
Latihan bertanding masih berlanjut, beberapa dari kami sudah turun ke arena dan bertarung satu lawan satu dengan lawan latih tanding masing-masing.
Kini giliran Rin yang turun ke dalam arena dan bertanding, meskipun sedikit tidak adil karena yang menjadi lawan Rin adalah seorang murid laki-laki, namun kami harus menerima hal itu untuk kebaikan Rin juga kedepannya.
"Yuuta! Oda! jangan khawatir, Aku akan baik-baik saja," Ucap Rin meyakinkan Ku dan Oda dengan senyumnya.
"Baiklah Rin," sahut Ku dan Oda.
Mendengar perkataan itu membuat Ku dan Oda merasa sedikit lega, kemudian kami berdua pun kembali ke atas bangku penonton karena pertandingan akan segera dimulai.
Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan untuk meringankan beban yang dihadapi Rin, akhirnya hanya dapat menyaksikannya dari atas bangku penonton.
sementara itu Rin yang terlihat begitu berani dengan busur panahnya akan berhadapan dengan seorang murid laki-laki bernama Shin yang menggunakan pedang katana.
"Baiklah semuanya, pertandingan yang ke lima akan segera dimulai !" Ucap Guru Hisobu mengumumkan pertandingan yang akan segera dimulai.
Sontak para murid di atas bangku penonton bersorak ramai dan juga memberikan tepuk tangan mereka kepada kedua murid yang ada di tengah arena.
"Berjuanglah Rin!" Teriak Oda menyemangati Rin dari atas bangku penonton.
Sedangkan Aku hanya terdiam menatap ke arah Rin sembari berharap dalam hati semoga tidak terjadi hal yang buruk kepada Rin.
Rin yang mendengar teriakan Oda pun menatap ke arah kami berdua dan tersenyum dengan sikap yang tenang.
*TENG!!!
Lonceng telah dibunyikan, menandakan pertandingan sudah dimulai. Seluruh murid berteriak keras dengan penuh semangat.
"Bersiaplah, aku tidak akan segan meskipun berhadapan dengan seorang gadis perempuan" Ucap Shin yang bersikap sangat dingin.
Seketika Rin langsung memasang raut wajah yang sangat serius, dan memasang kuda-kuda untuk menyerang dengan busur panahnya.
Dengan tangan yang sudah menyentuh anak panah di punggungnya, Rin pun meletakan sebuah anak panah pada busurnya dan bersiap untuk menyerang.
Persediaan anak panah yang diberikan oleh akademi adalah sebanyak tiga puluh anak panah.
Dengan persediaan sebanyak itu, para murid yang menggunakan senjata busur panah dituntut agar tidak menyia-nyiakan amunisi yang mereka miliki dan memaksimalkan setiap satu serangan anak panah yang mereka lakukan.
__ADS_1
'Tiga puluh anak panah, ini sudah cukup jika hanya untuk berburu di hutan'
Ucap Rin dalam batinnya.
'Tapi yang ku hadapi kali ini adalah seorang assasin yang tangguh, aku tidak boleh melakukan serangan yang sia-sia'
Lanjut Rin memperhitungkan serangan yang akan dia lancarkan.
Dengan energi sihir yang sudah terkumpul pada busur dan anak panahnya, Rin pun langsung melepaskan serangan pertamanya.
Sebuah anak panah melesat dengan sangat cepat tepat ke arah wajah Shin, namun serangan itu dapat dihindari oleh Shin dengan reflek yang sangat bagus darinya yang memiringkan kepalanya.
Meskipun Shin berhasil menghindari serangan yang dilancarkan oleh Rin barusan,
tetapi Shin tetap terkena dampak di pipinya dari sihir angin milik Rin yang menyelimuti anak panahnya dan berputar seperti pusaran.
Kemudian Shin mengusap pipinya dan melihat ke arah belakang tempat anak panah itu mendarat, tampak anak panah itu menusuk ke dinding tembok arena dan membentuk pusaran lubang yang cukup dalam.
Melihat efek yang diberikan oleh serangan barusan membuat Shin berfikir kalau dia harus mulai berhati-hati untuk tidak terkena secara langsung oleh serangan tersebut.
"Serangan yang cukup berbahaya, namun masih sangat lambat," ucap Shin.
Sadar akan serangan yang selanjutnya, Shin pun mulai memasang kuda-kuda dengan memegang pedang ke arah depan menggunakan kedua tangannya.
