Romansa Mafia

Romansa Mafia
I'm sorry brother


__ADS_3

Pagi ini terasa hening kicau burung, hanya terdengar suara dedaunan yang bergerak riang tertiup angin.


Entah mengapa pagi ini Lily terlihat duduk merenung di depan jendela kamar nya, pemandangan gedung gedung bertingkat sepertinya bukanlah pemandangan yang indah namun sudah satu jam ia duduk di sana.


Perlahan terdengar tarikan nafas yang sangat berat, seakan menyimpan berjuta beban yang tak mampu lagi di pikul, kisah hidup yang kadang memaksa ia untuk menjadi orang asing pun harus ia lakoni hanya untuk sekedar mendapatkan sedikit ketegaran dalam menjalani cerita nya.


LILY POV.


Setelah mendengar ucapan Uncel Marco hatiku semakin kacau, aku tidak tau lagi apa yang harus aku lakukan, bahkan bayangan Louis pun selalu bermain di dalam pikiran ku.


Ku tarik napas ku berat, berharap sedikit beban keluar dan hilang di bawa angin.


Aku lelah, lelah menjadi pemeran di dalam cerita pahit yang tak pernah menguntungkan ku.


Aku ingin hidup seperti layaknya wanita yang lain, yang memiliki kebahagiaan tanpa rasa was-was di setiap detik.


Bahkan untuk merespon laki laki yang bernama Louis pun sekarang aku takut, aku takut untuk menitipkan separuh hati ku padanya, bukan karena takut dia menyakiti ku, tapi aku takut ia akan tersakiti karena mencintai ku.


Namun aku harus bagaimana?


Aku tidak dapat menghindar!


Sudahlah, aku akan berusaha untuk tidak bermain dengan cinta, aku akan berusaha menjadikan perasaan ini menjadi kekaguman karena kegigihannya saja, tanpa harus melibatkan cinta antara aku dan Louis.


Ku ambil lagi napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan, lalu ku langkahkan kaki ku keluar kamar, terdengar hentakan sepatu boots hitam yang aku kenakan menggema didalam ruangan, membuat semua pria pria bertubuh besar dan memakai jas hitam menunduk hormat kepada ku.


Saat tiba di ambang pintu aku melihat Luca dan Leo telah duduk di tempat mereka masing-masing dengan di temani cangkir cangkir kopi kesukaan kami dan beberapa hidangan yang akan menjadi sarapan kami pagi ini.


Aku memejamkan mataku sejenak, meyakinkan hatiku sesaat, aku harus memulainya dari awal lagi.


Aku tak ingin penyesalan selalu datang untuk ku, membuat penyiksaan yang tak pernah terbatas di sepanjang hidup ku.


Setelah merasa yakin, aku melangkah perlahan, mendekati dua laki laki yang sangat berharga dalam hidup ku, dua laki laki yang selalu berusaha melindungi ku dari segala ancaman, dan dua laki laki yang tak pernah tidak memberikan apapun yang aku minta, bahkan jika aku meminta mereka untuk memberikan nyawanya saja mereka pasti akan melakukannya.

__ADS_1


"Morning!" sapaku. kuberikan sebuah kecupan manis di pipi Luca kakak ku ini, kupeluk tubuh kekarnya dan aku juga merasakan jika tubuhnya menegang karena keterkejutan dengan perlakuan ku.


Setelah itu ku berikan kecupan singkat di pipi Leo sebagai salam manis di pagi hari.


Aku melakukannya lagi, setelah sekian lama ritual ini menghilang dari kehidupan kami karena amarah ku pada Luca, tapi setelah mendengar kata manis saat ia membawa ku kedalam kamar itu aku menyadari kepedihan hati Luca ku perlakuan dingin seperti itu menjadi siksaan batinnya selama ini.


Aku tak boleh egois, apapun yang terjadi kepada Daddy itu juga bukan kehendak Luca, dan harusnya aku tidak boleh menyalahkannya.


"Morning Lily!" walaupun sedikit terkejut Leo berusaha untuk tetap tenang mengapa ku, melemparkan senyum manisnya kepada ku.


Tidak seperti kakak ku Luca ia terlalu terkejut dengan perubahan ku pagi ini, mungkin sekarang ia berfikir apakah saat mengangkat ku ke kamar ia tak sengaja membenturkan kepala ku! atau selama di Swiss aku memakan makanan yang membuat ku amnesia dengan sikap dingin ku padanya.


Hahahahah lihatlah, kakak ku ini masih memasang wajah bodohnya, ia terlihat sangat bodoh bahkan ia tak tampak seperti seorang pemimpin Mafia.


