apapun!" lagi lagi Louis menunjukkan senyum bodohnya kepada Lily.
Lily pun kembali menatap bukunya dengan tenang, membuat Louis berusaha menguatkan hatinya untuk membuka suara kembali.
"Mau makan siang dengan ku?" akhirnya Louis memberanikan diri mengajak Lily makan siang bersama setelah terjadi keheningan yang lumayan lama.
Lily pun berdiri membuat Louis berfikir jika Lily marah dan akan meninggalkan nya, dengan wajah panik Louis pun memegang tangan Lily.
"Mau kemana? kau marah?"
tanya Louis dengan nada lembut.
Lily menarik napas berat dan melepaskan pegangan tangan Louis "Kau bilang ingin mengajak ku makan siang bersama, jika tetap duduk disini apa makanan yang akan berjalan kesini untuk menghampiri kita?" ucap Lily kesal dengan ekspresi bodoh Louis.
"Ja-jadi kau mau makan siang bersama ku?"
"Jangan membuat aku berubah pikiran, karena persekian detik kedepan aku bisa berubah pikiran!"
"Ayo!"
Louis langsung menarik tangan Lily dan berjalan sedikit cepat menuju cafe favorit Lily karena itu usulan darinya.
"Sungguh kadang aku tidak mengerti dengan sifat perempuan! apakah semua perempuan memiliki sifat seperti ini?" gerutu Louis dalam hati.
Sedangkan Lily hanya tersenyum melihat Louis yang berjalan cepat sambil menarik tangannya, Lily tak menyangka jika kata katanya tentang ia bisa berubah pikiran dengan cepat bisa membuat reaksi Louis seperti ini.
__ADS_1