Ruler Of Night

Ruler Of Night
Chap 6. Tekad


__ADS_3

Pengecekan mana pada setiap murid pun akhirnya selesai, dan dari situ aku dapat mengetahui sebuah kenyataan yang pahit. Yaitu, kalau aku tidak bisa menggunakan kekuatan sihir karena mana di dalam diriku tidak aktif.


Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja, aku akan terus berjuang, berlatih dengan giat dan lebih keras lagi. Supaya aku bisa menggunakan kekuatan sihir dan menjadi kesatria terkuat kerajaan.


Tak lama setelah itu, Guru Hisobu mengajak kami ke sebuah ruangan yang cukup besar. Ruangan itu adalah arena latihan untuk kami berlatih teknik pedang, tampak seperti arena pertandingan namun di sini tidak terdapat tempat untuk orang-orang menyaksikan, dan terdapat cukup banyak pedang yang terbuat dari kayu untuk berlatih.


"Nah semuanya sekarang duduk lah di sini dengan rapih" ucap Guru Hisobu kepada semua murid.


Kemudian kami semua duduk di pinggir arena latihan dengan beralaskan lantai, sambil memperhatikan Guru Hisubo yang berbicara.


"Kemarin aku sudah memperkenalkan tempat ini kepada kalian semua, tempat ini adalah arena latihan untuk kalian berlatih teknik pedang" jelas Guru Hisobu mengingatkan.


"Kalian bisa lihat sendiri, di sana terdapat banyak pedang kayu yang bisa kalian gunakan untuk berlatih" lanjutnya sembari menunjuk ke arah utara tempat pedang kayu tersebut yang berada di ujung arena.


Spontan kami pun melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Guru Hisobu. Tampak dari setiap murid ada yang merasa kagum karena belum pernah melihat perlengkapan berlatih yang lengkap, dan ada juga yang biasa saja saat melihat itu karena sudah mengetahui atau bahkan memilikinya di rumah.


"Wah hebat, selama ini aku hanya menggunakan sapu untuk bermain pedang saat aku membersihkan halaman rumah" ucap salah seorang murid perempuan.


"Benarkah ? Bahkan aku belum pernah berlatih atau pun bermain pedang sebelumnya" sahut salah seorang murid perempuan lainnya dengan wajah polos.


Mendengar itu sontak membuat murid lainnya tertawa, dan mengundang senyum Guru Hisobu yang sedikit kaku seolah merasa kalau semua ini akan cukup berat untuknya.


"Dasar bocah desa, kalian ini sangat memalukan" gumam Kirei merasa kesal dengan kebisingan para murid lainnya.


"Yah... Mungkin ada beberapa diantara kalian yang belum memahami tentang teknik pedang. Tapi aku yakin diantara kalian juga ada yang sudah memahami teknik pedang, khususnya kalian yang dari keluarga bangsawan seperti pangeran Shira yang kita banggakan, lalu Kirei, Higatsu dan juga Yoe" ucap Guru Hisobu sembari menunjuk ke arah mereka satu-persatu dengan telapak tangan yang terbuka.


Semua murid yang berasal dari desa pun terkagum dan mulai mengalihkan perhatian kepada mereka. Terutama Shira, yang mencuri banyak perhatian dari para murid perempuan.


Bagaimana tidak, dia adalah seorang pangeran yang tampan dan bijaksana juga keahlian teknik pedang dan sihirnya juga pasti hebat karena dilatih langsung oleh kesatria agung kerajaan.


"Nah, sebagai contoh dan untuk perkenalan tentang teknik pedang. Shira, apakah kau mau untuk menunjukkan kepada kami beberapa teknik pedang ?" Guru Hisobu meminta Shira untuk mempraktekkan beberapa teknik pedang.


"Baik Guru" jawab Shira dengan hangat.


Kemudian Shira pun berdiri untuk mengambil pedang kayu yang ada di ujung arena, setelah itu ia berdiri di dalam arena tepat dihadapan kami.