"Akan ku tunjukkan kekuatan sihir angin yang sebenarnya," ucap Shin menggertak.
Elemem dari energi sihir yang dimiliki Rin dan juga Shin adalah sama-sama angin, namun dengan senjata yang berbeda di tangan masing-masing.
"Hempaskanlah semua yang ada di hadapan mu, wind tornado arrow !" Rin melancarkan serangannya yang kedua, namun kali ini dia tidak menahan dirinya.
Sebuah anak panah melesat dengan cepat seakan membentuk pusaran tornado angin yang menusuk, juga dampak area yang cukup besar dari sihir angin tersebut dapat memberikan serangan yang sangat kuat.
Shin tampak cukup panik ketika dirinya melihat serangan sebesar itu sedang mengarah kepadanya.
"Tcih, ini akan sulit untuk dihindari, namun juga tidak bisa untuk menahannya," ucap Shin yang memikirkan cara untuk menghindari serangan tersebut.
Kemudian Shin mengalirkan energi sihir di pedangnya sehingga muncul pusaran angin kecil yang menyelimuti pedangnya.
__ADS_1
Shin melompat ke atas dan melontarkan pusaran angin yang ada di pedangnya ke arah tanah agar dapat melompat dengan tinggi ke udara untuk menghindari serangan yang dilancarkan oleh Rin.
Lagi-lagi Shin dapat menghindari serangan dari Rin dengan mudah, dan untuk kedua kalinya serangan Rin hanya membentur tembok dinding arena pertandingan.
Namun berbeda dengan sebelumnya, dampak serangan Rin kali ini tidak sedalam dari serangannya yang pertama, tetapi lubang yang terbentuk di tembok akibat serangan yang barusan dua kali lebih besar dari serangan yang pertama.
Tidak hanya itu, energi sihir yang juga membentur tembok dinding pun terpencar ke suluruh arena pertandingan, Sehingga membuat hembusan angin yang cukup kencang.
"Hebat, serangan yang sangat kuat," ucap salah seorang murid perempuan sembari menutupi wajahnya yang terkena hembusan angin tersebut dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Sial! apa yang barusan itu dia melancarkan serangan dengan rapalan mantra ?" tanya Yoe yang merasa kesal dengan dampak serangan yang mengganggunya.
"Ya, sepertinya begitu," sahut Kirei.
"Apa maksudnya itu ? Kirei," tanya Higatsu yang tidak mengerti maksud dari perkataan Yoe dan Kirei.
"Astaga kau ini, makanya jangan tidur saat gurumu sedang menjelaskan !" ucap Kirei merasa kesal.
Higatsu hanya terdiam dengan wajah cemberutnya sembari melirik ke arah lain.
"Sihir dengan rapalan dapat memberikan serangan yang besar namun juga memakan banyak sekali Mana, semakin banyak energi sihir yang dikumpulkan maka semakin panjang juga rapalannya," ucap Kirei menjelaskan.
"Selain itu sihir dengan rapalan memerlukan banyak waktu untuk menyerang, jadi kurang efektif untuk bertarung," lanjut Yoe.
Sementara itu Higatsu hanya mengangguk-anggukan kepala sembari memegang dagunya.
"jika memang dapat memberikan serangan yang besar, kenapa kau tidak menggunakannya Yoe ?" tanya Higatsu merasa heran.
"Apa karena kau tidak bisa makanya kau tidak melakukannya dan akhirnya kalah ? ahahaha," lanjut Higatsu mengejek Yoe.
"Berisik ! kemari kau Higatsu !" sahut Yoe dengan sangat kesal.
"Sihir dengan rapalan hanya efektif digunakan untuk mereka yang memiliki gaya bertarung dari jarak jauh, dengan serangan sebesar itu akan membuat musuh kesulitan untuk mendekati mereka," ucap Kirei menjelaskan.
"Dan juga sangat bagus jika bertarung sebagai tim, itu akan sangat membantu rekan mereka yang bertarung jarak dekat dengan memberikan serangan jarak jauh ataupun sihir penyembuh, pelindung dan sebagainya," lanjutnya.
"Oh jadi begitu, sekarang aku mengerti. terimakasih Kirei, berkat penjelasan mu aku jadi mendapatkan kembali pelajaran yang hilang, hihi," sahut Higatsu dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
"Tcih, dasar buntalan lemak," gumam Yoe yang berbisik pelan dengan wajah cemberutnya.