Romansa Mafia

Romansa Mafia
Gundah


__ADS_3

"Apa mau mu Kai?" tanya laki laki yang sedikit lebih tua dari pria yang bernama Kai itu.


"Sepertinya kau sudah tau brother, apa yang aku inginkan!" ucap Kai santai, Kai menaikan kakinya di atas meja, membuat pria di hadapannya semakin tersulut emosi.


"Bisa kah kau sedikit sopan kepadaku? aku ini Kakak mu!" teriak pria itu.


"Dengar Jay aku tidak pernah menganggap kau sebagai kakakku lagi, karena kau sudah mengambil seluruh harta warisan Appa, dan kau juga sudah mengambil wanita yang aku cintai!" Kai berdiri dengan kasar dan langsung mengeratkan tangannya di kemeja yang Jay pakai.


"Kau salah faham Kai! aku tidak pernah mengambil seluruh harta Appa karena Appa lah yang memberikan kepercayaan kepada ku untuk meneruskan perusahaan nya kepada ku! dan satu hal lagi aku tidak pernah merebut Jennie dari mu karena Jennie lah yang sudah memilih ku!"


"DIAM KAU!! jangan kau berbicara seolah aku tak tau, aku memang tak pandai mencari muka seperti mu tapi aku tidak terlalu bodoh untuk tidak mengetahui tingkah busuk mu itu Jay!" emosi Kai semakin menguasai dirinya, dadanya turun naik, matanya menatap wajah Jay dengan penuh kebencian seperti ingin sekali membunuh Pria yang berstatus sebagai kakak kandungnya saat itu juga.


"Kau ingat Jay, aku akan mengambil apa yang sudah menjadi milikku, dan satu hal lagi aku pastikan mulai malam ini kau tidak akan pernah bisa tidur dengan nyenyak!" Kai berjalan meninggalkan ruangan Jay dan menutup pintu dengan kasar.


Jay mengusap wajahnya dengan kasar, ia tak pernah menyangka jika hubungannya dengan adik semata wayangnya itu semakin memburuk saat Ayah mereka menyerahkan seluruh harta warisan hanya kepada Jay saja, sedangkan Kai hanya mendapatkan 10% saja, Kai tidak bisa menerima keputusan tersebut, ia menuduh Jay sudah mencari muka dan memfitnahnya di depan Ayah merek.


Tuan Park memang menyerahkan seluruh harta nya kepada anak sulungnya, karena anak bungsu nya itu hanya bisa menghambur hambur kan uang saja, Sedangkan Jay ia seorang anak yang penurut dan seorang pekerja keras, Ayahnya sangat yakin jika Jay mampu mengelola perusahaan yang Tuan Park bangun dari nol.


Ucapan Kai tadi membuat Ayah dua orang anak itu sedikit tidak tenang, ia sangat mengkhawatirkan keselamatan isteri dan anak-anaknya, karena ia sangat tau jika Kai tidak pernah main main dengan ucapannya.


***

__ADS_1


Malam ini terlihat seorang Pria duduk di balkon apartemennya, pandangannya jauh menatap kelap kelip lampu kota yang begitu indah, sesekali ia menyesap kopi yang sudah dingin itu untuk sekedar membantunya melepaskan beban di hatinya itu, namun sesaat pria itu merasakan seseorang yang tak asing berdiri di samping nya "Apakah kakakku ini sudah memiliki kebiasaan memandangi lampu kota?" seseorang itu menatap wajah Louis sejenak dan mengikuti arah pandangan Louis.


"Aku hanya merindukan Ayah dan Ibu saja!" ucap Louis singkat lalu mengangguk habis kopi yang tinggal sedikit.


"Apakah kau juga belum mendapatkan petunjuk tentang orang orang itu?" tanya seseorang itu yang tak lain adalah adik kandung Louis.


Louis menggeleng pelan, tak lama ponselnya bergetar dan ia melihat pesan dari atasannya tapi sepertinya moodnya sangat buruk hingga ia mengabaikan pesan atasannya itu.