"Nah Shira, sekarang tunjukkanlah beberapa gerakan teknik pedang yang kau pelajari" ucap Guru Hisobu.


Shira menganggukkan kepalanya dan mulai menunjukkan beberapa gerakan teknik pedang dengan sangat lihai.


"Wah Yuuta lihat itu, Shira lihai sekali menggerakkan teknik pedangnya" ujar Oda terkagum dengan kelihaian Shira.


"Iya.. dia sangat hebat" ucapku terkagum.


Saat aku sedang asyik melihat kelihaian teknik pedang Shira. Tiba-tiba terlintas begitu saja di pikiranku tentang bagaimana ekspresi Rin saat ini.


'Eh, aku ingin tahu bagaimana ekspresi Rin saat melihat kehebatan Shira' kata ku dalam hati.


Kemudian aku menoleh ke arah para murid perempuan, mencari keberadaan Rin. Tak lama aku berhasil menemukan Rin, dan aku bisa melihatnya dengan jelas.


Ekspresi wajah Rin saat itu sangat berseri-seri, kagum dengan kehebatan Shira. Mengetahui hal itu membuatku merasa sedikit aneh.


Shira memang sangat hebat tapi entah kenapa saat aku melihat Rin begitu kagum kepadanya aku merasa seperti tidak menginginkan itu.


Setelah beberapa lama, akhirnya Shira pun selesai menunjukkan beberapa gerakan teknik pedang kepada kami.


Lalu kami semua memberikan tepuk tangan kepada Shira dan beberapa dari kami memberikan sorakan atas rasa kagum mereka kepada Shira.


"Wah Shira, kau lihai sekali menggerakkan teknik pedang tadi" ucap Guru Hisobu dengan senang.


"Haha... terimakasih semuanya, ini bukan apa-apa" jawab Shira merendah dengan tawa kecilnya.


"Nah semuanya teknik pedang seperti yang tadi Shira gerakan bukan hanya untuk pertunjukan semata, tapi juga digunakan untuk pertarungan" jelas Guru Hisobu.

__ADS_1


"Untuk lebih jelasnya, aku ingin Shira untuk melakukan latih tanding dengan seorang murid lainnya. Bagaimana Shira ?" ucap Guru Hisobu meminta Shira untuk latih tanding dengan murid lainnya sebagai contoh.


"Baiklah Guru, aku siap" jawab Shira.


"Kalau begitu apakah ada yang bersedia untuk menjadi lawan latih tanding ini ?" ucap Guru Hisobu menawarkan kepada para Murid.


Mendengar hal itu membuat para murid bertanya-tanya.


"Apa ? latih tanding dengan Shira ? Meskipun hanya sebagai contoh aku tidak berani untuk maju" ujar salah seorang murid laki-laki.


"Yang benar saja" ujar salah seorang murid lainnya dengan sedikit tegang.


Semua murid enggan untuk maju menjadi lawan latih tanding Shira. Sedangkan Guru Hisobu menoleh ke sana-ke mari mencari siapa anak yang sekiranya mau untuk maju.


"Ah.. Kirei ! Kau majulah ke depan untuk menjadi lawan latih tanding Shira" ucap Guru Hisobu menyuruh Kirei untuk maju.


"Apa ? Maaf Guru aku tidak mau membuang-buang waktu hanya untuk memberikan contoh kepada anak-anak payah ini" Jawab Kirei dengan Angkuh.


"Ya ampun anak itu" gumam Guru Hisobu.


Mendengar hal itu jelas membuat beberapa murid lainnya tidak senang dan melirik ke arah Kirei.


Ada juga dari beberapa murid menyuruh temannya untuk maju, tetapi temannya itu menolak dan menyuruh balik.


Guru Hisobu pun mulai kebingungan. Orang yang sekiranya bisa imbang menjadi lawan Shira hanyalah kirei, Namun ia enggan untuk maju.


