
Saat aku akan latihan rutin bersama Ayah ku, aku terlebih dahulu membicarakan tentang hal apa saja yang terjadi di akademi.
Mulai dari tuan putri Aiko yang datang langsung ke akademi untuk mencari kakaknya, yaitu pangeran Shira.
Sampai datang para prajurit bersama dengan seorang pelayan, dan juga seorang perempuan misterius yang ternyata adalah Magi dari kerajaan.
Kemudian aku bertanya kepada Ayahku tentang siapa Magi tersebut, namun sayangnya secara tidak sadar aku kelepasan memberi tahunya tentang Mana yang tidak aktif di dalam diriku.
"Seorang penyihir yang hebat biasanya menyembunyikan aura kekuatan mereka. Jika kau bisa merasakannya tanpa Mana di dalam diri mu, hanya ada satu kemungkinan" katanya menjawab pertanyaanku.
"Apa itu, Ayah ?" tanyaku penasaran.
"Itu adalah energi alam, kemungkinan tubuhmu sangat peka terhadap energi alam" jawabnya.
Aku terdiam dan bingung, karena yang ku tahu selama ini hanyalah energi sihir saja.
"Energi alam ? Apa maksudnya itu, Ayah ?" tanyaku lagi.
Kemudian Ayah mulai menjelaskan panjang lebar, sembari kami duduk aku pun mendengarkan dengan seksama.
"Di dunia ini bukan hanya ada energi sihir yang bisa digunakan dari Mana di dalam diri manusia, tetapi ada juga energi alam yang bisa digunakan untuk memperkuat kemampuan manusia, dan itulah yang kau rasakan.
"Layaknya kehidupan ini selalu berpasangan, ada baik dan buruk, ada juga Yin dan Yang, begitu juga dengan energi sihir dan energi alam.
"Energi sihir terbagi menjadi dua, yaitu energi gelap dan terang, atau yang disebut dengan Chaos dan Order.
Keduanya adalah energi netral yang bisa dikembangkan menjadi beberapa element seperti api, air, angin, tanah, cahaya, dan juga kegelapan.
"Energi alam juga bisa menciptakan kekuatan sihir dengan berbagai element bagi penggunanya, hanya saja tidak dapat menciptakan sihir cahaya dan kegelapan. Tetapi bisa menciptakan 5 jenis element sihir," ucap Ayahku menjelaskan.
"Tapi ayah, jika tidak bisa menciptakan sihir cahaya dan kegelapan, bukankah hanya ada 4 element saja yang bisa diciptakan ?" Tanyaku keheranan.
"Kau benar anakku, energi alam hanya bisa menciptakan 4 element dasar saja. Yaitu api, air, angin dan juga tanah.
"Tetapi energi alam adalah kekuatan yang spesial dan jarang sekali orang yang bisa menggunakannya. Dia bisa menciptakan 4 jenis element dasar, dan juga 1 element spesial. Yaitu api, air, angin, tanah, dan juga petir." jelas ayahku.
Mendengar penjelasan darinya membuatku semakin penasaran dan bersemangat untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang kekuatan itu.
"Luar biasa, jadi kekuatan yang aku rasakan dari Magi itu adalah energi alam yang ia miliki ?" Tanyaku terkagum.
Ayah hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum sembari melipat kedua tangannya.
"Lalu ayah, apa kau bisa mengajariku bagaimana cara menguasai energi alam ?" Tanyaku bersemangat.
"Sayang sekali, orang yang dapat menguasai energi alam hanyalah Para Magi, atau yang setingkat dengan mereka" jawab ayah dengan ekspresi yang berubah.
Seketika aku menjadi lesu dan putus asa, karena aku merasa tidak mungkin bisa meminta seorang Magi kerajaan untuk mengajariku.
"Tapi untungnya Ayah memiliki guru yang sangat hebat dalam menguasai energi alam" lanjut ayah.
"Benarkah itu ? Siapa dia, Ayah ?" tanyaku kembali bersemangat.
"Dia adalah Petapa Naga, dia tinggal di benua naga yang tempatnya sangat jauh dari sini, kau tidak akan bisa menemuinya anakku"
jawab ayahku yang lagi-lagi membuatku patah semangat.
"Ayah, mengertilah perasaanku !" ucapku dengan sedikit kesal karena jawaban yang diberikan tidak memberikan solusi.
"Heeiii… jangan cemberut begitu, kau masih bisa belajar dengan murid dari Petapa Naga itu kan" kata ayah dengan sedikit mengejek.
"Jadi Ayah juga dapat menguasai energi alam ?" tanyaku yang terkejut.
