Romansa Mafia

Romansa Mafia
Try to be happy


__ADS_3

Sekarang Lily sedang berada di ruangan kerja Luca, ia terlihat duduk di hadapan Luca dan Leo dengan wajah kebingungan, ia tak tau mengapa Luca menyuruhnya pulang dan seperti ingin menyampaikan hal yang sangat penting.


Suasana terlihat sangat canggung diantara mereka bertiga, tidak seperti pagi tadi.


Namun Lily tidak terlalu ambil pusing karena menurutnya ini sudah biasa terjadi diantara mereka bertiga.


Luca pun mengambil sebuah kertas didalam laci meja kerjanya dan menyerahkan kertas itu pada Leo dan Lily, dengan cepat mereka berdua membaca kertas itu.


Mata Leo membulat, ia menatap sebuah foto wanita yang terpampang di kertas itu, wanita yang beberapa hari ini masuk dalam kehidupannya, namun Leo berusaha untuk tetap tenang menunggu apa yang akan Luca katakan nanti.


"Itu adalah Casandra, anak sahabat Black Tiger, aku baru saja mendapatkan informasi dari seorang informan yang aku kirim untuk memata matain pergerakan Black Tiger!" Luca menatap wajah Leo yang sedikit memucat, ia tau persis apa yang sedang Leo lakukan di luar sana termasuk hubungannya dengan Casandra, namun Luca hanya ingin memantau saja ia tak ingin terlihat ikut campur dalam urusan percintaan Leo, karena ia tau Leo bukan type orang yang mudah lengah.


"Kau mengenal nya?"


Tiba-tiba suara Lily terdengar saat ia menyadari tatapan tak biasa Luca pada Leo seperti sedang mengintimidasi nya.


"Ya, aku mengenalnya bahkan aku sudah pernah bercinta dengannya!" ucap Leo gugup sambil melirik Lily dengan sudut matanya.


"Aku tau itu, kau pernah membawanya ke villa mu!" ucap Luca datar.


Lily menatap Leo tak percaya, bukan karena cemburu tapi ia tidak menyangka jika Leo sedang bermain api dengan musuh mereka selama ini, bahkan orang terdekat dari Black Tiger, orang yang sudah membunuh Daddy mereka.


Sedangkan Leo hanya menunduk karena tidak ingin menghadapi tatapan dingin dari dua bersaudara itu.


"Aku tak bisa melarang mu, kita sama-sama sudah dewasa, sudah tau baik buruknya untuk kehidupan kita kedepan, semua kau yang menentukannya, tapi aku minta kau harus berhati-hati dengan wanita itu, aku takut itu hanya jebakan saja!"


Luca menarik napas berat, lalu menatap Lily dengan tatapan sendu, Luca berdiri dan menarik tangan Lily agar wanita itu berdiri, Luca pun membawa Lily kedalam pelukannya.


"Maafkan aku sudah berbicara kasar padamu pagi tadi!" ucap Luca lembut penuh dengan penyesalan membuat Lily membalas pelukan sang kakak dengan erat.


"Aku hanya tak ingin kau tersiksa lagi, cukup dulu kita tersiksa karena mereka sudah tidak menginginkan kita, bahkan mereka membuang kita saat Appa dan Eomma meninggal!"


"T-tapi brother aku hanya ingin melihat pusaran kedua orang tua kita, sekali saja!"


Luca terdiam, ia sangat mengerti perasaan Lily namun di satu sisi ia juga tidak ingin melihat Lily menderita karena tidak pernah mengetahui asal-usul mereka.


"Baiklah, bulan depan kita akan berangkat ke Seoul, kita akan cari tau dan mengunjungi makam Appa dan Eomma!" ucap Luca lembut sambil mengusap kepala sang adik dengan sayang.


"Really?"


"Sure!"


"Terima kasih brother, aku sangat menyayangi mu!"


"Aku juga sangat menyayangi mu!"


Lily semakin mengeratkan pelukannya di tubuh kekar sang kakak rasa nyaman itu sangat ia nikmati.


Tatapan mata Luca tertuju pada Leo, ia pun merentangkan tangannya mengisyaratkan pada Leo agar ikut bergabung dengan mereka berdua dan dengan senang hati Leo pun berjalan mendekati Luca dan Lily lalu masuk kedalam pelukan Luca bersamaan dengan Lily, menikmati pelukan seorang sahabat yang sudah seperti seorang kakak untuknya.


"Aku tidak bisa menolak keinginan kalian dan membuat kalian bersedih, karena kebagian kalian adalah prioritas utama ku hanya kalian yang sekarang aku miliki!"


