Romansa Mafia

Romansa Mafia
Chef muda


__ADS_3

"Hai, maaf sudah membuat mu menunggu lama!"


"It's ok, itu tidak menjadi masalah! Mau pesan apa?"


"Aku pesan coklat panas saja!"


"Hey, kau seperti adikku saja, ia seorang penggemar coklat!"


"Benarkah?"


"Ya!"


"Adik mu laki laki atau perempuan?"


"Adikku perempuan!"


"Wow lain kali kau harus mengenalkan dia kepada ku!"


"Hem, next time aku akan mengajakmu makan di cafe tempat ia bekerja, sepertinya kalian seumuran!"


"Really?"


"Ya! ngomong ngomong apa aku mengganggu jadwal kuliah mu?"


"Tidak, kebetulan jam kuliah ku sudah selesai!"


"Syukurlah, maaf aku baru bisa menghubungi mu! beberapa hari ini aku sedikit sibuk!"


"Tak apa, aku juga beberapa hari ini sedikit sibuk dengan tugas kuliahku!"


Laki laki itu berdiri dan berjalan untuk memesan coklat panas, setelah mendapatkan pesanannya ia pun kembali duduk tepat di depan gadis itu.


"Oh ya, waktu itu aku melihat kau bersama laki laki-"


"Dia Leo kekasih ku!"


"Wow, apakah dia tau kau menemui ku? emmm, maksud ku apakah nanti dia tidak akan cemburu dengan ku?"


"Tidak Louis, dia orang yang baik! kami juga baru beberapa minggu berpacaran, namun setelah itu kami sangat jarang bertemu karena kesibukan kami masing-masing!"


Louis menganggukkan kepalanya, ia tak menyangka jika Casandra yang terlihat sangat polos itu memiliki kekasih yang wajahnya seperti seorang mafia.


Hari ini Louis sengaja menghubungi Casandra dan mengajaknya Hang out di cafe pertama kali mereka bertemu.


Awalnya Louis ragu untuk menghubungi Casandra karena hatinya masih kacau karena ulah Lily yang menghilang tiba-tiba, namun karena tidak tahan mendapatkan desakan dari Elena, Louis pun terpaksa melakukan pekerjaan nya dengan setengah hati.


"Oh ya, apa kau di sini tinggal sendirian?"


"Ya, karena Daddy dan Mommy ku menetap di Korea, mereka hanya mengunjungi ku tiga bulan sekali atau jika mereka sedang melakukan pertemuan dengan sahabat lamanya saja di sini!"


"Apa kau tidak merasa sedih terpisah jauh dari orang tua mu?"


"Tentu tidak Louis, aku adalah anak yang mandiri dan memang sedari kecil aku selalu di tinggal pergi kedua orang tua ku saat mereka mengadakan perjalanan bisnis, dan akhirnya aku akan tinggal bersama Kakek dan nenek ku! lalu bagaimana denganmu?" Casandra bertanya balik kepada Louis.


"Aku?"


"Ya!"


"Aku hanya tinggal berdua saja dengan adik perempuan ku, orang tua kami sudah lama meninggal, sebenarnya saudara Ibuku yang di Australia menyuruh kami untuk pindah ke sana tapi karena kami tak ingin merepotkan mereka dan adikku pun tak menginginkannya, akhirnya kami berdua memutuskan untuk tetap tinggal di sini dan menjalani hidup kami di sini!"


"Wow, kalian berdua sangat hebat, dan aku sangat iri dengan adikmu karena memiliki kakak yang sangat menyayanginya!"


"Ya, dia adalah hartaku satu satunya jadi apapun yang membuat ia bahagia aku akan berusaha mewujudkannya" Louis tersenyum manis menatap wajah cantik Casandra yang sangat polos itu.


"Lalu apakah kau sudah memiliki kekasih, atau tunangan?"


"Seperti yang kau lihat jari manis ku ini belum ada cincin yang melingkar di sini, itu artinya aku belum terikat dengan siapapun, tapi ada seseorang yang sudah tanpa izin mengikat hatiku!" ucap Louis sambil menunjukkan jari manis nya kepada Casandra.


"Wanita itu pasti sangat cantik!"


"Tidak hanya cantik, ia pun sangat unik dan misterius!"


"Kau harus secepatnya mendapatkan wanita itu, kalau tidak kau akan menyesal!"


"Pasti suatu saat aku akan mendapatkannya!"


Louis menatap jalanan yang sedikit mulai ramai, terlihat banyak orang berlalu lalang namun tiba-tiba Louis menyipitkan matanya untuk mempertajam penglihatannya, ia melihat seorang yang sangat familiar sedang duduk di dalam mobil Jeep hitam yang sambil memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di dekat jendela mobil.


"Lily!"


Ucap Louis sedikit berbisik dan nyaris tak terdengar, pandangan mata Louis tak lepas dari mobil itu sampai lampu jalanan berubah hijau hingga membuat mobil itu berjalan kembali.


Hati Louis semakin tidak tenang, jika saja ini bukan sebuah tugas ingin rasanya ia meninggalkan Casandra dan pergi berlari mengejar mobil hitam yang membawa Lily.