__ADS_1
"Hmmm… Yah, meskipun tidak benar-benar menguasainya, tapi Ayah bisa mengajarkanmu dasar-dasarnya.
"Jika kau sudah menguasai dasarnya, maka kau hanya tinggal melatihnya terus dan mengembangkannya sampai kau benar-benar dapat menggunakan Energi Alam sebagai kekuatanmu," jelas Ayah yang akhirnya memberikan solusi untukku.
Mendengar hal itu jelas membuatku sangat senang dan sangat bersemangat, Ternyata masih ada harapan untukku terus maju dan menjadi kuat.
"Wah, ternyata Ayah hebat juga ya" kataku sedikit mengejek karena terlalu bersemangat.
"Hei... Ayah ini kan Kesatria Agung terkuat di Kerajaan, tentu saja hebat" ucap Ayah yang menyombongkan dirinya.
Suasana pun mulai cair kembali, Aku dan Ayah tertawa bersama. Aku bersyukur memiliki Ayah yang sangat hebat, dia juga sangat baik dan selalu mendukungku apapun keadaanku.
Begitu juga dengan ibu yang selalu menyemangati ku, dan teman-teman yang selalu ada untukku.
Aku tidak ingin membuat mereka kecewa, Aku ingin menunjukan kepada mereka kalau Aku bisa.
Aku akan terus belajar dan berlatih dengan keras, sampai aku mencapai batas dan melampauinya.
Setelah itu Ayah nengajak ku keluar dari ruangan tempat biasa kami berlatih pedang, tepatnya di halaman belakang rumah.
Berbeda dengan yang biasanya, Kali ini aku berlatih untuk menguasai Energi Alam di luar ruangan.
"Sekarang duduklah bersila di bawah pohon sakura itu, pejamkan matamu dan kosongkan pikiran" ucap Ayah memulai langkah awal latihanku sembari duduk di teras ruangan.
Aku pun mengikuti apa yang Ayah katakan, dengan niat yang sungguh-sungguh dan keyakinan yang kuat.
"Jangan bergerak, aturlah pernafasanmu, Tarik secara perlahan dan rasakan udara yang mengalir ke seluruh tubuhmu" lanjutnya memberi arahan.
Aku terus mengikuti arahan yang diberikan oleh Ayah, sesekali aku merasa gatal dan menggaruknya.
"Fokus! Jangan bergerak!" Tegur Ayah memukulku dengan rotan yang ada di sampingnya.
Tentu saja rasanya sangat sakit, namun aku menghiraukan rasa sakit itu. Dan aku kembali fokus dalam latihanku.
dan rasakanlah alam disekitar bersama dengan udara yang mengalir di dalam darahmu" lanjutnya kembali memberi arahan.
Latihan kali ini tidak berat. Menenangkan hati dan pikiran, mengatur pola pernafasan, dan merasakan alam di sekitar.
Semua itu mudah jika hanya dibayangkan saja, namun sangat sulit untuk melakukanya. Aku berlatih secara perlahan dan bertahap, latihan seperti ini memang tidak bisa dilakukan dengan cepat.
Sedikit demi sedikit aku mulai memahaminya, dan aku mulai bisa fokus menjalani latihan itu.
~Sementara itu di lain tempat.
Di sebuah perpustakaan kerajaan, Shira yang sedang asik membaca buku tentang sihir dan juga Marlin yang sedang menulis buku.
"Hei Marlin, apakah ada buku tentang bagaimana cara mengaktifkan Mana di dalam diri seseorang ?" Tanya Shira sembari membalik lembar demi lembar di dalam buku.
"Ada apa ? Bukankah Mana milikmu sudah aktif dan bisa menggunakan kekuatan sihir, Pangeran ?" sahut Marlin tersenyum.
"Tidak... Ini bukan untukku, tapi untuk temanku, Yuuta" Jawab Shira yang kemudian berhenti membalik lembaran buku.
"Yuuta ?" Tanya Marlin keheranan.
"Ya... Dia yang bersamaku saat di kantin tadi, dan dia duduk di tengah bersama dengan kedua temannya" jelas Shira.
"Oh, anak itu" ucap Marlin dengan sifat murah senyumnya.
"Apa anak itu tidak memiliki Mana di dalam dirinya ? " lanjut Marlin bertanya.
"Benar... Aku ingin sekali membantunya, maka dari itu tolong beritahu aku bagaimana cara mengaktifkan Mana di dalam diri seseorang" jawab Shira dengan penuh harapan.
__ADS_1
Melihat Shira yang begitu bersungguh-sungguh untuk membantu temannya, Marlin pun menutup buku yang sedang ia tulis.