Suasana terasa sangat haru. Senang, bangga, dan bahagia menjadi satu, terlebih Lily, ia merasa kasih sayang kakak nya itu adalah kasih sayang terbaik di sepanjang hidupnya.


Luca tidak pernah sekalipun menolak apapun keinginan Lily, ia akan berusaha sekuat tenaganya untuk mengabulkannya.


Kemudian Leo merelai pelukannya pada Luca dan menatap wajah Luca "Mulai sekarang aku akan menjauhi Casandra-"


"Tidak, kau tidak perlu melakukannya, siapapun wanita yang kau cintai aku akan selalu mendukungmu! aku hanya ingin kau lebih waspada, karena itu semua tidak akan berjalan dengan baik dan kau tau, keinginan Black Tiger untuk menghancurkan kita sangatlah besar, aku hanya tidak ingin kau terjebak dalam situasi sulit!"


"Baiklah, aku akan lebih berhati-hati lagi Brother!"


"Siapa laki-laki yang mengantar mu tadi Ly?" pertanyaan Leo itu sontak membuat Lily melepaskan pelukannya dan menatap Leo dan Luca secara bergantian.


Ia tak menyangka jika Leo melihat Louis mengantarnya pulang.


"Dia Louis!" jawab Lily singkat.


"Apa dia pacar mu?" tanya Luca


"Tidak, dia bukan pacarku tapi dia sudah berkali-kali mengungkapkan perasaannya padaku!" Lily kembali duduk meninggalkan tatapan bingung dari dua pria yang selalu menjaganya dengan baik.


"Kenapa? apa kau tidak mencintainya?" tanya Leo.


"Aku sangat mencintainya!"


"Lalu?"

__ADS_1


"Aku hanya tidak ingin menarik dia kedalam kehidupan kita yang berbahaya ini, dia pria yang sangat baik dan aku juga takut ia pergi meninggalkan ku setelah mengetahui siapa kita sebenarnya!"


"Tidak Ly, jangan pernah berfikir seperti itu! karena, jika dia benar-benar mencintai mu apapun tentang dirimu tidak akan pernah bisa melunturkan rasa cintanya!" Luca menghampiri Lily dan memegang kedua bahunya "Belajarlah untuk membuka hatimu, dan kenalkan dia kepada kami berdua agar kami bisa tau apakah dia orang yang tepat untukmu!"


Lily terdiam, ia hanya mengangguk mengiyakan permintaan Luca namun hatinya masih bergejolak dengan rasa takut itu, walaupun ia sedikit membenarkan ucapan tetap saja itu tidak membuatnya yakin untuk memulai suatu hubungan.


Drettt..


Drettt..


"Sudah beberapa hari kau pulang dari Swiss, tapi sampai saat ini kau tidak pergi menemui ku!"


Luca tersenyum manis menatap layar ponsel yang menampilkan pesan singkat dari Rosé.


"Aku akan keluar sebentar, sebaiknya kalian istirahat, dan kau Lily segera mandi karena parfum pria itu sangat melekat di tubuh mu!" ucapan Luca sontak membuat mata Lily melotot dan dengan cepat ia memukul tangan sang kakak karena berani beraninya mengatakan hal yang membuat wajahnya memerah.


Lily berjalan meninggalkan Luca yang sudah tertawa karena Lily sudah mempoutkan bibirnya sehingga membuat ia terlihat sangat lucu, sedangkan Leo hanya diam tak suka.


Rasa cemburu Leo sangat kentara sehingga setelah Lily menghilang dari ruangan itu, Luca yang peka pun menghampiri Leo yang masih duduk berdiam diri menatap kearah jendela yang menyajikan langit yang sudah gelap.


"Belajarlah untuk merelakan sesuatu yang bisa membuat mu bahagia, walaupun bukan dengan kau Lily bahagia! karena kau pun masih bisa membahagiakan Lily dengan Kau tetap menjadi Kakak untuknya!" Luca menepuk bahu Leo, ia tau walaupun Leo sudah berkencan dengan wanita yang bernama Casandra namun Leo masih berharap Lily membalas cintanya.


"Maafkan aku, aku terlalu egois tapi sampai saat ini Cinta ku pada Lily tetap sama! tapi aku berjanji tidak akan melepaskan siapapun orang yang berniat menyakitinya"


"Sama, akupun tidak akan membiarkan adikku terluka, tapi percayalah semuanya pada Lily karena ia tau kebahagiaan apa yang dia cari!"