Louis sangat yakin jika itu Lily, ia tidak mungkin salah lihat, namun apa daya ia harus mengenyampingkan urusan hatinya karena tugas yang sudah ia tunda tunda beberapa hari ini.

__ADS_1


Dilain tempat.


Setelah menghabiskan waktu setengah hari di panti asuhan Lily pun memutuskan untuk pulang, didalam perjalanan ia hanya terdiam dengan sejuta pemikirannya yang selalu memberontak dalam kepalanya, rasa letih jiwanya selalu berperang dengan logika yang harus ia tuntaskan.


"Paman, nanti turunkan aku di cafe depan taman kota, aku ingin minum kopi sejenak di sana!"


"Baiklah nak, apa perlu paman tunggu?"


"Tidak perlu paman, aku bisa pulang sendiri!"


"Baiklah!"


Saat mobil Jeep hitamnya berhenti di persimpangan lampu merah, entah mengapa jantung Lily berdegup kencang, ia memegang dadanya lalu memejamkan mata sejenak untuk menenangkan degup jantung yang terasa sangat aneh, sampai ketika wajah Louis kembali hadir di kepalanya, Lily pun menyandarkan kepalanya di kaca jendela tanpa membuka matanya.


Setibanya di depan cafe tersebut Lily langsung masuk kedalam cafe.


Senyum manis Rosé seketika menyambut Lily yang sudah menjadi pelanggan tetap dalam beberapa minggu ini.


"Selamat sore Nona!"


Sapa Rosé ramah.


"Nama ku Lily, bukan Nona!"


"Ah,, maafkan aku Ly, aku hanya masih sedikit canggung karena kau adalah pelanggan cafe ini!"


"Baiklah, bagaimana jika kita berteman!"


"Berteman?"


"Ya, jika sekarang kita berteman berarti aku bukan hanya sekedar pelanggan cafe ini saja melainkan temanmu juga!"


"Hahahaha, terserah kau saja! dan sekarang kau ingin memesan makanan favorit mu?"


ucap Rosé dengan sedikit terkekeh melihat wajah Lily yang sedang mempoutkan bibirnya.


"Hemmmm, karena hari ini kau resmi menjadi teman ku jadi aku ingin kau yang memilih kan makanan untuk ku!"


"Baiklah, tunggu sebentar!"


Rosé kemudian meninggalkan Lily dan berjalan menuju pantry order, Rosé memesan menu baru yang di buat oleh chef handal cafe ini.


"Chef, bisa kau berikan menu baru yang berasal dari negara mu? aku rasa teman ku pasti sangat menyukainya!" ucap Rosé pada chef mudah yang memiliki tampang yang sangat cool itu.


"Buatkan saja chef, aku sangat yakin di pasti menyukainya!"


"Baiklah, kau tunggu sebentar, aku akan memasak nya!"


Dengan keahlian nya chef muda itu memainkan wajannya dan serta kelihaian ia menggunakan pisau membuat ia semakin berkarisma.


Hanya membutuhkan waktu 10 menit akhirnya makanan itu pun sudah terhidang sangat apik di dalam mangkuk, aroma khasnya memenuhi ruangan pantry tersebut.


"Semoga setelah memakan makanan ini teman mu tidak menuntut ku dan memasukkan ku ke penjara!" chef muda itu pun tertawa dan menatap Rosé dengan penuh makna.


"Itu tidak mungkin!"


Rosé yang ikut tertawa segera mengangkat mangkuk tersebut untuk di hidangkan kepada teman barunya itu.


"Sampai kapan kau tetap menutup mata mu Rosé? apa kau tidak pernah melihat rasa cinta ku ini?"


Chef muda itu bergumam didalam hati sambil menatap punggung Rosé yang sudah menghilang di balik pintu pantri.


"Hai Ly, aku harap kau suka dengan masakan chef handal kami dan jika kau tidak suka kau jangan menuntutnya ya!"


Rosé yang datang dengan semangat bersama sebuah mangkuk yang tertutup membuat Lily semakin penasaran makanan apa yang di bawa oleh teman pertamanya ini.


Ya, Rosé adalah teman pertama Lily, selama ini Lily tidak pernah memiliki teman, ia selalu menutup dirinya itu pun terpaksa ia lakukan karena ia tak ingin identitas nya di ketahui oleh orang lain.


Walaupun ia menyicip pendidikan yang tinggi tapi Daddy nya selalu memberikan semuanya secara private alias home schooling yang membuat Lily semakin terbatas berinteraksi dengan lingkungan luar.


"Wah aku semakin tidak sabar!"


Rosé meletakkan mangkuk itu tepat di depan Lily dan membukanya.


"Silahkan di nikmati!"


Mata Lily membulat, mulutnya terbuka lebar ia sangat terkejut dengan menu yang di hidangkan oleh Rosé.


Melihat ekspresi Lily seperti itu membuat Rosé sedikit merasa gugup, ia takut jika Lily tidak menyukai hidangan itu atau bahkan Lily akan menuntutnya.


Ah, itu terlihat seperti berlebihan tapi nyata itu yang sedang Rosé rasakan.