"Sebenarnya, sejak lahir manusia sudah memiliki Mana di dalam diri mereka masing-masing, hanya saja saat masih kecil, manusia belum mampu untuk menggunakannya.
"Jika seseorang tidak memiliki Mana, itu bukan berarti dia benar-benar tidak memilikinya" Ucap Marlin menjelaskan.
"Apa maksudnya itu ?" tanya Shira meminta penjelasan yang lebih detail.
"Mana seseorang berasal dari energi inti yang berada di dalam dirinya, dan temanmu itu bukannya tidak memiliki 𝘔𝘢𝘯𝘢. Dia memilikinya, hanya saja energi intinya masih terkunci.
"Energi inti bisa dibuka dari dalam dengan terus berlatih keras dengan giat, Dan juga bisa dibuka dari luar" lanjut Marlin.
"Lalu, bagaimana cara membuka energi inti itu dari luar ?" tanya Shira memotong penjelasan Marlin.
"Kau harus mendobraknya, dengan menyalurkan Mana yang cukup besar ke dalam tubuhnya. Setidaknya cukup kuat untuk sampai ke titik pusat tempat energi inti itu berada dan memaksanya untuk keluar" jawab Marlin menjelaskannya lagi.
"Apa aku bisa melakukannya ?" tanya Shira penuh harap.
"Tidak Pangeran, kekuatanmu masih belum cukup untuk itu" jawab Marlin.
"Lalu, bagaimana denganmu Marlin ? Kau memiliki kekuatan yang sangat besar dan sangat kuat" tanya Shira lagi.
"Memang benar, mungkin kekuatanku bisa membantunya" ucap Marlin.
"Tapi meskipun begitu, resikonya sangat besar. Jika tubuhnya tidak bisa menerima energi besar yang masuk, maka dia akan mati" lanjut Marlin.
Mendengar semua penjelasan dari Marlin membuat Shira merasa sedih, dia ingin sekali membantu temannya tetapi dia tidak bisa melakukannya.
Dan Marlin yang melihat Shira mulai murung dan bersedih, dia pun memanggilnya dan menatap dengan tatapan yang hangat.
"Shira… Kalau boleh tahu, siapa nama lengkap temanmu itu ?" tanya Marlin.
"Hajime Yuuta ?" jawab Shira yang sedikit heran dengan pertanyaan Marlin.
"Lalu, bagaimana dia saat bertarung denganmu ?" tanya Marlin lagi.
"Dia sangat kuat, bahkan aku sampai terdesak olehnya" jawab Shira.
Setelah mendengar jawaban Shira, kemudian Marlin tersenyum dan mencoba untuk menenangkan Shira.
"Kau tahu dia itu kuat, Aku juga dapat melihat dari matanya saat itu. Jadi yakinlah pada temanmu, kalau dia pasti bisa melalui ini semua dan menjadi seseorang yang sangat hebat" ucap Marlin meyakinkan Shira dengan sifat murah senyumnya, dan melanjutkan buku yang sedang ia tulis.
Setelah pembicaraan yang cukup serius telah selesai, tak lama kemudian datang seseorang membuka pintu perpustakaan.
Dan ternyata orang itu adalah Aiko yang baru saja selesai belajar dengan salah satu penyihir kerajaan.
"Hai kak, Aku sudah selesai belajar… Ayo kita bermain, hihi" ucap Aiko yang bersemangat untuk bermain dengan Shira kakaknya.
"Ini sudah malam, lebih baik kau tidur saja" sahut Shira.
Kemudian Shira meletakan kembali buku yang ia pegang.
"Baiklah Marlin, terimakasih untuk malam ini. Aku akan mengantar Aiko ke kamarnya dan pergi tidur" ucap Shira dengan perasaan yang sudah membaik.
"Baiklah, Pangeran" sahut Marlin dengan senyum.
Kemudian Shira pun pergi untuk mengantar Aiko ke kamarnya.
"Hufh! Kakak sangat membosankan!" ujar Aiko kesal.
"Apa kau bilang? Kemarilah untuk rasakan akibatnya karena telah menghina seorang kesatria!" ucap Shira bercanda sembari mengejar Aiko yang lari menuju ke kamar Aiko.
__ADS_1
Sementara itu Marlin yang masih berada di perpustakaan seorang diri, sedang memikirkan tentang sesuatu.
"Aku merasa akan ada hal besar yang terjadi, apakah itu bahaya yang mengancam ? Atau sesuatu yang baik ? Sepertinya sejarah baru akan segera dimulai" Gumam Marlin tersenyum sembari menulis buku.