Luca berjalan meninggalkan Leo di dalam ruangan itu sendiri, ia berencana berkunjung ke cafe tempat Rosé bekerja karena sejujurnya ia pun sangat merindukan gadis itu.


Dengan langkah kaki yang ringan Luca berjalan menuju garasi mobil tempat mobil mobil mewah miliknya terparkir rapi.


Namun Luca lebih memilih memakai mobil biasa karena Luca masih belum siap mengatakan siapa dia sebenarnya kepada Rosé.


Sebenarnya rasa takut yang Lily rasakan itupun ia rasakan juga namun Luca berusaha untuk membuat Rosé yakin terlebih dahulu akan cintanya, setelah itu ia akan berkata jujur kepada Rosé tentang siapa dia sebenarnya.


...***...


"*Louis, bisa kita bertemu sekarang? aku menunggumu di tempat biasa"


"Baiklah aku segera kesana*!"


Louis pun membelokan mobilnya menuju sebuah cafe dekat pusat perbelanjaan, ia memarkirkan mobilnya dan berjalan memasuki cafe tersebut.


Terlihat seorang wanita muda dan cantik sedang mengaduk aduk coklat didalam gelasnya tak bersemangat, wajahnya terlihat sangat murung.


Ehemmm...


Louis berdehem membuat wanita itu mendongakkan kepalanya dan memasang senyum manis kepada Louis.


"Silakan duduk!" titah wanita itu sambil menunjuk kursi yang berada di depannya, dengan senang hati Louis pun menurutinya.


"Sepertinya suasana hatimu sedang tidak baik?"


"Ya, suasana hatiku terasa buruk, sudah beberapa hari ini Leo tak menghubungi ku! aku tidak tau hubungan apa yang sedang aku jalani sekarang!"


"Kau sudah coba menghubungkannya?"


"Belum!"


Louis pun menggeleng geleng kepala, dengan kelakuan wanita tersebut.


"Coba kau hubungi dia, dan bicarakan semua yang kau rasakan dari hati ke hati, aku yakin kau akan mendapatkan semua jawaban dari keraguan hatimu tentangnya!"


Louis mengesap kopi yang sudah di hidangkan oleh pelayan dan memandang wajah polos wanita yang seperti seumuran dengan adiknya.


Mereka pun berbincang bincang dan terlihat semakin akrab, sampai saat suara ponsel Louis terdengar membuat ia menghentikan obrolannya sejenak dengan Casandra.


"Aku permisi sebentar!" ucap Louis pada Casandra saat melihat layar ponselnya yang tertera my Lily.


"Halo Louis!"


"Ya Ly, ada apa?"


"Emmm, kau sudah sampai di rumah?"


"Eeeee,, emmmm, aku, aku masih di luar sedang bertemu dengan rekan kerja ku! tadi saat di jalan ia meminta ku untuk menemuinya!" bohong Louis.


"Owh, ya sudah jika pulang nanti kau hati hati membawa mobilnya! aku tutup dulu"

__ADS_1


"Hem, selamat beristirahat my Lily! have nice dream!"


"Terima kasih, Good Night!"


"Night too!"


Senyum Louis mengembang sempurna "Semoga ini awal yang baik!" gumam Louis sambil memasukkan ponselnya kedalam saku celananya dan berjalan kembali menuju Casandra yang sedari tadi memperhatikannya.


Sedangkan Lily memegang dadanya yang berdegup kencang, entah mengapa setelah mendengar ucapan Luca ia perlahan-lahan mencoba membuka hatinya dan mencoba menerima kehadiran Louis di dalam kehidupannya, semuanya terukir manis, Lily juga memegang bibirnya perlahan, mengingat Kecupan manis yang Louis berikan siang tadi.


"Aku harap kau tidak pernah mengecewakan ku, dan menyakiti hati ku!" Lily mulai memejamkan matanya, mencoba mencari mimpi indah dalam tidurnya sambil mengingat wajah Louis yang sangat sempurna itu.


Sedangkan Louis sekarang sedang mengantar Casandra pulang karena kebetulan Casandra tidak membawa mobilnya dan dengan inisiatif Louis menawarkan tumpangan untuknya.


Sepanjang perjalanan mereka selalu bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing dan dari situlah Louis mulai mendapatkan informasi informasi tentang Casandra dan hubungannya dengan Mr Daniel, dan tanpa sadar Casandra pun membuka indentitas asli dari Mr Daniel yang dikenal Black Tiger di kalangan Mafia Kelas kakap.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang!"


