Ruler Of Night

Ruler Of Night
Chap 9. Pertandingan


__ADS_3

Setelah semalaman aku berlatih, hari pun sudah mulai sangat larut malam. Saatnya bagiku untuk beristirahat dan tidur.


Sejak saat itu, aku terus berlatih dengan keras, supaya aku bisa menjadi kuat. Kemudian ke-esokan harinya, seperti biasa aku pergi ke akademi bersama kedua sahabatku yaitu Oda dan Rin.


Sesampainya aku di gerbang desa, aku melihat sudah ada Rin dan Oda yang sedang menungguku.


"Selamat pagi, teman-teman" ucapku menyapa.


"Hari ini kau datang lebih lambat, Yuuta" ucap Rin.


"Maafkan aku semuanya, hari ini aku bangun sedikit kesiangan" jelas ku.


"Ada apa Yuuta ? Apa kau sakit ?" tanya Oda sedikit khawatir.


"Tidak Oda, aku baik-baik saja" jawabku tersenyum.


Rin dan Oda terdiam bingung dengan perasaan mereka yang khawatir dan mencemaskan keadaan ku.


"Baiklah, ayo kita berangkat sebelum terlambat!" lanjutku mengajak Rin dan Oda bergegas dengan semangat.


Lalu kami bertiga pun mulai berjalan menuju akademi kerajaan. Dan setelah kami berjalan cukup jauh, akhirnya kami tiba di akademi.


Saat berada di gerbang pintu masuk akademi, kami terkejut karena sudah ada Shira yang sedang menunggu kedatangan kami.


Dan seperti biasa Kirei dan kedua temannya yaitu Higatsu dan Yoe juga berada di dekat sana, tempat mereka biasa berkumpul sebelum masuk ke ruang kelas.


"Yo!, Akhirnya kalian sampai juga" sapa Shira dengan hangat.


"Selamat pagi, Shira" Serentak kami menjawabnya dengan semangat.


"Eh ? apa kau menunggu kami, Shira ?" tanya Oda.


"Haha, tentu saja… kalian kan temanku yang berharga" jawab Shira tertawa kecil.


"Ya ampun, pagi-pagi sudah menggoda saja" sahut Oda dengan sifat konyolnya.


Kemudian kami pun tertawa setelah mendengar perkataan Oda yang konyol itu.


"Yuuta, bagaimana keadaanmu saat ini ? Setelah kau mendapatkan kabar buruk tentangmu kemarin" tanya Shira yang mengkhawatirkan ku.


"Ah itu… tidak apa, aku baik-baik saja. Selama ada kalian yang mendukungku, aku akan selalu baik-baik saja" jawabku dengan perasaan senang, mengetahui bahwa mereka sangat peduli terhadap ku.


Lalu mereka tersenyum senang melihat ku, dan kembali ceria seperti biasanya.


Setelah itu kami berjalan masuk ke dalam akademi menuju ruang kelas, Namun kami juga harus berjalan melewati kirei dan kedua temanya yang berada di depan koridor.


"Wah… Wah… besar juga keberanian anjing desa ini masuk ke akademi, setelah semua orang tahu kabar buruk tentangnya" ujar Kirei dengan kedua temannya.


Mendengar hinaan itu jelas membuat Shira sangat marah, karena perlakuan seorang bangsawan yang tidak punya etika.


"Shira…" Ucapku mencoba menahan Shira dengan menepuk pundaknya, dan sedikit menggelengkan kepala.


Shira pun mengerti yang ku maksud, dan kemudian kami lanjut berjalan melewati mereka tanpa memperdulikannya.


"Berada dekat dengan Pangeran kerajaan, tidak akan merubah fakta kalau kau itu anak yang payah dan tidak berguna!" ucap Kirei yang merasa kesal karena diabaikan dengan suara yang sedikit lebih keras.


Setelah mendengar itu, lantas membuatku merasa kalau aku harus membalas ucapannya supaya dia bisa diam, Kemudian aku menghentikan langkahku dan melirik ke arah Kirei.


"Teruslah berlatih dan berhentilah bersikap seperti anak manja, jika kau tidak ingin ku permalukan di atas arena suatu hari nanti" ucapku membalas hinaan dari Kirei.


"Heeeh... besar juga nyali anak itu" ujar Yoe dengan senyum sinis.


Setelah mendengar hal itu dariku, seketika membuat Kirei diam terbungkam, dan hanya bisa menahan emosinya.

__ADS_1


"Wah Yuuta, kau berhasil membuatnya diam" ujar Oda sedikit terkejut.