"Guru Hisobu ! Biar aku saja yang maju" ucapku lantang dengan penuh keyakinan.


"Eh ? Apa kau yakin Yuuta ?" tanya Oda terkejut.


"Tentu saja, Shira itu teman kita aku tidak akan kalah darinya" jawabku dengan semangat.


Saat itu aku berfikir, mungkin ini saat yang tepat untuk menunjukkan kalau aku pantas berada di sini, dan menunjukkan kepada Rin kalau aku juga tidak kalah hebat dari Shira.


Shira yang melihat itu pun tersenyum senang karena lawannya adalah aku, yaitu temanya sendiri.


'Bagaimana bisa dia yang hanya seorang bocah dari desa berani mengajukan diri untuk berhadapan dengan Shira yang seorang pangeran kerajaan ?' kata Kirei dalam hati.


"Wah akhirnya, tapi apa kau yakin Yuuta ?" tanya Guru Hisobu.


"Tentu saja aku sangat yakin, Guru" jawabku dengan semangat.


Guru Hisobu sedikit terkejut melihat sikap ku yang begitu bersemangat dan penuh keyakinan.


"Aku suka sikap yang seperti ini" ujar Guru Hisobu senang.


"Baiklah Yuuta, ambil pedang kayu itu dan kemarilah" lanjutnya menyuruhku bergegas.


"Baik Guru" jawabku bergegas mengambil pedang kayu.


Sebelum itu, sesaat aku menoleh dan melihat ke arah Rin dengan senyuman.


'Rin, perhatikanlah aku' kata ku dalam hati lalu bergegas.


Sementara Rin juga melihatku, ia sedikit terkejut dengan tindakan ku. Saat semuanya enggan untuk maju berhadapan dengan Shira, tapi aku sendiri malah berani untuk mengajukan diri.


Setelah aku mengambil sebuah pedang kayu, Aku dan Shira pun bersiap untuk mulai pertandingan.


Walaupun ini hanya latih tanding sebagai contoh, namun ini sangat berarti bagiku untuk menunjukkan kepada mereka semua kalau aku mampu untuk berada di sini dan terus maju.


"Baiklah semuanya kalian tadi sudah melihat bagaimana Shira menunjukan beberapa teknik pedang, dan sekarang perhatikan baik-baik bagaimana jika teknik pedang itu digunakan dalam sebuah pertarungan" ucap Guru Hisobu menjelaskan.


"Nah Shira, Yuuta.. ini hanya simulasi saja sebagai contoh, jangan terlalu berlebihan ya" lanjutnya mengingatkan kepada ku dan Shira.

__ADS_1


"Kami mengerti Guru" jawab ku dan Shira serentak.


"Beri Hormat" ucap Guru Hisobu.


kami pun saling membukukan tubuh untuk memberi hormat satu sama lain.


"Baiklah.. apa kalian sudah siap ?!" ucap Guru Hisobu dengan lantang.


Seketika suasana menjadi tegang murid-murid yang lain pun hanya terdiam memperhatikan.


"Tcih.. apa-apaan anak itu, dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri" ujar Kirei sinis.


Kirei, Higatsu dan Yoe masih menghiraukannya karena bagi mereka aku hanyalah anak yang payah dan mereka yakin kalau aku tidak akan bisa menang ataupun seimbang melawan Shira.


Setelah mendengar aba-aba dari Guru Hisobu, aku dan Shira menganggukkan kepala kami menandakan kalau kami sudah siap untuk bertanding.


"Mulai !!!" ucap Guru Hisobu dengan lantang.


Pertandingan pun dimulai, Aku dan Shira langsung saja maju untuk menyerang namun aku yang berhasil lebih dulu melancarkan serangan kepada Shira, tetapi ia dapat menangkisnya.


Serangan demi serangan terus aku lakukan kepada Shira, namun ia dapat menahan dan menghindari serangan ku.