"Hey, tak perlu berterima kasih, itu sudah kewajiban ku! aku tidak akan membiarkan seorang wanita pulang sendiri malam malam begini!"


"Kau berlebihan, aku bisa meminta sopir Daddy menjemput ku!"


"No Casandra, aku harus memastikan kau pulang dengan selamat, karena jika tidak aku akan mengutuk diriku karena tidak bisa menjagamu, kau sudah ku anggap seperti adikku sendiri!"


"Well, sekarang aku memiliki seorang kakak yang sangat posesif hahahaah!"


Mereka pun tertawa puas, kemudian Casandra pun keluar dari mobil Louis dan berjalan masuk kedalam kediamannya dengan riang, ternyata bertemu dengan Louis bukanlah hal yang buruk, karena Kasandra yang hanya anak tunggal terkadang sering membuatnya merasa kesepian, maka dari itu dengan senang hati ia menganggap Louis adalah orang yang tepat untuk berperan sebagai seorang kakak untuknya.


...^^^***^^^...


Saat ini Luca berdiri tidak jauh dari cafe tempat wanita pujaannya bekerja dengan sebuket bunga yang berada di tangannya, ia dengan sabar menunggu Rosé menyelesaikan pekerjaannya, dan setelah menunggu sekitar 30 menit akhirnya Rosé pun keluar dari cafe tersebut dan berlari mendekati Luca.


"Miss you!"


"Miss you too!"


Luca menarik tubuh Rosé kedalam pelukannya, menyalurkan rindu yang beberapa minggu ini tertahan, walaupun belum ada ungkapan cinta yang resmi tapi untuk mereka itu bukan lah hal penting untuk mengetahui perasaan satu sama lainnya, semua tindakan yang mereka lakukan adalah ungkapan cinta yang mengalahkan kata kata romantis.


"Maafkan aku yang beberapa minggu ini terlalu sibuk!"


"It's ok, aku memakluminya!"


"Kau sudah makan?"


Rosé menggelengkan kepalanya memasang wajah bak anak kucing yang sedang memelas membuat Luca gemas ingin mencubit kedua pipi Rosé.


"Ayo, kita makan setelah itu aku akan mengantarmu pulang!"


Luca menuntun Rosé menuju parkiran mobilnya dan membukakan pintu untuknya.


"Bagaimana pekerjaan mu hari ini?"


"Hemmm, seperti biasa! tidak ada yang spesial dari pekerjaan itu! namun aku tetap menikmatinya!" ucap Rosé santai


Luca sangat kagum dengan semangat Rosé yang menjalani kehidupan yang pahit ini, membuat Luca semakin jatuh hati pada gadis berdarah Australia itu.


Mereka pun sampai di sebuah restoran mewah, hari ini Luca ingin memberi yang terbaik untuk sang pujaan hatinya.


"Kau serius ingin mengajakku makan disini?" tanya Rosé yang sedikit ragu karena makan di restoran mewah ini bisa menghabiskan uang gajinya selama sebulan.


"Yups, kau tenang saja aku baru saja mendapatkan bonus karena kerja keras ku Minggu ini!" Luca melihat keraguan di wajah Rosé pun berusaha meyakinkannya jika ia tidak perlu memikirkan apapun, bahkan Luca bisa saja menyuruh Rosé untuk berhenti bekerja karena ia sanggup untuk menyenangkan Rosé dengan materinya.


Namun tentu saja itu tidak akan ia lakukan, karena indentitasnya belum di ketahui oleh Rosé dan itu akan membuat Rosé curiga.


Tanpa banyak kata Luca pun menggandeng tangan Rosé yang sedikit dingin, Rosé merasa tidak pantas untuk masuk ke dalam restoran mewah ini, namun genggaman tangan Luca selalu memberi kekuatan untuknya.


Mereka pun berjalan masuk dan mulai di layani oleh pelayan restoran itu, memesan semua makanan spesial dari restoran itu.


"Bagaimana, apakah ini enak!" tanya Luca yang melihat Rosé dengan lahap memasukan makanan kedalam mulutnya.


"Ini sungguh enak, aku belum pernah merasakan makanan seenak ini!" ucap Rosé dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Sungguh membuat Rosé bahagia tidaklah susah, saat memakan makanan yang terasa enak hatinya seketika akan merasakan bahagia.


Luca tersenyum dan mengusap lembut ujung bibir Rosé yang terdapat sisa makanannya, sungguh Luca ingin melihat pemandangan ini setiap hari dan keinginan membina bahtera rumah tangga pun semakin besar.


...***...

__ADS_1


__ADS_2