Kemudian kami pun kembali tersenyum dan tertawa kecil sembari berjalan pergi menuju ruang kelas, lalu melakukan kegiatan belajar dan berlatih seperti biasanya.


Hari demi hari pun berlalu, latihan ku di akademi berjalan dengan cukup lancar. Walaupun terkadang ada saja halangan yang menghadang, tetapi aku bisa lalui semua itu bersama dengan teman-teman di sampingku.


Saat kami akan berlatih teknik pedang di arena latihan, di sana sudah terdapat berbagai jenis senjata, dan Guru Hisobu menyuruh kami untuk memilih senjata jenis apapun yang kami suka.


Dari senjata-senjata tersebut terbagi menjadi beberapa Class, yaitu Knight dengan senjata pedang dan perisainya, Archer dengan senjata busur panahnya, Ranger dengan sepasang dua pedang pendek, Valkyrie dengan tombaknya, dan Assassin dengan katananya.


Shira memilih Class sebagai Knight, Oda dengan tombaknya sebagai Valkyrie, Rin sebagai Archer, dan Aku yang memilih senjata katana sebagai Assassin.


Setelah itu kami tidak lagi berlatih teknik pedang dengan Guru Hisobu, Tetapi kami dilatih khusus oleh Guru yang sesuai dengan Class dan senjata yang kami pilih di tempat khusus dari masing-masing Class.


Para guru tersebut yaitu ada seorang Knight yang bernama Ziro, Archer Stela, Ranger Hanz, assassin kojiro, dan seorang Valkyrie yang bernama Megelda.


Mereka adalah orang yang dipercaya oleh pemimpin Class mereka yang disebut sebagai Templar atau Kesatria Agung,


untuk melatih murid-murid di Akademi supaya menjadi Kesatria yang hebat dan kuat.


Saat itu kami belum mendapatkan Class tersebut, untuk mendapatkannya tentu kami harus lulus akademi dan masuk ke dalam pasukan mereka.


Sementara Guru Hisobu mulai mengajarkan kekuatan sihir kepada kami dan melatih kami untuk mengembangkan kemampuan sihir yang kami miliki, meskipun aku tidak bisa menggunakan sihir tetapi aku tetap mempelajari dan memahaminya.


Agar ketika aku sudah berhasil mengaktifkan Mana di dalam diriku, aku bisa langsung menggunakannya dalam pertarungan.


Setelah murid-murid sudah mulai mahir menggunakan kekuatan sihir, lalu Guru Hisobu mengajarkan kami bagaimana mengkombinasikan sihir dengan teknik senjata yang kami miliki.


Kami semua berlatih dengan sungguh-sungguh, meskipun terkadang Shira dan yang lainnya mengkhawatirkan ku.


Namun aku tidak patah semangat, sepanjang malam aku terus berlatih seperti yang diarahkan oleh Ayahku, dan tanpa sepengetahuan orang lain.


Sedikit demi sedikit akhirnya aku dapat menyerap energi alam, dan aku juga berlatih untuk menggunakannya.


Tak terasa dua tahun sudah berlalu dan semua murid sudah berkembang sangat jauh, kehebatan mereka dari teknik pedang dan sihir sudah mulai terlihat.


Hari itu, Guru Hisobu mengajak kami semua ke arena bertarung. Dia ingin melakukan tes terhadap murid-muridnya, untuk mengukur kemampuan dari masing-masing murid.


"Baiklah semuanya, hari ini kita akan melakukan tes pertarungan di arena ini, untuk mengukur kemampuan kalian" ucap Guru Hisobu di tengah arena bersama kami yang sudah berbaris rapih.


"Wah, hebat… akhirnya aku bisa merasakan bertarung di arena pertarungan!" ujar salah satu murid laki-laki dengan semangat.


"Akan ku tunjukkan hasil latihan ku selama ini" ujar salah seorang murid perempuan dengan penuh keyakinan pada dirinya.


Seketika suasana mulai ramai dengan para murid yang begitu bersemangat.


"Akhirnya hari ini tiba juga, untung saja aku sudah makan banyak tadi" ujar Oda dengan tingkah konyolnya.


"Ya ampun, bukankah makan mu selalu banyak, Oda ?" sahutku mengejek Oda.


"Hahaha…" Rin dan Shira yang tertawa mendengar candaan ku kepada Oda.


Lalu oda pun ikut tertawa sembari mengusap kepalanya yang tidak gatal.


"Baiklah semuanya, aku akan membagikan nomor yang berada di sumpit ini kepada kalian.


"Jumlahnya sesuai dengan jumlah kalian yaitu 50, Kalian harus mengambilnya masing-masing satu" ucap Guru Hisobu memberikan arahan.


