
Dengan perasaan yang sangat bahagia sore itu Luca datang dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajah tampannya, ia menunggu Rosé di luar cafe karena tak ingin membuat wanita itu tak nyaman.
Dengan menggunakan Hoodie yang sederhana yang berwarna biru hitam ia menghilangkan image Mafia di dirinya, karena saat ini ia hanya ingin menjalani hari dengan normal bersama wanita yang sudah merenggut hatinya itu.
Kegugupan mulai memenuhi dirinya saat melihat sosok wanita pujaannya itu berjalan menghampirinya.
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama!" Rosé merasa tidak enak karena ia harus menambah jam kerjanya selama 30 menit karena permintaan supervisor nya itu.
"It's ok, hanya 30 menit itu tidak membuat aku menjadi tua!" canda Luca yang berhasil membuat Rosé mengukirkan senyum manisnya.
"Ayo!" ajak Luca sambil menunjuk sebuah sepeda yang memiliki boncengan di belakangnya.
"Kau serius?" tanya Rosé yang tak habis pikir jika kencan pertama nya bersama Pria aneh seperti Luca.
karena setau Rosé Pria akan memamerkan semua kemewahan yang ia punya kepada gadis yang sedang ia incar, tapi tidak dengan Luca yang membawanya pergi kencan dengan naik sepeda, Rosé bahkan tau jika Luca bukan orang yang miskin karena Rosé tau saat Luca membayar bill makanannya Luca tak sengaja menggunakan black card miliknya dan itu hanya di miliki oleh orang orang tajir melintir.
Tapi Rosé tidak mempermasalahkannya karena dia yakin Luca tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ia berikan ini.
"Maaf aku hanya bisa mengajakmu naik sepeda saja karena mobil ku sedang berada di bengkel!" bohong Luca sambil mengayuh sepedanya.
"Yang benar saja orang kaya seperti dia hanya memiliki 1 buah mobil, itu sangat mustahil" ucap Rosé dalam hati, Rosé tersenyum "Tidak apa apa, ini tidak terlalu buruk!"
"Oh ya apakah kau tinggal bersama keluargamu di sini?" Luca kembali membuka suara, ia tak ingin ada keheningan diantara mereka.
"Aku hanya tinggal berdua dengan kakak ku!" Rosé menjedah ucapannya karena ia masih sangat sedih jika harus mengingat kejadian yang menimpa orang tua nya "Ibu ku meninggalkan saat aku berusia 10 tahun karena serangan jantung, sedangkan ayah ku meninggal saat usiaku 15 tahun karena di bunuh Mafia!"
Deg,,
Jantung Luca seperti tertancap pisau mendengar ucapan Rosé yang mengatakan jika Ayahnya di bunuh oleh Mafia, Luca sangat yakin Rosé akan membencinya saat mengetahui jika Luca adalah seorang Mafia.
"Ehemmm, maafkan aku sudah membuatmu bersedih!" Luca berdehem sejenak mencoba menstabilkan napasnya yang sedikit tercekik karena cerita Rosé tentang keluarganya.
"Bagaimana dengan mu?" Rosé kembali bertanya kepada luca membuat Luca sedikit gugup karena baginya saat ini bukan waktu yang tepat untuk menceritakan semua tentangnya.
"Ah, kita sudah sampai!" Luca mengalihkan pembicaraan bersamaan dengan mereka sampai di sebuah taman bermain.
Rosé sedikit terkejut dan semakin tak mengerti apa yang ada di otak Pria yang mengajaknya kencan itu, setelah mengajaknya pergi dengan menggunakan sepeda dan sekarang Luca juga mengajaknya pergi ke taman bermain, lagi lagi Rosé hanya mengikuti saja kemauan Luca, ia tidak ingin protes atau sekedar bertanya, bagi Rosé saat ini ia hanya menepati janjinya saja.
__ADS_1
"Ayo masuk!" setelah meletakkan sepedanya di parkiran khusus sepeda Luca menarik tangan Rosé dan mengajaknya masuk sambil melihat wahana permainan satu persatu.
"Apakah kau ingin mencoba itu?" Luca menunjuk wahana lempar gelang dan di sambut dengan anggukkan tanda Rosé tak menolaknya.
"Berikan saya gelang gelangnya untuk 2 orang!" ucap Luca dengan sopan kepada penjaganya.
"Ini 12 gelang untuk 2 orang!"
"Thank you!" Luca mengambil gelang dari tangan si penjaga dan memberi 6 gelang tersebut kepada Rosé.
"Ayo, aku pasti akan mendapatkan boneka itu!" ucap Luca penuh semangat saat melemparkan gelang pertamanya.
Mereka berdua pun mulai melemparkan satu persatu namun sayangnya tak ada satupun gelang dari mereka mengenai sasaran.