Kami bertarung dengan penuh semangat, terlihat jelas dari mata kami yang begitu serius.


Sesaat kami berhenti dan menjaga jarak untuk memikirkan serangan selanjutnya.


Semua murid yang memperhatikan pun terpukau dengan pertarungan kami dan beberapa murid perempuan mulai memberikan sorakan dengan meneriaki nama Shira.


"Shira..!" Terdengar sorakan dari beberapa murid perempuan.


"Ayo Shira..!" Sorakan lainnya menyemangati Shira.


Suasana pun menjadi ramai karena sorakan dari murid-murid lainnya yang menyaksikan.


"Kenapa mereka itu, sudah jelas ini hanya latihan saja untuk memberikan contoh kepada bocah-bocah desa yang payah" ujar Kirei dengan kedua temannya.


"Lagi pula apa-apaan bocah itu, bagaimana bisa dia mengimbangi Shira ?" kata Kirei dalam hatinya sambil memperhatikan ku.


"Yuuta..! ayo kau pasti bisa..!" ucap Oda dengan lantang menyemangati ku.


Mendengar sorakan Oda, sontak membuatku melihat ke arahnya. Karena saat semua sorakan diberikan kepada Shira namun Oda tetap mendukung ku, dan itu membuat ku sangat senang.


Terlintas dipikiran ku apakah Rin juga akan memberikan semangat kepada ku ? Lalu aku melihat ke arah Rin yang berada bersama murid perempuan lainnya.


Saat aku melihat Rin, ternyata dia hanya terdiam memperhatikan dengan mata yang berseri-seri terpukau dengan pertandingan kami yang sama-sama kuat.


Entah kenapa wajah Rin saat itu terlihat sangat manis di mataku. Aku merasa tidak ingin membuatnya kecewa dan semakin bersemangat lagi.


Kemudian Aku dan Shira saling menatap dan tersenyum menikmati pertandingan ini. Kami pun berlari mendekat dan melancarkan serangan demi serangan namun kami sangat imbang, sehingga tidak ada satupun dari kami berhasil memberikan serangan telak.


Saat celah dari Shira terlihat, aku langsung saja mengayunkan pedang secara vertikal dari atas mengarah ke bahu kanan Shira tetapi lagi dan lagi Shira berhasil menangkis dan menghindari serangan ku.


Seketika saat Shira berhasil menghindari itu ia langsung melakukan serangan balasan, dengan cepat Shira mengayunkan pedangnya tepat mengarah ke bagian leher ku.


Namun aku dapat melihat pergerakan dari Shira dan dengan reflek yang begitu cepat aku menundukkan kepala juga merendahkan kuda-kuda untuk menghindarinya.


Di waktu yang sama saat aku menghindari serangan itu, dengan sigap aku memasang kuda-kuda menggenggam pedang dengan kedua tangan ku di sebelah kiri dan posisi kaki kananku di depan.


Sementara itu, Kirei sangat terkejut dengan gerakan ku yang begitu cepat. 'Dia itu, seperti mengendalikan irama pertarungannya sendiri' kata Kirei dalam hati.


Setelah Shira melakukan serangan itu, terlihat dengan jelas celah pada Shira. Kemudian dengan cepat aku langsung melancarkan serangan, dengan satu langkah kaki sambil mengayunkan pedang secara horizontal tepat ke arah tubuh Shira.


Aku pikir serangan itu dengan telak mengenai Shira. Tapi ternyata ia dapat menghindarinya juga, dengan reflek yang sangat cepat Shira melompat jauh ke belakang.

__ADS_1


Saat itu aku hanya terkejut, dengan serangan seperti itu Shira juga dapat menghindarinya. Dia memang seorang pangeran yang sangat hebat.


"BERHENTI !!!" Lantang Guru Hisobu memberikan aba-aba bahwa pertandingan telah selesai.


__ADS_2