Kemudian Guru Hisobu memberikan sebuah kaleng kepada murid yang berada di barisan depan, kaleng itu berisi sumpit dan terdapat kertas bertuliskan nomor yang menempel di sumpit itu.


Masing-masing dari kami pun bebas mengambil satu buah sumpit, lalu memberikan kaleng tersebut kepada murid yang lain dengan cara estafet dari barisan depan hingga ke barisan paling akhir.


"Sekarang bukalah kertas yang menempel di sumpit itu" ucap Guru Hisobu menyuruh kami membuka kertas itu setelah semua murid mendapatkan sumpitnya.

__ADS_1


Lalu langsung saja kami membuka kertas tersebut dan terdapat angka yang menjadi nomor pertandingan kami.


"Wah, aku dapat nomor 3 !" ucap salah satu murid perempuan.


"Benarkah ? Aku dapat nomor 10 !" sahut teman yang di sampingnya.


Kemudian suasana pun mulai ramai kembali dengan murid-murid yang membicarakan nomor yang mereka dapat.


"Hey, Yuuta! Kau dapat nomor berapa?" tanya Oda yang menutupi kertasnya dengan menempelkannya di dada.


"Aku dapat nomor 20, kalau kau ?" jawabku yang kemudian bertanya kembali kepada Oda.


"Ets! Kau tidak boleh melihatnya" Ucap Oda menggoda.


"Curang sekali kau Oda!" ujar ku sedikit kesal.


"Shira, kalau kau dapat nomor berapa ?" tanya Oda kepada Shira yang berada di barisan dekat dengan kami.


"Ah, aku dapat nomor 5" jawab Shira sembari menunjukan kertasnya.


"Wah, selisih nomornya jauh beda ya" ucap Oda sedikit terkejut.


"Ayo cepat perlihatkan nomormu!" ucapku memaksa Oda untuk segera memberitahu nomor yang ia dapat.


Namun sebelum Oda memperlihatkan nomor di kertasnya, Guru Hisobu sudah menyuruh kami semua untuk tenang dan memperhatikan.


"Semuanya tenang dan perhatikan!" kata Guru Hisobu dengan lantang.


Seketika semua murid pun terdiam, dan suasana kembali tenang.


"Apa kalian sudah mendapatkan nomor kalian ?" tanya Guru Hisobu.


"Sudah Guru" jawab semua murid dengan serentak.


"Kalau begitu, sekarang perhatikan ini baik-baik" ucap Guru Hisobu yang menunjukan bagan pertandingan kepada kami.


"Ini adalah bagan pertandingan yang akan kita lakukan, kalian bisa lihat sendiri di dalam semua kotak ini terdapat masing-masing nomor seperti yang kalian pegang.


"Pertandingan pertama dimulai dari nomor urutan yang terkecil hingga yang terbesar, yaitu nomor 1 akan berhadapan dengan nomor 2, nomor 3 dengan nomor 4, 5 dan 6, begitu juga dengan seterusnya" ucap Guru Hisobu yang menjelaskan sistem penempatan lawan bertanding.


Setelah mendengar penjelasan Guru Hisobu, semua murid pun melihat kembali nomor yang didapatkan dan mengecek pada bagan pertandingan.


Mereka mencocokan nomor masing-masing dengan nomor yang ada di bagan, dan mengecek pada urutan berapa giliran mereka untuk bertanding.


Nampak Oda yang terlihat sangat terkejut melihat ke arah bagan pertandingan.


"Hey Oda, ada apa denganmu ?" tanyaku dengan sedikit bingung.


Shira yang melihatnya juga ikut merasa heran dan kebingungan.


"Apa ada yang salah, Oda?" tanya Shira.


"T-tidak, tidak ada yang salah" jawab Oda sedikit terbata.


"Lalu kau ini kenapa ?" tanyaku semakin heran.


"A-aku… dapat giliran pertama" jawab Oda yang sepeti tidak ada semangat hidupnya lagi.


"Apa ? Yang benar saja" sahutku yang merasa tidak percaya.


"Oda, jangan-jangan kau…" ucap Shira yang mencoba menebak.


"Benar… aku mendapatkan nomor 1" jawab Oda dengan lesu.

__ADS_1


"Memangnya kenapa ? Bukankah kau sangat bersemangat tadi ?" tanyaku.


"Iya, tapi kalau harus tampil pertama aku merasa sangat grogi. Dan jika aku grogi, perutku juga mulai lapar lagi" jawab Oda yang sembari mengelus perutnya.


__ADS_2