"Ini gelang terakhir aku tidak akan menyia-nyiakannya!" ucap Luca dalam hati. dan - tak -gelang itu akhirnya mengenai sasaran.
"Yeay aku mendapatkan nya!" Teriak Luca sambil melompat kegirangan seperti anak kecil.
Rosé tertegun melihat sis lain dari Pria yang sebelumnya terlihat sangat cool dan berwibawa lalu sekarang berubah menjadi Pria hangat yang menggemaskan.
"Ini untukmu!" Luca menyerahkan Boneka tupai coklat Kepada Rosé.
"Ayo kita kesana!" Luca kembali menarik tangan Rosé dan mengajak Rosé sedikit berlari menuju wahana rollercoaster.
"Kau yakin ingin naik ini?" tanya Rosé ragu karena ini kali pertama ia mencoba wahana yang sedikit menguji adrenalin nya.
"Hum!" Luca sangat yakin dan bersemangat ingin mengajak Rosé mencoba rollercoaster.
"Baiklah, siapa takut!" dengan penuh keyakinan Rosé dan Luca menduduki kursi yang sudah di persiapkan.
Aaaaaaaaa
Aaaaaaaaa
Suara mereka yang berada di atas rollercoaster itu terdengar nyaring saat benda besi yang berbentuk kereta itu meluncur kencang di atas relnya.
Tak lama kemudian terlihat Luca turun dengan wajah yang sangat pucat dan ia berjalan dengan sempoyongan, berbeda dengan Rosé, ia turun dengan perasaan bahagia, ia tak menyangka bermain di taman hiburan lebih menyenangkan di bandingkan pergi jalan-jalan ke mall.
__ADS_1
"Hahahahah, kau tidak apa-apa?" tanya Rosé di sela sela tawanya karena melihat wajah Luca yang masih pucat.
"Bisakah kau tidak tertawa!" Luca mempoutkan bibirnya dan hal itu semakin membuat Rosé tertawa.
"Awwww, itu sakit Rosé!" teriak Luca karena gemasnya Rosé tanpa sadar mencubit keras pipi Luca.
"Hahahaha sorry, You very cute, Luca!"
"Are you happy?" tawa Rosé tiba tiba terhenti mendengar pertanyaan Luca, ia menatap wajah Luca yang kebingungan karena wajah Rosé sekarang datar tanpa ekspresi.
"Thank you!" ucap Rosé singkat.
"For what?" tanya Luca yang semakin bingung dengan sikap Rosé yang tiba-tiba berubah.
"Terima kasih sudah membuat aku merasakan lagi kebahagiaan! aku bahkan lupa cara untuk bahagia setelah kepergian orang tua ku!" Rosé mengukir senyum nya kembali dan tanpa menunggu jawaban dari luca sekarang ia yang menarik tangan Luca menuju stan Ice Cream .
"Aku ingin kau mentraktirku Ice Cream!" pinta Rosé kepada Luca dan langsung di sambut Luca dengan anggukkan.
"Pak, Tolong berikan saya 2 Ice Cream rasa coklat dan rasa vanilla!" pinta Luca pada pedagang ice cream tersebut, setelah mendapatkan pesanan nya Luca berjalan kearah Rosé yang sudah duduk manis di bangku yang sudah di siapkan oleh pengelolah taman hiburan.
"Untukmu!"
"Wawww, kau tau saja jika aku sangat menyukai Ice Cream coklat!" girang Rosé melihat Ice Cream coklat yang Luca sodorkan dengan mata yang berbinar binar.
Mereka pun kemudian menikmati Ice Cream tersebut dalam diam.
"Apakah lain kali aku bisa mengajak mu berkencan lagi?" tanya Luca ragu ragu.
Rosé terdiam dan mengalihkan pandangannya kearah Luca, ia menatap Luca serius "Sepertinya aku tidak akan pernah lagi menolak ajakan mu!"
"Sungguh? berarti aku berhasil membuat kau bahagia hari ini?" tanya Luca antusias.
Rosé mengangguk mengiyakan hingga membuat Luca kembali melompat kegirangan, tanpa sadar Luca menarik Rosé kedalam pelukannya "Terima kasih Rosé!" ucap Luca dengan mata berkaca-kaca, hatinya amat sangat bahagia, ia tak pernah merasakan sebahagia ini saat bersama wanita wanita sebelumnya.
Rosé mematung karena begitu terkejut mendapatkan perlakuan tersebut dari Luca, tapi ia juga tak menolaknya, jujur ia merasakan kenyamanan dari pelukan yang Luca berikan.
Selain pelukan Ayah dan dan kakaknya ia merasa pelukan Luca adalah pelukan hangat dan ternyaman yang ia rasakan, Rosé merasa terlindungi di dalam pelukan Luca.
__ADS_1
Karena hari semakin gelap Luca pun mengajak Rosé pulang dan mengantarkan nya di depan gedung apartemennya.