"Jika kau selalu memasang wajah bodoh mu itu, aku yakin gelar king mafia tidak cocok untukmu!" ku kulum senyum ku, berusaha tidak tertawa melihat Ekspresi wajahnya.


Akhirnya beberapa kali ia mengerjapkan matanya ia tersadar dan akhirnya senyum lebar terukir di wajahnya.


Lihatlah tanpa aba aba ia memeluk tubuh mungil ku ini, tubuhnya yang besar menenggelamkan aku dalam pelukan hangatnya, pelukan seorang kakak yang sangat merindukan adiknya.


Kerinduan itu sangat terasa, karena walaupun kami selalu bertemu tapi ia selalu merindukan aku yang dulu seorang gadis yang selalu bersikap hangat dan manja kepadanya.


Setelah puas ia memelukku, kemudian ia menatap wajah ku dengan bahagia, lihatlah kakak ku ini makin seperti orang bodoh, ia menciumi wajahku dengan sayang dan satu lagi ia menangis, Luca yang ku tau tak pernah menangis sekarang justru ia menyampak kan air matanya secara cuma-cuma.


"Maafkan aku! maafkan sikap ku selama ini, harusnya aku tak menyalahkan mu dan menghukum mu seperti itu, maafkan aku terlambat menyadari keegoisanku!"


"Tidak Ly, kau memang pantas menghukum ku, aku terlalu lalai hingga membuat Daddy meninggalkan kita, aku berjanji aku akan menghabisi dalang di balik kematian Daddy, kau sabar saja, aku masih menyelidiki dalang yang membunuh Daddy!"


Aku mengangguk dan kembali memeluk erat tubuh Luca, merasakan kehangatan kasih sayang nya.


Ya, aku memang harus berdamai dengan keadaan, karena hanya Luca lah keluarga yang aku punya, aku tak ingin keegoisanku membuat hubungan ku dengan Luca semakin membangun dinding pemisah.


"Ayo kita sarapan!" ajaknya

__ADS_1


Aku mengangguk namun sebelumnya ku hapus sisa air mata yang masih membasahi pipinya.


"Don't cry, you don't look handsome anymore!" ledek ku, ia pun kembali mencium kening ku dengan sedikit menunduk karena perbedaan tinggi tubuh kami yang sangat jauh.


"Kenapa kau semakin pendek, hum?"


"Aku tak semakin pendek, kau saja yang semakin tinggi!" aku mempoutkan bibirku saat Luca mulai body shaming kepada ku.


"Pipi mu juga semakin tembam seperti roti!" good! kali ini Leo yang bersuara membuat aku ingin memukul perutnya yang seperti roti sobek itu, mereka pun tertawa puas dapat membully ku habis habisan.


Aku pura pura merajuk dan membelakangi mereka, membuat mereka yang tertawa kembali terlihat panik karena mereka tak ingin aku kembali lagi ke sifat dingin ku.


"Duhhh, my Lily merajuk! ayo kita sarapan dulu!"


Dengan suara yang di imut imut kan, Luca berusaha membujuk ku.


"Aku mau kau menyuapiku!"


"Baiklah my little Lily!" Luca menggiring ku kembali duduk, ia dan Leo pun kemudian duduk di samping kanan kiri ku , dengan penuh kasih sayang Luca menyuapkan potong roti yang sudah ia beri selai kacang kesukaan ku, sedangkan Leo menyodorkan segelas Susu coklat kepada ku.


"Tunggu dulu! kau memberikan susu coklat seperti aku ini anak kecil saja!" protes ku karena aku memang sedikit tidak suka dengan minuman bernama susu.


"Untuk hari ini kau adalah little Lily kami, jadi untuk hari ini tidak akan ada kopi untukmu yang ada hanyalah susu coklat!" jelas Leo.


Lihatlah, kakak kakak ku ini keterlaluan sekali, aku gadis berumur 20 tahun di perlakukan seperti bocah berusia 5 tahun, dan kali ini aku tidak bisa lari dari perlakuan mereka.


Akhirnya dengan pasrah aku meneguk susu coklat yang Leo sodorkan untukku, dan itu berhasil membuat Leo dan Luca tertawa menang melihat kepasrahan ku.


...***...


Tanpa mereka bertiga sadari ada seorang laki-laki paruh baya tersenyum bahagia dan tanpa sadar menitihkan air mata, ia adalah Roger yang sudah ikut andil membesarkan mereka bertiga.


Dengan melihat kehangatan diantara mereka pagi ini membuat atmosfer kebahagiaan di mansion ini mulai kembali lagi terasa.

__ADS_1


__ADS_2