Louis memasukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya, ia menarik lembut tubuh adiknya dan memeluknya dengan erat, tak ada protes dari sang adik karena ia tau walaupun Louis seorang laki-laki tegas dan terlihat kuat tapi ia tetaplah seorang anak yang akan lemah jika sudah merindukan kedua orang mereka.


Tanpa adiknya ketahui Louis pun meneteskan air matanya, ia semakin mengeratkan pelukan di tubuh kurus adiknya itu.


***


Lily yang sedang memeriksa beberapa laporan dari pengiriman tiba tiba merasa sangat emosi saat mendengar laporan dari anak buahnya itu "Siapa orang yang berani mengganggu pengiriman itu?" tanya Lily.


"Kami belum mendapatkan informasi tentang dalangnya tapi kami sudah menangkap orang yang mencegat kurir kita, Nona! beruntung ada beberapa dari kami yang mengiringi pengiriman itu hingga bisa mencegah mereka menggagalkan pengiriman itu, mereka sekarang sudah di perjalanan mungkin besok mereka akan tiba di sini!" Pria berbadan besar itu sedikit menunduk, ia tak berani menatap wajah Lily yang sudah memancarkan kemarahan.


Drrrrttt..


Lily menatap ponselnya yang terletak di atas meja kerjanya, ia melihat nama Leo yang menelponnya "Ada apa?" tanya Lily singkat.

__ADS_1


"Ada orang yang menganggu pengiriman yang kami lakukan, beruntung barang itu tetap sampai tujuan dengan aman!" Leo tak mau berbasa-basi saat mendengar nada bicara Lily yang sangat datar, Leo yakin Lily sedang menghadapi masalah yang sama, karena ia juga mendapat laporan dari anak buahnya.


"Sepertinya ada orang yang ingin bermain-main dengan kita!" Lily tersenyum tipis penuh arti, ia mematikan sambungan telepon secara sepihak dan memandang Roger "Bisakah kau cari tahu secepatnya siapa orang yang ingin bermain-main dengan kita?" ucap Lily dan langsung mendapat anggukan dari Roger.


Roger segera keluar dari ruangan Lily bersama beberapa orang bawahannya.


Setelah kepergian Roger Lily menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, ia memejamkan matanya sejenak mencoba mengistirahatkan otak nya yang terasa sangat letih karena beberapa hari ini hatinya terasa gundah, walaupun masalahnya dengan Leo sudah selesai tapi hatinya masih terlihat sangat tidak tenang.


Namun baru beberapa menit mata Lily terpejam tiba tiba wajah Louis kembali hadir di kepala Lily.


"Apa apaan ini, apakah pria itu akan selalu menggangguku seperti ini?" gumam Lily saat ia membuka matanya dengan paksa.


Lily benar benar tak mengerti setelah pertemuan pertamanya yang tidak mengenakkan dengan Pria yang bernama Louis itu, otak nya seperti menyimpan dengan baik wajah pria yang sangat menyebalkan itu, bahkan saat Lily mencari sebuah ketenangan pun sosok Louis akan hadir di kepalanya.


"Aku benar-benar akan gila karena Pria itu!" Lily berdiri dengan kasar, ia berjalan meninggalkan ruangannya dan menuju kamarnya.


Lily berencana akan berendam air hangat untuk merilekskan tubuhnya yang sangat penat, tapi saat ia akan membuka pintu kamarnya ia melihat Luca yang akan masuk ke kamarnya dengan wajah yang sangat bahagia dan senyum yang sudah lama tak pernah ia tampakkan terlihat jelas menghiasi wajah tampannya.


"Sepertinya Leo benar, Luca sedang menyukai seorang gadis!" Lily pun masuk kedalam kamarnya dan mulai menyiapkan air hangat di dalam Bathtub serta menambahkan beberapa tetes minyak esensial lalu menghidupkan lilin aromaterapi yang Lily percaya dapat membantu merilekskan tubuhnya nanti.


Setelah semuanya siap Lily melepaskan semua pakaiannya lalu masuk ke dalam Bathtub.

__ADS_1


__ADS_2