Lily memegang sendok dan mulai menyendok kan makan itu lalu memasukkan nya kedalam mulutnya, wajahnya masih datar tanpa ekspresi.


"Sepertinya aku akan menuntut chef yang memasak makanan ini!" ucap Lily setelah menelan abis makan yang berada di dalam mulutnya.

__ADS_1


"A-apakah makanan itu terasa sangat buruk? A-aku bisa menggantinya Ly!" Rosé sangat gugup, ia takut jika Lily complaint karena memakan makanan yang tidak enak terlebih makan itu tidak berada di dalam daftar menu.


Melihat wajah Rosé yang gugup dan berkeringat akhirnya Lily tidak bisa menyembunyikan tawanya.


"Hahahaha, kenapa wajah mu ketakutan seperti itu? tenang saja aku tidak akan menuntut mu karena sudah merekomendasikan makanan ini, tapi aku akan menuntut chef handalan kalian karena sudah membuat makanan seenak ini!"


Rosé membulatkan matanya terkejut dengan ulah teman baru nya itu yang sangat jahil.


"Lily kau sungguh menakuti-nakuti ku!" Rosé menyeka keringatnya dengan saputangan yang ia ambil di dalam sakunya.


"Maaf, tapi ini sungguh sangat enak! aku tidak menyangka jika cafe ini memiliki menu makanan Asia!"


"Tidak, restoran ini tidak menyajikan makanan Asia tapi karena chef kami berasal dari Asia dan aku yakin kau juga berasal dari negara yang sama dengan chef, makanya aku meminta ia membuatkannya untuk mu!"


"Wow itu sangat hebat, dan kau tau ini adalah makanan favorit ku saat aku masih kecil, karena nenek ku dulu sering memasaknya untuk ku!"


ucap Lily dengan mata berkaca-kaca, seketika ia merindukan sosok nenek dan kakek mereka yang ia sendiri tidak tau keadaan mereka di sana, apakah mereka masih hidup atau sudah mati karena begitu lamanya waktu memisahkan mereka.


"Really? kalau begitu aku akan memberi tahunya kepada chef kami jika kau menyukainya!" ucap Rosé senang.


"Hum, Katakan juga pada chef kalian, siap siap dia ku tuntut untuk selalu membuat masakan yang enak, kalau ia gagal aku akan memenjarakannya!" Lily mencoba menggoda Rosé, membuat kedua gadis yang berbeda umur namun seperti sebaya itu tertawa puas.


Akhirnya Rosé meninggalkan Lily sendirian karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya, ia pun berjalan menuju pantry dan mencoba menjahili chef muda itu.


"Sepertinya teman ku akan menuntut mu chef!" ucap Rosé tanpa ekspresi.


"Kau serius?"


"Ya!"


"Ya Tuhan, habis lah aku!"


chef muda itu terduduk lesu menyandarkan tubuhnya di dinding pantry yang dingin.


Hahahaha...


"Teman ku akan menuntut mu untuk selalu memasakkan makanan yang enak untuknya!" Rosé pun tertawa puas karena berhasil menjahili pria itu.


"Kau menjahili ku, Rosé!"


Hahahah..


Hahahaha...


"Hem, sudah ku duga tidak ada satu orang pun yang tidak menyukai masakan ku!"


"Huh, percaya diri sekali anda!"


"Tentu karena aku Mino si chef handal!"


Mino mengacak-acak rambut Rosé membuat sang empu refleks menjewer telinga Mino.


Aaaaaaakkkk.


"Sakit Rosé!"


Teriak Mino, ia merasa telinganya seperti ingin lepas karena di pelintir kuat oleh gadis berambut blonde itu.


"Rasakan ini!"


Akhirnya setelah puas Rosé pun melepaskan jeweranny dari telinga Mino.


"Kejam sekali kau, kalau begini tidak ada laki laki yang mau menikah dengan mu!"


"Apa kau bilang, kau ingin telinga mu benar benar lepas?"


"Tidak, tidak Rosé aku tak ingin membuang uang ku untuk operasi telinga!"


"Hemmm, good boy!"


Rosé pun pergi meninggalkan Mino yang masih mengusap telinganya yang memerah sambil tersenyum.


...***...


"Hahahahahah akhirnya rencana ku berhasil mengadu domba mereka dan aku tidak perlu mengotori tangan ini untuk menghancurkan Triple L! dan sedikit lagi aku akan menghancurkan penerus mu Samuel!"


Pria paruh baya itu tertawa puas mendengar berita yang di bawa oleh anak buahnya itu.


Ia menatap bawahannya dengan puas "Jalankan sesuai rencana dengan rapi, biarkan semua terlihat natural dan ingat jangan sampai kalian lalai dan meninggalkan jejak, aku tidak ingin rencana ini berantakan sampai waktunya tiba!"


"Baik Tuan, kami akan melakukan sesuai perintah!"


"Bagus, buat lah mereka semakin saling menyerang dan saling melampiaskan dendam serta amarah, karena aku yang akan menjadi pemenang dari pertikaian mereka!"


Setelah bawahannya pergi, Pria paruh baya itu tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2